
Seandainya reinkarnasi itu ada, aku tak mau dilahirkan jadi perempuan tentunya aku akan naik banding kepada Allah SWT, aku tak mau jadi perempuan.
Perempuan yang selalu berat langkah dan perjuangannya. Perempuan yang selalu lemah tapi dituntut mampu menyelesaikan segala hal persoalan masalah ekonomi keluarga.
Kamunya ngapain,,,kamu kemana saat aku diposisi sulit. Kamu dimana... Apa bisamu untuk bantu aku...harusnya kamu yang diposisi aku. Jadi kendaraan jadi penopang hidup kami, jadi imam pemimpin yang dapat mengayomi kami memayungi kami dalam suka ataupun duka dalam pahit getirnya kehidupan.
Dalam kejamnya dunia, dalam banyaknya kebutuhan keluarga yang harus ku tangani seorang diri. Kamu kamu coba berpikir dewasa berpikir seperti halnya seorang Bapak, Imam dan tulang punggung keluarga dimana kamu harus memeras keringatmu meski kamu sejatinya tak pernah berkeringat, keringatpun tak kan mengering dari dahimu, karena kamu tak pernah berpikir bagaimana cara menghasilkan keringat untuk memberikan dapur makanan keluargamu.
Perempuan Wonder Women, orang yang kuat meski diterjang badai. Perempuan kuat meski hanya berasal dari tulang rusuk suami.
Sedang seorang suami yang sejatinya orang yang paling kuat 2x lipat kekuatannya dari sang istri malang kelihatan lembek.
Perempuan oh perempuan, semangat penghidup keluarga tak kan lekang oleh waktu. Kamu selalu bisa menghidupkan dapur keluargamu mengepul walau sebenarnya kamu itu ringkih, tak punya apa-apa, tak punya daya untuk semuanya.
Namun dibalik kelemahanmu kamu bisa jadi tulang punggung keluarga. Otot kawat balung wesi atau wonder womennya keluarga.
Perempuan kuat dalam segala kondisi pahit sekalipun. Pinter dalam menciptakan suasana yang serba minus.
__ADS_1
Perempuan yang tak pernah menyerah dalam satu keadaan, perempuan kadang menangis dalam pangkuan Illahi, namun kuat bertanding dalam hiruk pikuknya zaman.
Kadang mereka seharipun tidak mampu menghasilkan uang untuk membeli kebutuhan makanan. Jangankan uang beli beras ia tidak punya, uang beli lauk dia tidak punya, uang untuk membayar SPP anak sekolah dia tak punya.
Bisamu hanya menangis berteduh dalam sholatmu, mengadukan semua nasib yang kamu derita. Kamu tangisi dalam doamu, mohon ampunan pada Tuhanmu.
Memohon agar kamu dapat meminang rezeqinya untuk makan anak-anak dan Bapaknya. Permohonan setiap permohonan kamu haturkan pada Dzat pemilik rezeqi dan alam semesta ini. Disini kekuatan perempuan bersumber.
Sejenak aku menangis dalam pangkuan Robbku. Menangis dari dalam hati yang amat dalam. Memohon dari setiap pintu kebaikan ke pintu kebaikan lain.
Mempertanyakan tanggung jawab lelaki jadi-jadian itu pada-NYA. Benar-benar lelaki itu tak pernah punya iktikad dan niat baik menghidupi keluarganya.
Seolah kalimat itu sudah cukup mewakili keadaan tentang dirimu yang tak bisa berbuat apa-apa dan seolah kamu hanya mempertaruhkan keluargamu dalam perjudian waktu.
Dimana kamu tak punya uang untuk mencukupi kabutuhan kami, dalam meja perputaran ekonomi keluarga. Seolah ketika kamu menjawab seperti itu semuanya kamu yang menang. Dan selesai dengan jawaban itu.
Namun kenyataannya anak-anak dan istrimu kamu biarkan lapar. Kamu yang bangga dengan keadaanmu. Sudah cukup sampai situ. Kamu ya tidak berbut apapun untuk keluargamu.
__ADS_1
Ada panggilan dari dapur keluarga nyatanya kamu bisa berbuat apa. Saat itu beras habis, susu anak kamu yang kecil tinggal 1 sendok makan, tak serta mertapun kamu bergerak cepat.
Tau kondisi seperti itu bisa, coba aku ingin tau. Kamu mau berbuat apa ? Yaa Allah, nyatanya kamu hanya meninggalkan kami dalam keadaan serba kekurangan tak ada bahan makanan atau susu yang ku peroleh dari pembicaraan tadi.
Bisa-bisanya ya kamu tuh, ngeloyor pergi tempat biasa kamu nongkrong ngopi dengan temanmu tanpa beban apapun tanpa sesuatu hal pun kamu memikirkan kami.
Janjian ngopi sama teman-temanmu, kamu gercep sat set das des, giliran nyukupin keluarga kamu gerak lemah engko-engko wae lah, ketika sudah diakhir nanti tak ada sesuatu pun yang bisa keluarga ini bahagia.
Kosong mlompong dari harapan palsu. Sama aja bohong aku menuntut lebih ke kamu, nyatanya ya begitu-begitu saja.
" Ayah besok tanggal 20 terakhir kita membayar air, PLN dan SPP anak. "
Kamunya lagi-lagi bilang apa,
"Iya, pakai uangmu dulu. Kamu aja yang bayarin, bukannya selama ini kamu pinter cari uang, toh tanpa aku ngasih ke kamu, rumah tangga kita aman, bukan ? Anak-anak masih bisa sekolah, listrik dan air bisa kamu bayarin. Dan hebatnya lagi, kamu bisa menghidupin keluarga. Dan aku bisa berbuat apa, uang darimana ?"
Yaa Allah kembali aku menelan pil pahit. Bukannya bantuin atau nyariin uang atau gimanalah. Kembali seperti bulan-bulan kemarin. Aku lagi yang harus nyukupin kebutuhan keluarga, sekolah anak-anak, SPP si Safi.
__ADS_1
Yaa Allah, besarkan hati hambamu ini, Yaa Robb. Tambahkan lah kesabaran dan keikhlasan, kuatkan aku dalam berbagai keadaan dan kekuranganku Yaa Robb, semoga engkau meluaskan rezeki hamba, agar hamba bisa menghidupi keluarga ini setiap hari.
Padahal aku mengais rezeki hanya dari online an produk yang disodorkan ke aku dari orang-orang yang mempercayai akan kemampuanku. Yaa Allah.....sambil ku menjerit dalam doaku. Dalam doa yang menyayat.....semakin aku kecewa dan bete yang amat sangat pada suamiku itu.