
“DWII!!!” Anna berteriak panik melihat apa yang terjadi pada partnernya itu.
Tanah yang ia pijak tiba-tiba menariknya dengan sangat kuat. Dalam posisi telungkup, Dwi tak bisa menahan gaya gravitasi yang sangat kuat itu. Nampak lelaki Jawa itu berusaha untuk bangkit, tapi percuma saja. Ia terus tertarik ke tanah dengan sangat kuat.
“Sial, teknik apa ini?” katanya.
Tak berselang lama, lawannya Henrick keluar dari bawah tanah sambil tertawa dengan mulut menyeringai.
“Hahaha…. Bagaimana rasanya tertarik oleh gaya gravitasi yang sangat kuat, Dwi Septianto?”
Henrick berjalan menghampirinya dengan angkuhnya.
“Itu, teknik apa itu?” Anna bertanya-tanya tentang sihir yang digunakan oleh Henrick.
“Gravitasia Monsta” ucap Licia disampingnya.
“Apa?”
“Teknik sihir tanah yang memanipulasi gaya gravitasi untuk menarik lawannya ke tanah. Itu salah satu teknik sihir Bhumi yang cukup sulit dikuasai,” jelas Licia.
“Dwi…” Anna menengok kembali ke arena.
Sementara itu di lapangan pertarungan, Dwi berusaha untuk berdiri dan melepaskan diri dari teknik itu, meski itu sangat sulit untuk dilakukan. Lelaki itu nampak masih tak berdaya menahan gaya gravitasinya. Walaupun begitu, rupanya Henrick masih belum puas untuk itu.
“Ini belum cukup. Aku akan menghabisimu sampai hancur,”
Henrick mengarahkan tangan kanannya ke arah Dwi, lalu membaca sebuah mantra.
“Rasakan ini. Summon, Chakravyuha”
WINGG… lingkaran cahaya redup berlapis-lapis muncul disekeliling lelaki itu. Posisinya kini berada tepat di tengah-tengah lingkaran itu. Terlihat beberapa cahaya yang menyerupai pasukan berkuda nampak memutari posisinya di lapisan lainnya.
“Aghh….”
“DWII”
Lelaki itu nampak kesakitan. Ia tak berdaya setelah gaya gravitasi itu menariknya dengan kuat ke tanah, dan sekarang efek dari sihir pemanggil itu.
“Itu, nama itu…”
Anna merasa tidak asing dengan nama teknik itu. Yup, ‘Chakravyuha’. Di dunia nyata tempat Anna dan Dwi berasal, itu adalah nama sebuah formasi perang era India Kuno dalam cerita Mahabharata. Itu adalah formasi yang digunakan untuk membunuh Abimanyu putra Arjuna.
Anna terkejut bahwa istilah itu juga ada di dunia paralel ini. Namun dirinya nampak kebingungan, apa efek yang dihasilkan dari teknik itu, apakah sama seperti di dunia nyata, ‘membunuh seseorang yang ada di tengahnya’. Namun sebelum berpikir lebih jauh tentang hal itu, sang pemanggil mantra itu langsung mengatakannya.
“Hahaha… Kau pasti bingung kan? Ini teknik Summon penghisap mana. Dengan teknik ini aku bisa menghisap seluruh mana yang ada dalam tubuhmu, dan kau akan kukalahkan dengan rasa sakit yang takkan bisa kau bayangkan sebelumnya, haha…”
“Pe… Penghisap mana?”
__ADS_1
Mendengar hal itu, Anna semakin panik, terlebih lagi melihat posisi Dwi yang bahkan tidak bisa bangkit berdiri. Ia benar-benar khawatir kalau temannya itu akan kalah dengan kehabisan mana dalam tubuhnya. Dia tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi bila seorang manusia kehabisan mana dalam tubuhnya.
“Dwi… Bagaimana ini?”
