X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 33 : Perlawanan


__ADS_3

Suara seorang pria dewasa memecah keheningan di arena tersebut. Sontak semua orang melihat ke arah datangnya suara itu. Terlihat seorang pria berusia sekitar 30 tahunan tengah berdiri di depan balkon VVIP. Dilihat dari posisi berdirinya dan pakaian yang ia kenakan, sepertinya ia adalah pengawal Adipati Wilayah Deli.


Pria itu menatap Anna dengan sangat tajam, dan sesekali melihat ke arah benda yang ia lemparkan pada Ruri.


“Apa yang kau lakukan padanya?” tanya pria itu dengan tegas.


Anna cukup ketakutan mendengar suara pria itu, namun dirinya berusaha menjawabnya walaupun dengan terbata-bata.


“Sa… Saya hanya bertarung seperti biasa, tuan,”


Dengan posisi kedua tangan di belakang, pria itu kembali bertanya pada Anna.


“Lantas benda apa yang kau lemparkan padanya tadi itu?”


Pria itu bertanya soal benda hitam yang dilemparkan Anna pada Ruri. Dengan gugup, Anna pun menjawabnya.


“I… Itu Pusaka saya, tuan,”


Seakan tak percaya dengan apa yang gadis itu katakan, pria itu memperhatikannya lagi dengan seksama. Dan benar saja perkiraannya. Itu bukanlah senjata Pusaka hasil kontrak dengan ‘Penunggu Gaib’, melainkan sebuah


benda, atau mungkin lebih tepatnya senjata yang dirakit menggunakan sejumlah bahan tertentu. Hal tersebut sontak membuat pria itu marah. Anna telah menciptakan sebuah alat yang termasuk ke dalam pantangan dunia ini, larangan untuk menciptakan alat-alat seperti ini.


“Pembohong! Kau menggunakan teknologi kan,” ujar pria itu dengan nada yang keras.


Suaranya yang lantang itu bergema hampir ke seluruh wilayah arena yang sempat sunyi itu. Sontak hal itu langsung membuat semua orang di sana terkejut.


“Apa? Teknologi?”


“Mustahil, dia pakai alat terkutuk itu?”


“Berani sekali dia,”


Licia yang tengah duduk di tribun barat pun juga ikut terkejut. Ia tak menyangka bahwa teman sebangkunya itu akan melanggar salah satu pantangan utama di planet ini.


“Anna, Dia…”


Namun berbeda dengan Dwi. Ia yang sudah mengetahui taktik itu sejak awal hanya terdiam melihatnya. Begitu pula dengan Aldy di samping mereka yang tak menunjukkan ekspresi apapun.


“A…anu…”


“Nona Muda, apa pihak sekolah tak pernah mengajarimu bahwa penggunaan teknologi itu sangat dilarang di seantero planet ini?” tanya pria itu kembali.


Anna tak mampu untuk membantahnya. Sebelumnya ia sudah diperingatkan oleh Aldy soal penggunaan teknologi di planet ini, dan apa alasan kenapa alat tersebut dilarang digunakan disini. Tetapi karena rasa penasarannya yang tinggi, ia pun melanggar salah satu aturan utama di Tierra Hyuma ini. Selain itu, ia juga berpikir mungkin saja cara tersebut bisa mengembalikan mereka berdua ke dunia nyata, meskipun peluangnya belum pasti.


“Kenapa, Nona Muda? Apa kau tak sanggup menjawabnya?” tanya pria itu kembali.


Pria itu terus mendesak Anna untuk menjelaskan semuanya. Alhasil gadis itu pun terpaksa menjawabnya seadanya saja.


“Saya, saya hanya ingin bertarung secara adil tuan,”


“Maksudnya?”


“Lawan saya menggunakan senjata Pusaka, senjata sihir tingkat tinggi yang hanya bisa diperoleh melalui kontrak dengan ‘Penunggu Gaib’. Penyihir dengan senjata Pusaka pasti jauh lebih kuat dibandingkan dengan penyihir biasa. Oleh karenanya, saya menggunakan senjata saya sendiri untuk melawannya. Hal itu tidak salah kan? Sama saja seperti menggunakan senjata biasa,” jelas Anna.


Anna berucap sesuai dengan apa yang ada dipikirannya. Namun ternyata hal itu tak membuat pria pengawal Adipati Deli itu melunak.

__ADS_1


“Tidak masuk akal. Penggunaan senjata Pusaka yang suci tak bisa dibandingkan dengan teknologi yang hina. Kau telah mempermalukan dirimu sendiri sebagai manusia Tierra Hyuma dengan perbuatan kotor seperti itu, Nona Muda,”


Pria itu dengan lantangnya menghina Anna dan benda yang diciptakannya itu. Dia menyebut bahwa alat yang telah dirakitnya itu merupakan sesuatu yang kotor dan hina.


