Wonder Women

Wonder Women
Delapan Belas Tahun


__ADS_3

" Wanita mengajukan Khuluk itu boleh Bulik. Selama hidup dalam rumah tangganya sedang berkecamuk marut tak karuan. Si Suami tidak bisa menjadi suami sekaligus imam yang baik. Seperti kehidupanmu saat ini. Dari delapan belas tahun yang lalu hidupmu tidak berubah. Seolah kamu patung buat keluargamu, tapi suamimu hanya bergantung pada payung yang kamu buka. Apa kehidupan rumah tangga yang normal itu seperti itu ?" Terang Kakak Iparku yang istrinya kakakku. Dia mencoba menguatkan aku dengan berdamai dengan keadaan dan membuat keputusan yang harusnya ia memang harus aku tempuh. Masak iya sih aku harus hidup dengan imam seperti ini. Yang tidak mempengaruhi keadaan dan bisanya membuat susahku daripada bahagiaku bersama anak-anak.


...----------------...


Ku mencoba bergelut dengan perasaanku dan batinku. Memohon pada NYA akan suatu keputusan yang terbaik MENURUT NYA. Memang sudah setiap malam aku membuka diri pada-NYA. Jauh sebelum perasaan berkecamuk, ada tidaknya aku dengan masalah Khuluk memang sudah ku lampiaskan semua kesabaranku pada NYA. Hidupku hanya PUNYA DIA dan matiku apalagi.


"Yaa Allah semoga keputusan keduaku untuk Khuluk kembali merupakan keputusan yang benar. Mohon berikanlah petunjukMU YANG TERBAIK Yaa Robb untuk kita semua. Aamiin."


...****************...

__ADS_1


Dan In Syaa Allah aku sudah siyap berpisah dengannya. Aku mengajukan keputusan pisah darinya dengan didampingi kakak laki-lakiku ke pengadilan.


"Bulik, kamu memang telah mengajukan khuluk atas suamimu. Memang kamu sudah pisah ranjang, pisah kamar, itu untuk menjaga perasaan kamu dengan anak-anakmu. Tapi meski demikian, kamu masih punya tanggung jawab atas suamimu. Kamu masih harus melayani makan, menyiapkan apa yang dibutuhkannya. Tapi dengan catatan kamu tidak boleh melakukan hubungan jima'. Dan apabila kamu melanggar khulukmu dianggap batal. Dan apabila kamu tidak memberikan haknya menyediakan makanan untuk dia, mencuci baju untuk dia, memasak untuk dia, itu yang tidak disukai Allah SWT. Dan sampai mediasi tiga bulan tidak memberikan suatu perubahan yang baik. Bismillah khuluk tetap bisa dilakukan. "


"Iya bude, saya sudah paham. Dan akhir-akhir ini dia sudah tidak pernah mau pulang ke rumah. Seperti yang terjadi dulu-dulu, kalau dia merasa benci dan marah dia akan keluar rumah pergi dari rumah sesuka dia waktu pulangnya. Dan ini sudah lebih dari dua Minggu dia tidak pulang, tidak pamit kemana dia pergi. Dan aku juga tidak mau mencari kemanapun dia pergi. "


" O...jadi dia sudah Ndak di rumah. Yang sabar ya, Bulik. Semoga keputusan yang kamu ambil ini benar, sesuai syariat dan semoga perpisahan antara kamu dan suamimu baik menurut NYA dan baik untuk kalian dan anak-anak serta keluargamu. Aamiin."


Begitulah selama mediasi hingga menunggu sidang ketiga dia tidak pernah menunjukkan hadirnya di rumah ini lagi. Aku berharap semoga kamu mendapatkan istri pendamping sesuai keinginan kamu. Dan semoga ini keputusan yang terbaik menurut Allah SWT, kita dan untuk anak-anak serta keluarga. Karena meniqah menurut aku bukan menikah dengan kamu saja yah, Menikahku denganmu adalah menikahi keluargamu dan kamu menikah denganku adalah menikahi keluargaku. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup kita selama delapan belas tahun lamanya hingga anak kita si Safi menjadi dewasa kamu tidak pernah membuat dia bisa bangga kepadamu.

__ADS_1


Terima kasih kamu telah membuat cerita hidup ini bersamaku dan sangat berat hati aku lebih memilih menjadi single parent dengan melepasmu, mengikhlaskanmu menjadi pendamping istrimu nanti, kelak.


Mohon maaf aku tidak bisa seperti yang engkau harapkan selama ini, mohon maaf atas kesalahanku padamu dan mohon maaf jika aku tidak berkenan menjadi istrimu sehidup saja. Sematinya aku ndak mau sama kamu, karena apa bidadaraku disana jauh lebih tampan daripada seorang kamu yang bertabiat tidak sempurna seperti layaknya Imam yang Sholeh. Dan mohon maaf kamu jauh dari kata Sholeh.


...----------------...


Dan Alhamdulillah, hari yang kita nanti sudah tiba kamu datang ke persidangan dengan mencak-mencak berkata jelek, menghinaku dan berbuat kericuhan. Dan aku hanya diam, bukan berarti mengalah tapi karena sabar aku tidak mau memancing keadaanmu. Dan biar hakim yang mengetahui bahwa kamu memang bertabiat seperti itu. Akhir kata kita sudah berpisah.


Terima kasih sudah memberikan warna pelangi abu-abu kepadaku, anak-anakku dan keluargaku selama ini. Semoga Engkau selalu dalam keadaan bahagia, mantan suamiku.

__ADS_1


~The End~


__ADS_2