
1 minggu berlalu dan Grace tetap berada di apartemen Gregory tanpa melakukan apapun. Ia hanya menyiapkan sarapan, kemudian membersihkan apartemen itu. Siang dan malam hari, Gregory biasanya memesankan makanan untuknya secara online. Tak pernah sehari pun Gregory lupa melakukannya.
Saat ini Grace sudah merasa seperti menjadi istri dari seorang Kapten Polisi, namun ia hanya menjadi ibu rumah tangga yang kerjanya hanya menunggu suaminya untuk pulang.
Namun, malam ini terasa begitu sepi. Memang tadi pagi Gregory sudah mengatakan padanya bahwa ia akan pulang terlambat karena ada kasus yang harus ia tangani.
Gregory sering bekerja hingga larut malam, tapi ntah mengapa malam ini terasa begitu berbeda untuk Grace. Ada perasaan tidak enak, rasa gelisah. Ia pun bangun dari duduknya dan pergi ke dapur. Ia membuka kulkas dan mengambil air mineral dingin, kemudian menegaknya hingga habis.
Perasaannya kini masih tidak tenang. Ia berjalan mondar-mandir sambil melipat kedua tangannya di pinggang, sudah seperti istri yang menunggu suaminya karena terlambat pulang.
Hingga waktu menunjukkan pukul 12 malam, masih tak ada tanda-tanda kedatangan Gregory. Grace ingin menghubunginya, namun ia juga tak ingin menjadi pengganggu. Siapa dirinya yang berhak bertanya tentang hal itu. Tak ada status apapun di antara mereka meskipun Gregory sudah sangat sering mengatakan isi hatinya pada Grace.
Grace benar-benar tidak dapat memejamkan matanya, bahkan saat ini sudah menunjukkan pukul 3 pagi dan matanya masih tak mau terpejam.
“Mengapa dia belum kembali? Biasanya meskipun ia lembur pun, ia akan menghubungiku atau jam segini pasti sudah akan sampai di apartemen,” gumam Grace seorang diri.
**
“Kamu sudah menyiapkan semuanya, Nil?” tanya Gregory.
“Semua sudah siap, Capt!” jawab Danilo.
“Baiklah, kali ini kita tidak boleh gagal. Kita harus segera menangkap mereka, hidup atau mati!”
“Siap, Capt!” Danilo keluar dari ruangan, sementara Danilo mengambil ponselnya. Seperti biasanya ia akan memesankan makanan untuk Grace secara online.
Setelah selesai, ia yang awalnya ingin mengirimkan pesan pun terhenti karena Danilo membuka pintu ruangannya kembali.
“Capt, kita harus segera berangkat, kalau tidak kita akan kehilangan mereka,” kata Danilo. Gregory langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mengikuti Danilo. Saat ini pekerjaannya jauh lebih penting. Ia harus segera menangkap Dante dan Vicente. Ia tak ingin gagal dan membiarkan kedua penjahat itu berkeliaran begitu saja.
Mereka menaiki mobil dan menuju ke tempat di mana Dante dan Vicente melakukan transaksi dengan Marco Lawrence. Marco Lawrence khusus terbang dari Norwegia untuk melakukan ini.
__ADS_1
Marco tidak tahu bagaimana bahayanya melakukan transaksi secara langsung seperti itu. Ia melakukannya hanya karena ingin meniru cara-cara para mafia yang ia lihat di televisi.
“Ia benar-benar bodoh!” kata Gregory. Ia tidak tahu bahwa dirinya telah masuk dalam perangkap Dante dan Vicente.
“Mereka sudah menuju lokasi, Capt!”
“Baiklah, kita harus segera bersiap-siap!” Mereka langsung mengambil posisi masing-masing. Gregory juga meminta salah satu anak buahnya untuk mengambil motornya agar ia bisa mengejar mereka lebih cepat jika ada salah satu dari antara mereka yang kabur.
Seluruh tim dikerahkan. Mereka memantau semua aktivitas, mulai dari saat kedatangan ketiganya, maupun saat mereka melakukan transaksi.
