X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 47 : Dua Lawan Empat


__ADS_3

Anna Sahilatua, Dwi Septianto, Aldy Heraldy, dan Teuku Damanik melaju bersama untuk mengalahkan Sang Elder Kedua, Zui si Naga Ungu di Tanah Pasai ini. Dengan bantuan senjata Pusaka dan sihir pemanggil pedang, mereka melesat untuk menjatuhkan makhluk terbang itu.


Kedua kepala sang naga terlihat menarik napas dalam-dalam. Sepertinya ia hendak menyerang dengan hembusan api sihir dari mulutnya, dan benar saja. Naga itu melontarkan hembusan sihir api cepat layaknya meteor ke arah mereka berempat. Anna yang melihatnya langsung mengambil posisi ke depan dan melindungi mereka dengan sihir spesialnya.


“Salawaku”


Sihir api dari sang naga tepat menghantam perisai itu dan menghasilkan ledakan yang cukup besar. Namun karena ‘Salawaku’ merupakan sihir perisai superkuat, hal itu tak berdampak apapun padanya.


Tepat dari balik kepulan asap yang tercipta, Aldy dan Dwi menghunuskan masing-masing pedangnya pada batas antara kulit dalam dan armor naga itu, tepat seperti apa yang dikatakan Damanik sebelumnya. Dan benar saja, serangan itu berhasil membuat armornya yang berwarna ungu itu mulai terlepas dari tubuh utama.


Tak lama berselang, Damanik keluar dari kepulan asap dan langsung menghunuskan Rencongnya pada perut sang naga, membuatnya terdorong sejauh 10 meter ke belakang. Terlihat pula kelopak-kelopak bunga cempaka yang berterbangan dari serangannya itu.


GROOOAAAAHHH…


Sang naga meraung kesakitan karenanya, namun tempo pertarungan masih belum melambat. Kini giliran Aldy dan Dwi yang menyerang masing-masing dari arah jam satu dan lima.


Melihat hal itu, sang naga kembali menyemburkan api sihir yang sama ke arah mereka berdua.


“Ughh…”


Nasib baik keduanya masih bisa menghindar. Api dari serangan itu sangatlah panas. Kalau bukan karena mereka yang mengenakan seragam berbahan kain melati Fatma, mungkin pakaian mereka sudah hangus terkena serangan itu. Anna memanfaatkan hal itu untuk melancarkan serangan.


“Mantra Cipta, Bayu, Dwi Lembing”


Gadis berambut pirang itu melontarkan dua tombak angin pada kedua kepala naga tersebut. Meskipun itu tidak cukup untuk melukainya, namun hal tersebut berhasil mengalihkan perhatiannya dan menghentikan serangan napas apinya. Dan kini giliran Damanik lagi yang kembali menghunuskan Rencongnya.


Seakan mengetahui apa yang akan dilakukan pria itu, Zui langsung menutup perutnya dengan kedua tangannya yang berlapis armor ungu tersebut. Tentu saja hal itu berhasil menghentikan Rencong agar tak menebas kulitnya lagi. Tapi ternyata Damanik tak menyerang dengan serangan tunggal, melainkan mengayunkan Pusakanya bertubi-tubi hingga membuat sang naga kembali terdorong ke belakang. Anna yang melompat dan ikut menyerang secara vertikal juga membuatnya semakin terdesak.


Di tengah-tengah kondisi tersebut, sebuah celah terlihat di samping perutnya yang tak terlindungi itu. Dwi dan Aldy yang melihatnya langsung melesat dengan bantuan sihir, lalu menyerang dengan tusukan hingga armornya semakin terbuka.


“HIYAAA!!!”


SWINGG… Sesaat setelah serangan itu, celah antara kulit dan armor semakin melebar. Hal ini pun yang dimanfaatkan oleh Anna dan Damanik untuk menyerangnya.


“HAAAA!!!!”

