X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 20 : Kemampuannya


__ADS_3

Turnamen Adu Sihir Nasional ke-21 kembali berlanjut. Sekarang adalah waktunya untuk pertandingan kedua. Di sudut selatan adalah seorang gadis berambut pirang panjang, Anna Sahilatua dengan mengenakan seragam kebanggaan akademi Jailolo yang berwarna merah putih itu. Sementara itu di sudut utara adalah Emilia Gumansalangi. Gadis berambut hitam itu mengenakan seragam Akademi Sihir Wilayah Kawanua, sebuah kemeja berwarna putih nyaris polos dengan rok pendek berwarna biru. Mereka berdua saling berhadapan dengan seorang wasit yang bersiap di pinggir lapangan.


“Baiklah. Ini adalah pertandingan sihir pertamaku. Aku harus menunjukkan pada semua orang bahwa aku adalah penyihir yang kuat,” ujar Anna dalam hati.


Anna menatap lawannya Emilia dengan tatapan yang sangat tajam. Sementara itu Emilia hanya menatapnya dengan normal, namun tanpa ekspresi sedikitpun.


“BERJUANGLAH ANNA!!!” teriak Licia dari arah tribun.


Perisai diluncurkan. Wasit yang sudah ada di pinggir lapangan itu mengangkat tangannya ke atas.


“Bersedia”


“Siap”


Baik Anna maupun Emilia menggeser kaki kanannya ke belakang. Masing-masing memasang posisi kuda-kuda untuk bertarung. Sambil menarik napas, Anna menatap gadis Kawanua itu dengan tajam, bersiap apabila dirinya melucurkan serangan mendadak. Tetapi berbeda denganya, Emilia terlihat sangat tenang dengan tatapan tanpa ekspresinya itu.


“Mulai!!!”


Sang wasit menurunkan tangannya. Pertandingan kedua pun dimulai. Anna sedikit merubah posisinya, bersiap untuk menahan serangan mendadak dari Emilia.


Dan benar saja, gadis berambut hitam itu langsung menarik kakinya ke belakang. Kedua tangannya juga ia arahkan ke belakang sebelum mengayunkannya ke depan dengan cepat sambil membaca mantra.


“Mantra Cipta, Bayu, Sayat Belintan”


Itu adalah teknik ‘pisau angin’, sihir yang dipakai Licia untuk melawannya saat latihan bertarung di Pulau Una. Melihat hal itu tentunya membuat Anna merasa deja vu dan berpikir kalau ia bisa menahan serangannya.


“Sayat Belintan? Teknik yang sama seperti yang dipakai Licia. Baiklah,” ucap Anna dalam hati.


Ia tak beranjak terlalu jauh dari tempat ia berdiri sekarang karena dirinya berpikir bahwa ia bisa memprediksi arah datangnya serangan sekaligus kecepatannya. Namun ternyata Anna terlalu meremehkannya.


“Eh, Apa?”


WUSHH… pisau angin itu bergerak jauh lebih cepat dari perkiraannya. Kedua sihir angin itu tepat melewati tubuh gadis berambut pirang tersebut dan sedikit menyayat pipinya. Beberapa helai rambutnya juga sedikit tercabik. Untungnya serangan itu tidak langsung mencabik-cabik tubuhnya.


“Sial. Aku terlalu meremehkannya,”


Emilia kembali mengayunkan tangannya ke berbagai arah. Bersamaan dengan itu puluhan ‘pisau angin’ melesat ke arah Anna. Ia pun terpaksa menahan serangan yang sangat cepat itu.


“Parisha,”


Anna menyilangkan kedua tangannya dan menciptakan perisai untuk menahan serangan bertubi-tubi itu. Hampir seluruh pisau angin yang dilepaskan Emilia mengenai perisai itu.


Serangan sihir angin itu ternyata bukan hanya cepat, tapi punya energi yang sangat besar. Hantaman-hantaman angin yang mengenai perisai itu membuat posisi Anna sedikit demi sedikit terdorong ke belakang karena hentakannya yang sangat keras itu.


“Uhh… Berat…”


Serangan bertubi-tubi itu membuat Anna benar-benar kewalahan. Sampai akhirnya Emilia terlihat menyilangkan kedua tangannya, menahannya sebentar di udara sambil mengumpulkan mana, lalu kembali menyerang dengan ukuran pisau angin yang lebih tebal.


