When Doctor Meet Mr. Policeman

When Doctor Meet Mr. Policeman
#49


__ADS_3

“Mana sisa uangku?” tanya Laura tak sabar. Ia harus membayar beberapa belanjaannya yang ia beli secara online.


“Sudah kutransfer,” jawab Hanna kemudian meletakkan kembali ponselnya setelah melakukan transaksi.


“Terima kasih. Senang sekali bekerja sama denganmu,” ungkap Laura dengan senang. Ia langsung keluar dari ruangan Hanna dengan bersenandung.


Kita lihat apa kali ini kamu akan lolos juga? - Hanna menghela nafasnya kasar. Beberapa kali ia mencoba membuat Grace dikeluarkan dari rumah sakit, namun selalu gagal.


**


Acara yang ditunggu-tunggu oleh seluruh dokter, perawat, bahkan hingga staf terendah yang ada di rumah sakit kini resmi dimulai.


Steve Horison selaku pemrakarsa acara ini kini telah berdiri di atas panggung. Ia melihat dengan bahagia wajah para rekan kerjanya yang kini sudah menunggu berita bahagia yang mungkin saja akan mereka dapatkan.


Program yang diberikan oleh Rumah Sakit Horison adalah program pendidikan secara gratis dengan seluruh biaya hingga akomodasi, ditanggung oleh Rumah Sakit Horison. Sudah banyak pegawai yang dulunya hanya OB, bisa naik pangkat menjadi bagian administrasi ataupun keuangan. Tentu saja hal itu membuat kehidupan keluarga mereka menjadi lebih baik.


“Terima kasih atas kehadiran kalian semua di sini. Saya Steve Horison, sangat bangga dengan pencapaian Rumah Sakit sampai hari ini. Itu semua tak mungkin tercapai tanpa andil dari kalian semua. Terima kasih.


Untuk kali ini, saya akan mengumumkan beberapa nama yang akan mendapatkan program pendidikan secara gratis dari Rumah Sakit Horison.”


Steve membacakan hampir 15 nama dari seluruh pegawai yang bekerja di sana. Tentu saja itu membuat mereka sangat senang karena jumlahnya jauh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.


Selesai menyebutkan 15 nama, baik dari jajaran tinggi hingga rendah, Steve berdehem. Seluruh pegawai yang sedang berbahagia kini terdiam.


“Selain itu, saya juga perlu mengumumkan sesuatu. Ada beberapa dari antara kalian yang mengalami mutasi. Hal ini kami lakukan agar Rumah Sakit kita yang berada di daerah juga dapat berkembang dengan baik seperti di sini,” kata Steve.


Di posisi terdepan, Hanna menyunggingkan senyumnya. Ia sangat yakin Grace-lah yang akan mengalami mutasi. Ia merasa tak sabar mendengarnya.


“Untuk nama-nama yang saya sebutkan di bawah ini, temui saya di ruangan setelah acara ini selesai,” Steve menyebutkan beberapa nama. Senyum yang awalnya tercipta di wajah Hanna dan Laura, kini berubah menjadi muram.


Hanna mengepalkan tangannya ketika namanya disebut oleh Dokter Steve. Sementara Laura yang mendengar namanya juga disebut pun kini sedang menggigiti kuku-kukunya karena gugup.

__ADS_1


“Apa kamu membuat semuanya gagal?” bisik Hanna di telinga Laura, membuatnya merinding. Ia tahu Hanna kini akan mulai mengancam hidupnya.


“Aku sudah melakukan semuanya sesuai dengan perintahmu,” Laura balas berbisik.


Hanna menghela nafasnya kasar. Jika ia ingin mengetahui jawaban atas semua pertanyaan yang ada di dalam benaknya, ia harus menemui Dokter Steve.


**


“Dokter Hanna,” Dokter Steve selaku CEO di Rumah Sakit Horison, menghela nafasnya pelan.


“Katakan pada saya, Dok. Mengapa harus saya yang dimutasi? Bukankah selama ini kinerja saya sangat bagus? Seharusnya saya adalah salah satu yang mendapatkan program pendidikan itu,” ungkap Hanna dengan kesal. Wajahnya benar-benar tak bisa berbohong mengenai suasana hatinya saat ini.


“Baiklah jika kamu ingin tahu. Apa saya perlu menceritakan tentang komplikasi pada pasien yang membuat Dokter Grace dipindahkan ke Camp Pelatihan Kepolisian? Atau saya juga perlu menceritakan detail penggunaan morfin secara sembarangan?”


