
Iya memang betul, menikah denganmu itu adalah kesalahan yang sangat fatal. Lelaki yang berani dengan Bapakku dan selalu membuat kesalahan kepada semua. Seolah-olah kamu yang bener sendiri. Egomu tinggi.
Lelaki tak punya tanggung jawab, lebih mengutamakan perut keluarganya kosong tak makan hingga kelaparan. Kayak gini Lo kamu masih berdalih. "Aku e rung mangan kok mikir Kowe".
"Hei, kayak gitu lihat anak-anakmu mereka menunggu kamu seharian sampai sore, tak taunya Bapaknya gak pulang. Pulang-pulang Maghrib yang tak bawa apapun selain sebungkus rokok. Lebih mahalan rokok tau daripada beras. Sebungkus rokok GG sudah dapat 1 kg beras. Bisa buat makan orang serumah. Yaa Allah dosa apa aku sama anak-anakku. Yang membiarkan mereka mengurut perutnya masing-masing menahan dengan hanya minum air putih. Kayak gitu kalau jadi kamu, lebih baik aku tidak makan biar anak-anakku bisa makan entah bagaimana caranya. Bukan egomu yang kamu elu-elukan, ayo melototkan matamu, ayo menyeringai, sekalian merahin telingamu." Pegel aku.
"Yo Kono urusono anak-anakmu." yuhhhh Astaghfirullah semakin gueram aku mendengar ucapannya. Yaa Robb, tolong tahan emosi ini. Ajari hamba untuk tetap bisa menahan sabbar.
"OOO...ditagih tanggung jawab anak, malah melemparkan kesalahan ya. Jelas itu anak kita berdua. Giliran terpojok kamu kayak gitu. Dah hapal aku, tabiatmu seperti ini. Dah jadi intip tuweballll mungkin kalau dimasak dipanci."
Ku biarkan dia mengomel di warungnya. Warung yang sudah ku bangunkan untuk dia. yang habis hingga 10 juta an lebih. Namun keseringan dia enggak jualan entah alasan apalah apalah yang gak jelas dan gak maksud.
Namun apa daya, namanya pemalas dikasih harapan ya tinggal harapan. Harapan yang sebenarnya ingin ku jadikan tempat kami dapatkan rezeqi hanya sia-sia. Terlalu ngomong gede dan sombong dia punya ini itu. Padahal nonsen, punya apa sih dia. Semua adalah titipan dan harta warisanku sudah kau habiskan.
Pingin rasanya aku menabok egonya hingga dia insyaf mengakhiri semua pikirannya tipe pemalas dan kalau sudah dapat teman baru atau inceran jalan rezeqi baru, mulai congkak dan sombong terus meninggalkan mata pencaharian yang lama.
Mengikuti jejak teman barunya, kesana kemari tanpa arah. Suka mangkal di tempat yang Ndak ku tau. Sambil menyulut rokok mereka berempat bersama-sama. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas kata w.a Bapaknya si Safi mencari modal untuk buka warung kembali.
Ahhhh entahlah aku malas memikirkan hal itu. Cari modal, dibuka dong warungnya, dibantu sholat dan doa. Biar Allah sayang sama kamu.
__ADS_1
Kecewa yang amat sangat, dengan perangai dan tabiat yang mengecewakan. Ingin ku sudahi hidup bersamamu, akan tetapi seorang istri yang selalu meninggikan suaranya dari suami itu tidak baik.
Seandainya waktu bisa diputar kembali, menikah denganmu yang merupakan kesalahan akan ku betulkan menjadi sebuah kebenaran.
Akan ku rebus ego kamu hingga tidak sekeras batu. Ku racuni pikiran malasmu dengan pikiran rajin seperti layaknya lelaki yang bertanggung jawab pada keluarganya.
Ku congkel matamu yang garang ku ganti dengan mata meong yang lembut. Mulutmu yang jahat yang selalu memarahiku, akan ku ganti dengan mulutmu Harimaumu.
Segalak-galak harimau tidak akan memangsa anaknya. Lha kamu selapar-laparnya anak kamu, kamu juga akan tinggal diam dengan nasib anakmu.
Kok malah lebih bertanggung jawab harimau ya. Istilah kata orang Jawa, punya suami seperti itu, tukarkan Garam aja di Pasar. Biar tambah asin tambah pengalaman.
