Wonder Women

Wonder Women
Tinta airmata itu mengering


__ADS_3

Lain dimata lain dibibir. Kau picingkan matamu hingga tembolok matamu melotot hendak keluar. Batin ini terasa sesak sekali jika menemui kamu dalam keadaan kamu sedang marah seperti orang tak waras.


Kau peruncing tatapan matamu sambil menyeringai gigi dan mulutmu. Aku salah apa sebenarnya aku merasa aku di posisi yang benar. Tapi seolah hidupku selalu di dzolimi dia selalu saja setiap harinya kamu hakimi dengan praduga tak bersalah.


Sembilan belas tahun tak terasa hidup sama kamu, setahun buat diskon karena kita terpisah. Hingga satu tahun. Jadinya aku hidup bersamamu dengan rentang waktu delapan belas tahun. Pernikahan yang cukup lama. Tapi kamu belum bisa memahami istri dan kebutuhan anakmu. Masih suka sekarepmu dhewe. Masih suka angkuh dan egois, hanya mentingin hidup kamu sendiri.


Lelaki ohhh lelaki.... dari tampangmu yang garang kamu yang galak, ketika matamu melotot jangan terpikir aku takut padamu. Dalam diamku dan sabarku aku mencari pahala dari itu semua. Daripada tambah rame, aku pilih diam membisu sambil menundukkan kepala memilih berlalu pergi dengan kata-kata bongkahan egoismu itu.


Sabarkan aku Yaa Robb, hingga penghujung hidupku. Aku memohon kepada engkau untuk memanjangkan umurku agar bisa selalu menemani dan membuat nyaman anak-anakku. Kenapa memikirkan anak, karena walaupun ada kamu pun. Perut anakku tetap tidak kau perhatikan.


Bahkan sampai seharian kamu betah tak pulang, kamu tak mau terbebani bawa hp. katamu ogah ku hubungin karena katamu aku cerewet. La gimana gak cerewet, kamu aja Ndak bisa diatur. Kamu Ndak paham anakmu makan apa. Apakah aku harus tinggal diam.

__ADS_1


Sementara kamu enak-enakan di luar di warung kopi dimanapun kamu kongkow bersama temanmu, kamu Ndak pernah menggubris kita yang di rumah. Kalaupun kau ku ingetin, kamu membentak dan mencaci maki aku.


Mungkin perempuan diluar sana jika berposisikan seperti aku akan segera beranJak mencari pengacara. Menulis gugatan perceraian. Menulis notulen alasan cerai dari suaminya itu. Tapi aku males seperti itu. Atau mungkin aku bodoh. Endak tau lah. Endak tau kapan kamu akan menyudahi seperti ini.


Lelakiku suamiku ayah dari anak-anakku, apakah kamu tidak takut akan karma yang akan menghampirimu. Apakah kamu tidak takut akan dosa yang akan menorehkan sebuah hukuman di akhirat nanti.


Kamu ngomong kasar saja kepadaku itu sudah termasuk dosa. Kamu tidak nafkahin kita dosa. Tapi kamunya enggak ada takutnya sama sekali.


"Peduli apa sama dosa. Kamu itu tau apa sama dosa. Gak usah sok bersih. Gak sah nyeramahin aku. Buat kamu saja Lo nasihat-nasihatmu itu. Panas telingaku denger ocehanmu." kamu itu Lo ganteng juga enggak, manis juga enggak, pinter kerja juga enggak, pinter cari nafkah juga enggak. Huftttt.....


Bisanya tuh kamuuuuu iya kamuuuuuu.....minjem duitku, dengan tempo yang kesekian hari dan akhirnya kamu sengaja melupakan. Nanti suatu saat aku tagih, kamu melarikan diri. Nyelemur istilah jawanya.

__ADS_1


Dan ketika kamu butuh uang lagi, dengan muka dan mulut manis mengisyaratkan jurus seribu penghalus Sukma. Kamu kalahkan aku, yang sebelumnya hatiku berkata aku harus keukeuh gak mau minjemin uang lagi ke kamu.


Nyatanya....ohhhh nyatanya. Ya begitu lagi. Pinter ya akal bulusmu itu. Pinter ya kamu bermuka dua. Geram banget aku sama kamu.....


Andaikan karma itu ada kamu akan menyesal. Tapi masak iya istri nyumpahin suami sendiri. Ya enggaklah. Itu hanya celotehnya hatiku saking pegelnya sama kamu si ayah tua yang tak pernah mengaca akan usia dan uban kamu.


Halah aku mah bisanya cuma diam seribu bahasa kalau kamu sudah melotot, naik pitam dan omonganmu itu loooo kasar sekali.


Nauzubillahimindzalik pokoknya punya laki bini seperti ini. Nasi sudah jadi bubur dan Saya sudah jauh dari kata sabar dan sabar meski kadang meronta batin ini, ingin mencari keadilan.


Sampai tinta air mata ini mungkin sudah mengering. Hendak mengisi Refill kembali, tapi keburu aku pernah air mata ini. Namanya perempuan hanya bisa menangis, mewek dan diam seribu kata menyimpan semua kekecewaan, amarah dan dengki di kantung mata saja.

__ADS_1


Ingin menjerit yang keras seperti kata orang bisa melepaskan kepenatan itu. Enggak ...caraku enggak seperti itu. Caraku cukup air wudlu membasahi pori2 kulitku dan aku curhat pada Robbku kata suamiku yang pemarah itu. Hingga tangisku akan berurai panjang dengan semua peluh kesah yang ku adukan pada Robbku, Alhamdulillah di penghujung doa semuanya sudah menghilang berganti dengan rasa syukur dan semakin dalam aku jatuh cinta pada Robbku.


__ADS_2