Namun berbeda dengan Anna, Aldy yang duduk di sebelahnya malah tertawa melihatnya. Sontak Anna yang tengah panik itu langsung menghampirinya dan menarik kerah seragamnya.
“Ahh… Kak Aldy, kenapa kau tertawa? Dwi sedang….”
“Hahaha… Taktik yang payah,”
“Eh?”
Raut wajah Anna yang nampak ketakutan itu langsung berubah jadi bingung. Apa yang dimaksud oleh seniornya itu, tentang taktik yang digunakan oleh Henrick.
“Apa? Maksudmu?”
“Dia pakai teknik yang salah pada waktu yang tidak tepat. Ada celah yang sangat besar buat mematahkannya. Apalagi dia malah menjelaskan tekniknya secara langsung pada lawannya, itu sama saja bunuh diri,” jelas Aldy.
“Eh…?” Anna masih belum mengerti.
“Kita lihat saja ke depannya, apa yang akan terjadi pada orang itu,” kata Aldy.
Anna melepaskan genggamannya dari Aldy. Ia tak terlalu panik sekarang, namun dirinya masih kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh lelaki berambut putih itu.
Sementara itu di dalam arena, Dwi masih berusaha untuk bangkit sambil memutar otaknya. Ia harus segera mencari cara untuk lepas dari pengaruh sihir itu sebelum mana-nya habis. Tapi dia masih belum menemukan ide untuk membalikkan keadaan.
“Sial, bagaimana ini? Berpikir Dwi, berpikir,” katanya dalam hati.
“Berpikir lagi, Dwi. Gimana caranya agar kau bisa lepas dari sihir Summon ini… Eh tunggu… Summon?’
Dwi akhirnya menyadari sesuatu, sebuah hal yang menjadikannya peluang baginya untuk membalikkan keadaan.
“Ah, aku paham sekarang. Ini sihir pemanggil rupanya, bukan sihir penyegel,”
BRUKK… tubuhnya tertarik ke tanah semakin keras. Mungkin itu efek dari jumlah mana dalam tubuhnya yang semakin sedikit. Namun untungnya ia sudah mengetahui cara untuk lepas dari teknik itu.
“Baiklah kalau begitu,”
Dwi mengangkat tangan kanannya dengan susah payah. Suara tertawa Henrick masih terdengar jelas di depannya, tapi itu malah menjadi keuntungan tersendiri baginya.
“Mantra Cipta, Bhumi, Lingkar Stalagmit”
BAKK… Dwi menghentakkan tangannya ke lantai arena, dan secara ajaib muncul bebatuan runcing yang di sekitarnya. Bebatuan runcing itu menusuk seluruh makhluk cahaya dari sihir Chakravyuha itu. Dan karena ‘makhluk penghisap mana’ yang dihasilkan oleh teknik itu berasal dari sihir Summon, itu artinya ia bisa dihancurkan. Dan benar saja perkiraan Dwi.
“APA?”
Henrick yang awalnya tertawa kegirangan langsung terkejut melihat lawannya itu berhasil mematahkan sihirnya. Ia nampak murka melihatnya. Dan tanpa basa-basi, ia langsung menyerang posisi Dwi yang dikelilingi bebatuan runcing itu.
__ADS_1
“JANGAN HARAP KAU BISA MENANG MELAWANKU! MANTRA CIPTA, BARA, MULTI BOLLA RENTAKA!!!”
Henrick menyerang Dwi dengan puluhan bola api. Benda-benda itu meledak tepat saat mengenai bebatuan runcing itu, menghasilkan asap yang sangat pekat. Lelaki Tapanuli itu tak memberikannya kesempatan untuk melawan balik.
“Huff…”
Dirinya menghela napas, berpikir bahwa semuanya sudah berakhir. Tapi sayangnya ia terlalu angkuh. Dia terlalu percaya diri dan meremehkan lawannya itu.
