
Seperti lagu tempo dulu entah siapa yang menyanyikannya. Janji....janji...janji tinggal janji sayang....huwohuwoooo....namun semua hanya kenangan yang tak mungkin terlupakan. Seingatku begitu liriknya kalaupun ada kesalahan kata, wong ya saya bukan penyanyi Ndak hafal itu wajar.
Antara benci dan rindu disini, pegel-pegel gimana. Janji tinggal janji namanya orang yang mudah pehape. Pengumbar Harapan dan kepalsuan, ya sudah tinggal janji yang selalu kau ingkari.
Hanya berselang beberapa hari saja kamu sudah lupa daratan, dimana kadang diatas daratan itu ada buaya daratnya yaitu kamu. Tukang ngibulin janjimu ke aku. Tukang pehape pengumbar janji janji dan harapan.
Manis dibibir pahit di hati. Manis sekali janjimu dari A sampai X aja. Y dan Z itu hanya bualan-bualan yang hakiki. Begiru mudahnya ya kamu mengelabui aku, begitu mudahnya kamu mengobral janji. Janji itu memang manis sesuai kulitmu yang hitam manis. huft....
Memang lidah tak bertulang, kamu akan seenak-enaknya membohongi setiap kalimat yang terlontar dari mulut kamu sendiri. Itu kamu Lo yang ngomong sendiri. Andai mulutmu yang ngecipris itu bagaikan sebuah kertas.
__ADS_1
Yang bisa ku segel mungkin akan ku segel mulutmu itu. Jika setiap bualan-bualanmu tak bisa dipercayai, mungkin aku akan buat notulen yang bermaterai 10.000 an dan ku tempelkan bersama tanda tanganmu.
Biar apa semua itu biar kamu ingat kamu pernah mengatakan dari mulut manismu itu dan kamu tidak melupakan semudah kamu membalikkan telapak tanganmu.
Laki-laki pengobral janji palsu, hanya bisanya memungkiri semua kenyataan yang pahit dan kamu menginginkan yang manis-manis saja.
Kamu kemarin bilang A. Kamu mau sholat, kamu mau tobat, kamu mau insyaf lah ***** bengeklah apalah-apalah itu. Nyatanya apa...malaikat sudah mencatatmu Lo ya.... kamu ingkar.
Nhah disini nih.... laki laki istimewa. Dimana istimewanya kamu, suka dielu-dielukan oleh mereka, kamu kompor dan kamu dipercaya padahal kenyataannya kamu itu pinter bermain muslihat.
__ADS_1
Kok ya ada gitu Lo yang percaya sama omongan kamu. Pegel aku tuh disini. Laki-laki penyayat hati, pengobral janji, pembuat kompor super dahsyat hingga 50 sumbu, tapi kesekian kalinya dipercaya dia ingkar janji, sering berdusta memang itu kelebihanmu yang lain juga.
Mana....mana bukti kamu berubah. Demi Aku kamu berubah. Nyatanya apa.... Pembohong kelas kakap. Huffttt geram sendiri aku melihat tingkah lakumu, gayamu sok perlente, ngomong sana ngomong sini.
Kelebihanmu selalu memarahin aku, menyakiti hatiku, ngomong kasar, terkadang kamu di belakangku kamu ghibahin aku. Sempat ku bertanya aku ini istrimu apa bukan sih.
Suatu perkataan yang membuat aku ternganga seribu bahasa kembali terkoyak. "Dasar Mulut Bosok, Cangkeman." hah...seraya aku tercengang mendengar itu. Dan kembali terputar memori tempo dulu yang dia juga mengatai aku persis seperti ini sebelum ia janji akan berubah.
"Aku ini istrimu, yah. Coba kamu kalau ngomong dibedakan ini sama temanmu, ini sama istrimu dan ini sama siapa gitu. Jangan kamu samakan aku dengan teman-temanmu, dan kamu leluasa ngomong seperti itu. Aku merasa sakit hati dengan apa yang kau bilang. Aku ini istrimu bukan...orang lain kan...".
__ADS_1
Hai kak....ikuti ceritaku ya. salam kenal dari Ngawi