
Koridor arena itu nampak sepi di siang hari. Hampir seluruh pengunjung tengah menyaksikan turnamen adu sihir paling bergengsi di Kekaisaran Nusantara itu. Hanya terlihat sedikit orang saja yang tengah membersihkan lantai dan memunguti sejumlah sampah yang ada di dekat tembok.
Suara yang nampak hening itu seakan terpecah oleh suara langkah kaki dari dua orang yang tengah berjalan-jalan di sana. Terlihat seorang gadis berambut pirang panjang tengah bersama seorang lelaki berambut pendek di belakangnya. Siswi bernama Anna Sahilatua itu nampak sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh partnernya, Dwi Septianto yang lebih memilih untuk menyerah daripada bertarung sampai kehabisan mana.
“Dwi, kenapa kau melakukan itu?” Anna menghentikan langkah kakinya, namun ia tak mau berpaling ke arah lelaki itu.
“Apa maksudmu, Anna?”
“Kau masih belum paham ya? Kau kan sudah berjanji untuk bertarung dengan serius. Tapi tiba-tiba kau malah berbuat seenaknya seperti ini. Menyerah seperti pecundang, kenapa kau melakukan hal ini?”
Nampak ekspresi kekesalan terdengar jelas dari suara gadis itu. Dan dengan terbata-bata, lelaki itu menjawabnya dengan penuh kebimbangan.
“Aku…”
“…Aku ingin menyudahi semua ini. Perasaanku juga tak karuan kalau aku terus berada di tempat ini,”
Mendengar hal itu malah membuat Anna semakin kesal.
“Apa? Jadi maksudmu kau ingin lari dari tempat ini, dan membiarkan kita terjebak di dunia ini selamanya, begitu?”
“Bu… Bukan seperti itu, aku…”
Amarah Anna sudah berada pada puncaknya. Gadis berambut pirang itu langsung berbalik dan menarik kerah seragam Dwi.
“Ughh…”
“Kenapa kau melakukan ini? Kau bilang pada beta kalau ini bukan di bumi kan? Kita harus bersikap layaknya orang lain disini kan? Dan dengan cara itu kita akan keluar dari tempat ini kan?” Anna mengungkapkan kekesalannya pada Dwi, sampai-sampai ia tak sadar kalau ‘logat aslinya’ keluar kembali.
“An...na?”
“Lantas kenapa kau malah menyerah seperti ini? Kenapa kau lebih memilih perasaanmu dari bumi yang tak jelas itu? Kenapa?”
“…”
Perlahan air mata Anna mulai keluar. Ia terlihat sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Dwi kali ini. Menurutnya ini sangat bertentangan dengan apa yang telah mereka janjikan sebelumnya, bersikap layaknya orang lain dan mencari cara agar mereka bisa keluar dari dunia alternatif itu. Namun lelaki itu malah mengingkari janjinya, dengan memilih tunduk pada perasaan yang mungkin tak jelas datangnya darimana itu.
Tapi sepertinya hal itu percuma saja, pikir Anna. Dwi tak mampu menjelaskan apa yang ia pikirkan sampai bertindak seperti itu. Gadis itu pun melepaskan genggamannya.
“Baiklah kalau itu maumu. Aku juga akan mengambil jalanku sendiri,”
Gadis itu menabrakkan pundak kirinya pada lelaki itu lalu meninggalkannya sendirian di sana. Dwi masih tak beranjak di sana, dengan kondisi hati yang benar-benar bimbang.
“Anna,”
…
Tak terasa babak 8 besar turnamen adu sihir itu sudah memasuki pertandingan ketiga. Itu artinya tinggal 2 pertandingan lagi sebelum babak semi final ini berlangsung. Adapun dalam pertandingan ini mempertemukan Anna Sahilatua dari Akademi Sihir Nasional Jailolo melawan Rebecca Batubara dari Akademi Sihir Nasional Tapanuli.
Keduanya sudah saling berhadapan satu sama lainnya di lapangan. Rebecca terlihat percaya diri sambil tersenyum menyeringai, sementara Anna hanya tertunduk saja tanpa senyuman. Gadis Tapanuli itu sepertinya tahu apa yang terjadi padanya sehingga bersikap seperti itu.
