When Doctor Meet Mr. Policeman

When Doctor Meet Mr. Policeman
#44


__ADS_3

Grace telah berdiri di depan Mansion Lawrence, mansion yang dulu adalah milik kedua orang tuanya. Tempat di mana semua kenangannya sebelum semua itu direngut paksa dari dirinya dan hanya menyisakan kesedihan dan trauma.


Trekkkkk …


Pagar tinggi tersebut perlahan terbuka dengan sendirinya karena memang menggunakan remote yang dikendalikan dari dalam. Grace melangkah masuk ke halaman mansion Lawrence, namun kali ini tanpa drama penculikan.


Dengan menarik koper yang tidak terlalu besar, ia kini sudah sampai di ruang tamu. Semua masih sama, tak ada yang berubah. Terakhir kali ke Mansion, ia hanya dikurung di dalam kamar tidurnya hingga tak bisa melihat sekeliling.


Ia tersenyum tipis dan matanya memerah menahan tangis. Semua terasa baru terjadi kemarin dan ia berharap semua itu hanyalah mimpi. Ia melihat ke arah tangga melingkar yang sangat lebar, berharap sosok Mom Leony berada di atas dan memanggilnya, kemudian langsung memeluk karena merindukannya.


Grace membuang nafasnya kasar, karena semua itu hanya angan-angannya saja. Yang paling benar saat ini adalah ia sedang membiarkan dirinya sendiri masuk ke dalam kandang singa yang akan dengan mudahnya menerkam dirinya.


“Kamu sudah datang, Gracia,” Naldo yang kini berdiri di ujung teratas tangga mulai melangkahkan kakinya untuk turun.


“Aku sudah di sini, sekarang bebaskan dia,” kata Grace.


“Sepertinya kamu sangat mengkuatirkannya sampai-sampai tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada dirimu sendiri.”


“Jangan mengalihkan pembicaraan! Penuhi janjimu!” kata Grace dengan sedikit meninggikan suaranya.


“Wuo wuo wuo, Nona Gracia Lawrence sedang mengkuatirkan seorang anak penjaga kebun anggur,” Naldo tertawa dengan keras hingga terasa menggema di dalam Mansion Lawrence.


Gracia menatap tajam ke arah Naldo. Ia merasa takut namun ia tak ingin memperlihatkannya. Ia tahu kalau semakin ia merasa takut, maka Naldo akan semakin menekannya.


“Cepat lepaskan dia atau aku akan pergi dari sini,” kata Grace.


“Kamu tak akan pernah bisa untuk pergi dari sini. Aku tak akan pernah membiarkannya. Kamu akan tinggal di sini dan menjadi milikku.”


“Kalau begitu cepat kamu lepaskan dia!” Kata Grace.


“Ou ou … tidak semudah itu. Sebelum melepaskan dia, kamu harus menikah dulu denganku,” Naldo tersenyum smirk sementara Grace menatap Naldo dengan tajam dan mengepalkan kedua tangannya.


“Terserah padamu saja. Sekarang aku ingin istirahat,” kata Grace dengan wajah yang dingin dan kesal.

__ADS_1


“Silakan calon istriku,” Naldo mempersilakan Grace untuk berlalu menuju kamar tidurnya.


Di dalam kamar, Grace meletakkan kopernya sembarangan. Ia juga tak mengeluarkan pakaian miliknya dari koper. Ia segera menarik tirai besar yang berada di jendelanya hingga ruangan itu kini menjadi gelap. Grace merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan kedua matanya.


**


“Kamu siap untuk melihat pertunjukkanku?”


Meskipun hanya melalui sebuah layar kecil, tapi Gregory bisa melihat bagaimana suasana di ujung panggilan video tersebut.


“Lihatlah bagaimana aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. Dia akan segera menjadi milikku,” tawa Naldo sambil melihat ke arah ponselnya yang langsung terhubung ke ponsel yang dihubungkan ke ruangan tempat di mana Gregory disekap.


“Sialannn!!! Kamu pasti bermain curang, dirimu pasti mengancamnya. Ia tak mungkin mau menikah denganmu!” teriak Gregory yang emosi karena mendengar tawa Naldo.