“AP-“
Sebuah tangan kegelapan raksasa tiba-tiba keluar dari kepulan asap pekat itu, langsung menggenggamnya dan membawanya ke atas.
“Uhh…. Sialan,”
Terlihat Henrick yang berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan hitam raksasa itu, namun sepertinya percuma saja. Sementara itu asap pekat pun hilang dan posisi Dwi kini sudah terlihat jelas. Ia nampak mengepalkan tangan kirinya ke depan seperti memegang sesuatu.
“Kurang ajar,”
Henrick terlihat sangat marah besar dan berusaha untuk melepaskan diri. Tapi Dwi tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membalikkan keadaan dan memenangkan pertarungan. Ia pun mengeluarkan teknik pamungkasnya.
“Terbakarlah menjadi abu. Mantra Cipta, Bara, Layang Phoenix”
Ia mengarahkan tangan kanannya ke arah Henrick, lalu menciptakan seekor burung api dan melepaskannya. Burung itu lalu melesat dan menghantam tubuh Henrick yang tengah dalam genggaman tangan kegelapan itu, menghasilkan api besar yang membakarnya.
“AAAAAA….”
Lelaki itu berteriak kepanasan, terbakar karena sihir burung api itu. Para penonton yang melihat Dwi menggunakan teknik itu hanya terdiam dengan tatapan terkejut, sebagian dari mereka nampak melongo. Anna dan Licia dari bangku penonton juga tak bisa berkata apa-apa. Sementara Aldy yang duduk di samping mereka tersenyum lebar, seolah-olah sudah tahu dengan apa yang akan dilakukan oleh lelaki Jawa itu.
Dwi membiarkan burung api itu melahap dan membakar Henrick dalam genggamannya. Setelah dirasa cukup, ia mengepalkan tangannya dan menghilangkan sihir tersebut. Tubuh lawannya itu kini terlihat dengan jelas. Sebagian tubuhnya terlihat gosong akibat sihir burung api itu.
“A…ku… ka… lah….?”
BRUKK… Henrick terjatuh sesaat setelah Dwi melepaskan pengaruh sihir tangan kegelapannya. Tak ada tanda-tanda bahwa ia akan kembali berdiri dan melanjutkan pertarungan. Itu artinya, Dwi sudah berhasil menaklukannya.
“Baiklah. Pemenang pertandingan ini adalah Dwi Septianto dari Akademi Sihir Nasional Jailolo!!!”
WHOAA… Tepuk tangan dan sorak sorai terdengar dari bangku penonton yang terkesima dengan pertarungan itu.
“Huff…”
Dwi berhasil memenangkan pertarungan sengit itu. Harus ia akui, lawannya kali ini adalah seorang penyihir petarung yang sangat kuat. Hampir saja ia takluk di tangannya. Dengan raut wajah berkeringat, ia terduduk kelelahan.
Tak berlangsung lama, seorang gadis berlari menghampirinya dan langsung memeluknya dengan erat. Gadis berambut pirang itu terlihat menangis, khawatir akan terjadi sesuatu padanya, namun untungnya lelaki itu berhasil menuntaskan pertarungan ini sebagai jawara.
“Uhh…”
“Hua… Dwi…. Syukurlah kau baik-baik aja….”
__ADS_1
Merasakan pelukan hangat dari gadis itu membuat Dwi merasa senang. Namun ada sebuah hal yang membuatnya bingung. Emosinya, emosi dari sosok partnernya itu. Ia seakan larut dalam suasana, tapi bukan dalam dirinya yang semestinya. Itu artinya semuanya makin berubah, sejalan dengan lamanya mereka tinggal di dunia paralel ini. Tapi, mengesampingkan hal itu, Dwi nampak bahagia karena berhasil memenangkan pertarungan sengitnya, dan adanya orang yang benar-benar peduli padanya.
“Kau sudah makin berubah ya, Anna. Semoga kita bisa kembali secepatnya,”