
“Sial. Penyihir itu punya Pusaka. Aku harus pakai cara lain buat mengalahkannya,” ucap Michael dalam hati.
Lelaki Tapanuli itu nampak gelisah setelah melihat gadis yang akan menjadi lawannya itu memanggil sebuah sabit yang cukup besar secara ajaib. Sudah dipastikan bahwa itu akan menjadi senjatanya untuk melawan Michael.
Sambil mengarahkan sabitnya pada Michael, Ruri tersenyum percaya diri. Paras manis gadis berambut pendek dari Pulau Bawean itu menarik perhatian banyak penonton, terutama para pria yang terpesona dengan kecantikannya. Tak terkecuali bagi Dwi yang tengah duduk di tribun penonton sebelah barat.
“Wah, cantik sekali dia,”
“Apa kau bilang, Dwi?” Anna mendengar gumam temannya itu.
“Eh, tidak ada. Dia memang gadis yang cantik, tapi juga mematikan,” kata Dwi sambil memalingkan wajahnya yang memerah itu.
Mendengar hal itu, Anna langsung menggodanya.
“Ah, jadi kau sudah mulai jatuh cinta pada gadis lain ya, Dwi? Hehe…”
“Ah enggak kok. Gak mungkin, aku kan…”
Dwi berusaha mengelak, tapi dia baru saja sadar kalau dirinya yang sekarang bukan dirinya di dunia nyata.
“Eh iya, kita bukan di Bumi,” kata Dwi dengan suara pelan sambil melihat tubuhnya.
“Tuh kan, kau juga sudah mulai berubah…”
“Hmm… begitulah. Aku gak peduli sih. Daripada bahas itu mending kita lihat siapa yang akan menang sekarang,” ujar Dwi sambil memalingkan wajahnya.
“Ah… Kau sok keren Dwi…”
Lelaki itu kembali berusaha untuk bersikap dingin di depan partnernya itu. Tapi hati kecilnya tidak bisa bohong. Dia mulai gelisah, sifatnya kini sudah mulai berubah seiring berjalannya waktu.
“Aduh sial, kok aku bisa jatuh cinta sama wanita lain sih? Celaka. Aku harus segera menemukan cara untuk kembali ke dunia nyata sebelum semua ini terlambat,” katanya dalam hati.
Kembali ke lapangan. Banyak penonton pria yang terpesona dengan kecantikan Ruri Yana. Namun hal itu tak berlaku pada Michael. Meskipun ia juga cukup tertarik dengan paras menawan gadis itu, ia berusaha agar tak mengalihkan perhatiannya dari pertandingan itu. Walau bagaimanapun, ia harus menang, apapun caranya.
“Seberapa kuatnya gadis itu, aku tak boleh kalah dengannya, walaupun mungkin aku harus mempertaruhkan nyawaku,”
Michael memasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang gadis itu. Keduanya sudah berhadapan satu sama lain, bersiap untuk bertarung. Sang wasit pun mengangkat tangannya sambil memberikan aba-aba.
“Baiklah,”
“Bersedia,”
“Siap,”
“Mulai!!”
Tepat setelah sang wasit menurunkan tangannya, Michael langsung merapalkan mantra untuk menyerang Ruri.
“Mantra Cipta, Bara, Luncuria”
WUSHH… lelaki itu langsung melesat dengan sihir anginnya. Tak hanya satu mantra, dia juga merapalkan mantra lainnya untuk menyerang gadis itu.
“Ultima Samsaq Kalaq”
__ADS_1
Michael menciptakan sarung tangan angin di kedua tangannya, dan melesat ke arah Ruri. Kepalan tangan berlapis sihirnya itu ia arahkan langsung ke wajah gadis Bawean itu. Namun sepertinya itu terlalu mudah baginya untuk menahan serangan itu dengan sabit merahnya.
BAKK… tumbukan antara sarung tangan angin dengan sabit merah itu menghasilkan suara ledakan dan hembusan angin yang cukup kuat. Penonton mulai terkesima dengan pembukaan pertarungannya, termasuk Licia dan Anna yang tengah duduk di kursi penonton tribun barat. Putri Bunda Rara itu memang telah menyaksikan pertarungan antar penyihir yang epik sebelumnya, namun untuk kali ini, ia pertama kali melihat pertarungan seorang penyihir yang memiliki Pusaka.
