
Ternyata walaupun dengan kata Caesar aku harus menjalani juga kontraksi dikasih suntikan pemacu. Dan juga merasakan sakit seperti orang mau melahirkan normal. Setiap bukaan demi bukaan ku lalui dengan kakak laki-lakiku yang menemaniku. Dia begitu sabar, hingga di ruang ganti baju persalinan, memegangi aku berjalan tertatih merasakan karunia Tuhan yang mengharukan.
Mau lahiran yang nungguin kakak laki-laki, dikiranya suami.... heiii....dia bisa jadi pengganti ibuku dan bapakku. Anak kedua dari bapak Ibuku ku topangi menjadi orang yang harusnya Tua. malahan dia yang rela nungguin adiknya dengan sabar, rasa sayangnya melebihi siapapun. Dia kasih aku wejangan dibantunya aku berdoa memohon pada Robb untuk kemudahan persalinanku nanti.
Dihapusnya kesedihanku akan suamiku yang seperti itu. Membesarkan hatiku dan kakakku bilang, "kamu tak sendiri, ada aku yang nemanin kamu. Hingga suamimu datang. Aku akan menjadi pengganti Bapak kita yang sedang berhaji dan Ibu yang telah meninggalkan kita. Jangan bersedih, Allah akan selalu bersamamu."
__ADS_1
Masyaa Allah kak, aku terharu dengan ucapanmu itu. Saat operasi pun aku selalu mengingat wejangan kakakku. Kakak yang selalu dekat dari jaman aku kuliah hingga sekarang yang aku sudah berkeluarga. Terima kasih kak .... tak terasa tetesan air mata ini jatuh ke pipiku.
Ketika mendekati bukaan yang hendak melahirkan seperti orang normal aku dibawa oleh suami ke ruangan operasi. Disana sudah ada team medis yang ramah, penuh canda dan dokter yang menyarankan bayiku harus segera dilahirkan.
Saat itulah kakakku meninggalkanku, dan di ruang yang dingin ini lah. Saat dibedah yang ku ingat hanya semangat kakakku. Hingga aku sadar, keluar dari ruang operasi tapi belum sepenuhnya biusku bagian kaki hilang. Masih terasa ngilu. Bagaimana anakku, seperti apa wajahnya, dengan siapa anakku, apakah sudah mendengar Adzan dia.
__ADS_1
Tetiba aku sadar dengan bius yang sudah hampir hilang, aku dipindahkan di ruangan yang sudah ada kakak-kakakku perempuanku menunggui kedatanganku. Ucap syukur dan tak lupa mereka menciumi aku yang sedang berbaring di ranjang.
Saat menjelang pagi aku dipertemukan dengan bayi mungil bernama Rasya. Lucu sekali dia. Anak tampan semoga kamu tidak berperangai seperti Bapakmu ya nak. Pintaku dalam hati. semoga engkau mengerti dan memahami doa Ibumu.
Selang satu hari dan menjelang hari kedua aku diajari kakakku untuk turun dari tempat tidur. Kamu harus pulih lebih cepat, biar kamu tidak merepotkan suamimu. biar kamu apa apa bisa mandiri. Maafkan kami adikku, kami sayang sama kamu. Kami tau kondisi kamu dan kami tidak bisa untuk diam kamu diperlakukan yang seperti biasanya kamu terima.
__ADS_1
Dua kakak perempuanku berjuang keras untuk aku harus bangun dari tempat tidur, menahan perih jahitan di perut, menangis meringis harus tetap ku tahan. Agar aku bisa pulang dengan cepat 3 hari. Dan ketika kakakku dua-duanya sudah tidak menunggui dan benar saja apa yang mereka khawatirkan padaku. Suami bengis itu kembali jahat padaku. Kasar dan membentak.
Padahal sudah tau perempuan habis melahirkan harusnya dikasih perhatian jangan dulu disuruh ini itu, jangan dulu dibentak, jangan dulu dimarahi. Itu tidak berarti untuk aku. Beruntung aku mempunyai kakak-kakak yang sayang sama aku. Hingga mereka tau betul harus mengajari antisipasi adiknya sepeninggal mereka. Dan hari ini hari kedua dari aku melahirkan anakku.