
“Aku serius loh, kemampuanmu hebat sekali tadi. Bahkan aku gak nyangka kalau kau bisa mengggunakan sihir elemen lanjutan loh, Alita,” puji Licia.
Sahabat jauhnya itu terus memujinya, bahkan saat mereka sudah ada di tribun barat setelah Licia mengajaknya untuk duduk bersama. Namun Alita tetaplah Alita. Ia adalah gadis yang canggung. Pujian dari Anna, Dwi, dan Aldy malah membuatnya semakin gugup.
“Itu keren sekali, Alita. Eh iya, ngomong-ngomong sejak kapan kau bisa belajar sihir e situ? Sudah lama kah?” tanya Anna.
“Aku… aku…”
Alita tak berani menatap wajah gadis berambut pirang itu. Ia hanya tertunduk sambil mengusap-usap tangannya yang sedikit berdebu itu. Melihat hal itu, Licia langsung menepuk pundaknya.
“Sudahlah, gapapa kok. Jangan gugup. Kita semua kan temanmu, hehe…” ujar Licia sambil tersenyum.
Ucapan itu cukup berhasil membuat Alita sedikit mengatasi rasa canggungnya. Ia pun menjelaskan kenapa dirinya bisa menguasai teknik sihir yang seharusnya mulai diajari setelah jadi senior itu.
“Se… sebenarnya aku belajar otodidak. Tapi aku gak bilang siapa-siapa. So… soalnya aku takut kalau pas latihan malah melakukan kesalahan, takut orang lain kenapa-napa, jadi aku latihan sendiri,”
“Oh, begitu…”
“Ma… maaf aku gak ngasih tau,” kata Alita sambil termenung.
“Lah, kenapa kau harus minta maaf? Kau kan tidak salah apa-apa,” ucap Licia sambil sedikit tertawa mendengarnya. Ia pun langsung memegang kedua tangan Alita yang tengah tertunduk itu.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kau melakukan hal itu untuk melindungi orang lain juga kan? Kau memang hebat, Alita. Tapi ke depannya lebih baik kita latihan bersama-sama saja, biar saling belajar satu sama lain. Iya kan, Anna?” tutur Licia.
“Hmm.,, Benar sekali. Ayo kita latihan bersama-sama, Alita,” kata Anna di belakangnya sambil tersenyum.
Alita terharu mendengarnya. Hatinya benar-benar tersentuh karena ajakan dari dua temannya itu. Gadis Pagaruyung itu tak sendirian, ia punya teman-teman yang senantiasa berada di dekatnya, walaupun dengan rasa canggung yang mungkin sulit ia hilangkan, ia merasa hal itu sudah cukup baginya. Sambil mengusap matanya, Alita pun membalas ajakan mereka dengan senyuman manis.
“Hmm… Tarimo kasih,” jawabnya sambil mengangguk.
…
Tak terasa kita sudah ada pada penghujung babak 16 besar. Pertandingan ke 8 ini adalah pertandingan penutup sebelum lanjut ke babak selanjutnya. Dua peserta terakhir, seorang siswa dan seorang siswi sudah berada di tengah arena, sementara panitia masih sibuk menyiapkan beberapa hal dari pinggir lapangan sebelum memulai pertandingan tersebut.
“Ini pertandingan terakhir rupanya. Siapapun yang menang disini akan melaju ke babak selanjutnya,” kata Dwi.
Pertandingan terakhir itu mempertemukan antara Ruri Yana dari Akademi Sihir Wilayah Pakuwon melawan Michael Hutahaean dari Akademi Sihir Nasional Tapanuli. Keduanya sudah saling berhadapan satu sama lainnya.
__ADS_1
Dwi memperhatikan kedua peserta yang akan segera bertarung di arena tersebut. Dilihat dari tatapannya, sepertinya ia berusaha untuk menganalisis kemampuan dari kedua murid itu. Namun saat dirinya dengan serius menatap mereka berdua, Licia yang ada di sampingnya langsung berujar.
“Ah, terlalu jelas siapa yang akan menang kalau begini,”
“Hah? Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?” tanya Anna.
“Siswa Tapanuli itu takkan punya kesempatan buat menang, lawannya adalah Ruri Yana dari Pulau Bawean,” jawab Licia.
“Ruri Yana?”
“Iya. Dia dikenal sebagai ‘The Grim Reaper of Java Sea’. Ia adalah penyihir yang sangat tangguh dan punya banyak pengalaman dalam pertarungan sihir. Gadis itu juga pernah jadi perwakilan Nusantara untuk
Turnamen Adu Sihir Internasional di Bukhara, Vilnius, dan Aleppo. Dan dia berhasil memenangkan ketiga turnamen tersebut,” jelas Licia.
