
Merpati diluar sana bebas terbang kemanapun ia suka. Kadang terbang dari pohon satu ke pohon satunya. Kadang dia bisa ghibah bersama temannya.
Hmm...aku berpikir, hidupku itu tak sebebas burung merpati yang terbang di langit. Kadang memang lebih mudah jadi merpati tanpa mikir apa-apa bisa meluangkan waktunya untuk merefresh otaknya bisa healing kesana kemari tanpa berpikir apapun yang memberatkan pundaknya.
Dia bebas terbang sekehendak hatinya, tanpa suami yang melarangnya. Dia bebas terbang tanpa kendaraan yang harus ia naikinya. Pokoknya hidup kamu itu indah wahai merpati.
Mau kamu mengepakkan sayapmu sampai sayap terpanjang pun kamu bisa kemana saja. Tidak demikian halnya aku, wahai merpati.
Aku iri melihat perempuan di luar sana. Dapat keluar rumah sesuai keperluannya. Mau belanja di pasar setiap saat bisa, mau beli apa di minimarket bisa, mau beli kebutuhan rumah atau beli make up bisa keluar rumah tanpa dilarang dan tidak ada yang melarang.
Coba kalau aku, aku punya sepeda matic si mio merah, tapi tak bisa keluar rumah. Secara aku yang punya sepeda, sepeda itu bertuliskan namaku di STNK dan BPKB nya, tapi hakku terenggut oleh suamiku.
Dia maunya dia memakai tapi tak mau beli. Maunya dia, dia punya tapi punya orang, kalau motor rusak ia tinggalkan sepeda itu begitu saja sambil mengumpat "sepeda bosok, rongsok, gak bisa dipakai. Sana pakai saja. Motor bosokkk...!!!".
Tapi giliran, sepeda itu sudah diperbaiki, bisa jalan dan bisa dipakai, dia langsung membawa pergi entah kemana aku tau dimana mangkalnya.
Ada yang bilang dia mangkal di warung dekat jembatan angker, ada warung kopi disana. Tempatnya asyik buat nongkrong dan tiduran karena memang ada seperti amben atau dipan bambu untuk tiduran tanpa kasur dan bantal. Biasanya buat lesehan warung.
__ADS_1
Keadaan yang leluasa, enak hanya sekedar ngopi, ngobrol dan tiduran bisa menghabiskan waktumu disitu. Hingga banyak diantara kaummu yang bertandang kesitu.
Bahkan pernah suatu kali seharian kamu dirumah hanya beberapa jam saja. Sisa dari satu jam dalam 8 jam itu kamu habiskan di warung remang karena berada di dekat jembatan angker, tikungan tajam yang disekelilingnya banyak pepohonan tua yang menjulang tinggi hingga menaungi jalan beraspal itu. Seram kelihatannya.
Disana entah mengobrol apa yang membuat gayeng para pengunjung warung itu yang mayoritas bapak-bapak atau laki laki seumur suami ke atas asyik disitu. Sudah kalau sudah disitu mau pulang pun jadi ogah.
Saat sepeda itu waktunya membayar pajak, kamu juga tinggalkan dia sambil berkata "aku ini gablegh apa, wong jualan kopi saja kok suruh bayar pajak sepeda. Apa ya bisa ? Bisa o aku ya ogah bayarin itu sepeda. Keenakan yang pakai !".
Hlooo yang pakai kan dia seringan dia. Sambil melototi aku. La aku apa, orang mau saya pakai sudah dibawa ngibrit keluar kok. Dalam waktu yang luammmmmaaa.
Mau kepasar beli cabai dia apa tudun sepedanya tak pakai. Padahal lebih banyak ia yang pakai tapi ndak mau dia penuhi tanggung jawab sebagai pemakai.
Toh lagi-lagi aku yang harus bayar pajak tahunan sepeda itu yang besarnya di angka dua rausan ribu lebih.
Yaa Allah gusti, sudah kepalang punya suami kamu yang bisanya songgo uang melamun tak tentu tapi pemeras uangku. Sukanya berhutang dan bilangnya pinjam buat bayar pajak.
Uang sudah kau terima tapi kau kembalikan lagi. Padahal lo kamu juga pakai si merah itu, sudah aku sokong bayarnya fifty-fifty dia malah ndak mau. Seraya berkata, " Buat apa bayar segala, toh yang pakai dalam setahun endak aku saja. Wong sepeda itu dijual aja paling aku ndak dapat uangnya. Lagian aku dapat uang darimana, suruh bayar pajak sepeda sebanyak itu. Mendingan dimatikan pajaknya saja, toh aku tidak resiko bayar-bayar di tahun depan."
__ADS_1
Hahhhh.....gila nih suami, itu sepeda STNK dan BPKB atas namaku. Seenaknya saja dia bilang mematikan pajaknya.
Padahal lo, kalau aku pakai nama suami urusan apapun, aku berusaha bertanggung jawab. Sekarang giliran dia pakai nama yang berhubungan dengan aku, dia tak pernah mau bertanggung jawab dan menjaga nama baik istrinya.
Toh dia ndak akan bayar-bayar lagi. Helloooo....kamu bisa apa dengan tabiat kamu seperti itu. Gak salah ya aku dengar perkataanmu, sambil mengelus dada dan beristighfar panjang.
Astaghfirullah,,, Yaa Allah besarkan hatiku dan tambahkan kesabaran untukku. Hei, apa dia gak malu sih sudah pakai punya istrinya, kalau rusak gak tanggung jawab dan kalaupun bayar pajak pasti menimpakan ke aku.
Bisa-bisanya berdalih " Sepeda itu kan namamu, ya kamu lah yang harus tanggung jawab. Enak aja, kamu yang punya sepeda aku yang harus tanggung jawab." sambil dia menaikkan bibirnya dan menyeringai.
Duhhh gusti....ini orangbtuh hatinya terbuat dari apa ya, bebal. Dan urghhhhhhh......membuat aku naik pitam saja. Kelewatan kamu tuh....udah kamu yang pakai tiap hari. Malah aku tidak pakai sama sekali. Pas mau keluar sepeda lagi maen sama orangnya. Terpaksa harus jalan kaki menuju pasar yang panas kenthang-kenthang.
Sabbar...sabbar..., kalau keinget kata sabar harus sampai hati, mata dan perbuatan, sudah ku umpat kamu tak sikat tak cuci bersih mulut kamu.
Hiiihhhh....gemes aku sama suami aku sendiri. Padahal enak mau apa-apa tinggal pakai. Kok nggak pernah bisa bersyukur sama sekali dengan apa yang sudah ia pakai dan punyai mesti itu didapat dari sang istri.
Bukan...bukan masalah, ini punya istri atau suami tidak. Punyaku kamu yang pakai, giliran punya kamu aku mau pakai saja sulit dan bahkan kamu tidak memperbolehkan.
__ADS_1
Aku berpikir, hidupku memang dikeler oleh dia, hidupku tak sebebas merpati di atas sana.