X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 45 : Zui, The Second Elder


__ADS_3

Pagi yang cukup cerah di langit Pasai. Masyarakat nampak berlalu lalang untuk beraktivitas, baik dengan berjalan kaki ataupun naik Layang. Beberapa diantara mereka melaju dari dan ke pusat kota Lhokseumawe. Terlihat kota di utara Wilayah Pasai tersebut nampak sangat ramai. Tak terlalu mengherankan karena kota itu adalah satu dari sekian kota pelabuhan tersibuk di Selat Malaka. Laut itu adalah jalur penghubung ujung timur Kontinen Azia dan ujung barat Kontinen Veropa di Tierra Hyuma ini, dan kota Lhokseumawe merupakan salah satu tempat singgah favorit bagi para pedagang trans benua.


Anna Sahilatua, Dwi Septianto, dan Aldy Heraldy terbang ke wilayah ini untuk menyambut kedatangan sang Elder Kedua, Zui, dan mengalahkannya sebelum menghancurkan kota. Melihat dari apa yang dilakukan oleh Ika sang Elder Pertama terhadap Bacan Utara membuat kedua Parachi itu khawatir. Elder Kedua pasti lebih kuat dari Elder Pertama, dan tidak bisa dibayangkan kerusakan seperti apa yang dapat ia timbulkan.


Mereka pun mendarat dengan mulus. Kekhawatiran masih ada di benak mereka. Namun ternyata apa yang terjadi di luar dugaan. Aldy tak mendaratkan mereka di pusat kota.


“Lah, ini bukan Lhokseumawe. Kita masih di tengah hutan,” cetus Anna.


“Memang benar. Kita tidak mendarat di pusat kota. Karena menurut informasi yang diperoleh Tia, Zui akan muncul di tempat ini,” jelas Aldy.


“Oh begitu, ya? Bagus juga sih. Tempat ini cukup jauh dari pemukiman. Kita tak perlu khawatir ada warga yang terluka,” ujar Dwi.


“Tapi kita juga tak boleh sampai lengah. Kita tidak tahu Elder Kedua itu sekuat apa,” tepis ketua kelas Da tersebut.


Ini adalah hutan yang tak terlalu lebat, berlokasi di lereng sebuah gunung yang terletak sekitar belasan kilometer sebelah barat daya Lhokseumawe. Suasananya nampak sepi disini, tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia selain mereka bertiga. Daun-daun pohon bergerak tertiup angin. Burung-burung liar berkicau dari arah yang cukup jauh. Ketiganya menatap ke segala arah, fokus dan waspada. Semuanya nampak sunyi di cuaca yang cerah itu, hingga Anna melihat sesuatu dari arah langit.


“Itu…”


Mereka memperhatikannya. Terlihat sesosok benda hitam terbang dari arah jam dua. Wujudnya terlihat berbentuk seperti oval, namun tak lama berselang bentuk aslinya mulai terlihat, sepasang sayap dan ekor yang cukup panjang kini dapat terlihat oleh kedua mata. Sosok itu bergerak ke arah mereka dengan kecepatan sekitar 60 km per jam. Ia nampak melayang-layang sampai akhirnya mendarat di puncak bukit itu dengan hantaman yang keras, menghasilkan debu yang bertebaran.


BRUKK…


Wujud asli sosok itu terhalang oleh debu yang dihasilkannya. Namun bayangan hitam dari bentuknya itu masih dapat terlihat dengan cukup jelas.


“GRROOOAAAAAHHHH……”


Makhluk itu menggeram, suaranya begitu menggelegar dan gema-nya terdengar hingga beberapa ratus meter jauhnya. Suaranya sangat mirip dengan monster-monster yang biasanya ada dalam film.


Geramannya yang menghasilkan hembusan angin itu menyingkirkan semua debu yang menyelimutinya. Kini wujud aslinya bisa terlihat dengan jelas.


“Tidak salah lagi, dia…”


Itu adalah seekor naga berkepala dua yang mampu berdiri tegap. Tingginya nyaris menyentuh tiga meter dengan lebar sayap dua kali ukuran tubuhnya. Kulitnya sangat tebal dan berwarna ungu kehitaman, terkecuali sisik di bagian perutnya yang berwarna putih. Napas dua kepala naga itu terlihat mengeluarkan asap berwarna keunguan dengan kandungan mana yang besar dan pekat. Benar sekali, ia adalah Zui Sang Elder Kedua.


