
"Nyocot ae" tergelak aku mendengar suara ketusnya ketika ia hendak ku bangun kan dari tidurnya.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, padahal jam buka angkringan jam 16.00. Padahal ceker dan daging-dagingnya semua belum dipegang olehnya. Belum dimasak.
Aku membangunkannya dari tidur dari jam 14.00. Memang sulit membangunkan ia tidur, karena ia seorang yang bebal dan ndablegh. Tapi suka sekali dikit-dikit marah, dikit-dikit sewoten, dikit-dikit omongan mulutnya jelek.
Seperti sore ini ketika aku jengkel aku bergumam agak keras dengan mulutku sendiri. Biar dia dengar. La gimana dibangunin dari suara terhalus, halus hingga suara agak melengking gak bangun-bangun.
Mungkin dia bebal, tak berilmu saking bebalnya Masyaa Allah dibangunin bak gunung Lawu meletus ya enggak bangun.
Macam bangunin orang macam apa pula to ini. "Ada adzan, Kamu dibangunin suara adzan kamu gak mau. Apalagi dibangunin aku." Langsung deh dia melempar omongannya yang ketus dan galak seperti singa punya anak.
Aku ternganga dan kaget dibuatnya. Bisa bisanya dia ngatain aku istrinya dengan bicara sangat jelek, kotor dan tak pantas didengerin oleh siapapun.
__ADS_1
Sakit hati ini, Yaa Allah. Berkali-kali enggak pagi siang sore malam dihantam oleh terkaman harimau lapar yang sedang bunting.
****************
Diseberang telepon, aku curhat dengan keponakanku.
"Bulik ada apa suaranya kok parau. Bulik habis nangis ya. Kenapa Bulik ?"
"Demi Allah Bulik sakit hati, mbak Bidah. "
"Tadi om mu, ngatain Bulik. Jelek banget. Itu mulut ngomong dengan bahasa Krama."
" Bukan kah sudah sering kali to Bulik, dikatain jelek sama om. Ya sudah anggap saja dia angin lalu. Kayak Bulik Ndak tau tabiatnya aja. Biarin Bulik, kalau memang Ndak bener nanti doanya diamini malaikat yang ada omongannya tuh balik ke dia sendiri. Cuekin aja Bulik".
__ADS_1
...----------------...
Keesokan harinya aktifitas yang kembali tersirat ngantar di Safi ke kota propinsi lagi. Ndak sampai hitungan harian SE siang semalam, pagi berangkat sore jam 15.00 sampai Konsul dokter pukul 17.55 sudah pulang kembali.
Ditengah perjalanan di ujung warung sana di angkringan kita lebih tepatnya, ku lihat kau menelepon aku. Memang saat itu ada yang pesan makanan.
"Sayurnya dimana, orang sayurannya Ndak ada di kulkas. kok bilang masih ready." Suara di ujung telpon sana bicara nyerocos dan maki memaki hingga setengah membentak. untung tidak ku keraskan suara telpon itu.
Setelah ku redam suaranya yang akhirnya ku matikan, takut kalau driver grab car mendengar caciannya. Sudah jelas aku kecewa yang sangat dengan telponnya itu.
Ayah, kan kusimpan tangis ini untuk ku jadikan cerita dalam temanku. Dari balik kaca spion driver grab car menatapku dan mencoba mengajak bicara menanyakan turun di dalam terminal atau luar terminal Purbaya.
Pilu memang kalau tiap hari hanya dicaci, dimaki, dibentak, dikasih suara yang gak mengenakkan. Sakit rasanya. Mungkin netra ku tidak akan tahan air mata ini keluar. Nyesek rasanya di hati. menyimpan rasa yang tak kunjung surut. yang ada hanya bertambah.
__ADS_1
Aku juga berhak bahagia berhak tersenyum setiap hari. Bukan kamu sakiti saja. Setiap saat harus menyimpan senyum berat ini. senyum ku mungkin sudah larut dari kenyataan pahit. Sakitnya ini Lo sampai di pulung hati. Namun hanya lewat air mata itu ku bisa menuliskan hati yang berat ini.