
Lama sekali rasanya Hanna tak melihat kehadiran Grace di rumah sakit. Ia berpikir bahwa Grace telah berhenti dari sana, namun apa yang ia pikirkan ternyata salah.
Pagi ini Grace kembali datang ke Rumah Sakit Horison. Ia membagikan beberapa undangan untuk rekan kerja terdekatnya, termasuk Hanna.
“Aku kira kamu sudah berhenti,” kata Hanna sambil membolak-balik undangan tersebut.
“Tidak, aku hanya meminta izin kepada Dokter Steve karena harus mengurus pernikahanku.”
Grace tak ingin menceritakan masalah pribadinya, apalagi kepada Hanna yang kini ia yakini bukan sahabat baiknya. Ia kini hanya menganggap Hanna sebatas rekan kerja saja.
“Enak sekali hidupmu. Kerja tidak kerja tidak masalah, masuk tidak pun seenaknya,” sindir Hanna.
“Maaf jika kamu menganggapku seperti itu. Tapi tenang saja, aku akan berhenti bekerja di sini,” ungkap Grace yang tak ingin memulai keributan dengan Hanna.
“Benarkah? Wah, benar-benar berita yang bagus.”
Grace tersenyum, benar-benar tak menyangka rekan kerja yang ia anggap sebagai sahabatnya kini bisa berubah 180 derajat.
“Baiklah kalau begitu, aku akan memulai jam praktekku. Kamu bisa keluar dulu, Han.”
Hanna kesal karena merasa diusir oleh Grace. Dengan menghentakkan kakinya, ia keluar dari ruangan. Wajahnya pun tak bisa menipu orang-orang, terlihat sekali bahwa ia sedang marah.
“Apa kalian melihatku seperti itu?!” Kata Hanna dengan kesal dan langsung berlalu. Ia menghubungi Laura melalui ponselnya.
**
Persiapan pernikahan Gregory dengan Grace telah mencapai 80%. Tak banyak yang perlu mereka lakukan karena keluarga Alexander telah mempersiapkan semuanya, begitu pula dengan Keluarga Horison. Steve selalu mampir ke kediaman Alexander untuk membantu Chris dan memastikan semuanya berjalan sesuai jadwal.
“Sepertinya kita harus makan malam bersama untuk melepas lelah,” kata Steve menggoda Chris.
“Ayo! Bagaimana kalau kita pergi ke cafe tempat kita dulu sering nongkrong?” tanya Chris.
“Sepertinya kamu bisa membaca pikiranku,” kata Steve terkekeh.
“Kita berangkat kalau begitu,” setelah Chris pamit pada Maria, Ia segera berangkat bersama Steve dalam 1 mobil. Di perjalanan, mereka mengenang beberapa peristiwa saat mereka masih muda dan menertawakan kebodohan mereka sendiri.
__ADS_1
Setibanya di cafe, mereka duduk di kursi di mana mereka dulu sering duduk. Mereka kembali tertawa mengingatnya.
Namun, telinga Steve seakan menangkap suatu pembicaraan yang tak biasa. Ia menautkan kedua alisnya dan menghela nafasnya pelan. Ia kemudian memberi tanda pada Chris untuk diam. Ia mengeluarkan ponselnya dan merekam semua pembicaraan itu.
**
Di sebuah papan pengumuman di Rumah Sakit Horison, terpampang pengumuman bahwa akan ada acara khusus tahun ini di mana proses naik level dari dokter umum biasa ke dokter spesialis. Mereka akan mendapatkan kuliah secara gratis, bahkan semua akomodasi akan disediakan.
Hanna tersenyum saat melihatnya. Ia sangat yakin bahwa ia akan mendapatkannya.
“Lihatlah Lau, aku akan membuat semuanya lebih mudah. Kamu harus membantuku,” kata Hanna pada Laura.
“Baiklah, tapi ingat dengan bayarannya. Aku mau 2 kali lipat.”
“Tentu saja.”
“Aku ingin kamu mentransfer dulu setengahnya karena aku harus membayar beberapa cicilan kartu kreditku,” kata Laura.
Hanna mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan uang untuk Laura, “sudah! Ingat aku tak ingin kegagalan.”