Berbeda dengan Elder sebelumnya, Zui adalah satu-satunya Elder yang tidak dapat berbicara bahasa manusia. Ia hanya bisa menggeram layaknya seekor naga dalam cerita-cerita fantasi.


Naga itu melihat ke arah mereka bertiga lalu meraung dengan suara menggelegar. Orang biasa mungkin akan langsung lari terbirit-birit begitu mendengarnya. Namun tidak dengan Anna. Gadis berambut pirang itu malah semakin bersemangat untuk menjatuhkan makhluk itu.


“Baiklah. Inilah saatnya,”


Anna mengeluarkan Parang Pusaka-nya dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Tak lama berselang ia pun merapalkan sebuah mantra.


“Mantra Cipta, Bayu…”


Tak terlalu jelas mantra apa yang diucapkan olehnya, namun sihir angin yang dihasilkan mengitari tubuhnya. Selang beberapa detik kemudian, gadis itu melesat dengan cepat ke arah naga itu. Teknik sihir yang ia ciptakan menghasilkan hembusan angin yang cukup kencang.


Gadis itu nampak sangat bersemangat untuk mengalahkan Elder Kedua itu, namun sayangnya ia terlalu cepat bertindak.

__ADS_1


“Tunggu, Anna. Jangan gegabah!!!” sahut Aldy.


“HIYAAAA!!!!”


Seakan tak menghiraukan teriakannya, Anna tetap melesat ke arah naga ungu itu dan berniat menghunuskan parangnya ke leher makhluk itu. Tetapi benar apa kata seniornya tersebut, gadis itu terlalu gegabah.


TINGG…


“Aghh…”


Parang Pusaka yang tajam itu tak berhasil memenggal leher makhluk tersebut meskipun dengan bantuan sihir angin. Anna merasakan sakit pada kedua tangannya yang memegang gagang senjata itu. Rasanya seperti memukul tiang listrik yang sangat keras.


Melihat adanya kesempatan, salah satu kepala naga itu melancarkan serangan balik dengan mencoba menggigit ************ Anna. Nasib baik dirinya masih sempat menghindar.


“Heh, dasar naga mesum. Beraninya kau ya!” ucap Anna.


Seakan masih tak mau melepaskan mangsanya, naga itu kembali melancarkan serangan. Kali ini dia hendak mengeluarkan bola api dari kedua mulutnya. Sangat sulit bagi gadis itu untuk menghindari serangannya kali ini. Tapi nampaknya keberuntungan masih memihak gadis itu.


Sebuah serangan sihir api tepat mengenai kepala naga itu, mengalihkan perhatiannya dari Anna. Serangan sihir itu berasal dari arah bawah, atau lebih tepatnya dilancarkan oleh Dwi partnernya.


“Anna…”


Gadis itu berhasil menghindar, namun kini perhatian naga itu teralihkan pada Dwi dan Aldy yang berada di bawahnya. Monster berkepala dua itu lalu terbang melesat ke arah mereka.


“Sial, Layang Phoenix”


“Cih…”


“Masih kurang, Dwi. Mantra Cipta, Bara, Multi Ultima Layang Phoenix”


Aldy di sebelahnya melancarkan serangan sihir serupa, namun dengan jumlah burung api yang jauh lebih banyak dan lebih kuat. Puluhan burung api menerjang naga itu dan membuatnya berhenti seketika. Teknik sihir yang dilancarkan lelaki berambut putih itu jauh lebih kuat. Asap pekat pun menyelubungi Elder Kedua itu, membuatnya bergeming. Hal ini dijadikan kesempatan oleh keduanya untuk melarikan diri dan bersiap menyusun serangan balik.


Naga itu kembali meraung untuk menghilangkan asap yang menyelubunginya. Dan tepat saat asap pekat itu hilang, Anna kembali menghunuskan pedangnya pada makhluk itu. Kini gadis itu menggunakan sihir air untuk mengalahkannya.


“TERIMALAH INI!!!”


Ia berpikir kalau dengan sihir air mungkin akan mampu memadamkan sihir apinya. Tetapi rupanya hal itu masih belum cukup untuk menjatuhkan makhluk itu.


“Cih, apa-apaan itu?”


Sang naga kembali menyerang Anna, dan lagi-lagi serangannya berhasil dihentikan oleh sihir ular kegelapan milik Dwi.


