
"Yah, minta uang buat beli lauk dan sayur mayur." pintaku padanya.
"Uang apa. Gak punya. Bensin sepeda saja habis kok mikir makanan."
"Yaa Allah tega kamu ya, yah. Perut anakmu berperang melawan cacing-cacing mereka, masih kau timpali seperti itu."
Sekarang semakin bebal, malas dan semakin tak jelas dia dengan dirinya dengan keluarganya. Semakin menunjukkan sifat aslinya.
Dulu aku mengenal kamu, di sebuah bus AK. Kamu dulu terkenal bijaksana dan tidak pelit. Sekarang pelitnya minta ampun dan gak ketulungan.
Minta uang dikit aja gak boleh. Sampai-sampai jatah istrimu pun tak kunjung kau penuhi. Kamu pernah beliin aku apa. Coba hatimu biar menjawabnya.
Kemalasan kini kian tertoreh pada hidupnya sekarang. Muka tebal suami tak ngerti tugas mencari nafkah dan pemalas sangat sangat pemalas. Enegh aku sebenarnya melihatmu.
__ADS_1
Bukan bukan masalah istri tak mau ngasih semangat ke suami. Dikala suami sedang jatuh. Bukan. Bukan itu.
Tapi siapa yang tahan dengan ini semua. Sampai kapan lagi kamu akan memenjarakan istrimu dengan kepahitan dan kegetiran hidup ini. Sudah tidak bisa makan, masih terlihat olehku setiap harinya kamu hanya manyun di rumah.
Berbaring di Shofa dengan menelanjangkan kakimu hingga sepaha ke shofa. Tidur-tiduran tiap hari sampai siang, kalau bosan kamu pergi ke teras sambil menghisap tuh kertas berlintingkan tembakau kering.
Kayaknya kamu sudah mulai dihinggapi dan sudah sampai stadium akut malasmu. Kamu sudah berani melanggar etika berumah tangga. Semakin kamu menampakkan keberanianmu untuk menganggur dan sebagai pengangguran banyak acara alias pengacara.
Kamu juga sekarang banyak pergi diluar rumah, tak tentu jam kamu pulang dan pergi. pulang malam tanpa bawa apapun yang bisa menyenangkan hati kami.
Pengemis dijalanan itu tanpa susah-susah, meluaskan kantung kreseknya ke arah pemberi shodaqoh sudah langsung dapat uang. Nhah ini mengemis di rumah sendiri.
Uang tak dapat cacian dapat hingga berantai. Lebih enak mengemis di jalanan pikirku daripada mengemis di rumah sendiri di hadapan suami. Astaghfirullah....
__ADS_1
Bukannya yang didapat nafkah untuk keluarga malah yang ku dapat seringaian dari dia. Dia yang suka bertukar padu, dia yang suka adu mulut, dia yang suka memutar balikkan fakta dan dia sendiri yang suka main bentak. Dia suka ngomong sama keluarga besarku, sok-sok an biar dia terlihat benar dan aku yang salah. Julik banget.
"Lho....katamu tadi kamu minta uang buat beli lauk dan sayuran. Kok nyatanya kamu dandan cantik kayak gini. Kamu hendak keluar kemana, suami di rumah Ndak ada alasan kamu bisa keluar rumah kecuali aku mengizinkanmu."
"Idih, sejak kapan kamu berhati amanah dan sholeh kayak gitu. Dan lagi nih siapa yang mau keluar. Istri dandan pakai bedak agak tebal bergincu aja sudah bingung kamu, yah?"
"Kamu tuh, daripada beli bedak dan punya bedak atau gincu mendingan kamu belikan beras, lauk dan sayur. Hei kamu,,,,lebih baik perut anak kamu yang kenyang daripada lihatin kamu berdandan cantik kayak gini. Dasar perempuan aneh." Hei dia mengatai aku. Andai kamu tau kamu pasti iba melihat bedakku yang sudah notabene tidak layak pakai.
"Hai, suamiku. Untuk menyenangkan hatimu aku rela berdandan ber-make up seperti ini. Hati siapa yang tak sakit. bila kau lukai aku seperti katamu. Apakah aku tidak berhak untuk cantik di depanmu. Padahal dari bedak, pembalut, gincu dan lain-lain kamu belum pernah membelikan untuk aku. Andai kamu tau, untuk menyenangkan hatimu aku pakai bedak yang sudah kedaluwarsa yang sudah expired. Bedak muka yang ketika ku pakai wajahku sering gatal dan panas. Dan masih saja kamu gak peduli. Masih saja bisanya kamu menghina aku. Ayo dong berbenah introspeksi diri. Semakin hari kamu semakin tua. Semakin banyak uban yang akan tumbuh di kepalamu. Itu tandanya kamu harus tobat. Apakah kamu tidak merasakan sesak di hatimu. Pendek pikirmu. Hatimu merasa kosong ??? "
"Enggak sama sekali enggak. Malah aku bosen males di rumah denger ocehanmu."
"Astaghfirullah istri mengingatkan itu tandanya peduli dan sayang sama kamu. Biar kamu insyaf dapat hidayah kamu kejar selalu."
__ADS_1
"Halah ngecuwit aja. Aku begini juga masih bisa makan. Buktinya kamu selalu ngasih aku makan. Enakan hidup kayak gini daripada jualan. Sudah ada yang ngladeni."
"Yaa Allah, aku ngladeni kamu itu sudah tugasku. Kalau aku tidak ngladeni kamu, aku istri yang salah. Aku diam karena aku harus sabar. Disitulah istri diuji untuk mendapatkan pahala suami dari Robb kelak. Dan diwaktu nanti, aku akan mendapatkan suami baru yang bagus rupawan dan akhlaknya. Dan kamu tobatmu kapan,,,bidadari pun enggan sama kamu." godaku agar ia segera bertaubat. Tapi kenyataannya belum sampai hari belum merasuk di jiwanya. Terus semangat berdoa mendoakan dia. Semoga hatimu segera terbuka.