“Keren,”
Tapi berbeda dengan Anna yang duduk di sampingnya. Gadis berambut pirang itu merasa pertarungan ini tidak seimbang.
“Ah, ini tidak adil,”
“Apa maksudmu tidak adil?” tanya Licia.
“Tentu saja tidak adil. Si gadis rambut poni itu enak punya senjata Pusaka, sementara lawannya hanya bermodalkan sihir biasa aja, Kalau begini pertarungannya gak bakalan seimbang,” tutur Anna.
“Tapi, setahuku memang tidak ada larangan menggunakan senjata sihir apapun dalam turnamen ini, termasuk penggunaan senjata Pusaka,” kata Licia.
“Uh… Benarkah?” tanya Anna penasaran.
“Dia benar. Tidak ada aturan khusus yang membatasi para pesertanya menggunakan senjata sihir apapun, mau itu sihir pemanggil, ataupun dari senjata Pusaka. Semua penyihir bebas menggunakannya dalam turnamen ini,” jelas Aldy.
“Lah, kalau begitu…”
Tatapan Anna kembali fokus ke pertandingan itu tanpa melanjutkan perkataannya. Ia tak punya argumen lain untuk mempertanyakan hal itu kembali. Ternyata hal itu sudah menjadi aturan dari pelaksanaan turnamen adu sihir ini. Meskipun begitu, tetap saja ia berpikir kalau aturan seperti itu tidak adil bagi peserta lainnya.
“Tetap saja ini tidak adil. Kau punya senjata Pusaka artinya kau dibantu oleh ‘makhluk gaib lain’ untuk memenangkan pertarungan. Dua lawan satu, jelas-jelas ini tak seimbang,” pikirnya.
Pertarungan mulai berlangsung sengit. Michael menyerang dari berbagai arah dengan sihir anginnya, sementara Ruri memutar dan mengayunkan sabit merahnya itu layaknya seseorang yang tengah menari.
Gerakan itu, pola serangan yang dilakukan Michael pada Ruri mengingatkan Anna saat melawan Emilia sebelumnya. Ia menggunakan taktik ‘serangan fisik berkedok sihir’, memanfaatkan sedikit mana untuk mempermudah serangan fisik pada lawannya, hanya saja Michael menggunakan elemen angin sebagai medianya.
“Benar sekali, tapi penggunaan sihirnya lebih sempurna,” ucap Licia di sampingnya.
“Apa?” Anna menengok ke arah Licia.
“Kontrol sihirnya lebih sempurna dibandingkan saat dirimu melawan Emilia tadi. Dia bisa memanfaatkan penggunaan mana-nya se-efisien mungkin. Dan itu bisa membuatnya tahan lebih lama dalam menyerang,” jelas Licia.
“Oh begitu ya?”
“Dan lagi, sihir sarung tangan angin yang ia gunakan adalah mantra Ultima. Kemampuannya jauh lebih baik dibandingkan dengan mantra biasa,” lanjut putri Bunda Rara itu.
Anna kembali menyaksikan pertandingan itu. Sepertinya memang ada benarnya dari apa yang dikatakan Licia. Gerakan lelaki itu lebih halus, penggunaan sihirnya juga tidak boros. Tentunya hal itu bisa menjadi peluang baginya untuk lebih mendominasi.
Namun hal itu tidaklah mudah. Lawannya adalah seorang penyihir wanita profesional bersenjatakan Pusaka yang punya pengalaman bertarung lebih banyak. Ia sudah berpengalaman dalam bertarung melawan banyak penyihir tingkat atas di Tierra Hyuma ini. Seorang penyihir sekelas Michael Hutahaean mungkin tidak ada apa-apanya bagi dirinya.
Dan benar saja. walaupun Michael bergerak lebih cepat dengan area yang lebih luas, tapi tidak satu pun serangan darinya yang berhasil mengenai Ruri. Bahkan yang terjadi, dirinya dibuat kewalahan oleh sabit merah raksasa itu. Beberapa kali tubuhnya tersayat oleh Pusaka gadis Bawean itu.
Tak menemukan cara yang efektif, Michael melompat mundur dan memikirkan taktik yang lain.
“Sial. Aku tak bisa mengenainya. Sepertinya memang sulit untuk melawannya dari jarak dekat,” pikirnya.
Sambil memandangi Ruri yang terlindungi sihir anginnya yang berputar mengelilingi tubuhnya itu, Michael kembali berdiri dan mencoba taktik lain.