Biar segera taubat karena keasinan garam dan tak mengulangi perbuatan kejamnya kepada anak dan keluarganya. Lain dihati tak lain di mulut. Ya sama saja timbal balik, sama-sama wis pokoknya istilah Jawa Tumbu oleh tutup Yo Kuwi....
Berkenalan dengan orang baru di angkringan membuat semakin hilang pikiran jernihnya. Malah dia lebih tak mengerti dan meninggalkan tanggung jawab. Teman yang baru ia kenal dia orang jejaka yang belum menikah.
Tanggung jawab dari dirinya sebagai perjaka ya begitu aja kan. Belum mau tau tanggung jawabnya seorang Kepala keluarga. Nhah itu kamu, malah ikut-ikutan kayak gitu.
Keluar rumah jam 09.00 masuk rumah jam 22.00 malam. Keluarga yang kamu tinggalkan kamu biarkan tak makan. Buat beli beras aja kamu tak mampu tapi buat merokok aja kamu bisa i. Heran aku. Lelaki jaman Now,,, apa memang kayak gini ya....
__ADS_1
Sebagai seorang suami, sebagai pencari nafkah, sebagai Bapaknya anak-anak dan sebagai anak menantu untuk Bapakku yang sudah sepuh.
Harusnya dia hormat Bapakku, kenyataannya dia malah berani berkata jahat, kasar dan menunjuk dengan telunjuknya pada Bapakku.
Sungguh ya tega dengan Bapak yang sudah sepuh, beliau selalu membantu aku mencukupi kebutuhan keluargaku, agar kedua anakku bisa makan.
Padahal beliau tak pernah membatasi atau melarang ayahnya si Safi untuk makan beras yang ditanak menjadi nasinya untuk dimakan satu keluarga semua.
Tapi benar-benar kejam ini orang, benar-benar tidak bisa berterima kasih pada Bapakku. Coba kalau Ndak ada Bapak, si Safi dan adiknya tentu tidak bisa makan dan makan angin.
Jikalau anak-anakku sakit, Bapak yang ngasih urun untuk berobat. Nhah kamu....pasti bilangnya gini, "aku duwit apa. Jualan aja enggak". Nhah kalau kamu jualan, anak sakit kamu bilangnya pasti gini, "Aku dhuwit apa, cuma bakul kopi aja bisa apa."
Masyaa Allah beneran bukan, nhih orang. Suami Jaman Now. Yang tak tau ngidupin anak, istri dan keluarganya, tapi rokoknya selalu mengepul. Lebih berat rokoknya daripada berasnya. Hmmm...benar-benar gak maksud.
Bayangkan, jika Mereka menahan rasa lapar dan mengisi lapar mereka dengan air putih. Alhamdulillah dibantu Bapakku, kakek dari anak yang rela berbagi keikhlasan memberikan banyak rezeqi untuk dimakan bersama keluarga.
Lha ini, suami jaman NOW. Maunya istri yang harus nyukupin kebutuhan dapur, makan dan semuanya. Duhhhh..... geleng-geleng kepala aku....
Sukanya adu mulut dengan istri. Sukanya perang dunia. Sukanya cari masalah. Istri salah sedikit dimaki, istri melirik hp dimarahi, istri kurang sayang sama dia dia marahnya sampai ubun-ubun.
__ADS_1
Nih yang bener Lo ya, istri sudah memberikan hak dan tanggungjawabnya, ayo dong giliran kamu wahai pak suami yang beri hak dan kewajiban kamu sebagai suami.
Bingung aku tuh ngadepin kamu. Tiap ada masalah selalu pergi ngindari aku, bergegas tanpa pamit menuju warung idamanmu. Istri yang kau olok tak becus kau tinggalin begitu saja. Tinggalin ya tinggalin tapi beras, lauk dan susu cukupin dong. Ahhh entahlah....mikirin kamu ndak bakal ada penghabisannya. Hari ini sembuh jiwamu dua hari kumat lagi. Seakan tak berujung.... haaaahhh..... ENTAHLAH.... !!!! Dat...nyeng kata orang sini bilangnya. Kadang Dat kadang Nyengggg.....seteres.... Tapi banyakan Nyengnya....kalau kamu.... hihihi....