
Setelah melalui serangkaian test dan perawatan, kini Grace hanya tinggal menjalani masa pemulihan. Grace sudah mengetahui bahwa Pamannya, Marco Lawrence, sudah meninggal. Sementara Naldo ditangkap pihak kepolisian karena pembunuhan terhadap Marco Lawrence dan juga beberapa hal lainnya.
“Kita pulang,” ajak Gregory yang menyewa sebuah mobil untuk menjemput Grace di rumah sakit dan mengantarkannya ke rumah.
“Ini?”
“Ini rumahmu, kamu bisa kembali. Pengacara Daddymu akan segera menemuimu,” ujar Gregory.
Meskipun di Mansion Lawrence tersimpan kenangan dengan kedua orang tuanya, tapi dengan melihatnya juga Grace merasakan kesedihan yang mendalam.
Grace masuk ke dalam. Ia kembali menelisik semuanya seakan baru pertama kali datang. Kadang ia melihat sudut rumah itu dengan tersenyum, tapi kadang ia menampilkan raut penuh kesedihan.
Baru saja Grace mendudukkan dirinya di sofa, pengacara Dad Martin sudah datang menemuinya.
“Gracia.”
“Uncle Throne,” sapa Grace sambil tersenyum. Ia merindukan sahabat dekat dari Dad Martin.
“Maafkan Uncle karena tidak mencarimu. Uncle mengira kamu sudah tiada, sama seperti kedua orang tuamu. Marco bahkan membuatkan makam untukmu,” Throne tak bisa melukiskan bagaimana perasaannya saat ini karena telah bertemu dengan putri sahabatnya.
“Uncle, jangan sedih lagi. Aku baik-baik saja sekarang. Aku bahkan memiliki keluarga angkat yang luar biasa menyayangiku,” kata Grace.
“Uncle percaya itu. Kalau tidak, kamu tidak akan tumbuh sebaik dan secantik ini.”
“Bagaimana keadaan Uncle sendiri?”
__ADS_1
“Uncle baik, Gracia. Bisakah kamu main ke rumah? Aunty Beth pasti akan sangat senang bertemu denganmu,” kata Throne.
“Aku akan datang, Uncle. Tapi sebelumnya, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Uncle.”
Mereka bertiga duduk di sofa ruang keluarga. Throne menjelaskan bahwa seluruh harta kekayaan keluarga Lawrence masih berada atas nama Gracia karena Martin telah mewariskannya. Saat kematian keluarga Lawrence, Throne tidak langsung memberikan seluruh aset Martin kepada Marco. Ntah mengapa ada rasa tidak percaya dalam dirinya mengenai kematian keluarga sahabatnya.
“Apa maksudmu, Gracia?” tanya Throne seakan tak percaya apa yang didengarnya.
“Uncle, aku serius. Aku ingin Uncle membagi tanah perkebunan ini kepada para pekerja. Mereka telah bekerja sejak dulu, sejak Dad masih hidup dan mereka begitu setia. Ku rasa tak ada salahnya berbagi dengan mereka.”
“T-tapi bagaimana dengan dirimu?”
“Aku sudah sangat bahagia dengan menjadi seorang dokter. Aku memiliki keluarga yang baik dan menyayangiku. Aku juga akan segera menikah dengan Gregory. Aku akan ikut dengannya dan tak akan tinggal di sini. Sesekali aku akan mengunjungi makam Dad dan Mom. Aku juga sangat yakin bahwa mereka akan senang dengan keputusanku.”
“Dan untuk aset-aset Dad yang lain, apakah Uncle bisa membantu mencari seseorang untuk mengelolanya? Begini saja, Uncle kan memiliki seorang putra. Aku ingin ia yang memimpin perusahaan Dad. Berikanlah sebagian keuntungan perusahaan ke panti asuhan dan sebagian lagi untuk mengembangkan perusahaan.”
“Aku tak akan menarik kembali kata-kataku, Uncle. Saat ini aku ingin menggunakan apa yang telah ditinggalkan oleh kedua orang tuaku dengan sebaik-baiknya dan bisa membahagiakan orang banyak.”
“Kamu memang benar-benar putri mereka, Gracia. Kebaikan dan ketulusan hatimu sama seperti yang mereka miliki. Mereka pasti akan sangat bangga jika bisa melihatmu saat ini,” ungkap Throne.
Gregory merangkup bahu Grace. Ia sangat bangga dengan apa yang dilakukan oleh Grace. Wanitanya itu bisa saja mengambil semuanya menjadi miliknya. Aset yang dimiliki keluarga Lawrence tidaklah sedikit, tapi ia sama sekali tidak ingin memanfaatkannya.
“Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Aku akan langsung menyiapkan surat-suratnya. Tapi kuharap kamu tetap berada di sini untuk menyelesaikan semuanyaz”
“Tenang saja Uncle. Aku tidak akan ke mana-mana sebelum semuanya selesai. Aku tak akan lari lagi,” kata Grace. Grace sendiri akan menghadiri sidang di mana terdakwanya adalah Naldo. Ia akan menceritakan semua yang terjadi antara Naldo dengan dirinya. Namun ia tak akan menceritakan kejadian belasan tahun yang lalu karena Naldo tak ada kaitannya sama sekali. Grace sangat yakin akan hal itu.
__ADS_1
**
Grace kini berdiri di sebuah podium di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang F&B, yang tentu saja semuanya berhubungan dengan anggur.
Ia memberikan jabatan CEO kepada putra sahabat Dad Martin, Richard Throne. Richard dengan disampingi oleh kedua orang tuanya, mengambil amanat itu dan seluruh direksi pun bertepuk tangan.
“Aku harus pulang, Uncle. Keluargaku sedang menungguku,” pamit Grace pada Throne.
“Hmm, Uncle akan sangat merindukanmu,” Throne memeluk Grace seakan memeluk putrinya sendiri. Beth yang melihat itu pun menitikkan air matanya karena melihat putri dari sahabatnya Leony kini telah tumbuh cantik dan dewasa.
“Kalau saja kamu belum memiliki pasangan, Aunty pasti akan menjodohkanmu dengan Richard,” goda Beth untuk menghilangkan kesedihan di antara mereka.
“Mom!” Richard yang mendengar namanya dikait-kaitkan pun mulai merajuk.
“Aunty, biarlah Richard menemukan pasangannya sendiri. Ia akan mendapatkannya jika waktunya sudah tepat.
“Ahhh kamu sudah dewasa sekali, sayang. Aunty jadi benar-benar ingin menjadikanmu menantu,” sekali lagi Beth menggoda Grace, membuat Gregory langsung mengeratkan pelukannya.
“Jangan cemburu, aku akan selalu memilihmu,” bisik Grace pada Gregory.
“Kita akan segera menikah setelah kembali dari sini. Aku tak akan menunggu lebih lama lagi,” bisik Gregory.
“Kami akan mengundang keluarga Tuan Throne untuk menghadiri pernikahanku dengan Gracia,” kata Gregory dengan tersenyum.
Keluarga Throne tersenyum dan sangat mengerti bahwa saat ini Gregory sedang berada dalam mode cemburu. Hal itu justru membuat mereka ingin sekali terus menggoda Gregory.
__ADS_1
🌹🌹🌹