
Safi bercerita kepadaku ingin mengikuti pendaftaran POLRI tahun ini. Bagai disambar geledek di siang bolong hatiku berkecamuk pikiran kacau, mata berkunang kunang dan ada perasaan gimana dan bahagia yang amat senang.
Bukan, bukan masalah tidak senang. Setiap Ibu pasti merestui cita-cita dan dambaan serta harapan ananda. Dalam benakku yang muncul. Menjadi Polisi yang konon katanya butuh biaya besar untuk masuk kedalamnya.
Tuhan, uang dari mana. Buat makan aja sulit, nak. Ibu pasti kesulitan yang amat sangat mengadakan biaya yang mungkin lebih. Namun itu hanya tersirat dalam batin saja.
Berkatapun aku tak mampu. Bicara saja aku tak berani. Pasti hati Safi akan terpupus di tengah jalan. Mungkin semangat yang telah ia bangun akan lunglai begitu saja.
Aku tak mau melukai hati si Safi. Aku juga tak mau memunculkan luka baru di hati Safi. Merestui iya tapi hanya dengan doa, Fi. Tapi aku yakin In Syaa Allah, bisa mewujudkan keinginanmu, le. Doa terbaik untukmu, nak.
Aku beranikan bilang ke Bapaknya meminta izin untuk pergi ke kota atau ku ajak bicara saja mungkin dia mau mengantar Safi sampai ke rumah sakit di Propinsi. Atau mungkin dia akan memberikan uang saku atau setidaknya dia punya simpanan uang untuk bekal Safi melakukan pemeriksaan kesehatan disana.
__ADS_1
"Hah ...Safi mau mendaftar Polisi. Tidak salah apa aku dengarnya. Emangnya aku mampu apa, kamu juga mampu apa. Sudahlah bilang ke Safi gak usah neko-neko segala. Lulus SMA ya sudah kerja saja di pabrik. Dapat uang. Kok malah ini kayak gini. Butuh biaya besar Lo kamu Ndak tau apa ?" pendapat Bapaknya Safi.
"Eh, Yah. Jangan gitu anak punya semangat, punya cita-cita ya Alhamdulillah didukung. Jangan diputusin gitu. Bisa-bisa anakmu tekanan batin ditengah jalan akibat perkataanmu yang to the point. Hati-hati kalau ngomong sama siapapun termasuk anak. Ajak dia bicara perlahan, tanyakan maksud dan tujuannya dia mau gimana habis SMA. Kalau bicara sama aku sih terserah kamu ya, mau kamu bicara kayak kaleng di geret....teng teng brengggg...., kalau sama anak belajarlah untuk mengerti hati anak. Kita ini orang tua, panutan anak, apa yang kita lakukan dicontoh sama anak. Kalau kamu baik dia akan baik sama kamu, bila tidak ya itu bisanya kamu ke anak jadi imbal balik. Hayooo tanyakan sendiri sama anakmu. " Kamu hanya diam dan manggut-manggut saja. Semoga kamu ngerti apa yang ku katakan, yah. Dan benar saja ia memanggil Safi untuk diajaknya bicara di sofa ruang tamu.
"Safi, kesini sebentar le. Ayah mau ngomong sama kamu."
"Ada apa, yah ?" Safi menghampiri ayahnya yang sedang duduk di Sofa. Aku menengahi pembicaraan mereka, manakala Bapaknya si Safi nanti ngacau bicaranya aku bisa meralat ucapannya, hingga Safi tidak kecewa dan putus asa. Tau sendiri ayahnya si Safi kalau diajak ngomong gak pernah mau open minded dan sewaktu diajak bicara menganyelkan serta tak ada respon pasti.
"Iya, yah. Itu benar. Safi sudah menyampaikan hal itu sama Ibuk. Dan Ibuk merestui dan menyemangati aku. Emang kenapa, yah ? Dengan cita-citaku ? Apa salah ya ?"
"Oh..gitu. Apa kamu sudah memikirkan masak-masak, le. Tentang semuanya."
__ADS_1
"Sudah, Yah. Memang ada apa ya, Yah ? Apa aku tidak boleh punya cita-cita Polisi ?" tanya ketus Safi ke Ayahnya sambil mengepalkan dia tangannya. Bisanya kalau sudah gini meledak amarah si Safi.
"Boleh, le. Hanya saja jadi polisi itu berat Lo. Berat resiko tugasnya dan biayanya."
"Maksud ayah apa ?" jawaban ketus dan menyeringai sambil melirik ayah. Tanda Safi mau marah anaknya.
"Begini Lo, Le. Jadi Polisi itu butuh biaya besar....." belum selesai ayahnya menerangkan sudah diputus bicaranya sama anak Lanang.
"Ayah, kata siapa jadi Polisi itu butuh biaya besar dan harus bayar gini-gini. Itu pikiran kolot yah dan pikiran orang yang tidak punya pendidikan. Dan Ayah harus tau ya, hidup ini penuh resiko tidak hanya jadi polisi saja yang beresiko tinggi dan besar. Kalau ayah tidak tau resiko hidup itu apa, tanya saja pada hidup ayah. Apa ayah tau resiko hidup itu apa ? Pada dasarnya Ayah sendiri tidak mengerti masalah hidup dan ayah tidak mengerti arti hidup dan resiko orang hidup, karena ayah tidak mau memahami semuanya. Dan membiarkan Ibu bersusah payah menghilangkan resiko hidup itu. Ayah kemana selama ini ?" Yachhh..... Safi... ada keberanian ternyata selama ini di hatimu nak, untuk membela Ibu. Kamu tau kesulitan yang terpendam di hati Ibuk. Dan kamu merasakan perihnya hidup ibu, walaupun Ibuk tidak pernah mengatakan hal itu kepadamu, nak. Biar kamu tidak tau asalkan kamu bisa tersenyum dengan adikmu, nak. Ibu sudah Alhamdulillah ikhlas ditambah lagi Ibu sangat bahagia bisa merawat Mbah Kakung kamu di usia tuanya yang ikut membantu berjuang untuk kita dalam hidup ini.
"Safi ngomong apa kamu, sama ayahmu ini. Ibumu yang ngajari ngomong kayak orang dewasa gitu. Sudah pinter ya kamu menggurui, Ayah ?" wajah murka Ayahnya si Safi.... terlihat menakutkan.
__ADS_1