Di mana Naldo? - batin Gregory. Ia tak melihat sama sekali keberadaan pria yang kini menjadi tangan kanan atau orang kepercayaan Marco Lawrence.
Gregory bisa melihat bagaimana Dante dan Vicente saling tersenyum satu sama lain. Mereka pun melakukan transaksi dengan Marco. Marco memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengeluarkan barang dari mobil khusus, sebuah cooler box.
“Ini hanya sebagian saja, karena tidak mungkin aku membawa semuanya ke sini. Aku akan segera mengirimkannya langsung ke markas kalian,” kata Marco.
Dante tersenyum, “boleh aku melihatnya?”
“Luar biasa … ya, hasilnya luar biasa. Sungguh suatu kehormatan biaa bekerja sama dengan pria profesional sepertimu.”
“Lalu, apa kamu membawa uangnya?” tanya Marco.
“Seperti kamu yang hanya membawa sebagian, maka kami tidak membawa uangnya. Tapi kamu membawa barang yang kamu butuhkan,” Vicente memperlihatkan beberapa kilogram obat terlarang.
“Menurut kami akan memakan waktu jika harus melakukan transaksi dengan uang. Bagaimana kalau kita langsung saja bertukar barang,” kata Vicente.
“Tidak bisa seperti itu! Harga barang yang ku bawa jauh lebih besar daripada milikmu,” ujar Marco.
“Kami akan mengirimkan sisanya langsung ke tempatmu juga, transaksi ini hanya agar kita saling mengenal saja,” kata Dante.
Marco memicingkan matanya. Ada sedikit perasaan tak percaya pada Dante dan juga Vicente. Ia teringat pesan yang dikatakan oleh Naldo beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Ini transaksi besar, Sir. Tidak seharusnya mereka melakukannya di gudang itu. Apa Sir tidak merasa aneh? - kata Naldo saat itu. Marco mulai memikirkan hal itu saat ini.
“Kalau begitu sebaiknya aku pergi. Kita akan kembali melakukan transaksi jika kalian membawa uangnya,” kata Marco sambil berjalan pergi.
“Berhenti!” Dante mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya kepada Marco.
Marco yang melihat itu langsung memicingkan matanya. “Kurang ajar, jadi ia mau bermain-main denganku,” gumam Marco sambil tersenyum sinis.
Marco memutar kembali tubuhnya dan menatap tajam ke arah Dante, “Apa yang kamu inginkan?”
“Berikan kotak itu padaku.”
“Kotak itu? Berikan dulu uangku, maka aku akan memberikannya.”
“Sialannn!!! Berikan atau aku akan menembak kepalamu!” teriak Dante. Saat ini keuangan Dante memang sedang menipis, apalagi banyak uang yang harus ia keluarkan untuk membayar beberapa denda yang diberikan rekan bisnisnya karena barang yang tidak sampai akibat ia tertangkap pihak kepolisian.
Vicente pada akhirnya ikut mengeluarkan senjatanya, begitu juga dengan para anak buahnya. Sementara itu Gregory mengangkat tangannya dan memerintahkan tim-nya untuk tenang dan terus berjaga-jaga.
“Tenanglah, jangan bertindak gegabah atau kamu tidak akan mendapatkan apapun,” kata Marco.
Vicente memegang telinganya, kemudian tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya ke arah Dante. Dante pun tanpa banyak bicara langsung menembakkan senjatanya ke arah Marco.
Dorrr
Gregory tak menyangka Dante akan melakukan itu. Seketika suasana tempat transaksi tersebut menjadi ricuh karena kedua kubu saling menyerang. Sementara itu Dante dan Vicente kabur dari sana dan menuju tempat di mana mereka telah mengamankan organ tubuh manusia yang disiapkan oleh Marco.
Mereka bekerja dengan orang dalam pihak Marco untuk mengetahui lokasi dan posisi barang tersebut. Polisi yang bersembunyi akhirnya turun tangan dan langsung mengamankan semua orang di sana, termasuk Marco Lawrence.
Dante dan Vicente yang sudah keluar dari sana tersenyum, kemudian menjentikkan jarinya, “It’s show time!”
Duarrrr!!!
__ADS_1
🌹🌹🌹