__ADS_1


SWINGG… tebasan Pusaka keduanya berhasil membuat armor belakang perutnya terlepas. Kini terlihat jelas kulitnya yang bersisik putih itu. Tentu saja ini menjadi kesempatan besar bagi mereka untuk menuntaskan pertarungan ini.


“Baiklah, inilah saatnya,” ucap Dwi.


Merasa dirinya sudah di ujung tanduk, Zui Sang Elder Kedua itu pun langsung terbang dan berniat melarikan diri. Tetapi Damanik yang melihatnya langsung mencegahnya dengan sihirnya.


“Takkan kubiarkan kau lari,”


Terdengar dirinya merapalkan sebuah mantra nyaris tanpa suara sehingga tak satu pun dari mereka bertiga mengetahui sihir apa yang digunakan Ksatria Rencong itu. Namun yang jelas, ia mengarahkan tangannya ke langit, atau lebih tepatnya ke arah sang naga.


Ajaib. Rambatan akar tiba-tiba muncul dari bawah tanah dan mengikat kaki dan tubuh naga itu. Ia pun terjebak. Damanik lalu menurunkan tangannya, menarik sang Elder agar kembali ke tanah.


“Berakhirlah sudah,”


Sesuai dengan taktik yang dijelaskan Damanik sebelumnya, keempatnya langsung mengambil posisi untuk melancarkan serangan terakhir. Anna dari arah jam 3, Dwi arah jam 6, Damanik arah jam 9, dan Aldy dari arah jam 12. Dengan posisi layaknya sebuah kincir angin dengan empat baling-baling, mereka melesat bersama-sama ke arah sang naga yang ada di tengah mereka.


“HIYAAA!!!!”


WUSHH…. Dengan bantuan hentakan sihir, mereka berempat berhasil menebas tubuh sang naga tepat di bagian perutnya yang berlapis sisik putih itu. Perlahan tubuh bagian atas makhluk itu bergeser dari tempatnya sebelum akhirnya terjatuh, terbelah menjadi dua. Tak ada raungan lagi yang keluar dari  mulut sang naga, melainkan tubuhnya yang mulai menguap ke udara. Perlahan tapi pasti, tubuhnya kini benar-benar lenyap, hanya menyisakan armor berwarna ungu tua tersebut. Dengan demikian, Zui Si Elder Kedua berhasil dikalahkan.


“Terima kasih karena telah membantu kami, Tuan Damanik,” kata Aldy.


“Tak perlu berterima kasih, ini memang sudah tugas kami menjaga Tanah Pasai ini dari para pengganggu,”


“Oh iya, Tuan Damanik. Kalau boleh saya tahu, bagaimana Anda bisa tahu tentang keberadaan para Elder? Padahal itu merupakan rahasia dari para penjaga perpustakaan suci?”


Dwi menanyakan hal itu pada Damanik. Mendengar pertanyaan tersebut, Aldy di sebelahnya tersenyum. Sepertinya dia juga sudah mengetahui tentang apa yang terjadi disini.


“Penjaga Perpustakaan Suci Seulawah yang memberitahu kami. Dan dia juga memberikan informasi tentang keberadaan kalian, para murid sekolah Jailolo yang ditakdirkan untuk mengalahkan Si Raja Iblis Azazel,”


Mendengar hal tersebut, Dwi langsung teringat dengan kepala desa yang pernah mereka temui sebelumnya. Koneksi dengan perpustakaan suci bukan hanya dapat dimiliki antar anggota keluarga saja, melainkan dengan orang lain yang punya perjanjian khusus dengan sang penjaga. Rupanya hal ini juga berlaku untuk para Ksatria Rencong, meskipun mereka bertiga tak tahu siapa yang benar-benar bisa mengakses perpustakaan rahasia itu.


Melihat semuanya sudah aman, Teuku Damanik pun kembali memasukkan Rencongnya ke dalam sarung dan berbalik meninggalkan mereka.