Mendengar ucapan yang merendahkan tersebut, emosi Anna kembali memuncak. Ketidakadilan yang ia rasakan saat bertarung melawan Ruri, diperburuk dengan apa yang diucapkan oleh sang pengawal tersebut, membuat amarahnya kembali terbakar.


“Apa maksudmu dengan ‘perbuatan hina’ seperti itu. Apakah hanya menciptakan teknologi sederhana yang tak mematikan, diriku bisa terhina seperti itu? Kenapa kalian sangat alergi terhadap teknologi, padahal kalian sendiri juga pernah memanfaatkannya di masa lalu?”


Karena emosinya yang mulai memuncak, tanpa sadar Anna menjawabnya secara informal. Hal itu sontak membuat beberapa penjaga di sampingnya langsung naik pitam karena perkataan yang dinilai tidak sopan tersebut.


“Hei, Nona Muda. Apa kau sudah lupa, karena teknologi-lah planet ini hampir musnah? Apa kau berusaha mengingkari hal itu?”


Pria itu menaikkan suaranya, namun Anna tetap dengan pendiriannya soal teknologi. Arena pertarungan sihir pun berubah jadi ajang debat antara siswi akademi dengan pengawal adipati kekaisaran.


“Tapi yang memicu hal itu hanyalah satu teknologi saja kan, kloning, bukan keseluruhannya? Sama saja kalian menggeneralisir seluruh teknologi bersalah, padahal tidak demikian,”


Perdebatan alot pun terjadi di antara mereka. Dan kini pengawal Adipati Pasai yang langsung berdiri dan mengarahkan telunjuknya pada Anna. Raut wajahnya terlihat sangat murka dengan ucapan gadis itu.


“Diam! Lancang sekali kau berkata seperti itu kepada kami para petinggi kekaisaran. Apa kau sudah melupakan yang namanya tatakrama? Dan lagi, kau masih terlalu muda, jangan sok tahu tentang sejarah dunia ini. Paham kau!”


Pria itu membentaknya dengan keras. Suaranya menggema seantero arena. Tapi hal itu tak membuat Anna bergeming, mengalah pada ucapan mereka. Entah karena terdesak atau mungkin sudah diluar kendali, gadis berambut pirang itu pun akhirnya mengatakan sesuatu yang harusnya ia sembunyikan bersama Dwi.


“Aku tidak sok tahu soal dunia ini. Aku hanya ingin menuntut hak-ku. Lagipula aku bukanlah manusia planet ini. Aku berasal dari sebuah planet yang hampir sama seperti kalian, dan disana teknologi berkembang pesat dan bermanfaat bagi umat manusia. Ia tak semengerikan seperti apa yang kalian pikirkan. Jadi jangan bilang aku sok tahu soal dunia ini, karena soal teknologi, aku lebih paham dari kalian,” jelas Anna.


Apa yang diucapkan Anna itu membuat hampir semua orang terkejut, termasuk Licia. Ia tak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh teman sebangkunya itu.


“Anna? Dia…”


Berbeda dengan Dwi di sampingnya. Lelaki itu malah terkejut karena gadis itu telah melanggar kesepakatan dengannya, dengan tak menceritakan identitas mereka yang sebenarnya kepada siapapun.


Lain halnya dengan Aldy. Lelaki berambut putih itu hanya menatapnya dengan dingin sambil menyilangkan tangan dan kakinya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Namun berbeda dengan para petinggi kekaisaran di balkon VVIP. Mereka menganggap bahwa apa yang diucapkan oleh Anna hanyalah omong kosong belaka untuk menutupi perbuatannya. Sang pengawal Adipati Pasai pun akhirnya mengambil tindakan.


“Jangan mengada-ngada. Apa yang kau perbuat sudah tak bisa dimaafkan. Kau harus menerima hukuman dari segala perbuatanmu itu. Segel, Pyramidia”


Sang pengawal Adipati Pasai itu mengarahkan tangan kanannya pada Anna dan merapalkan sebuah mantra. Tak berselang lama, beberapa benda sihir menyerupai kaca langsung melesat padanya dan mengurung tubuhnya di sebuah benda transparan berbentuk limas segi empat. Alhasil gadis itu pun terkunci disana dan nyaris tak bisa menggerakkan badannya.


“Aghh….”


“ANNA!” Dwi yang melihatnya langsung berdiri dan berteriak.


Itu adalah Pyramidia, salah satu sihir penyegel Helenia. Ia mengurung tubuh gadis itu dalam sebuah limas segi empat dan memblokir akses penggunaan mana dari dalam dan luar tubuhnya. Tak ada cara untuk keluar darinya selain sang perapal mantra itu sendiri yang melepaskannya.


