
Masih beruntung memiliki sebuah angkringan. Berharap ekonomi bisa terbantu dari sini. Bayangkan seorang perempuan menghidupi dapur keluarga ada Bapak Kandung, dua anak dan satu suami, tanpa penghasilan tetap yang semuanya harus jalan.
Seperti seorang profesional perempuan harus canggih mengatur keuangan mereka. Tidak cukup yab dicukupkan, kurang ya memang harus mencukupkan.
Itulah mengapa perempuan itu cerdas, wonder women kata mereka berjati halus. Tak dapat dipungkiri, kamu laki-laki jadi-jadianku, kamu lelaki tidak sejati.
Kamu hanya bisa melengkapi kebutuhan batin saja. Apakah aku dan anak-anakmu suruh makan batin saja. Apakah kamu suruh puasa ngempet.
Kalau aku memang sudah terbiasa puasa, la tapi kalau anak-anak, si safi dan Rasha. Dan ini terjadi setiap hari, seolah kamu cuci tangan masalah pengeluaran rumah tangga.
"Berasnya habis yah, kita makan apa ?" tanyaku padanya.
"Aku uang dari mana......? jawabnya.
"Susu Rasya habis."
"aku uang dari mana ?"
" Yah bayar wifi angkringan, kamu yang pasang pakai namamu, harusnya kamu tanggung jawab penuh dong, bukan aku !"
"Ya yang bayar kamulah. Aku duit dari mana. Lagian kamu yang punya hp sendiri dan si Safi. Ya yang bayar kamu to....enak aja kamu nyuruh aku yang bayar." masih bisa bersabar Aku disini.
" Yah, si Safi sudah lulus dari sekolahnya. Sementara nganggur belum dapat kampus yang baru.
__ADS_1
Itu juga kita harus lebih giat bekerja. Apa kamu akan diam terus selalu bilang, AKU DUUT DARIMANA ? Ayo dong yah, bantu aku mencukupi Kebutuhan kita."
"Uang dari Hongkong, uang gambar apa yang kamu minta, kerja aja aku enggak, aku dapat uang dari mana ?"
Astaghfirrullah.....Yaa Allah sabbarkanlah aku memiliki suami yang perangainya seperti ini.
"Ya kamulah..itu anak kamu, kamu yang nglahirin, meski aku Bapaknya. Itu anak, anak siapa sih ?"
Kalah lagi aku memperjuangkan ini semua, kalau sudah dijawab *Uang darimana Aku ? Sudah selesai lah urusannya. Kelar sudah hidup gue. heheheheh... Terus guwe mau bilang ape.....
" Yah, hari ini terakhir bayar PBB rumah dan sawah."
" Ini rumah, rumah siapa ya? Rumah Bapak dan kamu. Kok *sudimen aku suruh bayar pajak rumah, Bapakmu ! " astaghfirrullah kok ada ya manusia berhati batu seperti ini.
bukan aku atau Bapakku.
Masih lebih baik kita boleh nempatin rumah ini, merawat Bapak. DiSitu ada pahala lo...yang menanti kita. Masih bersukur di kasih rumah suruh nempatin dan dikasih sawah buat ditanam hasilnya dipetik buat keluarga.
Kamu malah mengumpat gak mau bayar ini itu. Enak sekali hidup kamu yah. Tidur kamu banyakin jamnya."
"Oiya sawah itu sawah kamu bukan, Aku tidak tinggal di sawah, aku juga disuruh pergi dari rumah juga bisa kok." jawabnya sambil menampilkan kesombongannya dia.
" Astaghfirrullah yah, kita makan dari hasil sawah, kita tidur berteduh dari rumah yang dikasih Bapakku.
__ADS_1
Pandai bersyukur yah, jangan seperti orang munafik. Sudah sepantasnya kita bayar tanggungan kita bukan malah Cuci tangan bebas tagihan seperti ini.
Bukanlah kami menyuruh aku membayar ini semua menyerahkan semua pembayarannya ke aku. Emangnya aku ini uang tinggal nyetak.
Kok enak kamu, jadi imam keluarga harusnya jadi kendaraan kamu lepas tangan. Tau gini aku jadi laki-laki aja."
"Hah....sudahlah perempuan cerewet. Masih untung aku mau jadi suamimu..kalau tidak aku tinggal kamu. Biar kamu tau rasa ! " celotehnya.
Hah....aku ditinggal pergi kamu. Kamu tidak salah ngomong ? Kita buyar aja lo saya bersorak horraiiiii..... Habis itu aku syukuran orang lima kampung aku undang semua
"Yah, terus ini gimana baiknya, sawah minta pupuk Urea 1 karung besarnya. Untuk padi sawah kita!"
"Mulai ngajak ribut lagi dahhh, itu sawah sawah kamu urus sendiri sana Pajaknya dan pupuknya. Oya berapa memang pupuk sawahnya itu ? Berharap dia ngasih dengan segenap kebaikannya dan rasa syukurnya. "
" Rp. 500.000,- per saknya ayah. Mau dibayarin semua ? "
"Aku gak punya urusan sama tuh sawah, Bayar aja sana sendiri. Aku tidak punya uang, lagian aku dapat uang dari mana ?" sudah dah kelar hidup gue, kalau sudah bunyi Azimat itu.
Kembali aku duduk tersimpuh duduk lemas, tidak ada gunanya meminta, memohon pada dia. Padahal lo hasil sawah kita petik hasilnya, kita makan buat menghidupi keluarga kita. Tapi terkadang makan dan untuk kebutuhan nasi di warung juga pakai nasiku.
Kok disuruh beli pupuk aja gak mau. Tapi kalau menghabiskan nasi dalam 1x makan. Bisa semagic jar kamu habisinnya. Apalagi kalau makanan sudah gak tengak tengok, makan hap habis nambah lagi.
Tapi ini giliran beli pupuk buat sawah Jawabmu Seenaknya saja. Harusnya kamu bantu aku ngopeni rumah, Bapakku, sawah dan semuanya.
__ADS_1
Kamu mau menang sendiri, egois, maunya kamu tidak mau Berkorban cul lepas apa-apa, tapi maunya kamu yang nguntungin kamu sendiri. LelakI aneh bin ajaib.