Wonder Women

Wonder Women
Kata itu...


__ADS_3

5 tahun telah berlalu dari kelahiran Caesar si Rasya. Dan hidup kita masih seperti itu-itu saja. Tidak ada yang berbeda. Bedanya aku dan kamu tambah tua. Tambah uban yang berlapis-lapis dan tidak ada penambahan apapun.


Kamu yang masih suka mengumpat, mendiktator, menyalahkan, bicara kasar, menerka yang tak jelas hingga memicu amarah antara aku, kau dan bapakku.


Aku masih seperti ini, mencari nafkah dengan keringat sendiri dari hasil online an semata. Karena ini sebagian cerita hidupku dari Tempoe dulu sebelum aku mengenal bekerja berjualan di angkringan kita.


Lebih enak jadi marketing daripada usaha sendiri pikirku. Aku yang dulu sempat jadi marketing online kamu iming-imingi pendapatan angkringan. Aku kamu suruh resign. Berat sebenarnya karena kata ilmunya harus nurut kata suami.


Okelah aku resign. Meskipun masih diberatkan oleh pemilik CV. Pertanian itu. apa mau dikata nasi sudah jadi bubur. dan bubur pun sudah tidak bisa jadi nasi. Janji hanyalah janji tak semanis gula.


Janjimu yang manis telah meracuni aku. sehingga ketika aku bergelut dengan kekecewaan kamu hanya bisa bilang, "salah sendiri kemarin resign." Yaa Allah begitu geramnya kamu bilang itu. Astaghfirullah semoga engkau membukakan hati dan mulutnya yaa Robb yang sudah berkata menyakitkan dan mengecewakan aku.


Perasaan kecewa yang teramat sangat aku mulai banting setir mengendorse kan produk teman seadanya di kotaku. Alhamdulillah berlanjut dan berlanjut. Sehingga aku mulai terjun tak tanggung tanggung aku jadi reseller bahkan dropshiper produk teman.


Ada hasil dari sebuah iklan. Alhamdulillah bisa membantu perekonomian untuk makan aku, anak-anakku dan Bapakku. Sangat bersyukur dengan hasil ini.


Dari sini kamu mulai ketara kamu tidak suka caraku mencari nafkah untuk anak-anakmu. Egois benar benar egois.


Kamu bilang terlalu banyak makan hp. Terlalu banyak bercengkrama dengan orang lain. Chat sana chat sini. Kadang dia mengira chat sama laki-laki. Bodoh amat sih kamu bilang apa. Kupingku ini sudah kebal tebal dan menebal.

__ADS_1


Semua sudah terjawab oleh waktu. Waktu yang menjawabnya. Dan semua dugaanmu tidak benar. Tersenyum geli melihat tingkahku. Seperti kebakaran jenggot.


Tidak berhenti sampai disitu saja, tiba suatu kali kakakku meminta bantuanku untuk mencarikan jagung manis dalam jumlah banyak untuk peternakan kelinci dan burung walknya. Aku sudah membeli pesanan kakakku, ku taruh di ruang tamu tinggal antar saja dapat uang.


Aku tanyakan ke Rivos, "Tidak ada lauk, kamu berikan apa untuk anak-anak kamu ?"


Sontak pertanyaan yang tidak mengandung makna pemicu kemarahan langsung terjawab dengan perkataan yang amat sangat kasar dari mulutnya.


" Kamu beli barang online an saja bisa. Badogan buat anakmu saja, kamu tidak bisa beli ?" tuwewewengggg....seperti tertampar keras aku, hatiku dan aku terperanjat mendengar itu semua. Seperti sebuah Shock teraphy. Yaa Allah .....aku lemas dan nanar mata ini menatap geram. Astaghfirullah terkepal tangan ini karena tak bisa tahan emosi aku. Emosi yang tertumpuk sudah tak terkendali.


Belum selesai sampai disini juga. Tiba-tiba ada dua orang datang mengetuk pintu. Dua tamu itu membawa paket buku dan menanyakan apakah benar paketnya ini, Bu. Alhamdulillah paket yang ku pesan keliru dan aku tertolong jadi aku tidak mau menerima paket itu.