“Aaggghhh…..”


BAMMM…. Ternyata serangan pisau angin penutup itu berhasil menghancurkan perisai milik Anna, membuat gadis berambut pirang itu terhempas dan terguling ke belakang sejauh hampir 10 meter.


“ANNA…” Licia berteriak dari arah tribun.


Anna yang tengah telungkup akibat serangan itu mencoba untuk bangkit kembali. Sementara itu Emilia dengan tangan kirinya memberikan aba-aba, seolah mengajak Anna untuk bangkit dan menyerangnya.


“Baiklah kalau begitu,” ujar Anna sambil mengusap keningnya.


“Aku tidak akan sungkan-sungkan,”


Tanpa basa-basi lagi, Anna langsung berlari ke arah Emilia. Sambil mengepalkan kedua tangannya, gadis itu juga merapalkan sebuah mantra.


“Mantra Cipta, Tirta, Samsaq Kalaq,”


Kedua tangannya itu langsung berlapiskan air sebagai pelindung. Sepertinya ia akan menggunakan teknik yang sama seperti saat dirinya melawan Licia dulu. Namun untuk kali ini, Anna tidak hanya bergantung pada satu mantra saja.


“…Luncuria”


WUSHH… secara ajaib air muncul melalui pijakan kakinya, dan itu membuatnya meluncur lebih cepat layaknya seorang atlet ski. Sambil mengepalkan tangannya, Anna langsung melesat dan mencoba mengenai wajah Emilia. Namun sepertinya itu masih jauh dari cukup untuk mengenainya. Gadis Kawanua itu bisa menghindarinya dengan sangat mudah.


“Belum cukup,”


Anna secara cepat langsung memutar dan melakukan hal yang sama dari arah belakang. Emilia sedikit menengok ke belakang, dan lagi-lagi dirinya bisa dengan mudah melewati serangan itu.


Gadis berambut pirang itu tak menyerah, ia terus melakukan cara itu agar bisa mengenainya, walaupun sepertinya masih belum cukup.


Sementara itu di tribun barat, Aldy memperhatikan pola serangannya dan mengetahui teknik yang digunakan oleh Anna.


“Serangan fisik berkedok sihir ya? Hmm… menarik,” ucap Aldy.

__ADS_1


“Apa? Serangan fisik berkedok sihir?” Licia bertanya-tanya tentang istilah itu.


“Menggunakan mana dengan jumlah sedikit dan memfokuskan serangan langsung secara fisik. Itu teknik yang bagus untuk menghemat energi. Tapi dengan kecepatan yang konstan seperti itu, sepertinya serangannya percuma saja,” jelas Aldy.


Aldy berpikir bahwa serangan yang dilancarkan oleh Anna tidak akan membuahkan hasil karena kecepatannya yang tidak berubah. Namun hal itu dibantah oleh Dwi yang melihatnya.


“Tidak, kecepatannya tak konstan,”


“Apa?”


“Coba kalian lihat lagi pola serangannya,” ujar Dwi sambil menunjuk ke arah pertarungan mereka berdua.


Mereka pun memperhatikan pertarungan itu lagi dengan seksama. Ternyata ada sebuah pola serangan unik yang dilakukan oleh Anna, dan itu baru mereka sadari.


“Hah? Serangannya semakin cepat dan dekat,”


Sesuai yang dikatakan oleh Licia. Posisi Anna dalam menyerang Emilia semakin cepat dan dekat dengan dirinya. Emilia pun juga semakin gesit dalam menengok kesana kemari sesuai dengan arah serangan Anna. Nampaknya dia semakin kewalahan. Sementara itu Dwi sedikit menganalisis serangan yang dilakukan Anna, dan ia menemukan sesuatu yang menarik.


“Pola magnet. Anna menggunakan serangan berpola itu untuk membuatnya kewalahan. Dan kalau dia menyadarinya, itu bisa jadi kesempatan yang besar baginya untuk memenangkan pertandingan ini,” jelas Dwi.


“Apa? memenangkan pertandingan?” Licia terkejut mendengarnya.


“Hmm… Bagaimana menjelaskannya ya? Coba kalian perhatikan baik-baik apa yang terjadi diantara mereka berdua,” ujar Dwi sambil menunjuk ke arah lapangan.