“Baiklah kalau begitu, aku akan melawannya dengan serangan jarak jauh,”
__ADS_1
Sihir angin yang memutari tubuh Ruri itu menghilang. Nampaknya ia tengah menghemat mana karena belum ada tanda-tanda Michael akan menyerangnya kembali. Melihat hal tersebut, penyihir asal Tapanuli itu berujar padanya dengan suara yang cukup keras.
“Hei, gadis sok imut, kau pengguna sihir putih juga rupanya,”
Ruri hanya mengangguk saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Sebagai sesama pengguna sihir putih, aku takkan kalah darimu. Akan kupatahkan senjata Pusakamu itu untuk kujadikan pajangan di Berastagi nanti. Lihat saja,” lanjut Michael.
Lagi-lagi, Ruri hanya membalas ujarannya itu dengan senyuman. Sementara itu Anna yang mendengarnya dari arah tribun menatapnya dengan sinis.
“Lah, orang yang kebanyakan ngomong lagi. Pasti kalah dia,”
Michael bersiap untuk menyerang Ruri kembali. Kali ini dia mengangkat tangan kanannya ke atas dan tangan kirinya memegang tangan kanannya itu.
“Saksikanlah. Mantra Cipta, Tirta, Jeruji Bolla Rentaka”
Michael menciptakan sebuah bola air raksasa yang melayang-layang di atas tubuhnya. Bola air itu juga terlihan bergelombang. Ia akan menggunakan sihir itu untuk menyerang Ruri kembali.
“Ah, Bolla Rentaka ya? Sihir itu kan bisa ditebas dengan mudah, apalagi dengan senjata Pusaka,” gumam Anna.
Pikir Anna, sihir itu dapat dipatahkan dengan mudah oleh sabit merah tersebut. Namun perkiraannya itu ternyata keliru.
“Tidak bisa. Itu bukan Bolla Rentaka biasa,” kata Licia.
“Apa?”
“Jeruji Bolla Rentaka, itu sihir untuk mengekang lawannya. Berbeda dengan Bolla Rentaka biasa yang hanya sekedar melukai lawan, sihir itu bisa menjebak lawan yang terkena serangannya,” jelas Licia.
“Maksudnya?” Anna masih bingung mendengarnya.
“Saat bola sihir air itu ditembakkan, ia tidak akan meledak, namun ia akan menghisap siapapun yang mengenai permukaannya sedikitpun. Dan saat kau terhisap ke dalamnya, hampir mustahil bagimu untuk keluar darinya,” lanjut Licia.
“Jadi, kalau begitu…” Anna hendak melanjutkan, mulai paham dengan cara kerja sihir itu.
“Tinggal seberapa kuat kau bisa bertahan di dalamnya, dan saat kau kehabisan napas, pertarungan berakhir,” tutup Licia.
“Oh, begitu ya?”
Michael menggunakan cara yang cerdik. Ia memanfaatkan sihir pengekang dari jarak jauh untuk menahan serangan Pusaka lawannya. Sepertinya ini peluang yang sangat besar baginya untuk memenangkan pertandingan ini.
Lelaki Tapanuli itu bersiap untuk menyerang, mengarahkan bola air raksasa itu untuk melesat ke arah Ruri.
“TERIMALAH INI!!!”
Michael mengarahkan tangannya ke depan, atau lebih tepatnya ke arah lawannya tersebut. Bola air raksasa itu pun langsung melesat dengan cepat ke arah gadis itu. Dengan percaya diri, Michael tersenyum menyeringai.
“Bagus, tebaslah bola sihirku itu, dan kau akan tertidur pulas di dalamnya,” katanya dalam hati.
Bola air raksasa itu semakin dekat, tapi Ruri tak beranjak sedikitpun dari posisinya. Ia terlihat memutar sabit merahnya lalu menghentakannya ke tanah sambil merapalkan sebuah mantra dengan suara pelan.
“Mantra Cipta…”
WUSHH…. Sangat tak terduga sebelumnya. Sesuatu terjadi pada serangan bola air raksasa tersebut. Hal itu membuat semuanya terkejut, tak terkecuali Michael yang melancarkan serangan itu. Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia sempat terlihat mengusap kedua matanya.
__ADS_1
“Apa? Mustahil! Bagaimana ini bisa terjadi?”