
Pranggg
Grace yang pergi ke dapur untuk mengambil minum, tak sengaja menyenggol sebuah vas hingga jatuh dan pecah. Jantungnya langsung berdetak dengan sangat cepat. Ia memegang dadanya, kegelisahannya terus bertambah.
Ada apa ini? Rasanya sangat tidak nyaman. - batin Grace.
Melihat pecahan vas yang berantakan, Grace pun langsung mengambil sapu dan kantong plastik. Ia harus membersihkannya agar tak ada yang terluka karena menginjaknya. Selama proses membersihkan, Grace masih diliputi dengan perasaan yang aneh, gelisah yang rasanya sangat tidak nyaman.
**
Suasana yang begitu tak terkendali membuat Gregory melepaskan pandangannya dari Dante dan Vicente yang melarikan diri. Ia justru memicingkan matanya saat melihat Marco yang terkena tembakan dari Dante.
“Cepat bawa dia ke rumah sakit. Ia adalah saksi kunci kejahatan Dante dan Vicente,” perintah Gregory pada Danilo. Ia menyuruh tim-nya untuk menangkap semua anak buah Dante, Vicente, maupun Marco yang saat ini sedang berkelahi dan saling menembak.
“Ber, ikut aku!” Berto langsung menganggukkan kepalanya dan mengikuti Gregory. Namun, baru saja ia turun dari tempat persembunyiannya, suara ledakan yang sangat besar terjadi di gudang tersebut.
Duarrr!!!
Asap dan api langsung memenuhi tempat itu. Bom ternyata dipasang di tas milik Vicente yang berisi obat-obatan terlarang. Tentu saja yang diperlihatkan oleh Vicente hanya 1 bungkus, karena sisanya adalah tepung.
“Benar dugaanku,” bisik Gregory. Untung saja ia sudah mengantisipasi dengan membawa tim penjinak bom. Awalnya ia hanya berjaga-jaga, namun ketika melihat Vicente pergi tanpa membawa tas miliknya yang berisi obat terlarang, kecurigaannya bertambah.
Ia memerintahkan tim penjinak bom untuk mengambil alih tas tersebut dan membawanya ke tempat sepi. Sementara itu anggota tim yang lainnya membekuk para anak buah Dante dan Vicente.
Di dalam sebuah mobil, Dante dan Vicente tertawa dengan keras karena telah berhasil menjalankan rencananya. Kini mereka akan segera menuju ke tempat di mana barang yang tak lain adalah organ tubuh manusia berada.
Dorrrr
Dorrr
Kedua ban sebelah kanan mobil yang dikendarai oleh Dante dan Vicente kini sudah terkena tembakan. Berto yang ahli dalam menembak duduk di jok motor bagian belakang sementara Gregory mengendarainya.
Dante yang mengemudikan mobil tersebut mulai kehilangan kendali karena tak dapat menjaga keseimbangan mobil. Ia terus menginjak pedal gas agar bisa segera kabur, sementara Vicente mencoba menembak Gregory.
Kejar-kejaran terus terjadi dan Dante terpaksa menginjak rem karena ada sebuah truk besar yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Ia membanting setirnya ke kanan, membuat mobil berputar dan akhirnya terbalik di antara rerumputan di sebelah kanan jalan.
__ADS_1
Gregory langsung menghentikan motornya dan memerintahkan Berto untuk menghubungi tim mereka yang mengikuti. Ia mengambil pistol yang terselip di pinggangnya dan dengan berhati-hati mendekati mobil yang dinaiki oleh Dante dan Vicente.
Kepulan asap keluar dari bagian bawah mobil yang mengarah ke atas.
Krakkk
Pintu mobil terbuka dan tampak Dante yang merayap keluar dari mobil. Gregory langsung mengarahkan senjatanya pada Dante. Sementara itu di dalam mobil, Vicente tak dapat keluar karena bagian kakinya terjepit oleh pintu yang tertekuk ke dalam.
“Eughh …,” Dante melenguh kesakitan karena tubuhnya serasa dibanting berkali-kali. Sebelah tangannya tak bisa digerakkan, membuatnya kesulitan keluar dari mobil.
“Dan,” panggil Vicente, “ban-tu a-ku.”
“Bagaimana aku membantumu kalau aku saja masih kesulitan. Aku harus segera pergi.”
