When Doctor Meet Mr. Policeman

When Doctor Meet Mr. Policeman
#25


__ADS_3

Brakkk!!!


“Kamu kembali, Han?” tanya Laura, salah satu sahabat Hanna di rumah sakit yang bekerja di bagian obat-obatan.


“Hmm … ,” Hanna nampak tak bersemangat.


“Ada apa? Mengapa kamu tidak bersemangat?”


“Grace.”


“Grace lagi? Dia sudah tidak ada di sini dan ia tak akan mengganggumu lagi. Bukankah kita sudah berhasil membuat dia pergi dari sini pada akhirnya?”


“Dia masih ada dan ku rasa kali ini ia akan sangat mengganggu.”


“Apa maksudmu?”


Hanna duduk di kursi ruang kerjanya dan Laura duduk di hadapannya. Laura sudah tampak tak sabar mendengar apa yang akan dikatakan oleh Hanna.


“Cepat katakan ada apa! Jangan membuatku penasaran!” Katanya sedikit kesal.


“Grace yang menggantikanku di California.”


“Bukankah itu bagus! Pada akhirnya kamu bisa kembali ke sini,” kata Laura.


“Tapi tahukah kamu dia bersama dengan siapa?”


“Siapa?”


“Keponakan Dokter Steve, Kapten Polisi Gregory,” Laura menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Yang benar?”


“Benar! Karena itulah aku kesal. Kenapa selalu dia yang mendapatkan apa yang kuinginkan. Kali ini aku harus mendapatkannya, hanya saja aku belum menemukan caranya,” ungkap Hanna kesal.


“Aku akan membantumu memikirkan caranya. Untuk sekarang, aku kembali dulu ke apotik. Nanti aku akan menghubungimu kalau sudah menemukan ide,” kata Laura.


“Baiklah! Aku menunggu ide darimu. Aku tidak ingin gagal lagi kali ini.”


Laura segera keluar dari ruangan Hanna karena sedari tadi supervisor di divisinya sudah mengiriminya pesan karena banyak yang mengantri untuk mendapatkan obat, namun kekurangan jumlah staf.


**


Danilo terus menghubungi Gregory karena pekerjaan yang semakin lama semakin menumpuk. Banyak kasus kriminal yang harus segera ditangani dan diselesaikan.


Setelah kepulangan Hanna kemarin, kini Gregory yang akan kembali ke Kota Meksiko.

__ADS_1


“Aku akan kembali. Ingat, jangan melarikan diri dariku!” pesan Gregory pada Grace.


“Aku tidak akan ke mana-mana. Tapi sebaiknya jangan memaksakan hatimu padaku karena aku tidak akan pernah bisa menerimanya. Aku sudah memiliki seorang kekasih dan aku tidak akan meninggalkannya,” kara Grace.


“Aku tidak peduli! Selama janji pernikahan belum terucap dari mulutmu, maka akan masih ada kesempatan untukku,” Gregory pernah merasa kehilangan cintanya pada gadis kecil berusia 15 tahun. Ia bahkan mendengar kalau gadis itu berhasil ditemukan dan dibunuh.


“Terserah padamu saja.”


Hari ini Grace akan membereskan beberapa barang miliknya yang penting dan ia gunakan sehari-hari untuk dibawa ke apartemen. Ia akan menggunakan rumah yang ia sewa di Desa S sebagai klinik dan juga tempat istirahat kala ia libur bekerja.


“Kak!!” teriakan dari arah depan rumah membuat Grace berjalan menghampiri.


“Nicole! Ada apa?”


“Apa kakak akan pergi? Aku dengar kakak akan pindah ke kota besar,” tanya Nicole.


“Aku ke sana hanya untuk bekerja. Jika aku libur, aku akan kembali ke sini dan membuka praktek seperti biasa.”


“Berarti kakak akan jarang berada di sini. Aku tahu kalau tugas dokter itu tidak mudah, pasti kakak akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit daripada di sini,” kata Nicole.


“Kakak usahakan untuk selalu kembali setiap 1 minggu,” kata Grace sambil tersenyum. Lalu dari arah kamar tidur, keluarlah Gregory yang telah rapi menggunakan seragam polisinya.


Mata Nicole langsung membulat saat melihatnya. Ia selalu menyukai seragam itu, “Apakah ini teman kakak yang kakak ceritakan waktu itu?”


Gregory melihat ke arah Nicole, “Apa dia pernah menceritakan tentang aku?”


