
Dulu kamu sudah pernah seperti itu, ini kali ketiga kamu mengulanginya lagi yah. Dan itu membuat aku luka seperti luka lama yang kaunsayat dulu.
Anak-anak pun juga merasa demikian. Kamu memang tidak pernah membuat luka dengan senjata tajam, namun setajam apapun senjata itu lebih tajam dari perkataan dan kepergian mu kali ini.
ini kali ketiga kamu mesti pergi tanpa pamit. tak ada asap atau angin kamu keluar rumah tanpa ada kata-kata apapun dari mulut kamu.
Setau aku kita dalam keadaan baik-baik saja. Tidak pernah berantem atau tukar padu sama kamu. Tidak ada kericuhan dalam rumah kita. Apalagi anak-anak dan Bapakku juga tidak pernah memicu amarahmu.
Jadi bingung sendiri menyikapi mu. Terkadang aku berpikir ini salah siapa. Aku atau kamu sih. Heran deh.... Tak ada omongan yang melukai ataupun aku melempar amarah kepadamu, tidak. Kenapa sih kamu ngeluyur sendiri tanpa ngomong tanpa kabar-kabar tanpa bilang tanpa berpesan apa-apa setidaknya kamu nitip pesan ke anakmu si sulung.
__ADS_1
Nyatanya enggak. Aku baru menyadari setelah kepergian mu entah kemana sudah 3 hari. Perasaanku juga kita baik-baik saja. Tidak pernah berkobar api rumah tangga yang menyalat-nyalat.
Bingung banget sumpah deh. Ayah kamu kemana. Walaupun kamu itu banyak njengkelinnya nyatanya aku masih butuh kamu. Kamu itu Lo menyebalkan, kalau diajak ngomong gak pernah memperhatikan aku, kalau kamu bingung bawaannya marah-marah. Bingung sendiri ngadepin kamu.
Seorang laki-laki, Bapak, Menantu Bapakku sekaligus suamiku. Kamu belum pernah bersikap seperti orang dewasa yang berumah tangga, masih kamu simpan rapat-rapat ego kamu.
Demi apa coba kayak gitu. Kamu pergi tanpa pamit. Sedang aku dengan anak laki-laki kita yang sudah menuju dewasa harus bertarung menempuh ujian hidup untuk mencukupi makan setelah kau tinggalkan begitu saja.
Dia bilang, "Ibuk yang sabbar ya, kalau ayah pergi dari rumah aku tidak gagas, aku akan jadi teman Ibuk untuk cari nafkah keluarga. Agar kita semua bisa makan. Sudahlah Ibuk tidak usah menggubris orang itu. Benci banget aku sama orang itu." Anakku penyemangatku. tapi aku juga tidak setuju dan tidak mengajarkan dia untuk benci dengan ayahnya.
__ADS_1
Mana ada to seorang ibuk yang mengajarkan anaknya untuk benci dengan ayahnya. Yaa Allah berilah kekuatan pada hambamu ini.
Malam hingga dini hari harus berjualan nasi goreng, mie nyemek, mie Tek-tek dan makan pedas khasnya angkringan kami hingga dini hari pukul 02.00. Sedang yang melakukan pedicure manicure si ceker ayam adalah anakku.
Sedang aku yang memasaknya setiap hari berjalan seperti itu setelah ayahnya pergi entah Kemana tanpa kabar berita..Bahkan teman-temannya di bawah pohon tua itu tak mengetahui sama sekali kemana ayahnya anak-anakku pergi.
Pagi aku bangun belanja ke pasar sebelum si kecil bangun. Pulang dari pasar Alhamdulillah si kecil baru bangun. Langsung membuatkan susu dan memasak makanan untuk Bapakku yang sudah sepuh.
Aku jualan gak ngoyo. Karena ku tau kemampuanku terbatas, semua hanya ku serahkan pada robbku. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk aku mencukupi kebutuhan makan anak dan keluargaku.
__ADS_1
Aku berharap dalam doaku semoga engkau segera diberikan hidayah segalanya untuk kamu cepat pulang dan menjadi imam yang baik dan tidak egois lagi. Aamiin.
Hai kak....ikuti ceritaku ya. salam kenal dari Ngawi.