
Tok.....otokk....otokkk....tokek.... Gurrr....senggurrr....brrrrrr...... Terdengar alunan suara merdu berseriosa saling sahut menyahut sehingga membuat nada lagu yang berirama merdu bagi pendengarnya. Si tokek dengan lantangnya menyuarakan suaranya yang fals bunyi tokek tokek melulu dan suara lelaki tinggi berkulit hitam mendengkur di atas bantal kapuk sambil meliukkan badannya dan berkerat gigi kuningnya serta merta menggeliat saking enaknya tidur dalam pelukan pulau kapuk.
Dengkuran kerasnya memekakkan gendang telinga bagi siapa saja yang berada di ruangan itu. Ingin ku jejali mulut yang komat kamit sambil menelan ludahnya itu dengan gombal kain atau garam yang ku taburkan di mulutnya, hingga ia akan bergibrah-gibrah dan nenghentikan suara dengkurannya.
Kalau tidak, ingin aku mengguyur air kepalanya agar ia terbangun dan menghentikan suara seruling bombaynya.
Lelaki ohhh lelaki....bisamu kok cuma mencetak mimpi saja. Ayooo donggg kamu harus bisa mencetak uang untuk keluarga kita. Coba lihat, pagi kamu mengantarkan anak sekolah TK jam 07.00 habis itu kerjamu nongkrong di warung pulang jam 08.00.
Kasih makan Ayam di kandang, jadwal tidurmu sudah kau bentangkan lagi sambil melongo dan menghampiri bantal di shofa kulit gajah keabu-abuan di ruang tamu. Entah sampai kapan nanti kamu akan tertidur apa tidur.
Suara istri membangunkan kamu aja, tidak kamu dengar atau gubris. Mungkin gunung meletus pun kamu ndak akan dengar, karena suara auman singamu lebih keras dibandingkan seekor singa betina yang baru melahirkan.
Hufftt....jengkel aku. Melihat suami kayak gitu melulu pekerjaannya tiap hari. Di jam dluhur baru dia membuka matanya, tanda jam pulang anaknya sekolah.
Habis itu tak serta merta dia ngeloyor ambil piring makan lalu tidur lagi. Yaa Allah gusti..... Apa ndak ada belas kasihan ya untuk istrinya yang sudah lelah banting tulang berpikir pontang panting gimana caranya anakku bisa makan. Ehhh....nyatanya dia ndak ada pedulinya.
Anakku makan pakai sayur apa dia tak mau tau, anak si kecil lauknya apa dia gak mau tau, anak kecilku susunya habis atau belum minum susu dia tak mau tau. Dan dia gak pernah ambil pusing.
Sebenarnya jiwaku meronta, tanganku selalu terkepal dalam hati, batinku berkecamuk, mulutku terjejal kata sabbar dalam setiap ucapan untuknya. Yaa Allah....semoga engkau menambahkan kesabaran untuk aku.
Yaa Allah semoga engkau membuka rezeki anakku walaupun hanya melalui aku yang bekerja tiap hari mengais rezeqimu Yaa Robb. Dari jual ini laba ini itu ku belikan kebutuhan untuk keluarga. Hingga keluargaku bisa merasa nyaman dan bisa makan dari lauk sayur mayur hasil keringatku.
Sabbar....sabbar...dalam hati, ucapan dan tindakanku untuk suami macam itu. Aku selalu menghibur diriku, disini aku diuji Allah SWT untuk sebuah harapan nanti disana.
Untuk sebuah pahala yang amat sangat besar. Bukankah istri tidak boleh mengatakan kata kasar sekalipun untuk suami ?
Lelakiku suamiku imamku bapak dari anak-anakku, anak menantu dari ayahku. Tapi dia tidak sadar perannya dalam keluarga, ada Bapakku yang sudah tua dimana disitu ada syurga dan rezeqi yang melimpah di dalamnya jika aku dan lelakiku mau dan mampu merawat beliau.
__ADS_1
Bapakku pun tau tabiat lelakiku suamikunyang kadang membuat jengkel dengan pola tidurnya yang tidak biasa untuk kita. Orang normal hanya butuh istirahat malam 8 jam. Dia lebih.
Di jam sepertiga malam terakhir aku menangis di keheningan malam menyampaikan segala apa yang ku rasa, mengharap agar Allah membuatnya sadar, membuka pintu hatinya namun Allah masih menguji kesabaranku.
Aku akan terus mendoa untuknya. Karena tugasku sudah gugur mengingatkan untuknya sholat, berbuat adil untuk anak dan istri dan merawat orang tua.