“Aku tidak pernah peduli dengan apa yang kulakukan. Cara curang atau tidak, yang penting aku mendapatkannya. Gracia Lawrence, putri tunggal dari Martin dan Leony Lawrence, pewaris tunggal perkebunan anggur di Lance Hills,” Naldo kembali tertawa saat melihat wajah Gregory yang marah dengan rahang yang mengeras.


Brakkk


“Aku tak akan membiarkan kamu menyentuhnya,” gumam Gregory.


Dari balik pintu, Gregory bisa mendengar suara baku hantam. Wajahnya kini menampakkan sedikit senyuman. Dengan tangan yang terikat, ia tak bisa berbuat banyak, tapi dengan kedatangan anggota tim-nya, maka semua akan menjadi mudah.


Sementara itu di tempat lain,


Grace tengah dirias oleh seorang MUA. Seorang desainer juga telah mempersiapkan gaun yang akan digunakan oleh Grace di acara pernikahannya. Semua disiapkan oleh Naldo sejak ia menangkap Gregory. Ia sangat yakin bahwa Grace tak akan menolak permintaannya.


Ia memandangi wajahnya di cermin. Tak ada raut bahagia di wajahnya. Ia hanya memandang datar ke arah bayangannya sendiri.


Setelah selesai dirias, desainer membantu Grace menggunakan gaunnya. Ia berdiri di depan sebuah cermin tinggi yang bisa menampakkan keseluruhan tubuhnya. Cantik, itulah kata yang sedari tadi keluar dari bibir orang-orang di sekelilingnya.


Grace meminta mereka semua keluar dari kamar tidurnya, ia ingin sendiri sebelum acara pernikahannya dimulai. Ia mendekati kopernya dan membongkar sesuatu. Ia memakaikannya di kaki jenjangnya dan kembali merapikan gaunnya.


Tak akan ada satu orang pun yang bisa memaksaku menuruti kemauan mereka. Hidupku adalah pilihanku. - batin Grace sambil menatap tajam ke arah pintu kamar tidurnya.

__ADS_1


Tokk tokkk tokkk …


“Masuklah,” kata Grace sambil duduk di tepi tempat tidurnya.


“Maaf Nona, Tuan Naldo sudah menunggu anda di ruangan,” kata salah seorang pelayan.


“Baiklah, aku akan ke sana,” dengan langkah tegap dan tanpa rasa takut lagi, Grace berjalan keluar dari kamar tidurnya. Ia akan menuju ruangan tempat acara pernikahannya diadakan. Naldo sengaja mengadakannya di dalam Mansion karena ruang serbaguna Mansion Lawrence memang sangat besar. Meski begitu, ia tak mengundang siapapun.


Pintu yang berukuran tinggi dan besar itu terbuka. Naldo bisa melihat Grace dengan gaun berwarna putih yang sangat cantik dan begitu pas di tubuhnya.


“Aku pastikam hari ini kamu akan menjadi milikku,” gumamnya pelan.


Aku mengerti arti tatapanmu, tapi jangan terlalu berharap padaku. - batin Grace yang membalas tatapan Naldo dengan tajam tanpa rasa takut.


Grace berhenti persis di hadapan Naldo, “Bebaskan dia, baru aku akan melakukan pernikahan denganmu.”


“Tidak bisa!”


“Kalau begitu aku juga tidak bisa,” ungkap Grace dengan berani.


“Kamu berani melawanku? Kamu tahu kan apa yang bisa kulakukan?” Kata Naldo.


“Aku tak peduli lagi.”


“Benarkah? Cepat seret dia ke altar!” teriak Naldo kepada beberapa anah buahnya.


“Lepaskan aku!” Namun tenaga Grace tak sebanding dengan 2 orang anak buah Naldo yang sudah membawanya ke altar.


Saat Naldo sedang berbisik kepada anak buahnya, Grace mengeluarkan senjata tajam dari balik gaunnya. ia tersenyum saat memegangnya. Dengan tatapannya ia memerintahkan seorang pendeta yang akan memimpin janji pernikahannya untuk turun dari altar.


“Gracia!” teriak Naldo saat melihat Grace memegang pisau yang terlihat begitu tajam.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2