Licia pun kembali menyaksikannya dengan seksama, dan sepertinya ia juga baru menyadari sesuatu.


“Itu…”



Waktu terus berjalan. Anna masih terus menyerang Emilia dengan teknik luncuran air itu. Sementara Emilia semakin sigap menghindari serangan Anna. Serangan yang dilancarkan Anna pun semakin dekat dengan dirinya, beberapa pukulan dan tendangan pun terpaksa harus ditangkis secara langsung oleh gadis Kawanua itu. Hingga pada waktu yang tepat, Emilia benar-benar terdesak dan hampir tidak bisa mengelak dari serangan selanjutnya. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Anna untuk melancarkan sebuah pukulan.


“Baiklah, inilah saatnya. HIYAAA!!!”


Dengan cepat Anna pun bersiap meluncurkan sebuah pukulan tepat ke wajah Emilia. Namun sayangnya hanya tinggal beberapa sentimeter lagi menuju wajah cerahnya itu, gadis Kawanua itu menyadarinya dan merapalkan sebuah mantra.


“Mantra Cipta, Bayu, Bombaria,”


WINGG BAMM…. Gerakkan Anna terhenti tepat saat dirinya hendak melancarkan pukulan itu. Hembusan angin yang sangat kencang tiba-tiba muncul dari arah depan, seolah-olah menahannya untuk mengenai tubuh Emilia. Anna pun terdorong dengan sangat kuat oleh tekanan angin itu.


“AHHH…..”


Beruntung, dirinya yang terlempar ke angkasa itu berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan bertumpu secara vertikal pada perisai dengan sihirnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat angin yang sangat kuat itu berputar-putar di sekitar Emilia yang tengah berdiri disana. Angin tersebut seolah-olah melindungi Emilia dari serangan luar.


Anna bertanya-tanya tentang teknik sihir apa yang digunakan oleh Emilia, khususnya bagaimana cara menembusnya. Namun dibalik hal itu, ia baru menyadari sesuatu saat menengok ke bawah dan sedikit ke belakang.


Beberapa penonton, terutama penonton pria memperhatikan Anna yang sedang bertumpu di perisai itu dengan posisi vertikal. Namun sialnya ia tengah mengenakan seragam akademi sihir yang memiliki rok pendek itu. Tentu saja hal itu menjadi masalah besar baginya karena ia sedang dalam posisi yang tidak tepat. Dengan kata lain, sebagian besar pahanya terlihat dari bangku penonton yang ada di belakang perisai.


“Eh, apa yang kalian lihat hah?”


Dengan wajah memerah, sontak gadis berambut pirang itu menarik roknya karena malu. Kejadian yang sedikit konyol itu pun dimanfaatkan oleh Emilia untuk menyerang balik dengan sihir anginnya.


“Eh…”


WUSHH… Sebuah serangan angin menyerupai bor itu melesat ke arahnya, namun untungnya Anna bisa menghindarinya dengan mudah. Tak hanya satu dua serangan saja, ternyata Emilia meluncurkan banyak serangan bor angin itu bertubi-tubi pada Anna. Sambil melompat-lompat, ia berusaha menghindari bor-bor angin itu. Tetapi sayangnya beberapa serangan mengenai sebagian tubuhnya. Rambut pirangnya sedikit tercabik dan ada beberapa luka sayatan akibat serangan itu.


“Sial, Anna. Ayo berpikirlah,”


Anna harus berpacu dengan waktu karena apabila dia kehabisan mana, dirinya selesai dalam pertandingan ini. Untungnya dalam kondisi terdesak itu, Anna menyadari sesuatu pada pola serangan Emilia.


“Eh, tunggu. Itu…”


Saat dirinya memperhatikan serangan Emilia dengan seksama, ia baru menyadari bahwa setiap kali ia berada di belakangnya, gadis Kawanua itu langsung berbalik ke belakang. Dalam serangan pertama pun, Anna baru menyadari bahwa Emilia tak membiarkannya lepas dari jarak jangkauan matanya. Setiap kali ia ada di belakangnya, Emilia dengan cepat langsung berbalik. Sorot matanya seakan tak mau melepaskan Anna dari jangkauan penglihatannya. Itu artinya ada satu kelemahan.