Deghhh …


Jantung Hanna saat ini berpacu dengan cepat, “Saya tidak mengerti.”


Dokter Steve meletakkan sebuah tablet di hadapan Hanna dan memutar sebuah video di mana Hanna meminta Laura untuk memberikan obat yang cukup keras bagi salah satu pasien yang ditangani oleh Grace. Jadi resep yang Grace berikan sudah benar, hanya saja Laura memasukkan obat yang berbeda pada kantong obat pasien tersebut.


Semua itu terekam dengan sangat jelas pada video itu, begitu juga dengan Laura yang mengambil morfin di tempat khusus. Hanya beberapanorang yang memiliki akses pada tempat khusus itu hingga mereka dengan mudah bisa mengerucutkan tersangka.


“T-tapi …. B-bagaimana b-bisa?” Hanna mulai gemetar.


“Sejak awal aku sudah mengetahui semua ini, karena itulah aku menugaskanmu ke California. Aku mengira kamu hanya sekedar iri sesaat pada Grace, tapi ternyata kali ini apa yang kamu lakukan sudah berlebihan.”


“Tidak! Aku tidak iri. Apa yang Grace miliki seharusnya adalah milikku, semuanya adalah milikku. Ia mendapatkan semuanya karena anda, Dokter,” kata Hanna.


“Ia tidak pernah mendapatkan apapun dariku. Semua yang ia dapatkan adalah hasil jerih payahnya sendiri. Kamu tidak akan tahu betapa keras hidupnya sejak dulu.”


“Tapi saya tidak mau dimutasi. Ini semua kesalahan Grace, bukan kesalahan saya,” kata Hanna lagi.

__ADS_1


“Atau saya harus membuka semua video ini kepada petinggi Rumah Sakit? Atau akan lebih baik jika memberikannya kepada pihak kepolisian?” tanya Steve.


Hanna membulatkan matanya. Mendengar kata polisi, membuatnya bergidik ngeri. Ia tak ingin mendekam di dalam penjara. Hal itu akan menghancurkan reputasinya, menghancurkan kehidupannya.


“Baiklah, saya menerima hukuman ini,” kata Hanna pada akhirnya.


“Saya berjanji, jika kamu berhasil membuat cabang kita di daerah berkembang dan kamu bisa merubah semua sifatmu, maka saya akan menarikmu kembali ke pusat.”


Hanna tersenyum tipis. Ia merasa bodoh dan dikasihani saat ini, tanpa sadar air matanya mengalir.


“Terima kasih Dok atas kesempatan yang diberikan pada saya. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik dan saya pastikan tak akan mengecewakan anda,” kata Hanna sambil mengusap air matanya.


Dokter Steve tersenyum kemudian memberikan surat tugas itu kepada Hanna. Hanna menerimanya dengan lapang dada. Ia pun segera keluar dari ruangan Dokter Steve dan kembali ke ruangannya untuk membereskan beberapa barang. Sebelum itu, ia mampir ke ruangan Grace.


“Bisakah aku berbicara denganmu, Grace?” tanya Hanna saat melihat Grace yang hendak keluar.


“Masuklah,” Grace akhirnya kembali masuk ke dalam dan mempersilakan Hanna untuk duduk di sofa.


“Aku tak akan lama karena aku harus segera membereskan barang-barangku.”


“Han ….,” Grace sangat tahu saat ini perasaan Hanna sedang tidak baik. Hanna memiliki impian yang sangat besar dan dengan dimutasi maka impiannya seakan berjalan mundur.


“Aku tidak apa-apa. Aku datang ke sini hanya ingin meminta maaf padamu. Aku banyak melakukan kesalahan dan kuharap kamu bisa memaafkanku. Aku tak ingin pergi dengan meninggalkan kebencian. M-maaf.”


Grace langsung menggenggam tangan Hanna, “Aku tahu kamu adalah dokter yang sangat berbakat. Aku yakin kamu akan menjadi sangat luar biasa. Kamu tidak bersalah apapun.”


“Apa kamu mengetahui semuanya?” tanya Hanna dan Grace mengangguk. Grace memang sudah diceritakan semuanya tentang apa yang menimpanya, tentu saja calon suaminya yang memberitahunya.


“Aku benar-benar minta maaf. Aku harus pergi. Sampai jumpa. Maaf jika aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu,” kata Hanna.


“That’s okay. I’m gonna miss u so much,” Grace tiba-tiba memeluk Hanna, membuat wanita itu kembali meneteskan air matanya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2