Wonder Women

Wonder Women
Seperti Orang-orangan Sawah


__ADS_3

Perjalanan pulang pergi Surabaya Ngawi tiap satu Minggu sekali bahkan seminggu hingga 2 kali sampai 3 kali, tak membuat aku dan anak lanangku jenuh di perjalanan atau waktu dan tenaga


Semua dijalani dengan ikhlas tanpa paksaan dan bismillah dalam ikhtiar kita. Semangat berangkat pagi kala jengkerik sedang berseriosa bersama tembang malam.


Malam gulita di sepertiga malam kedua dan menambah dinginnya yang pekat yang dinginnya menembus pori-pori kulit ini. Brrrr....dingin.....


Belum lagi kalau sampai terminal pertama Bus nya sudah kelewat harus menunggu hingga kedatangan bus kedua. Ndak tentu jamnya kadang bus nya datang cepet dan kadang hingga satu jam lamanya.


Justru sabarnya disini. Bulan puasa sambil ngitungin cewek-cewek ngapain pulang yang turun dari Bus trans Jakarta nan.


Tak seberapa lama bus datang. Perjalanan yang memakan waktu hingga 5 sampai 6 jam kalau kena macet di Sidoarjo setelah ganti dengan grab. Hiruk pikuknya lalu lalang sepeda motor para pekerja kantor, mengisi luangnya kekosongan waktu.


Perjalanan ikhtiar ini sudah kami selesaikan hingga beberapa bulan sebelum tes pendaftaran dibuka. Semoga Lolos ya dik. Bismillah...


#########


Dalam kurun waktu dua bulanan jarang bertemu dengan Bapaknya Si Safi. Kurang interaksi membuat kita jarang komunikasi. Alhasil tanpa sepengetahuanku angkringan ikut tutup.

__ADS_1


Huft...capek aku. Alasannya Ndak ada yang mengurus dan momong si kecil. Heh padahal si Rasya sudah umur 5 tahunan dan di angkringan sudah ada driver. Kok ya masih Ki juga beralasan.


Usut punya usut aku sempat tanda tanya apa ya aktifitas Bapaknya si Safi kalau kita tidak di rumah. Aku telusuri hp nya dan cara pamitnya dia.


Walah ternyata bener dugaanku. Masih bersama dua anak perjaka itu berkeliaran mondar mandir kesana kemari sambil mencari ayam untuk diternak.


Terang saja aku jengkel, aku tanyai hingga aku sudah tidak bisa bersabar untuk kesekian kali. Berharap condong hatinya dan membuka diri.


"Ayah, ternyata kamu gini ya. Masih saja sama mereka. Ingat kamu ini berkeluarga jangan cuma menggantung hidup kami. Kamu masa bodoh dengan urusan perut kami dan kabutuhan orang serumah."


"Dapat uang enggak setiap hari ?"


"Uang apa ? Ya endak. Uang dari mana ?"


"Lha terus ini jualan jam berapa ? sudah jam 14.30. Ini puasa Ramadhan orang butuh makan dan cari lauk itu sebelum Maghrib setelah Ashar. Kalau kamu jualan Maghrib adanya orang sudah kenyang siyap tarawih dan tidur. Terus rezeki kita kapan dapatnya, yah ? Kita itu harus cari peluang bukan meninggalkan peluang."


"la wong ini...masih...gini gini...masih nyari ayam. Ada temanku di depan."

__ADS_1


"Ya sudah, ayah pilih mana aku atau Yuba. Kalau pilih Yuba, aku mundur. Sudah capek aku mikirin semua untuk kesekian waktu hampir 17 tahun hidup seperti ini. Kamu masih Ndak bisa Suami yang baik. Hidup kamu aneh."


"Maksud kamu apa ? " Kembali dia mengernyitkan kening dan marah hingga sewoten. Tak habis pikir sambil ia mengumpat aku. Berkata jorok hingga seisi kebun binatang keluar semua. Mungkin penjaga kebun binatang tidur, hingga tak tahu menahu kalau binatangnya diajak berkelana oleh Bapaknya Safi.


Pening kepalaku, membuat panas telinga. Heran deh, orang berpuasa seperti tak berilmu. Bawaannya marah-marah kalau marahnya hingga ke pitam dah sampai mana-mana ia bawa.


Aku tak menggubris dia bersuara apapun aku tak mau tau dia ngomong apa. Yang jelas itu menyakitkan dan sangat menyakitkan. Aku sudah terlampau hafal tabiatnya.


Kalau marah ya seperti itu wong namanya gak punya ilmu. Sabar aja dia tak bisa, mulut ngomong sopan aja dia tak mampu, menghindari berkata kasar dengan pisuhan-pisuhan katanya mana bisa dia. Sungguh-sungguh keterlaluan. Hidup dengan imam yang tak punya ilmu, agama tipis dan tak ingin belajar agama.


Belajar iqro' aja kagak mau. Pintu hidayah mau masuk darimana. Berdoa sepanjang waktu sehabis sholat belum juga tumus ke perasaan hatinya. Yang ada dia semakin bebal dan semakin isbal. Semakin lupa daratan.


Semakin menjauh dari kata sempurna. Semakin entahlah... seperti orang-orangan sawah. Tidak punya kendali hatinya. Tidak punya etika rumah tangga. Semaunya sendiri.


Gimana ya pokoknya apa yang ada di pikirnya keluar dari apa yang ia pikirkan orang. Malah sebaliknya. Jadi bergumam sendiri. Andai kau tau perasaanku, mendampingimu dengan kuat seperti Popeye adalah doa setiap orang.


Tujuh belas tahun memendam dan menahan hingga Si Safi menginjak dewasa. Rasanya egomu masih mengendalikanmu.

__ADS_1


__ADS_2