“Titik buta? Sepertinya aku mengerti sekarang,”


Emilia menghentikan serangan bertubi-tubinya itu. Nampaknya dia kehabisan mana dan rehat sejenak untuk mengisi energi kembali. Hal ini pun dimanfaatkan Anna untuk beristirahat dan menarik napas sejenak.


“Huff… Kau sudah kelelahan ya, Emilia?” sahut Anna.


“Tak ada kata lelah bagiku untuk memenangkan pertandingan ini dan mengalahkanmu,” ujar Emilia.


“Hey, jangan bohong deh, kau sudah mulai kehabisan mana kan? Bagaimana kalau…”


Belum selesai Anna berucap, Emilia langsung memotong perkataannya.


“Jangan banyak bicara dan kembalilah bertarung. Ini bukan lomba debat,”


Mendengar hal itu, Anna pun tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


“Haha… Emilia serius banget dah,”


Mereka terlihat saling berbicara saja di tengah pertarungan. Hal tersebut tentunya membuat para penonton kebingungan, termasuk Licia. Mereka bertanya-tanya apakah Anna sedang mengulur waktu atau apa.


“Apa yang ia lakukan?” tanya Licia.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Anna tersebut, ekspresi Emilia langsung berubah. Kini ia menatap Anna dengan senyuman, namun sorot matanya yang polos itu berubah tajam.


“Kau terlalu banyak bicara, Anna. Biasanya orang seperti itu payah dalam mengambil tindakan,”


Itu terdengar seperti nada cemoohan baginya, tapi Anna malah tersenyum setelah mendengar ucapan itu. Hal itu tentunya membuat Emilia menjadi semakin serius padanya.


“Baiklah kalau kau terus bersikap seperti itu. Ayo torang selesaikan disini,” kata Emilia.


Gadis itu langsung memutar kedua tangannya dengan lebar, terlihat seperti memanggil sesuatu di sekelilingnya, dan memang itulah yang ia lakukan.


“Mantra Cipta, Bayu…”


WUSHHH… tepat setelah Emilia merapalkan mantra, bor-bor angin muncul di belakangnya. Bukan hanya satu dua, namun jumlahnya puluhan. Hembusan angin dari kemunculan mereka sampai pada posisi Anna yang berjarak hampir seratus meter jauhnya dari Emilia, dan bo-bor itu bersiap untuk meluncur ke arah gadis berambut pirang itu.


Jika dilihat dengan seksama, hampir mustahil bagi Anna untuk menghindari serangan sihir angin itu. Tapi dirinya menunjukkan ekspresi yang tenang dengan raut wajah percaya diri.


“Enyahlah… Multi Gerudi Puyuh…”


Bor-bor angin itu melesat dengan cepat ke arah Anna. Tak ada kesempatan baginya untuk menghindari serangan kompak itu.


“ANNA!!!” Licia berteriak dari arah tribun.


Ia terlihat sangat panik melihat teman sebangkunya akan tercabik-cabik oleh teknik sihir angin yang dahsyat itu. Tapi berbeda dengannya, Anna malah tak beranjak sedikitpun dari posisi ia berdiri sekarang. Nampaknya ia punya cara lain untuk menahan serangan itu.


Tepat berjarak beberapa meter saat bor-bor angin itu siap menghantamnya, Anna merapalkan sebuah mantra.


“Ultima Parisha Tirta…”


Anna mengangkat kedua tangannya dan memanggil dinding air yang sangat tebal untuk melindungi dirinya. Bor-bor angin yang banyak itu lalu menghantam dinding air dan meledak, menghasilkan asap tebal yang menyelimuti sepertiga lapangan arena.


Posisi Anna yang sekarang diselimuti asap tebal itu dan Emilia tak bisa melihat apapun. Meskipun tatapannya berusaha fokus ke depan, namun gadis Kawanua itu tak bisa melihat apapun.


“Apa yang terjadi?”


Licia bertanya-tanya, namun Dwi yang berada di sampingnya tersenyum lebar. Sepertinya ia sudah tahu taktik yang dilakukan Anna tersebut.


Sementara itu tatapan Emilia masih fokus pada asap tebal itu, menunggu serangan selanjutnya. Dan benar saja, sebuah panah cahaya tiba-tiba melesat dari kepulan asap tebal itu, mengarah tepat ke kepala Emilia. Dengan tatapan fokusnya itu, Emilia bisa dengan mudah menghindarinya, apalagi serangan itu tepat melesat di depan matanya.