“Ya, itu aku.”


“Bolehkah aku belajar menjadi seorang polisi darimu, tuan?” tanya Nicole. Ia menggenggam tangan Gregory dan menunjukkan puppy eyes yang membuat siapapun tidak tega untuk menolaknya. Melihat Gregory yang salah tingkah, membuat Grace terkekeh.


“Aku akan mengajarimu, tapi … tidak akan sama polisi di Meksiko dengan di California,” kata Gregory.


“Aku akan kembali ke Meksiko jika memang aku bisa menjadi seorang polisi. Aku berasal dari Guadalajara, jadi tidak akan ada masalah untukku.”


“Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan membawakanmu buku untuk dipelajari, tapi sebaiknya kamu benar-benar masuk ke akademi kepolisian untuk dapat menjadi polisi yang sesungguhnya.”


“Apakah bisa?” tanya Nicole.


“Tentu saja bisa,” senyum langsung mengembang di wajah Nicole. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku mau!”


Gregory menjanjikan sebuah tempat di akademi kepolisian untuk Nicole. Grace sangat senang mendengar hal itu, artinya impian seorang gadis akan terwujud. Bukankah hal itu juga akan mengubah kehidupannya menjadi lebih baik? Tanpa sadar Grace tersenyum dan Gregory melihatnya, senyuman yang mengingatkannya pada seseorang.


**


Hari demi hari berlalu hingga sudah 1 bulan Grace kembali bertugas menjadi seorang dokter. Namun kali ini lokasinya di California, salah satu kota besar di Negara Amerika.

__ADS_1


Gregory selalu mengunjunginya di Desa S saat hari liburnya dan mengganggu istirahatnya. Yang tidak Grace ketahui adalah bahwa ada yang mengawasinya selama 2 minggu ini. Semua gerak-gerik dan aktivitasnya tidak lepas dari pengawasan seorang pria.


“Aktivitasnya sama. Sepertinya kita bisa mulai menjalankan rencana,” katanya pada seseorang melalui sambungan ponsel.


Dari balik sebuah pohon yang tak jauh dari rumah hijau yang ditinggali oleh Grace, ia terus memata-matai. Menggunakan baju kasual berwarna putih dan bawahan celana hitam, serta sebuah kacamata berwarna hitam bertengger di depan kedua matanya.


Baru saja ia selesai dengan ponselny. Ia bermaksud untuk pergi mencari tempat persembunyian lain, tapi ia tak menyadari kehadiran seseorang.


“Apa yang kamu lakukan di sini? Dan mengapa kamu melihat ke arah rumah Dokter Grace?”


Sebuah senyuman sinis tercipta di balik wajah yang tertutup kacamata hitam, “Aku berada di sini itu bukan urusanmu dan ke arah mana mataku melihat, itu terserah padaku.”


“Kamu memiliki niat yang buruk sepertinya.”


Pria itu tertawa, kemudian berjalan pergi, “jangan suka mengambil kesimpulan karena kamu akan merasa takut kalau kesimpulanmu itu benar. Apalagi jika kamu ikut campur, maka jangan salahkan aku kalau kamu terkena imbasnya.”


Nicole mengepalkan tangannya saat melihat pria itu pergi begitu saja. Ia langsung pergi menuju rumah Dokter Grace. Ia harus memberitahukan mengenai hal ini agar Dokter Grace menjadi waspada.


“Kak!”


“Nicole! Akhirnya kamu datang.”


“Kak, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu,” kata Nicole.


“Ada apa?” Grace menoleh memastikan apa Gregory sudah selesai.


“Apa ada Kapten Gregory?” tanya Nicole.


“Hmmm…”


“Aku melihat seseorang sedang memata-matai rumah ini. Aku tidak tahu apa maunya. Tadi aku sempat memergokinya, tapi dia hanya tertawa kemudian pergi.”


“Pria atau wanita?”


“Pria.”


Deghhh…


Grace sedikit merasa tahu siapa yang akan melakukan hal itu, “Baiklah aku mengerti. Jangan katakan pada siapapun, termasuk pada Kapten Gregory.”


“Tapi, Kak?”


“Tidak ada tapi-tapian. Jangan katakan, kalau tidak nanti ia akan terus berada di sini dan melarangku untuk keluar.”


Nicole menghela nafasnya pelan. Ia terpaksa menuruti permintaan Grace karena ia juga belum yakin apakah pria tadi jahat atau tidak.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2