
" Mbak, tolong dibuatkan singkong mlethek goreng 1 porsi bungkus ya mbak. Mau tak bawa pulang untuk Mbah Dok di rumah. Yang Ceker lunaknya sumer tak makane disini." tetiba Mbah No datang dari arah pintu angkringan dan meminta dibuatkan singkong mlethek goreng dan ceker lunak produk andalan angkringan kita. Singkong mlethek kita terkenal mlethek beneran, karena itu produksi Angkringan kita sendiri.
"Enggih Mbah No. Dalem damelne." jawabku dalam bahasa Jawa yang artinya. (Iya, Mbah No. Saya buatkan). Bergegas anak Lanang (anak laki-lakiku) membuat ceker tulang lunak tapi dading tetap utuh. Sedang aku menggoreng Singkong mlethek itu.
"Mbak, Pak e kemana 3 harian Ndak kelihatan ? Apa sakit di rumah terus ?" tanya Mbah No l.
" Boten niku, Mbah. Bapak e sehat Alhamdulillah tapi boten sakit njih boten Ting griyo. Nembe kesah duko Ting pundi." (Tidak itu, Mbah. Bapak sehat Alhamdulillah, tapi tidak sakit dan tidak ada di rumah. Ini sedang pergi tapi tidak tau kemana).
"O o o o pergi ?" Mbah No terperanjat dan dengan emoticon melongo.
" Niki Mbah Cekernya kalih nasi boten Mbah ?" Si Safi menyodorkan olahan ceker lunak sumer pedasnya ke meja Mbah No.
__ADS_1
" Boten, le. Namung pingin Maem ceker. Matur suwun ya, le." (Tidak, nak. Ini saja cuma ingin makan ceker. Terima kasih sudah dibuatkan).
" Enggih Mbah, sampun 3 hari kepungkur. Pangapunten Jane Kulo boten Bade matur tapi Mbah No sanes tiyang sanes kanggene bojo Kulo."( Iya Mbah. Mohon maaf sebenarnya saya tidak mau menceritakan tapi Mbah No bukan orang lain untuk suami saya).
Lalu aku menyampaikan kepergiannya kapan, dengan keadaan apapun tidak ada amarah apapun diantara kita. Bukan bermaksud untuk membuka aib suami pergi keluar rumah tanpa pamit, meninggalkan 2 anak dan istrinya tanpa ditinggali nafkah atau dinafkahi.
Tanpa ditinggalkan beras, kebutuhan makan dan bekal untuk ke depan. Dia mana menggubris padaringan beras sudah kering butuh beras untuk mengisinya.
"Lo, tak pikir dia dirumah. Perasaan baru aja pulang dari pergi, to. Kok Iki wis lungo maneh. (Kok ini sudah pergi lagi)".
"Boten ngertos Mbah. Kulo nggih boten Ajeng madosi boten Ajeng tanglet rencange. Sampun kesel Kulo nyrateni, nggathekne LAN sapanunggalane. (Tidak tau Mbah. Saya tidak akan mencari, saya tidak akan tanya ke temannya. Saya sudah capek memperhatikannya)".
__ADS_1
Kata Mbah No, padahal sudah dikasih pengertian suruh sabar hidup berumah tangga itu sulit. satunya marah satunya harus diam. Orang laki-laki harus bisa jadi imam, bapak ngayomi anak istri.
"Sebenernya kurang sabar bagaimana istrinya ini, kurang perhatian apa istrimu itu. Kalau istri kamu bukan mbak e itu Gak kuat mungkin menjalani rumah tangga sampai umur Si Safi 18 tahun ini" Wejangan Mbah No ke suami.
"Sampun kersane, Mbah. Kulo sampun ikhlas. In Syaa Allah wonten pahala kagem Kulo ( Sudah biarkan saja Mbah. Saya sudah ikhlas, In Syaa Allah ada pahala dibalik semua ini).
"Kalau sy lihat dia tidak ada di kota ini mbak, kalau masih di kota ini tentu dia akan berkeliaran dan akan bertemu serta menemui saya. Kenyataannya tidak."
Mbah No sampai geleng-geleng kepala sambil menggigit menikmati ceker lunaknya si Safi. Beliau sampai heran dan tak habis pikir kok bisanya suami melakoni pulang pergi sesuka hati. Masa bodoh dengan kehidupan istri dan anak-anaknya serta keluarga yang ditinggalkannya. Hidup mereka seperti digantung. bagaimanapun tidak.... Mereka dibiarkan hidup dikalar seperti embekkkkkk.... tanpa dikasih makan. Beruntung mbaknya ini tidak bergantung penuh ke orang macam ini. Mbah No berkata dalam hati.
Dan ku tinggalkan Mbah No menyantap hidangannya. Singkong mletheknya sudah kering, karena nggorengnya dilanjutkan si Safi. Beginilah aku berjuang dan berjuang hanya bersama anakku laki-laki, sementara anak kecilku sekolah di TK.
__ADS_1
Hai kak....ikuti ceritaku ya. salam kenal dari Ngawi