Ya sudahlah itu Bapakku, ini anakku tak mungkin sampai hati aku membiarkan mereka sama sepertimu menelantarkan kita. Padahal kamu Bapak, imam untuk keluarga kita. Nyatanya.....ya sudahlah.... Aku hanya bisa mengharap Allah SWT menurunkan hidayah untuknya. Aamiin.
Bukankah demikian aku harus selalu sabbar dalam doa, perilaku, hati dan bicara. Biar apapun yang ia kerjakan mendengkur di jadwal tidurnya sampai ia keluar rumah tanpa pamit yang lama entah nongkrong dengan teman-temannya, entah ngopi di warung sambil rokok-rokok an, ya sudahlah.
Bahkan saat dia hanya bisa mengorek dan menggugat kesalahan kecil padaku, aku harus diam...diam dan diam...menahan dengan istighfar dalam hati yang terluka ini. Hebat bukan seorang istri, apa kamu tidak pernah berpikir sampai situ hai lelakiku pujaan hatiku....dulu.
Sekarang tidak aku tidak lagi.memujamu sekarang tidak lagi aku jatuh hati padamu. Semua telah berlalu, cintaku sudah kau porak porandakan. Sudah kamu musnahkan dengan sifatmu yang egois, galak, jahat, otoriter dan entahlah aku jenuh sama kamu.
Aku bisa meredam semua meski itu berat dan mata ini sudah tidak tahan menahan tangis dan deraian air mata yang sudah penuh di kelopak mata ini tinggal tumpah begitu saja. Namun aku masih bisa menahan mereka agar mereka tak jatuh di pipi kanan kiriku.
Sudah tak mampu jiwa ini menanggung kedzoliman dari beban panjang yang tak ada ujungnya, tiap hari seperti ini terus, seperti sebuah pepatah setiap hari diasah semakin tajam.
Kalau aku setiap hari diasah dengan ujian beruntun dari hari ke hari minggu ke minggu bulan ke bulan masih tetap sama takaran, dosis dan timbangannya. Akan jadi banyak sabarku. Akan tambah besar pahalaku.
Ya sudah mau apalagi. Apa mungkin harus bercerai. Tidak, sabar itu tidak ada batasnya. Aku tidak seperti istri diluar sana. Ribut dikit minta cerai. Bertengkar banyak jatuhkan talak.
Jika aku meminta masalah yang ku hadapi selesai begitu saja. Apa yang kan ku peroleh. Disini...iya disini....ada pahala untuk aku, istrimu wahai lelakiku suamiku. Ketika kau marah, dan aku menimpali kemarahanmu, tambah dosa dan salah aku dihapan-NYA.
Pahalaku akan berkurang hingga mungkin terkikis habis. Apa yang kucari dari hidup ini adalah bahagia. Bahagiaku adalah melihat senyum mereka, ketika makan mereka bisa makan dengan lauk dan sayurnya.
Bahagia bisa membelikan susu untuk si kecil, bahagia bisa memberikan uang saku dan membiayai sekolah si Safi. Yang bersekolah di jenjang SMA.
__ADS_1
Kasihan anak-anak. Sudah biar saja kataku dalam hati menutupi semua tetesan air mata ini. Yaa Allah...semoga Engkau senantiasa menambahkan kesabaran dan keikhlasanku.
Bahagiaku mudah saja, kamu mengerti dan memahami aku dan anak-anak kita serta Bapakku. Itu sudah cukup. Bahagiaku bukan setiap hari kau buat aku jengah dengan kemalasanmu hai lelaki jadi jadian.
Kamu lelaki apa bukan sih. Kamu bisa cari nafkah enggak sih. Kamu bisa memberi.makan dan kehidupan yang layak enggak sih untuk kami. Setiap hari setiap saat kau tanpa melakukan apaun berlagak sok sibuk keluar sana keluar sini.
Mana waktumu untuk keluargamu, mana uangmu untuk anak dan istrimu. Mana kebutuhan belanja untuk istrimu.
Kerjamu hanya tidur, tertidur, mencium bantal dengan mesra bahkan istrimu pun tak pernah kau sentuh dengan mesra seperti bantal itu.
Ingin ku tinju ku tendang bantal itu hingga keluar jauh dari rumahku. Biar ditemukan siapa orang diluar sana dan mengajaknya bermesraan. Melek mata dari tidurmu kamu makan laku menyulut rokok kretek klepas klepus klecas klecis asapnya kau bentuk dengan daun cinta entah cintamu pada bantal itu aku tak tau.
Lelaki oh lelaki tak berguna, kerjamu hanya menjaja kesombongan kenteman-temanmu. Kau tak pernah tau seberapa besar uang yang keluar untuk menafkahi keluargamu, anakmu, ayahku dan perut buncitmu yang semakin buncit membuncit.