“AGHH… SIALAN. KELUARKAN AKU DARI SINI!!!”


Anna berteriak dan berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari benda itu, namun hal itu percuma saja.


“Kau harus menerima konsekuensi dari perbuatanmu itu, Nona Muda. Mantra Cipta, Guntur, Noktah Elektrisia”


Pengawal Adipati Deli mengarahkan telunjuk kanannya ke arah Anna dan merapalkan mantra. Sebuah bola sihir elemen petir seukuran lalat tiba-tiba muncul di depannya, lalu terbang ke arah limas segi empat itu. Dan tepat saat mengenai permukaan sihir penyegel itu, gelombang listrik langsung menyambar tubuh gadis itu.


“AAAAAAAAA”


Sambaran listrik bertegangan tinggi yang mengenai tubuhnya itu langsung membuatnya pingsan.

__ADS_1


“ANNA!!!” Dwi kembali berteriak dari arah tribun melihat apa yang terjadi pada partnernya itu.


“Bawa dia!!!”


Pengawal Adipati Deli itu memerintahkan beberapa orang di bawah tribun untuk membawa gadis itu. Limas segi empat itu pun melayang ke arah mereka secara ajaib, dan akhirnya mereka membawa Anna keluar dari arena. Sepertinya mereka akan membawa gadis itu ke suatu tempat.


“Sial. Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus membebaskannya,”


Dwi beranjak dari tempat itu dan bergegas untuk membebaskan Anna. Dan baru saja maju selangkah, Licia langsung memegang tangannya.


“Eh, Dwi. Kau mau kemana?”


“Aku harus membebaskannya,”


“Tapi…”


Raut wajah Licia nampak kebingungan. Sepertinya ia ingin mempertanyakan sesuatu hal padanya.


“Ada apa, Licia?” tanya Dwi sambil menoleh ke arahnya.


“Sebenarnya kalian ini siapa? Dan yang dikatakan Anna tadi itu, maksudnya apa?”


Dwi hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Lelaki Jawa itu bingung harus menjelaskannya seperti apa.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian, tapi aku ingin tahu, kalian ini sebenarnya siapa?”


Licia kembali mempertanyakan hal serupa. Dwi pun akhirnya menepuk pundak Licia dan tersenyum padanya. Ia sepertinya tak punya pilihan lain untuk menyembunyikan rahasia mereka lagi.


“Nanti kau juga tahu sendiri. Setelah kubawa Anna kembali, nanti akan kujelaskan semuanya padamu,”


Mendengar hal itu, Licia tersenyum tipis padanya. Dwi pun kembali bergegas untuk membebaskan partnernya itu.


“Baiklah. Aku harus pergi menyelamatkannya sekarang. Lagipula dia teman sebangkumu yang berharga juga kan,”


Licia mengangguk, membiarkan lelaki itu pergi menyelamatkan Anna. Namun lagi-lagi, baru saja melangkahkan kakinya, Dwi kembali berhenti setelah mendengar suara Aldy di belakangnya. Tangannya terlihat memegangi telinganya, seperti sedang menghubungi seseorang.


“Iya, Tia. Ada apa?”


Mereka berdua memandangi lelaki berambut putih itu. Dwi menyadarinya, Aldy tengah berbicara dengan adiknya sekaligus penjaga Perpustakaan Suci Jailolo, Mutiara. Sepertinya mereka sedang membicarakan suatu hal. Awalnya nampak biasa saja, namun tak lama berselang, reaksi lelaki itu berubah.


“Apa? Tidak mungkin. Mereka sudah datang?”


Nampak kepanikan terlihat jelas dari raut wajahnya. Ia sepertinya mendengar sebuah kabar yang sangat buruk. Tak lama kemudian, ia menurunkan tangannya itu dan menoleh ke arah Dwi.


“Dwi, kita harus cepat selamatkan Anna sebelum terlambat,”


“Apa yang terjadi, Kak Aldy?” tanya Dwi.


“Anna… dan seluruh Tierra Hyuma dalam bahaya,”


Mendengar hal tersebut sontak membuat Dwi sangat terkejut. Ia teringat sebuah ancaman besar bagi planet ini yang pernah diceritakan oleh Aldy dan Mutiara. Dan sepertinya ancaman besar itu akan tiba sebentar lagi.


“Apa? Jangan-jangan dia sudah turun kembali kesini?”


Aldy hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Ia sudah paham dengan apa yang dikatakan oleh Dwi, dan lelaki berambut putih itu membenarkan ucapannya.

__ADS_1


Seluruh planet Tierra Hyuma kini dalam bahaya besar. Mereka harus segera menyelamatkan Anna sebelum semuanya terlambat.


__ADS_2