Muncul Rivos mengendarai sepeda hendak keluar dari garasi, ia lalu melontarkan kata kasarnya lagi. *Badogan. Tau endak badogan itu apa. Itu perkataan yang sangat kasar dan tidak patut untuk diucapkan, didengar apalagi diutarakan.


Ada perasaan malu dengan tamu tersebut, karena punya suami yang tidak tau sopan santun, tata Krama dalam berbahasa dan berucap. Ditambah lagi dia tak tau atau tak paham memperlakukan istrinya seperti itu.


Sungguh-sungguh tak tau malu. Aku sampai bingung berhadapan dengan dua tamu tersebut. Alhamdulillah untungnya si tamu itu segera undur diri dan memohon maaf. Lhoh kenapa yang minta maaf tamu itu.


Saat itu juga aku menangis masuk ke dalam rumah. Yaa Allah apakah benar semua itu yang ku dengar. Aku tidak pernah dengar ia berkata sejahat itu padaku. Tapi hari ini dia berkata jelek dan kasar kepadaku.

__ADS_1


Dosa apa yaa Robb. Ada apa dengan aku. Mendengar kata itu saja saya tidak berani apalagi mengatakan kata itu saja rasanya tabu apalagi untuk di dengar anak-anakku.


Segera aku gunakan hijabku, beranjak aku mententeng tas slempang ku hendak mengantar pesanan jagung kakakku dan mengantar paketan Tokopedia ke Kantor Pos. Masih saja dia berkata.


"Kamu tuh ya bisanya beli barang online an ehh buat makan anakmu saja endak bisa. Ibu macam apa kamu, ini."


" Yang seharusnya menafkahi siapa...apa seorang ibu? Terus tugas suami apa dong." aku mencoba untuk bicara padanya.


" Badogan kayak gitu aja buat apa !" Hemmm kata maklumat itu lagi yang dikatakannya. Yaa Allah semoga engkau berikan kesabaran untuk aku menghadapi semua ini. Yaa Allah jangan kau jatuhkan air mata ini Yaa Robb. Tolong tarik kembali air mata ini Yaa Robb.


Biar hati ini terluka asalkan aku tidak terlihat sedang terluka. Biar hati ini kecewa asal anak-anakku tidak ikut merasakan kekecewaan ini. Yaa Allah sembunyikan amarah ini, supaya anak-anakku tidak melihat kejadian ini.


Tangisku harom untuk dilihat anakku. Biarlah anak-anakku tau yang baik baik saja dari kedua orang tuanya. Merasa Ibunya sudah cukup memberikan yang terbaik untuk mereka. Merasakan bahagia dan kebahagiaan serta senyum mereka adalah hal luar biasa untuk aku, Yaa Robb.


Tak berapa lama, Bapakku datang dengan sepedanya. "Kung, saya pinjam sepedanya sebentar untuk mengantarkan pesanan Jagung Mas Na dan mengantar paket untuk dikirim di Kantor Pos."


" Iya bawa aja. Ndak papa."


Terperanjat Rivos mengetahui kalau itu bukan jagung pesananku melainkan pesanan kakakku. Kakak iparnya juga. Mas Na namanya.

__ADS_1


Akhirnya kamu malu sendiri kan. Tabiat kamu itu jelek. Makanya jangan suka memfitnah. Gumamku dalam hati. Cobalah tanya baik-baik, itu jagung punya siapa. Jangan langsung serta Merta menggebyah Uyah langsung nyelonong si lidah tak bertulang itu untuk menghakimi istrimu yang tak berdosa ini.


Tuh kan.....Udah salah menilai istri sendiri akhirnya kamu tertimpa malu seorang diri. Tapi luka ini sudah meresap dalam hatiku. Kekecewaan ini sudah bukan lagi terbendung memang kecewaku ini sudah berubah menjadi pitam yang hendak ku lontarkan menjadi sebuah amarah. Yaa Robb semoga aku bisa menahan amarah ini untuk kesekian kalinya.


__ADS_2