Gadis itu sedikit melompat ke samping agar kepalanya tidak terkena anak panah cahaya itu, namun tatapannya masih tetap melihat pergerakan anak panah itu. Ternyata apa yang ia lakukan itu malah berbuah petaka baginya.


“Bang!!!”


TWINGG… Tanpa disangka-sangka, anak panah cahaya itu meledak tepat di depan matanya. Ledakan itu menghasilkan sinar yang sangat menyilaukan mata, layaknya sebuah granat kejut atau flashbang yang meledak bila di dunia nyata.


“Ah… Mataku….”


Emilia mengusap-usap matanya karena cahaya yang silau itu. Fokusnya teralihkan oleh ledakan sebuah anak panah sihir cahaya yang tidak terduga sebelumnya. Hal ini pun menjadi peluang yang besar bagi Anna.


Benar saja. Gadis berambut pirang tersebut melesat dari balik asap tebal itu. Dengan tangan berlapis sihir air ‘Samsaq Kalaq’ dan ‘Luncuria’, dia melesat dengan sangat cepat ke arah Emilia.


“RASAKAN INI!!!”


BUKK… Sebuah pukulan tepat mendarat di pipi Emilia dengan sangat keras. Ia tak punya waktu untuk menghindar lagi akibat efek dari serangan sihir sebelumnya. Pukulan yang sangat keras itu membuatnya terhempas sejauh puluhan meter dan menghantam dinding sebelah utara lapangan dengan kerasnya, hingga bagian tersebut sampat retak dan nyaris hancur.


Anna berhenti tepat sekitar 15 meter dari posisi Emilia yang sekarang. Sambil menghela napas, ia melihat sejauh apa pukulannya berefek pada gadis Kawanua itu.


Debu dari serangan itu pun perlahan menghilang. Tubuh Emilia kini terlihat dengan jelas. Sebuah retakan besar ada di dinding belakang sandarannya. Ia tengah terduduk lesu tanpa ekspresi apapun, dan matanya tertutup, tak bergerak sama sekali. Sepertinya efek dari pukulan keras Anna itu benar-benar berdampak besar padanya.


Sang wasit yang melihat hal itu pun memutuskan siapa jawara dari pertandingan ini.


“Baiklah. Pemenang pertandingan ini adalah Anna Sahilatua dari Akademi Sihir Nasional Jailolo!!!”


Tepuk riuh dan sorak sorai dari para penonton pun mewarnai arena ini. Anna Sahilatua, dirinya tak menyangka bahwa ia bisa memenangkan pertandingan adu sihir pertamanya. Sambil menengok kesana kemari dengan ekspresi bingung, ia terlihat masih terkejut dengan apa yang terjadi.


“Aku, menang?” katanya dengan suara tipis.


Ia menengok ke arah tribun barat, tempat Licia, Dwi, dan Aldy menonton pertandingannya. Licia nampak sangat kegirangan sampai menggoyang-goyangkan tubuh Dwi layaknya orang yang baru memenangkan sebuah hadiah lotre. Sementara itu Aldy terlihat bertepuk tangan sambil tersenyum tipis di sebelahnya.


Senyuman tipis pun terpancar  dari wajah Anna. Ia nampak senang dengan tepuk tangan dan sorak sorai tersebut. Tetapi itu tak berlangsung lama, sampai ia kembali menengok ke arah lawannya.


“Eh…”


Anna menengok ke arah Emilia yang sedang pingsan tersebut. Tubuhnya sama sekali tak bergerak sedikitpun. Dengan raut wajahnya, dan posisi duduk serta sandarannya itu langsung membuat Anna teringat sesuatu, sebuah hal yang nyaris membuat hidupnya hancur di dunia nyata, sebuah hal yang sempat membuatnya trauma untuk bertemu dengan orang-orang. Dan itu terjadi karena ulahnya sendiri.

__ADS_1


Raut wajah senangnya langsung berubah seketika menjadi kekhawatiran dan ketakutan. Dengan air mata yang keluar dari mata manisnya, ia berlari ke arah Emilia sambil berteriak.


“EMILIAAAA!!!!”


__ADS_2