Taunya kamu bangun tidur kamu lapar kamu makan kamu keruk isi magic jar sekenyang perut kamu, kamu lahapi dengan lauk yang sudah tersaji di meja makan tanpa memikirkan anak-anakku, bapakku dan istriku sudah makan belum. Kamu tak mau tau. Sambil sesekali kamu mengusap jeletet di.mata kanan dan kirimu. Yuhhh ingin ku cites cutes cites....manusia ini. Tapi dia suamiku. Hilang noo pahalaku. Padahal semua yang ku beli untuk kebutuhan makan anak-anakku dan Bapakku..terkadang aku malah tidak berpikir untuk aku makan apa. Semua hanya untuk mencukupi mereka.
Dia mah enggak ngerti apa-apa. Kebutuhan keluarga habis berapa, belanja dan pengeluaran apapun mana tau dia. Taunya perut lapar kenyang merokok klepas klepus klecas klecis ngopi sama teman-temannya di warung nongkrong asyik ghibah kesana kesini. Dahhh sakbahagiamu...... Perempuan yangntidak ounya pekerjaan tetap, tapi dituntut sempurna untuk keluarganya di rumah. Disaat keluarganya lapar, tangan ini meronta ingin membuat apa tapi tak ada uang. Mau minta lelaki itu jawabnya "aku uang darimana ?". Perempuan lemah hanya bisa menangis dalam doanya. Ia hanya bisa mengadu pada Robb-NYA. Menangis dan menangis. Aku harus apa...aku harus apa... Sedang lelaki itu tidak bisa dijadikan kendaraan. Matanya tidak bisa melihat keluarganya butuh makan, hatinya kemana. Kenapa hatinya belum mendapat hidayah.
Sabarkan aku atas kelemahannya, Yaa Robb. Tapi tiap sehari 3x keluargaku butuh makan. Apakah 24 jam lebih aku banting tulang terus mengisi kantung-kantung kosong dalam perut mereka seorang diri. Hai lelaki jadi jadian, apa kamu tidak malu dengan Bapakku. Jujur aku yang mau dengan Bapakku. Kenapa dulu aku memilihmu sebagai lelaki tertampan untuk ku jadikan suamiku. Padahal diluar sana banyak sekali lelaki tampan melebihi kulit tubuhmu yang hitam terbakar panas. "Ya, itu kan pilihanmu sendiri." kata Bapakku. "Dulu kan, Bapak sudah memilihkan jodoh terbaik untuk kamu. Jadi ya jangan menyesal dan kecewa dengan pilihan-pilihan kamu. Katanya si Riyanto baik, tanggung jawab, pekerja keras. Sekarang mana buktinya ? Tunjukkin sama Bapak. Sekarang ya terima aja. Susah kamu yang nanggung. Salah sendiri. Almarhum ibumu juga tidak menghendaki kamu jadi istri Riyanto. Ya sudah, mau apalagi kamu. Nasi sudah jadi bubur. Bubur sudah tidak bisa lagi jadi beras atau nasi". Bapakku bapakku....ini lho bapakku yang bicara, hmmmm....kalau Sudah begini aku sudah tidak bisa ngomong. Sudah di skak mat sama Bapak.
"Coba kamu dulu ikutin nasehat Bapak, mau dipersunting sama Pak Anang, guru SMA Negeri 1 itu. Meski ia duda beranak satu dia masih mampu menghidupin kamu. Lha ini, makan aja yang nanggung kamu. Bukan dia nanggung makan kamu dan anak-anakmu. Mau kamu bawa kemana keluargamu ?"
"iya, Bapak. Anil yang salah."
" Sekarang ya sudah ikuti ego kamu. Tanggung semua resiko kamu. Tapi jangan pernah telantarkan anak-anakmu." meski bapak begini keras nadanya tapi masih bisa menyelipkan nasehat terindah untuk anak-anakku. Sosok orang tua ini lo yang membuat aku kuat di kakiku tempat aku berpijak. Bapakku memuntut aku sempurna meski lelaki jadi jadian itu tak memberikan nafkah ekonomi untuk kami.
Mungkin dulu aku kurang selektif memilih dia. Aku belum begitu paham dengan karakter kemalasannya. Sumami tak berguna ini yang ku tau, aku jatuh hati melihat dia pekerja keras dan hati kami bertaut. Menikah tanpa persetujuan orang tua, mengucapkan ijab qobul dan punya anak. Hidup di rumah mertuaku. Benar kata Bapakku, apalah daya Nasi telah Jadi bubur, dan bubur sudah tidak bisa jadi nasi ataupun beras. Tetap bersabbar, jalan ini semua dengan ikhlas. Ada banyak pahala menanti disana. Aamiin.
__ADS_1