
Gregory pergi menuju ruang CCTV bersama Danilo.
“Cepat putar,” perintah Danilo pada salah seorang staf di ruang CCTV.
Mereka memperhatikan video rekaman tersebut dengan teliti. Gregory menautkan kedua alisnya seakan ia pernah melihat rekaman itu.
“Apa ini rekamannya?” tanya Gregory.
“Ya, memangnya kenapa Capt?” tanya Danilo.
“Aku sepertinya pernah melihat pria itu, tapi di mana?” Gregory kembali berpikir. Namun ia belum menemukannya.
“Simpan di dalam flash disk dan berikan padaku,” perintah Gregory, kemudian meninggalkan ruangan CCTV tersebut.
Dari ruang CCTV menuju ruangannya, Gregory masih terus memikirkan tentang pria yang datang mengunjungi Marco Lawrence. Ia masuk ke dalam ruangannya kemudian duduk dan menopang kepalanya, menghela nafasnya pelan kemudian memejamkan matanya.
Ia mengeluarkan ponselnya dari saku, ia ingin menghubungi Grace. Namun baru saja ia ingin menekan layarnya, Danilo datang ke memasuki ruangannya.
“Ini file rekamannya, Capt.”
Gregory menerimanya kemudian memasangkannya di komputer miliknya. Ia kembali melihat rekaman tersebut dan mempelajarinya.
“Pria itu tidak melakukan apa-apa, ia hanya bersalaman dengan Marco. Selebihnya hanya berbicara saja.”
“Tapi lihatlah, Capt. Ia terlihat marah di bagian akhir sebelum keduanya berpisah.”
__ADS_1
“Aku pernah melihat pria itu rasanya, tapi di mana?” Kata Gregory.
“Apa anda mengenalnya, Capt?” tanya Danilo.
“Aku banyak mengenali penjahat, tapi ….,” matanya tiba-tiba membulat karena mengingat sesuatu.
“Ada apa, Capt? Apa anda mengingatnya?”
“Sepertinya kita harus bekerja sama dengan Kepolisian Norwegia,” kata Gregory.
“Norwegia? Apa hubungannya kasus ini dengan Kepolisian Norwegia?” tanya Danilo heran.
“Marco Lawrence berasal dari Norwegia dan pria ini juga berasal dari sana,” jawab Gregory.
“Aku akan segera menghubungi mereka,” Danilo segera keluar dari ruangan Gregory.
**
Grace menatap ponselnya yang terus berbunyi. Semua orang pasti akan menghujatnya karena mendiamkan telepon dari Gregory, pria yang telah begitu baik padanya.
Ia sangat ingin menjawab telepon itu, hanya saja sekarang ia sedang menata dirinya, menata hatinya. Ia takut dirinya akan menyakiti Gregory, seperti dirinya telah menyakiti kedua orang tua Gregory.
“Maaf,” Grace mengusap layar ponselnya yang ia pasangkan wallpaper foto dirinya bersama dengan Gregory.
**
__ADS_1
“Capt, kepolisian Norwegia bersedia bekerja sama. Mereka menunggu kedatangan kita di sana,” ujar Danilo saat kembali memasuki ruangan Gregory.
Gregory melihat kembali ke arah ponselnya, “Siapkan keberangkatan kita ke sana malam ini juga.”
“Siap, Capt!” Danilo meletakkan tangannya di kening seraya memberi hormat.
Gregory kembali ke apartemennya. Ia tak lagi menghubungi Grace karena ia sangat mengejar waktu. Ia membereskan pakaiannya dan segera kembali ke kantor untuk pergi bersama beberapa anak buahnya ke Norwegia.
“Kalian siap?” tanya Gregory pada seluruh anak buahnya dan mereka menganggukkan kepalanya.
Mereka masuk ke dalam pesawat dan langsung menuju ke Negara Norwegia. Mereka menggunakan pesawat komersil. Dengan membawa tas ransel di punggung mereka masing-masing, mereka terlihat begitu gagah meskipun tanpa seragam mereka.
Saat memasuki pesawat, mata Gregory menangkap sosok pria yang ia yakini sebagai pria dalam rekaman CCTV. Pria itu menggunakan T-shirt dan jaket jeans dan celana panjang senada. Kacamata hitam dan masker terus berada di wajahnya.
Benar, aku tidak salah. Pria di dalam rekaman CCTV itu adalah dirimu. - batin Gregory. Ia terus memperhatikan arah ke mana pria itu berjalan. Pria itu menggunakan pesawat yang sama untuk kembali ke Norwegia.
Tak lupa mereka mematikan semua sambungan ponsel mereka sebelum pesawat lepas landas. Mereka tahu bahwa sinyal ponsel bisa mengganggu sinyal saat penerbangan.
**
Keesokan paginya, Grace terbangun dengan mata yang sedikit sembab. Semalaman ia tidak dapat tidur dan menangis jika mengingat semua kejadian hari di mana ia kehilangan semuanya.
Tak ada yang tahu bahwa Grace memendam semua trauma dan depresi di dalam dirinya.
“Aku harus menemui seorang psikiater, aku tak bisa begini terus menerus,” gumam Grace. Ia melihat ke arah ponselnya, tak ada pesan ataupun telepon dari Gregory. Hatinya tiba-tiba menjadi kosong, ia merasa ada sesuatu yang hilang.
__ADS_1
Bukankah ini lebih baik, Grace. Jika kamu dekat dengannya, kamu akan melukainya seperti apa yang terjadi dengan keluarganya. Paman Marco juga pasti akan terus mengusik hidupmu, dan itu akan membahayakan Gregory. Jika kamu mencintai dan menyayanginya, maka kamu harus menjauh agar ia bisa hidup dengan tenang. - Grace berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hari ini ia akan menemui seorang psikiater sebelum ia kembali bekerja.
🌹🌹🌹