“Hah, kekasihmu si Dwi itu sudah menyerah ya? Cih, sayang sekali si pecundang itu sudah gugur dengan hina,” ucap Rebecca sambil mencemooh partnernya itu.
“…”
Anna tak menjawabnya. Melihat hal itu, Rebecca sepertinya berpikir kalau gadis itu tengah bersedih karena keputusan Dwi yang lebih memilih menyerah dalam pertarungan sebelumnya. Namun rupanya bukan itu yang ia pikirkan.
“Bagaimana kalau kau menyerah saja dan ikuti jalan kekasihmu itu, Anna Sahilatua?”
Rebecca kembali menghinanya. Namun ucapan yang dilontarkan gadis itu ternyata membuatnya kesal. Anna mengepalkan tangannya, dan sepertinya ia terlihat benar-benar ingin menghajar gadis Tapanuli yang sok tahu itu.
“Diam. Pertama, dia bukanlah kekasihku. Kedua, aku bukanlah Dwi yang lebih memilih menyerah seperti pecundang. Kau akan merasakan akibat dari mulutmu itu,” kata Anna dengan nada mengancam.
Mendengar hal itu, ekspresi Rebecca sedikit berubah. Ia nampak terkejut dari ucapan yang dilontarkan gadis itu, namun disisi lain ia masih sangat percaya diri kalau ia akan memenangkan pertandingan itu. Sang wasit pun mengangkat tangannya untuk memulai pertandingan tersebut.
“Baiklah”
“Bersedia”
__ADS_1
“Siap”
“Mulai!!!”
Dengan semangat membara untuk menghancurkan lawannya, Rebecca langsung memasang kuda-kuda dan mengarahkan kedua tangannya pada Anna, lalu membaca sebuah mantra.
“TERBAKARLAH MENJADI DEBU! MANTRA CIPTA, BARA, MULTI ULTIMA BOLLA RENTAKA”
Gadis Tapanuli itu melontarkan serangan seratus bola api super kuat ke arah Anna yang tengah tertunduk itu. Ia tak memberinya kesempatan untuk mengelak dari serangan itu. Para penonton terkejut dengan serangan sihir api Rebecca yang sangat cepat itu.
“Cepat sekali,”
Namun berbeda dengan penonton lainnya, Licia langsung panik melihat serangan cepat yang tak terduga itu. Apalagi setelah melihat Anna yang tak beranjak sedikitpun dari posisinya saat terkena serangan itu.
“ANNA”
Sama seperti penonton lainnya, Aldy yang berada di samping Dwi juga terkejut dengan teknik sihir yang dilepaskan oleh Rebecca.
“Multi Ultima, mantra itu membuat serangan sihirnya menjadi berlipat ganda dan lebih kuat kan? Sebagai penyihir kelas junior dia bisa merapalkan mantra itu dengan cepat dan tepat. Kemampuannya luar biasa,” puji Aldy.
“Apa? Dia sekuat itu? Jadi Anna…” Licia yang mendengarnya langsung menoleh ke arah Aldy.
“Huh… Tapi sepertinya cara itu takkan bisa mengalahkan teman sebangkumu itu, apalagi dalam kondisi seperti ini,” lanjut Aldy sambil tersenyum.
“Maksud kakak?”
“Kau tengok sendiri lah,”
Aldy menunjuk ke posisi Anna berdiri. Tubuhnya tak terlihat sedikitpun karena debu bekas hantaman bola api dari serangan itu. Baik Licia maupun Dwi di sampingnya, keduanya menyaksikan dengan seksama. Tak ada hal aneh yang terjadi di sana, sampai hembusan angin melenyapkan debu itu.
“Apa? Ini?”
Mereka terkejut. Tidak, mungkin hampir semua penonton di sana juga sama. Gadis berambut pirang itu bisa selamat dari serangan seratus bola api super kuat itu dengan menggunakan perisai angin yang mengitari dirinya. Jika dilihat sekilas teknik ini hampir sama seperti teknik yang dipakai Dwi saat bertarung melawan Henrick, hanya saja ini menggunakan sihir angin, bukan kegelapan.
