When Doctor Meet Mr. Policeman

When Doctor Meet Mr. Policeman
#42


__ADS_3

“Aku yang akan ke sana,” kata Gregory.


“Tapi Capt?!” Danilo merasa ragu ketika Gregory menawarkan dirinya yang menjadi umpan.


“Tenanglah, aku akan mengurus semua ini.”


Gregory berdiri di depan sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat Naldo melakukan transaksi penjualan anggur. Tak ada sesuatu yang aneh karena mereka melihat beberapa mobil pick-up keluar dari area itu dengan membawa hasil kebun.


“Ahhh jangan Tuan!! Tolong lepaskan kami, maafkan kami!” Gregory mendengar suara yang begitu lirih memohon.


“Apa kalian tahu apa kesalahan kalian?! Aku akan rugi besar dengan cara kerja kalian seperti ini,” suara seorang pria yang Gregory yakini adalah Naldo.


Tasss !!!!


“Ahhhh!!! Jangan tuan, sakittt!!!”


Tokk tokk tokkk


Gregory dengan pakaian ala perkebunan mengetuk pintu rumah tersebut. Naldo memberikan tanda pada salah satu anak buahnya untuk membukakan pintu.


“Siapa yang kamu cari?” tanya anak buah Naldo ketika melihat Gregory berada di depan pintu.


“Maaf, saya ingin berbicara dengan Tuan Naldo,” kata Gregory.


“Masuklah,” ujar anak buah Naldo.


Gregory masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat Naldo sedang bersama dengan seorang wanita yang tengah berlutut.


Bughhh!!!


Gregory langsung kehilangan kesadarannya ketika seseorang memukulnya dari belakang, membuat Naldo tersenyum.


“Bawa dia. Kita harus pergi dari sini,” perintah Naldo.


“Lalu aku?” tanya wanita itu.


“Aktingmu sangat bagus, tapi untuk saat ini peranmu sudah selesai,” Naldo langsung mengarahkan pistol pada wanita itu dan menembaknya tepat di kepala. Pistol itu menggunakan peredam sehingga tidak terdengar dari luar. Wanita itu langsung mati seketika dan Naldo membiarkannya tergeletak di lantai yang sudah mulai basah karena darah wanita itu.

__ADS_1


**


“Apa yang ia lakukan? Kenapa lama sekali?” gumam Danilo saat menunggu di luar.


Mereka telah menunggu 30 menit di sana sambil melihat keadaan. Rencananya Gregory akan membicarakan transaksi dengan Naldo dari seseorang yang ia kenal. Ia berpura-pura menjadi salah satu pegawai perkebunan.


Danilo yang gusar akhirnya memberi tanda pada anggota yang lainnya bahwa ia akan maju dan memeriksa. Berto yang ikut dalam rencana kali ini pun berjaga-jaga untuk melindungi Danilo.


Mendekati rumah itu, Danilo tak melihat ada pergerakan ataupun suara, sangat tenang sekali. Dari luar mereka tak bisa melihat apapun karena rumah tersebut ditumbuhi tanaman yang mulai menutupi bagian jendela.


Dari celah-celah tanaman, Danilo mengintip ke dalam rumah. Matanya membulat melihat sesuatu.


“Shittt!” teriak Danilo yang akhirnya tanpa menjaga pergerakan dan suaranya lagi, langsung mendobrak pintu dan masuk ke dalam.


Kosong, hanya itu yang ia temukan selain mayat seorang wanita yang tergeletak di lantai dengan darah yang sudah menggenangz


Berto dan para anggota yang lain mendekati Danilo, begitu juga beberapa anggota dari tim kepolisian Norwegia. Mereka memeriksa setiap ruangan namun kosong.


“Di mana kapten?” tanya Berto.


“Sepertinya ia mengikuti sasaran kita atau …,” ucapan Danilo terputus karena ia tak ingin berpikiran negatif.


“Sepertinya mereka keluar dari pintu belakang,” ujar Berto.


“Aku merasa mereka mengetahui pergerakan kita dan semua rencana kita. Tidak mungkin kapten akan menjalankan semua rencana seorang diri,” Danilo mengepalkan tangannya.


“Baiklah, aku akan memeriksa di sekitar rumah,” perkataan Berto diangguki oleh Danilo sementara Danilo memeriksa pergerakan Kaptennya dari alat yang mereka pasang.


“Bagaimana?” tanya salah satu rekan pada Danilo.


“Nihil, bahkan aku tidak dapat mendeteksi alat tersebut,” kata Danilo putus asa.


**


Byurrrr


Seember air disiramkan oleh salah satu anak buah Naldo ke tubuh Gregory yang tengah terikat di sebuah kursi kayu.

__ADS_1


“Bangunnn!!!” teriak Naldo sambil menendang kursi kayu tersebut dengan sedikit tenaga.


Gregory mengerjapkan matanya dan merasa sakit di matanya ketika sebuah cahaya seperti langsung masuk ke dalam matanya.


Bughh


Sebuah pukulan langsung ia dapatkan, bahkan sebelum ia dapat melihat dengan jelas siapa yang berada di hadapannya. Sudut bibir Gregory mengeluarkan darah, membuatnya menggelengkan kepalanya untuk memperjelas penglihatannya.


“Sudah bangun kamu?!” teriak Naldo tepat di depan wajah Gregory saat ia sudah mendapatkan kesadarannya.


Gregory tersenyum tipis saat mengenali siapa yang ada di hadapannya. Naldo tertawa keras, hingga terasa bergema di dalam ruangan itu.


“Sepertinya kamu menganggapku bodoh dengan membiarkanmu mengawasiku,” ujar Naldo.


“Kamu kira aku tidak mengenalimu, Greg? Aku menyadari kamu mengawasi dan mengikuti gerak-gerikku sejak di bandara.”


Gregory menatap tajam ke arah Naldo dan tentu saja Naldo juga membalasnya.


“Aku bukanlah Naldo yang sama, yang hanya bisa membantu membawakan keranjang-keranjang anggur. Saat ini aku adalah Naldo, pemilik perkebunan anggur dan aku tak akan membuat siapapun mengubah statusku itu. Hanya ada 1 hal yang kurang … Gracia,” kata Naldo dengan senyum smirk di wajahnya.


“Jangan mengganggunya!!” teriak Gregory.


“Aku tidak akan mengganggunya. Aku bahkan akan memberikan kehidupan yang bahagia padanya. Ia akan kembali tinggal di dalam mansion kedua orang tuanya dan menjadi ratu di sana. Aku akan membuatnya menjadi istriku,” kata Naldo tepat di depan wajah Gregory.


Bughhh


Gregory menabrakkan kepalanya ke arah Naldo hingga keduanya mengalami sedikit pendarahan.


“Sialannn!!!”


Bughhh bughhh drakkk …


Naldo langsung memukul Gregory dan menendang kursi tempat Gregory diikat dengan sangat kencang hingga Gregory jatuh ke lantai bersama dengan kursi yang kini patah salah satu kakinya.


“Kamu mencari masalah denganku, maka aku akan membuatmu menderita, bahkan sangat menderita. Kamu akan melihat dengan matamu sendiri saat aku menikahinya dan menjadikan dia milikku sepenuhnya,” Naldo mengucapkannya dengan percaya diri dan menatap sinis ke arah Gregory.


“Aku tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!! Jangan pernah sekali-kali kamu menyentuhnya!” teriak Gregory sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Posisinya saat ini masih berada di lantai.

__ADS_1


Naldo tertawa dengan sangat keras kemudian keluar dari ruangan itu. Ia memberikan tanda pada anak buahnya untuk melakukan sesuatu.


__ADS_2