Makhluk terbang itu menghadapi berbagai serangan dari ketiganya. Serangan jarak dekat dari Anna, serangan jarak jauh oleh Dwi, dan serangan campuran oleh Aldy. Berbagai elemen sihir pun telah mereka keluarkan untuk mengalahkan Elder Kedua itu, namun tak ada satu pun dari mereka yang mampu menembus kulitnya yang sangat keras itu. Meskipun makhluk terbang itu bergerak cukup lambat, hanya sekitar 60 km per jam saja, namun sampai saat ini masih belum ada yang mampu menundukkannya. Bahkan sekelas tombak guntur langit milik Aldy pun masih tak mampu menembusnya.


Naga ungu itu masih belum bisa dijatuhkan, dan dia tak terlihat kelelahan sama sekali. Berbanding terbalik dengan ketiga manusia itu yang sudah hampir kehabisan mana untuk bertarung.


“DWII…”

__ADS_1


Partner Anna, Dwi sudah terlihat benar-benar kelelahan. Dirinya nyaris tak mampu berdiri lagi saking lelahnya akibat terlalu banyak menggunakan sihir. Lelaki itu memang menggunakan lebih banyak sihir dibandingkan dengan kedua temannya itu. Tak heran ia begitu kehabisan energi sekarang.


Melihat salah satu lawannya yang hampir tumbang, naga ungu itu langsung melancarkan serangan napas api padanya.


“DWII…”


Anna yang melihatnya langsung menghalangi napas api itu dengan sihir pelindung istimewanya.


“Salawaku”


BOOMMMM… Napas api itu mengenai perisai dan menghasilkan ledakan yang memecah suasana. Serangan itu terlihat sederhana, namun memiliki kandungan mana yang sangat kuat. Seandainya Anna hanya menggunakan Parisha biasa mungkin takkan sanggup menahannya.


Napas api itu perlahan menghilang. Anna berhasil menahannya dengan perisai istimewanya. Meskipun begitu, dirinya nampak sangat kelelahan menahan serangan itu. Nampak dirinya terlihat ngos-ngosan.


“Anna…”


“Aku… Aku akan melindungimu… Dwi… Sampai kita bisa kembali… Huff….”


Berpikir kalau bahaya sudah lewat, Anna pun melepaskan perisainya. Sayangnya hal itu malah berbuah petaka baginya.


Sebuah bola api melesat ke arahnya dari balik gumpalan asap. Gadis itu tak punya waktu yang cukup untuk mengindar. Alhasil ia pun terkena serangan itu.


“Agghhh….”


“ANNA!!!”


Gadis berambut pirang itu terhempas puluhan meter akibat ledakan dari serangan tak terduga itu. Tak berselang lama, naga itu kembali meraung dan melesat ke arah Dwi.


Melihat hal itu, Aldy langsung menyerangnya dengan pedang angin dari arah kiri. Namun lagi-lagi, hal itu masih belum cukup untuk menembus kulit tebal monster itu. Sang senior ikut terhempas setelah salah satu kepala naga itu menghantam perut lelaki itu.


“KAK ALDY!!!”


BRUKK… Naga itu kini hanya berjarah sekitar 10 meter saja dari Dwi. Lelaki itu nyaris tak bisa menggerakkan tubuhnya karena hampir kehabisan mana, sementara kedua temannya terhempas jauh akibat seranga monster itu. Dirinya sekarang dalam keadaan genting.


“Sial, bagaimana ini?” pikirnya.


Ia benar-benar terdesak. Namun siapa sangka. Di tengah kondisi hidup mati itu, sesuatu terjadi.


SWINGG…


GROOAAAHHHH….


Naga itu terlihat meraung kesakitan, seperti ada sesuatu yang berhasil menyayat tubuhnya. Dan benar saja, bagian sisik putihnya mengeluarkan cairan hijau akibat disayat sesuatu. Namun siapa yang melakukannya? Anna dan Aldy terhempas cukup jauh dari tempat itu, sementara Dwi sendiri hampir tak mampu untuk bergerak sama sekali. Tak perlu menunggu lama, jawaban dari pertanyaan itu pun sudah ada di depan matanya.


“Dasar 'Aneuk Bajeung', beraninya kamu mengusik ketenteraman Tanah Pasai ini,”


Terdengar suara seorang pria dewasa di depannya. Ia melangkahkan kakinya tepat di depan lelaki Jawa itu. Dari cara bicaranya, sepertinya ia merupakan warga asli wilayah ini. Lantas siapakah dia?

__ADS_1


“K.. Kau siapa?”


__ADS_2