“Mu… Mustahil,”
Rebecca yang melihatnya juga terkejut dengan apa yang dilakukan Anna untuk menahan serangan sihirnya. Nyaris tak terdengar mantra apa pun, gadis itu melindungi dirinya dengan sihir angin.
Namun seandainya mereka tahu dan paham, mungkin saja mereka akan sedikit mengerti, terutama Rebecca yang langsung berhadapan dengannya. Perasaan Anna benar-benar tak menentu. Kekecewaan, itulah yang ia rasakan saat ini. Rasa sakit hatinya itu mengantarkan dia ke situasi seperti ini. Dan bertarung dengan Rebecca, gadis yang malah bersikap sok tahu itu dan memprovokasinya, ia telah membuat sebuah kesalahan.
“AAAAAAAAAAAA…….”
Dengan amarah yang menguasai dirinya, Anna berteriak sekencang-kencangnya. Tak ayal peristiwa itu membuat semua orang kaget, apalagi teriakan itu menghasilkan hembusan angin yang cukup kuat.
“Anna?”
Rebecca yang tengah berhadapan dengannya juga ikut terkejut, tak menyangka bahwa teriakannya akan menghasilkan angin yang cukup mengganggunya.
“Cih, sial. Dia mengontrol penggunaan mana-nya pakai emosi kah?” pikirnya.
Tak berselang lama, dirinya kembali dibuat terkejut. Posisi Anna yang seharusnya berada di depannya tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
“Hah? Kemana dia?”
WUSH WUSH WUSH… Bukan menghilang ataupun melarikan diri, ternyata Anna bergerak kesana kemari dengan sangat cepat sambil menggunakan sihir anginnya. Laju gerakannya yang mencapai sekitar 40 knot itu nyaris tak terlihat dengan mata telanjang. Rebecca hanya bisa menengok kesana kemari dengan sesekali memutar badannya yang cukup berisi itu, menoleh ke berbagai arah seperti orang yang kebingungan tanpa mampu bergerak sedikitpun.
Hingga tepat pada saatnya, gadis itu muncul tiba-tiba di depan Rebecca, membuatnya terkejut bukan kepalang. Sambil menatapnya dengan tajam, Anna mendaratkan sebuah pukulan berlapis sihir angin pada Rebecca.
“Sial, Pari…”
Saking cepatnya serangan itu, Rebecca tak sempat menciptakan perisai dengan sempurna. Alhasil sihir pelindungnya pecah berkeping-keping terkena pukulan itu. Dirinya juga terhempas ke udara dengan sangat kuat.
“Masih belum. Ultima Gerudi Puyuh”
Seakan tak cukup dengan serangan kejutan itu, Anna kembali melepaskan serangan bertubi-tubi padanya. Kali ini gadis berambut pirang itu menggunakan sihir bor angin. Serangan itu ia lancarkan bertubi-tubi pada Rebecca yang tengah berputar-putar di udara akibat serangan sebelumnya.
BAK BAK… Hampir seluruh serangan yang ia lancarkan mengenai tubuh Rebecca. Dahsyatnya serangan itu membuat sebagian seragam Rebecca terkoyak dan banyak helai rambutnya yang putus. Walaupun begitu, perlahan gadis Tapanuli itu mulai bisa menyeimbangkan tubuhnya di udara dan bertahan dari serangan Anna. Dan tepat pada dua serangan bor angin terakhir, Rebecca mampu menangkisnya dengan perisai.
__ADS_1
“Cih…”
Bersamaan dengan hilangnya perisai buatannya, Rebecca membuka matanya dan bersiap untuk menyerang balik. Namun lagi-lagi, gadis Parachi itu menghilang dari padangannya.
“Sial. Kemana lagi dia?”
Rebecca menengok ke berbagai arah, mencari posisi keberadaan Anna. Dan tepat saat dirinya menengadah ke atas, ia melihat gadis itu tengah memegang sebuah pedang angin dan menghunuskannya padanya.
BRUKK…, Tak ada waktu bagi Rebecca untuk menangkis serangan cepat itu dengan perisainya. Ia kembali terhempas dan membentur tanah dengan sangat keras hingga tubuhnya terbenam hingga setengah meter.
“Ughh…”
Gadis Tapanuli itu meringis kesakitan. Ia hampir tak bisa menggerakkan tubuhnya akibat serangan keras itu. Dan tibalah saatnya bagi Anna untuk menuntaskan pertarungannya ini.