“Apa?” Anna terkejut mendengarnya. Ternyata dia bukanlah penyihir biasa.
“Iya. Selain itu dia juga punya…”
Belum selesai Licia menjelaskan, sang wasit mengumumkan pertarungan terakhir babak 16 besar tersebut.
“Baiklah. Untuk kedua peserta bersiap di posisi,”
“Wahai sabit merah yang agung, cucurkanlah kuasamu agar aku dapat memenangkan pertarunganku selanjutnya,”
Ajaib. Sebuah sabit berwarna merah tiba-tiba muncul dari balik cahaya di tangan kanannya. Semua orang terkejut melihat benda itu, termasuk Anna yang baru pertama kali melihat teknik itu.
“Apa? Summon senjata?”
Ia berpikir kalau gadis itu merapalkan sihir pemanggil sebelum pertandingan dimulai. Namun ternyata bukan itu yang ia lakukan.
“Bukan. Itu bukan sihir Summon. Dia menggunakan pusakanya,” ujar Aldy.
“Apa? Pusaka?”
“Iya, Pusaka. Sebuah senjata sihir istimewa yang hanya dapat digunakan oleh penyihir tertentu saja. Kau harus menjalin sebuah kontrak khusus untuk bisa memilikinya.” Jelas Licia.
“Kontrak khusus?” Anna masih bingung dengan apa yang Licia jelaskan.
__ADS_1
“Duh, bagaimana ya menjelaskannya? Intinya tak sembarangan orang yang bisa ,menggunakan Pusaka. Kau harus punya izin dulu untuk menggunakan senjata itu, sebuah kontrak sihir dengan ‘Penunggu Gaib’, dan
katanya harus ada beberapa hal yang dikorbankan. Baru setelah itu kau bisa menggunakannya,” lanjut Licia.
“Oh, begitu ya…”
Bertambah lagi wawasan Anna tentang cara kerja sihir di dunia alternatif ini. Ternyata di dunia ini juga punya sebuah sistem di mana kau bisa menggunakan senjata khusus untuk bertarung, namun harus ada semacam kontrak dan pengorbanan terlebih dahulu.
Tapi di luar hal itu, ada sebuah hal yang membuat Anna semakin penasaran. ‘Penunggu Gaib’, istilah itu tidak asing baginya. Itu hampir sama seperti apa yang Dwi temukan saat pergi ke perpustakaan suci beberapa bulan lalu. Itu artinya bisa jadi ada hubungan antara ‘kontrak’ dengan ‘hal-hal gaib’ yang mereka temukan sebelumnya.
“Apa jangan-jangan ‘Penunggu Gaib’ itu adalah penjaga perpustakaan suci seperti Mutiara?” Anna bertanya-tanya dalam hati.
Penasaran dengan apa yang ia pikirkan, Anna langsung mengutarakan pertanyaan kembali pada Licia.
“Eh iya, Licia. Ngomong-ngomong tentang ‘Penunggu Gaib’, apa mereka sama seperti…”
Anna hendak melanjutkan perkataannya itu, namun dirinya berubah pikiran setelah melihat Aldy dan Dwi memberi isyarat pada dirinya untuk diam.
“Stt…”
“Ah… iya, maaf,” ucap Anna dengan suara pelan.
“Eh, kau mau bilang apa tadi, Anna?” tanya Licia balik.
“Tidak jadi kok. ‘Penunggu Gaib’ itu bisa dibilang sesuatu yang menjaga Pusaka itu kan?” Anna mengalihkan topik pembicaraan.
“Yah, kurang lebih seperti itu. Aku juga kurang paham sebenarnya, lagipula aku baru pertama kali ini lihat penyihir yang memiliki Pusaka secara langsung,” jawab Licia.
“Oh begitu ya? Oke, hmm…”
Gadis Parachi itu berpikir keras, berusaha menghubungkan segala informasi yang ia peroleh di dunia ini. Mungkin saja ia bisa mendapatkan petunjuk lain tentang cara kerja sihir di Tierra Hyuma ini, dan hal tersebut bisa jadi titik terang baginya untuk keluar dari dunia alternatif tersebut dan kembali ke dunia nyata.
Tak terasa pertandingan terakhir babak 16 besar pun segera dimulai. Sang wasit mengangkat tangannya dan berkata dengan suara lantang.
“Bersedia”
“Siap”
__ADS_1
“Mulai!!!”