Wonder Women

Wonder Women
Jeritan hati Saat melahirkan


__ADS_3

Hari ini hari kedua kakak-kakak Perempuanku meninggalkanku, dengan bayi mungil yang tengah ku gendong. ada perasaan gundah, sedih dan ada perasaan tak karuan. maklum Ibu yang sudah lahiran banyak sensinya, kucing lewat aja dipikirin apalagi hal yang belum tentu terjadi juga dipikirin. Benar-benar tipe pemikir sekali.


Tiba tiba aku merasakan ingin ke belakang. Mengganti pembalut dan ingin buang air besar. Aku mencoba membangunkan suamiku yang sejak tadi mendengkur di bawah kolong tempat tidur.


" Yah, ayah tolong bantu aku. aku pingin ke kamar mandi. ingin ganti pembalut dan buang air besar sekalian. "


" Turun sendiri apa gak bisa ?" jawabnya dengan mata lengket kaya dilem. Posisi seperti ini lah yang sangat aku benci dari suamiku. Biasanya kalau di rumah, jam 09.00 belum bangun, aku bangunin. mata masih tertutup dengan keratan giginya di belalak- belalakkan matanya yang masih lengket itu.

__ADS_1


" Kalau aku bisa sendiri, tentunya aku tidak minta bantuan sama kamu."


" Turun saja sendiri dari ranjang, taruh bayi itu disitu tak mungkin dia jatuh. Pergi sana ke kamar mandi sendiri !!" hahhh aku menghela napas ku panjang sekali dan kaget ternganga aku dengar suara Rivos itu. Tega banget dia mengatakan seperti itu. Kalau aku tidak habis Caesar tentu aku tidak akan meminta bantuanmu. kataku dalam hati.


Meski aku dongkol. Masak iya sih ku letakkan bayi mungilku seorang diri di tempat tidur. Nanti kalau ada yang datang gimana dia diambil. Benar-benar nih orang ndak punya perasaan apa. Coba aku bangunin sekali lagi. mungkin aku yang salah dengar.


" Heiii kamu tau enggak sih, suami lagi tidur kamu bangunin. kamu Ndak punya etika ya. kamu Ndak punya otak. Kamu tau enggak, semalaman aku Ndak tidur njagain kalian berdua. Pagi masih suruh njagain kamu juga. Kamu perempuan bisa apa sih. Bisanya cuma ngrepotin lelaki aja" heh dia naik pitam sejadi-jadinya mengolok-olok terus mencari kesalahanku dan anak ini.

__ADS_1


Sabbar...sabbar... Yaa Allah. udah ku rasakan sakit batin dan luar dalam operasi ini. Minta tolong antar ke kamar mandi aja dia keberatan. Kalau aku bisa tentunya aku Ndak bakal ngrepotin kamu. Dongkol rasanya hati ini. Pikiran dan amarahku bercampur menjadi satu..hendak mendidih namun ku larang mereka mendidih.


Ditatihhnya aku oleh dia pelan tapi kasar. hingga pegel pingin banget aku berdiri sendiri jalan sendiri pipis sendiri, namun apa daya. Bismillah aku mencoba namun aku tak bisa. aku tak boleh ada pergerakan yang lebih dulu. takutnya nanti pendarahan di bekas jahitan.


Ya sudah aku bersabar, apapun yang kamu katakan yang kamu lakukan dan tindakan apapun hingga mulutmu berbisa sekalipun aku akan diam. karena diamku bukan aku kalah sama kamu. tapi untuk memperbaiki keadaanku.


Aku mencoba duduk sendiri di Closed meski sambil meringis menahan sakit. Coba saja masih ada dua kakakku seperti kemarin. aku dibantu, aku didudukkan di Closed dengan lemah lembut, sabbar dan tanpa ada gertakan seperti ini. udah tau sakit masih saja diomelin. O kamu belum tau jadi perempuan ya makanya kamu tak tau.

__ADS_1


__ADS_2