Wonder Women

Wonder Women
Bermediasi Dengan Keadaan


__ADS_3

"Ibuk, aku lihat Ibuk begitu menderita ya. Menjalani hidup dengan ayah. Dari aku kecil hingga delapan belas tahun ini hidup dengan Ayah. Iya, aku tau dan merasakan Ibuk menderita. Kalaupun Ibuk bahagia Ibuk bisa senyum, karena Ibuk hendak membahagiakan aku dan adik kan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan kehidupan Ibuk. Ibuk jujurlah padaku, Ibuk sebenarnya capek kan. Tiap hari tiap saat Ibuk selalu menahan rasa itu. Ibuk lebih memilih diam hanya ingin membuat kita bahagia." Tanya Safi yang melihat aku terhanyut dengan perasaan tak karuan setelah di seberang sana Bapaknya telepon sambil seperti biasa menyeringai dengan ahhh entahlah pokoknya seperti biasa dia membentak, menggertak dan memang sudah tabiatnya seperti itu.


"Sudahlah, Safi. Yang penting kamu bahagia nak, adik dan Kakung juga hidup nyaman. Jangan pikirkan Ibuk. Allah sudah menghendaki ini terjadi, Dan sampai umur kamu di angka delapan belas Ibuk masih harus berjuang dengan kesabaran. Itu nanti sudah ada hadiahnya untuk Ibuk, nak." seketika aku menyuruh Safi untuk tidak memikirkan apapun. Yang terpenting kamu bahagia sesuai cita-cita muliamu, nak. Urusan Ibuk urusan belakangan.

__ADS_1


"Ibuk, kalau ibuk sudah tidak bisa menahan dengan apa yang Ibuk alami sudah belasan tahun lamanya Ibuk berjuang sendiri, meski sebenarnya Ibuk punya suami. Namun tak bisa dikatakan mencukupi nafkah dan menjadi Imam yang baik. Safi mau Ibuk berpisah saja dengan Ayah. Daripada Ibuk mendzolimi diri sendiri. Ibuk menangis tiap malam Ibuk merasa berat seorang diri. Toh Ibuk mencari apapun yang hubungannya dengan uang seorang diri. Safi tau Ibuk wanita kuat, Ibuk wonder women ya kita. Tapi Ibuk juga manusia lemah, wanita yang butuh bahagia, kalau dirasa Ibuk tidak kuat, jangan dipertahankan, Buk. Safi kuat karena Ibuk, tapi kalau Ibuk terluka, Safi juga ikut merasakan apa yang dirasakan Ibuk. Safi pingin kasih pelajaran buat Ayah. Benci aku sama Ayah, Buk."


"Safi jangan begitu nak, sejelek-jelek pun itu Bapakmu. Segakmampu-gakmampunya dia tetap Bapakmu. Ibuk tidak pernah kan mengajari kamu menjadi anak pendendam. Ibuk tidak pernah kan mengajari kamu untuk membenci seseorang yang sudah berbuat jahat ke kita. Biar Allah yang membalasnya, nak. Itu tabungan syurga buat kita kelak."sambil ku tersenyum pada Safi yang masih dengan perasaan kebenciannya.

__ADS_1


"Coba Ibuk nanti pikir matang-matang, ya Buk. Apa yang tadi Safi sampaikan. Ibuk jangan takut, Safi akan selalu ada untuk Ibuk dan Adik." Safi meyakinkan hatiku, bahwa kalau memang khuluk ini menjadi pungkasannya sebuah keputusanku untuk berpisah dengan Ayahnya. Dia mempunyai tanggung jawab kepada kita.


Lama ku terpekur seorang diri di pendopo rumah kakakku. Kakak laki-lakiku yang selalu dekat dengan aku. Sudah paham banget dengan apa yang aku pikirkan. Ia merasa iba dan sangat kasihan dengan apa yang telah ku jalani selama ini.

__ADS_1


"Sudah lah Bulik, kalau memang sudah tidak kuat dengan apa yang kamu rasa. Kamu akhiri Saja. Cobalah berdamai dengan keadaan yang itu bisa membuat kamu lebih baik dari hanya sekedar melamun dan tiap hari kamu merasa ditekan dengan semua kedzoliman suamimu. Kalau memang sudah tidak bisa dipertahankan ya sudah ambil khuluk. Ndak usah menunggu berpikir, berpikir dan berpikir. Sekian lama sudah delapan belas tahun loooo dari Safi kecil apa mau mengelak lagi kalau kamu bisa membuatnya berubah. Waktu terus berjalan Bulik, dari sekian belasan tahun ditunggu dengan sabar tapi dia tidak pernah memberikan penyesalannya dan taubatnya. Untuk apa dipertahankan. Sudahlah, Bulik. Tidak usah mengharapkan imam yang tidak kunjung baik. Lihat apa yang kamu dapat sekarang, hidup kamu Ndak karuan. Kamu yang memikul semua seorang diri. Kamu yang memperjuangkan anak-anakmu seorang diri. Jujur aku sebagai kakak laki-lakimu merasa kasihan tapi dibalik semua juga merasa Masyaa Allah kamu perempuan hebat, adik yang hebat."


"Jazakumullah khoiron pak de, Akan ku pikirkan lagi pak de." Begitulah aku menjawab perkataan kakakku. Memang aku kalau ada apa-apa selalu bercerita kepada kakakku. Dia penanggung jawabku setelah Bapak. Dia pengganti Ibuku. Dia yang merasa berhak menjadi wakil dari orang tuaku. Alhamdulillah dalam keadaan seperti ini masih dikelilingi orang-orang yang benar-benar sabbar dan berhati emas seperti mereka.

__ADS_1


__ADS_2