“Dan, ja-ngan per-gi,” pinta Vicente sekali lagi.
“Aku tidak ingin tertangkap!” Kata Dante dan mencoba merayap keluar.
“Keluar!” Mulut pistol sudah berada di pelipis Dante saat ia berhasil mengeluarkan setengah tubuhnya dari mobil.
Sialll!!! - gerutu Dante dalam hati.
Sementara untuk Marco Lawrence, ia harus dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka tembak yang cukup serius. Tembakan itu hampir mengenai jantungnya hingga kini kondisi cukup memprihatikan.
“Aku pulang dulu, Nil,” kata Gregory setelah memastikan semuanya sudah berada pada tempatnya.
“Ok, Capt!” Danilo beserta para anggota tim yang lain bergantian jaga karena ini merupakan pencapaian besar bagi mereka. Mereka tak ingin apa yang sudah mereka lakukan menjadi sia-sia.
**
Di dalam apartemen, Grace yang sudah selesai membersihkan pecahan vas, akhirnya membersihkan dirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi dan ia masih tidak bisa tidur.
Saat Grace naik ke atas tempat tidur, ia mendengar pintu terbuka. Ia yang memang menantikan kepulangan Gregory hanya berharap bahwa Gregory-lah yang masuk ke dalam apartemen.
Dan benar saja, saat melihat kehadiran Gregory di ambang pintu, Grace langsung menghampiri dan memeluknya. Gregory yang melihat sikap Grace merasa aneh, tapi ia sangat senang.
__ADS_1
“Ada apa denganmu?” tanya Gregory.
“Kamu dari mana saja? Kenapa tidak mengabariku? Apa kamu tidak tahu kalau aku kuatir?” tanya Grace secara beruntun.
Gregory yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung menampakkan senyumnya. Rasa lelah dan letih yang menderanya tiba-tiba saja menguap.
“Aku akan mandi dulu, nanti aku akan menceritakannya padamu,” jawab Gregory.
“Apa kamu ingin makan sesuatu?” tanya Grace.
“Bagaimana kalau mie instan saja? Aku ingin yang cepat dan hangat.”
“Baiklah, aku akan menyiapkannya,” Grace berjalan ke dapur sementara Gregory membersihkan diri di salam kamar mandi yang berada di salam kamar tidur yang ditempati Grace.
Tak butuh waktu lama bagi Gregory untuk mandi. Ia telah menggunakan kaos dan sebuah celana pendek sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia berjalan ke arah meja makan. Di sana sudah tersedia mie instan dengan beberapa pelengkap dan terlihat masih sangat hangat.
“Makanlah,” Grace meraih handuk yang dipegang oleh Gregory dan membawanya ke tempat di mana ia biasa menjemurnya.
Gregory melihat mie instan itu kemudian tersenyum. Rasa mie instan itu begitu berbeda. Ia bisa merasakan kehangatan dan kenikmatannya. Grace membiarkan Gregory menghabiskan makanannya, setelah itu ia membersihkan semuanya.
“Sekarang katakan padaku, kenapa kamu tidak mengabariku?”
“Maaf. Awalnya aku ingin mengirimkan pesan, tapi karena orang yang kami cari sudah mulai bergerak, jadi aku tidak sempat. Maaf membuatmu kuatir,” kata Gregory.
“Kamu tahu, aku sampai tidak bisa tidur dan memecahkan salah satu vas milikmu.”
“Jadi kamu belum tidur?” tanya Gregory dan dijawab dengan gelengan oleh Grace.
“Aku sudah pulang sekarang, kamu tidurlah. Aku juga akan beristirahat. Dan masalah vas, tidak mengapa. Aku senang kamu mengkuatirkanku,” kata Gregory sambil tersenyum.
Mereka berdiri bersama, Grace berjalan ke kamar dan Gregory ke ruang kerjanya. Grace tahu selama ini Gregory tidur di sofa yang ada di ruang kerjanya dan ia tahu di sana sangat tidak nyaman.
“Tidurlah di kamar, aku yang akan tidur di ruang kerja,” kata Grace.
“Tidak. Aku tak akan pernah membiarkanmu tidur di sofa. Tidurlah.”
__ADS_1
“Kalau begitu tidurlah bersamaku,” Gregory langsung menatap manik mata Grace saat mendengar perkataan itu.
🌹🌹🌹