Wonder Women

Wonder Women
Perjuangan Baru, Dimulai bag. 1


__ADS_3

"Ayah, Safi tidak butuh izin dan restu dari Ayah. Tanpa restu ayah pun, Safi akan tetap mendaftar. Ayah, aku tidak habis pikir sama ayah ya. Selama ini aku diam, kasihan Ibu, yah. Aku sudah dewasa dan aku bukan remaja lagi, yah. Aku tidak mau diatur dan aku juga tau batasan-batasanku sebagai anak. Aku harus tetap menghormatimu sebagai Ayah. Itu pesan Ibuk. Sejelek-jeleknya ayahku, ayah tetap ayahku. Tapi perlu ayah ketahui, pendaftaran ini MURNI ayah. Tidak ada kata membayar seperti dalam pikiran ayah. Tes ini online, yah. Tidak ada istilah titip menitip untuk mendaftarnya. Ayah, Ibu dan Kakung tenang saja. Doakan yang terbaik untuk Safi. Kalau Ayah, Ibu dan Kakung dengar tentang butuh biaya besar. Itu dipakai untuk kesana kesini ke kota propinsi untuk mengurus berkas dan angkutan bus, bensin sepeda Beat Safi dan makan Safi, Yah." terang Safi menguasai hatinya yang gundah mendengar perkataan ayahnya yang gusar. Sampai-sampai Bapakku, atau sering dipanggil Kakung atau Mbah Kakung oleh si Safi dan Rasya ikut duduk mendengarkan debat Safi dan ayahnya. Bapakku kaget Safi bicara tegas ke Bapaknya.


" Le, Safi. Kakung turut mendukung dan mengizinkan kamu, le. Untuk mendaftar. Doa terbaik untuk kamu, semoga Ini jodoh dan rezeqi kamu disini. Kakung siap membantu uang transportasi perjalanan mu kesana kemari karena Ibumu telah merawat Kakung sepenuh hati setiap saat bahkan sampai dua puluh empat jam non stop masih memperhatikan Kakung. Anggap saja itu hadiah untukmu dari Kakung ya. Semoga berhasil cita-cita kamu le, cah bagus. Cucunya Kakung. Itu impian Tati atau Mbah Ti mu dulu ketika Tatimu masih hidup."


"Terima kasih, Kung." Safi menjabat tangan Kakung dan memeluk Bapakku.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak. Entah saya tidak bisa bicara apapun sama Bapak. Syukur Alhamdulillah Kakung sudah banyak membantu hidup kita."


"Kamu ayahnya Safi. Apa kamu mau mengantarkan anakmu besok untuk melakukan pemeriksaan kesehatan ke Surabaya ? Mendampingi anakmu. Ya aku harap kamu yang menemani Safi ke kota bukan Ibuknya."


" Boten kung, Kulo boten wantun. Kulo dereng ngertos Suroboyo. Kulo tak ngramut Kakung kalih Rasya Ting griyo" artinya Tidak Kung, saya tidak berani ke Surabaya, karena saya belum paham dengan Surabaya. Saya merawat Kakung dan Rasya saja di rumah.

__ADS_1


" Hei....jadi kamu membiarkan istrimu pergi ke kota sendiri sama anakmu ? Aku Lo masih sehat masih baik-baik saja. Lebih kasihan istri dan anakmu. Berdua ke kota. "


"Enggih, Kung." translate nya iya kung.


"mmmm...... Baiklah memang anakku lebih pengalaman dalam bidang apapun dibanding kamu. Safi kamu besok berangkat sama Ibukmu aja, le. Bapakmu merawat Kakung dan nganter adik sekolah." sambil Kakung mengangguk-angguk dengan melihat Bapaknya Safi yang hanya diam sambil mengerik janggutnya dengan dua jarinya itu. Bapakku juga ndak mungkin melepaskan Safi dari tanganku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Berat memang namun harus berjuang untuk anak Lanang. Berikhtiar dan berusaha mewujudkan cita-citanya yang mulia.


Seperti sebagian orang dijam segitu masih enak-enaknya kita di pulau kapuk. Mengukir mimpi hingga berroll-roll gulungan film. Menarik selimut hingga bagian kepala, melarutkan malam yang dingin hingga bertemu bidadari. Cie...cie...itu yang sedang tidur.

__ADS_1


Bagi pedagang sayur keliling dijam segini pun juga tengah beraksi melenggang di jalan raya menuju pasar besar membeli sayuran yang dikulak untuk diisikan di tas keranjang atau di punggung sepedanya.


Dan senangnya aku, aku bertemu mereka disepanjang jalan berlalu lalang dengan motor kebangsaan si Tukang sayur keliling.


Jalan raya ramai seperti aku tidak takut lagi, karena suara sepeda Tukang sayur warr...werr... dari arah yang sama dan arah berlawanan dari arahku. Alhamdulillah Yaa Allah.


Adanya tukang sayur menjadi teman untuk kami menuju jalan ke arah Utara yang sangat sepi dan gelap yang berjarak lima kilometer dari rumah kami.


Hanya suara tembang jengkerik dan katak bernyanyi di air sawah, karena malam tadi air hujan sempat mengguyur bumi dan membasahi jalan-jalan beraspal yang kita tapaki.


Terasa dinginnnnn......seperti berada di kutub es Utara. Berapa derajat ya ini kira-kira. Aku tak tau pasti. Masyaa Allah..... Harus bertahan dan tetap semangat. Bismillah tak ada aral rintangan dan dingin ini yang bisa menenggelamkan ikhtiar kamu, nak. Ibuk akan selalu menemani kamu hingga kamu berhasil. In Syaa Allah.

__ADS_1


__ADS_2