“Baiklah, tugasku disini sudah selesai. Sebaiknya kalian segera bergegas untuk mengalahkan Elder selanjutnya,”

__ADS_1


Beru saja Damanik melangkahkan kakinya, Anna


menyahutnya agar berhenti.


“Tuan Damanik, tunggu,”


“Hmm?”


Pria itu langsung menengok ke arah Anna. Terlihat wajahnya yang sedikit memelas. Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia pinta darinya.


“Tuan Damanik, Anda kuat sekali. Anda dapat langsung tahu kelemahan monster itu dan mengalahkannya. Kalau boleh saya meminta, tolong ikutlah dengan kami. Kemampuan Anda yang luar biasa akan menyelamatkan seluruh Tierra Hyuma ini,”


Anna memohon pada sang ksatria agar mau ikut dengan mereka, setelah melihat kemampuan Damanik yang luar biasa tersebut. Tetapi sayangnya sang pengguna Rencong itu tidak dapat menyanggupinya.


“Maaf, Anna. Aku hanya bisa menjalankan tugasku disini saja, melindungi Tanah Pasai ini dari para pengganggu, tidak lebih dari itu. Aku tak memiliki hak untuk ikut serta dengan kalian menyelamatkan planet ini. Itu tugas absolut kalian,”


Mendengar penolakannya itu, reaksi Anna pun berubah. Gadis itu benar-benar berharap banyak pada sang Ksatria Rencong, namun apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan keinginannya.  Perasaan bimbang menyelimuti dirinya, terlebih setelah apa yang terjadi pada gadis itu sebelumnya.


“Tapi, Anda benar-benar kuat, Tuan. Sementara saya, melawan satu elder pun tak mampu. Bahkan saya hampir mati kalau tidak ada bantuan dari teman-teman. Saya tidak tahu apakah saya bisa mengalahkan Azazel atau tidak,


menyelamatkan dunia ini, apakah saya mampu? Saya hanyalah seorang anak yang lemah… saya…”


Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia merasa bahwa dirinya hanyalah seorang manusia yang lemah. Kebimbangan, itulah  yang ada di benak Parachi itu. Mengalahkan Elder, Azazel, menyelamatkan Tierra Hyuma, kembali ke dunia nyata, semua hal itu membuat dirinya benar-benar tertekan. Anna menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang gadis yang lemah.


Tetapi berbeda dengan apa yang dipikirkan Damanik. Melihat Anna yang sudah kehilangan semangat, dirinya langsung tersenyum dan berujar padanya, sesuatu yang membuat sang gadis dan kedua temannya menjadi lebih baik.


“Itu sudah takdir kalian menyelamatkan dunia. Tak perlu banyak risau, aku yakin kalian pasti bisa melakukannya. Sudah tertulis dalam catatan kuno bahwa kalianlah yang akan menyelamatkan Tierra Hyuma dari bahaya besar. Kalian sudah punya kekuatan yang cukup untuk mengalahkan mereka. Lagipula…”


Damanik kembali berbalik dan berjalan meninggalkan mereka.


“…kalau aku yang menghadapi Zui sendirian tadi, mungkin aku takkan selamat. Kalianlah yang menyelamatkanku dan mengalahkannya. Baiklah, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu, saat dunia ini sudah kembali aman,”


Tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kelopak-kelopak bunga yang tertiup angin. Salah satu kelopaknya mendarat di telapak tangan Anna. Teuku Damanik sudah pergi meninggalkan mereka. Kini hanya tinggal mereka saja, tiga orang murid Akademi Sihir Nasional Jailolo yang telah ditakdirkan untuk menyelamatkan Tierra Hyuma.


“Baiklah, kami harus berjuang,” ucap Anna dalam hati.

__ADS_1


Mereka kembali ke dalam Layang dan terbang meninggalkan Tanah Pasai untuk menuju lokasi kemunculan Elder berikutnya, Cikeruh Padjadjaran.


__ADS_2