“HAAAAAAAA…….”
“Ti…”
BRUKK…. Dengan pedang anginnya, Anna menerjang Rebecca yang tengah terbaring itu dengan sangat cepat. Hantamannya menghasilkan ledakan dan melontarkan batuan-batuan di sekitarnya sejauh puluhan meter.
Suasana nampak hening. Para penonton yang menyaksikan pertandingan itu mendadak diam seribu bahasa, terkejut melihat serangan yang sangat cepat itu yang nyaris tak terlihat oleh mata mereka.
Perlahan debu pun mulai menghilang di arena. Kedua gadis itu kini terlihat jelas oleh mata. Terlihat Anna yang tengah berdiri sambil ngos-ngosan, sementara lawannya Rebecca yang terbaring tak berdaya, terbenam di dalam tanah sedalam satu meter. Sang jawara pun sudah ditentukan.
“Baiklah. Pemenang pertandingan ini adalah Anna Sahilatua dari Akademi Sihir Nasional Jailolo!!!”
Para penonton sempat berbisik-bisik dahulu sebelum akhirnya menyoraki gadis itu. Reaksi mereka seakan masih tak percaya dengan pertandingan kilat itu.
“Ke… Keren,” ucap Licia terbata-bata, teman sebangkunya itu juga seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Mengalahkan lawannya hanya dalam waktu 1 menit saja ya? Luar biasa. Benar-benar di luar dugaanku,” puji Aldy di sebelahnya.
Tercatat Anna mampu mengalahkan Rebecca dalam waktu 1 menit saja. Itu artinya ia berhasil memecahkan rekor pertandingan tercepat dalam turnamen tersebut.
Parisha pun menghilang dan dia bergegas kembali ke tribun. Tepat saat dirinya melewati Dwi yang tengah duduk di sampingnya, lelaki itu langsung memujinya dan memberinya jempol.
“Good Job, Anna,”
Walaupun begitu, sepertinya Anna masih sangat kesal pada lelaki itu. Ia tak mengindahkannya dan langsung duduk di sebelah Licia.
“Eh, Anna? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu dengan Dwi?” tanya Licia penasaran.
“Huff… Tidak ada,”
Anna menjawabnya dengan simpel, namun ekspresi kekesalannya tak dapat ia sembunyikan. Melihat hal itu, putri Bunda Rara itu pun malah menggodanya.
“Ah… Pasti hubungan kalian ada masalah ya? Hehe…”
Mendengar hal itu, emosi Anna kembali memuncak. Ia pun menoleh ke arah Licia dan membentaknya.
“SUDAH KUBILANG AKU TAK PUNYA HUBUNGAN DENGAN DIA!!!”
Raut wajah Licia langsung berubah. Nampak ia sangat terkejut dengan jawaban Anna. Itu pertama kalinya Licia dibentak oleh teman sebangkunya itu.
Melihat reaksi Licia yang nampak ketakutan itu, ekspresi Anna berubah dan mencoba menenangkannya.
“Eh, Licia…”
“Ah… Aku terlalu ikut campur urusanmu, ya? Maafkan aku,” ucap Licia dengan suara pelan.
“Eh… Tidak kok, Licia. Kau tidak salah apa-apa. Hanya saja…”
Anna memalingkan wajahnya ke bawah sebelum melanjutkan perkataannya.
“…aku memang sedang kesal padanya,”
Licia terdiam sejenak mendengar hal itu.
__ADS_1
“Ah baiklah, aku mengerti. Aku takkan ikut campur masalah kalian sampai terlalu jauh. Lagipula memang tidak sopan kalau ikut campur masalah kehidupan seorang Parachi,”
Baik Licia maupun Anna, keduanya kembali normal seperti biasa, walaupun gadis berambut pirang itu masih kesal pada Dwi. Sementara itu, Aldy di samping mereka hanya memandanginya saja dengan tatapan dingin, berpikir bahwa sesuatu hal yang tak mengenakkan telah terjadi pada mereka. Hingga pertandingan terakhir babak 8 besar ini siap dimulai, kedua Parachi itu masih belum bisa berdamai.