When Doctor Meet Mr. Policeman

When Doctor Meet Mr. Policeman
#41


__ADS_3

Gregory sampai di Negara Norwegia. Saat akan turun dari pesawat, ia tak langsung turun, tapi menunggu pria yang ia amati sejak berangkat untuk turun lebih dulu.


“Apa kita tidak akan turun, Capt?” tanya Danilo.


“Tunggu semua turun saja, baru kita turun. Aku tidak mau berdiri mengantri seperti itu,” jawab Gregory beralasan.


Gregory tak menyalakan ponselnya karena ia masih menggunakan simcard dari Negara Meksiko sehingga dinyalakan pun tak akan berguna. Ia akan mengandalkan alat yang dibawa oleh anggota tim-nya untuk menghubungi kantor pusat maupun untuk saling berkomunikasi.


Mereka turun dari pesawat dan langsung menuju ke hotel. Setelahnya mereka akan menemui Kepolisian Norwegia.


**


Grace mendatangi sebuah klinik. Ia tak ingin menemui psikiater yang ada di Rumah Sakit Horison karena hal itu pasti akan menjadi perbincangan. Saat ini, sedikit saja gerak gerik dari Grace, akan membuatnya menghela nafas panjang karena tak percaya dengan apa yang bisa dibuat oleh rekan kerjanya.


“Permisi, apa saya bisa menemui Dokter Luis?” tanya Grace pada bagian resepsionis.


“Apa anda datang untuk konsultasi?”


“Ya.”


“Saya akan mencatat terlebih dahulu karena saat ini Dokter Luis sedang ada pasien. Apa saya bisa meminjam kartu pengenal anda?”


Grace menganggukkan kepala dan menyerahkan kartu pengenalnya, “Baiklah kalau begitu.”


Grace duduk di sebuah sofa panjang. Ia duduk bersebelahan dengan sebuah meja yang berisikam beberapa majalah. Ia mengambil salah satunya dan mulai membuka lembar demi lembar untuk mengusir kebosanan.


Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya dan memeriksa apakah ada notifikasi pesan ataupun panggilan, namun ternyata tidak ada sama sekali.


Ya Tuhan, apa aku sekarang malah mengharapkannya? Belum sehari ia tak mengirimiku pesan, perasaanku sudah mulai gundah. - Grace terus membuka lembar demi lembar tanpa membacanya sama sekali. Tubuhnya ada di sana, tapi tidak jiwanya. Ia seakan kehilangan sesuatu.


“Nona Grace,” panggil bagian resepsionis yang kini mengijinkan Grace untuk masuk ke dalam ruangan Dokter Luis.

__ADS_1


“Selamat sore,” sapa Dokter Luis saat melihat kedatangan Grace.


“Selamat sore, Dok,” Grace memang baru datang ke sana sore hari karena ia menyelesaikan jadwal prakteknya terlebih dahulu di Rumah Sakit Horison. Ia tak ingin rekan-rekannya membicarakannya lagi dengan mengatakan bahwa ia tidak profesional dalam bekerja.


Grace dan Dokter Luis duduk berhadapan. Luis melihat data yang ada dalam secarik kertas yang diberikan oleh salah satu perawatnya.


“Grace Alexander?”


“Ya, saya.”


“Apa anda bersaudara dengan Theo?” tanya Luis.


Grace menengadahkan kepalanya dan melihat ke arah Luis. Ia menganggukkan kepalanya, “hanya saudara angkat.”


Welehhh si curut itu nggak pernah ngomong kalau punya saudara angkat cantik begini. Emang pada nggak ada akhlak, pada punya pacar diem-diem aja, ninggalin gue jones sendiri begini. - batin Luis menggerutu.


“Apa anda mengenal Theo?” tanya Grace.


“Tentu saja, ia adalah sahabatku.”


“Tenanglah, aku tidak akan menceritakan apapun pada Theo, meskipun dia adalah sahabatku. Aku tahu etika kedokteran dan tahu bahwa rahasia seorang pasien harus kujaga.”


“Benarkah? Aku tidak ingin keluargaku mengetahui apapun.”


Luis tersenyum hangat, “Aku berjanji.”


Grace pada akhirnya menerimanya. Ia diminta oleh Luis untuk duduk di sebuah sofa panjang.


“Pejamkanlah matamu dan tenangkan dirimu terlebih dahulu. Tarik nafasmu dan buang perlahan. Setelah itu buka matamu,” Luis memberikan hipnoterapi kembali pada Grace dan membuat wanita itu berada antara sadar dan tidak. Ia membiarkan wanita itu bercerita dan mengeluarkan semua isi hatinya.


Hampir 1 jam Grace berada di sana. Ia membuka matanya perlahan, “bagaimana perasaanmu sekarang?”

__ADS_1


“Aku sedikit merasa lebih baik. Tapi … apa traumaku ini bisa disembuhkan?” tanya Grace.


“Yang bisa membuatnya sembuh hanyalah dirimu sendiri. Aku hanya membantu meringankan semua beban yang mengendap di dalam hati dan pikiranmu. Hanya dirimu sendiri yang bisa melepaskan semua dan menerima hal yang terjadi pada dirimu sekarang ini.”


Grace tersenyum tipis, “Terima kasih.”


“Kembalilah ke sini 1 minggu lagi. Kita akan mengulangi kembali apa yang kita lakukan hari ini,” kata Luis.


“Baiklah. Terima kasih banyak, Dok.”


“Sama-sama.”


Grace keluar dari ruangan Dokter Luis, sementara Luis hanya melihat Grace yang menjauh.


“Apa yang akan dikatakan oleh Theo jika ia mengetahui hal ini? Aku tidak menyangka di balik wajah cantik itu, menyimpan trauma yang begitu mendalam,” Luis menghela nafasnya pelan.


Dan sepertinya aku harus segera mencari pasangan hidup. Aku sudah kalah berapa ini dibanding Nic dan Theo, bahkan mereka sudah akan memiliki buntut. Luis, Luis, cepetan cari kekasih sebelum orang tuamu kembali memaksamu menikah dengan Leora. - Luis merapikan catatan para pasiennya. Ia akan kembali pulang dan berhadapan kembali dengan Mommynya yang akan berteriak meminta cucu darinya setiap ia melangkah masuk ke dalam rumah.


**


Gregory telah mengatur drama penjebakkan untuk pria dalam rekaman CCTV yang tak lain adalah Naldo. Ia sangat yakin itu adalah Naldo karena gerak-geriknya sama persis saat ia menangkap Grace waktu itu.


“Apa ini akan berhasil, Capt?” Tanya Danilo.


“Kita akan berhasil san kita harus berhasil. Bukankah kita juga dibantu oleh tim kepolisian Norwegia?”


“Ntahlah Capt, aku hanya merasa ada sesuatu yang akan terjadi.”


“Tenanglah, kamu terlalu grogi saja karena baru kali ini kita beraksi di negara lain. Siapa tahu setelah ini kamu akan bertemu dengan jodohmu,” goda Gregory, membuat Danilo mencebik.


“Aku serius, Capt!” Danilo tiba-tiba menjadi gusar.

__ADS_1


Gregory hanya tertawa melihat tingkah Danilo. Mereka telah bersiap menggunakan rompi anti peluru dan akan segera berangkat untuk melaksanakan rencana mereka.


🌹🌹🌹


__ADS_2