“Tenang saja. Aku pastikan kamu akan mentransfer sisanya dengan cepat,” Laura tersenyum tipis kemudian segera pergi menuju divisi tempat ia bekerja dan meracik beberapa obat. Laura bukanlah seorang apoteker, ia hanya membantu menyerahkan kepada keluarga pasien obat-obat yang sesuai dengan resep. Namun kali ini ia bertingka layaknya seirang apoteker. Sebelum ia dicurigai, ia segera mengambil obat-obatan yang ia perlukan dan memasukkannya ke dalam plastik kecil.
Laura pergi ke dapur. Ia membuat teh hangat dan mencampurkan obat yang telah ia tumbuk ke dalamnya. Ia memanggil seorang OB dan mengatakan bahwa Grace tadi membuat teh dan meninggalkannya.
OB tersebut membawa teh ke ruangan Grace, “Selamat pagi, Dok. Ini teh-nya.”
“Ahhh terima kasih,” Laura menggunakan teh karena ia tahu dari Hanna bahwa Grace suka meminum teh di pagi hari. Jadi tak akan menimbulkan kecurigaan apapun jika seorang OB membawakannya.
Grace melanjutkan membaca beberapa laporan kesehatan pasien. Sebentar lagi ia harus berkeliling untuk kunjungan rutin. Grace berdiri dan menuju ke arah sofa di mana cangkir teh ia letakkan. Ia mengangkat dan akan meminumnya.
“Sayang!” teriak Gregory saat memasuki ruangan, membuat Grace kaget dan menumpahkan teh yang baru saja ia angkat.
“Ya tumpah,” kata Grace.
“M-maafkan aku. Aku tidak sengaja,” kata Gregory sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. Grace mendekatinya dan memeluknya.
__ADS_1
“Aku tak marah, tapi sebagai gantinya aku ingin minum teh buatanmu.”
“Baiklah, tidak masalah. Aku akan membuatkannya nanti,” Grace membiarkan cangkir teh yang telah kosong itu di atas meja setelah ia selesai membersihkan air teh yang tumpah.
Grace membawa beberapa laporan kesehatan pasien untuk berkeliling. Laura yang memperhatikan gerak-gerik Gregory dan Grace yang telah pergi dari ruangan, langsung mengintip ke dalam ruangan praktek Grace. Saat melihat cangkir teh itu kosong, senyum mengembang di wajah Laura.
Ia mengirimkan pesan kepada Hanna bahwa ia telah selesai menjalankan tugasnya, kini ia meminta Hanna yang melanjutkan.
**
Kepala Grace sedikit pusing. Ia tahu ia belum mengisi perutnya dengan apapun. Ia bahkan tidaj minum teh hangat seperti kebiasaannya setiap hari.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Gregory saat melihat kondisi Grace.
“Kepalaku pusing. Aku belum sarapan sama sekali.”
Gregory memapah Grace untuk kembali ke ruangan. Tanpa ia ketahui, Dokter Steve dan beberapa petinggi rumah sakit sudah berada di sana.
“Dok?”
“Uncle?”
Gregory dan Grace kaget akan keberadaan semuanya di sana, “Ada apa?”
“Kamu mendapatkan laporan bahwa kamu mengkonsumsi morfin,” kata salah seorang petinggi rumah sakit, membuat Grace memegang dadanya karena shock.
“Itu tidak benar!” kata Gregory dengan keras. Ia dangat tahu Grace tidak akan pernah mengkonsumsinya.
Grace yang terlihat sedikit pucat mencoba tetap berpegangan pada Gregory.
“Kami akan melakukan beberapa test padamu dan jika memang benar kami mendapati morfin di tubuhmu, maka dengan berat kami harus memecatmu dengan tidak hormat dan menutup sertifikat doktermu.”
“Periksalah, aku tidak menggunakannya!” ungkap Grace dengan yakin.
Seluruh petinggi rumah sakit dan juga Dokter Steve keluar dari ruangan. Gregory membantu Grace untuk merebahkan diri di sofa.
__ADS_1
“Istirahatlah dulu, aku akan kembali dan membawakanmu sarapan,” Gregory yang memiliki kepekaan berbeda, mulai merasakan keanehan dengan kedatangan Uncle Steve dan para petinggi rumah sakit. Ia merogoh kantung celananya dan mengambil kantong barang bukti yang selalu berada di sana. Ia melihat ke sekeliling ruangan Grace tapi tidak ada yang mencurigakan. Ia mengambil cangkir teh yang terakhir dipegang oleh Grace, juga gelas yang berisi air mineral di atas meja.
🌹🌹🌹