
Sebuah cahaya putih menembus gelapnya pandangan. Semuanya nampak buram, tapi perlahan semuanya terlihat dengan jelas. Itu adalah sebuah ruangan berlantai putih dengan tembok berwarna abu-abu. Terlihat sejumlah berkas tersimpan di atas meja cokelat itu. Beberapa peralatan kantor lainnya juga berada di tempat itu. Selain itu, ada juga sebuah borgol yang tergantung di dinding. Nampak tempat ini seperti sebuah ruangan yang ada dalam kompleks penjara.
“Uhh… Dimana aku?”
Anna Sahilatua, seorang penyihir muda Jailolo yang berhasil mengalahkan lawannya dalam turnamen, terpaksa dibawa oleh sejumlah orang ke tempat misterius ini karena ‘kesalahan besar’ yang ia perbuat.
Semuanya kini terlihat dengan jelas. Gadis berambut pirang itu mencoba melihat ke segala arah untuk mengetahui ruangan apa ini. Saat dirinya menengok ke sebuah pintu yang tertutup itu, di sebelahnya terlihat sebuah sign yang sepertinya bertuliskan lokasi dimana ia berada.
“Bacan Utara?”
Anna sekarang sudah cukup mahir membaca aksara Rejang. Tulisan itu pun sudah bisa ia baca dengan jelas. Bacan Utara, itu nama sebuah wilayah yang berada di selatan Jailolo, kurang lebih jaraknya sekitar 130 km. Itu artinya ia masih tak terlalu jauh dari kota tempat ia bertarung.
Anna pun kembali memperhatikan sudut-sudut ruangan yang tak memiliki jendela itu. namun saat mencoba menengok ke arah kiri, ia baru menyadari kalau dirinya tak bisa bergerak sama sekali.
“Eh, aku terkunci?”
Ia melihat ke bawah tubuhnya, dan benar saja perkiraannya. Ia tengah terduduk dengan kondisi kedua tangannya terkunci. Gadis itu hampir tak bisa bergerak sama sekali dari tempat itu.
“Aduh sial. Keluarkan aku dari sini,”
Anna berontak, berusaha untuk keluar dari tempat itu, walaupun sepertinya cukup mustahil. Tak lama kemudian pintu ruangan itu pun tiba-tiba terbuka dengan cukup keras hingga membuatnya kaget.
“Ehhh!!!!”
Terlihat tiga orang pria berseragam mirip sipir penjara masuk ke ruangan itu. Seorang pria berambut hitam dan berkacamata yang berada di tengah mereka langsung memperhatikan wajah gadis itu dengan tatapan tajam.
“Kau sudah bangun ya, Nona Muda?”
“Eh, aku…”
Anna yang masih terkejut menjawabnya dengan terbata-bata. Tak berselang lama pria itu pun mengambil sebuah kursi dan duduk tepat di depannya. Sebuah meja juga tiba-tiba bergeser ke depan mereka secara ajaib, tak didorong oleh siapapun. Sepertinya ia bergerak sendiri dengan sihir.
Pria itu pun menaruh kedua lengannya di atas meja itu lalu memperkenalkan dirinya.
“Saya Hilmansyah, Kepala Bidang Analis Sumber Daya Manusia, Lembaga Pemasyarakatan Bacan Utara,”
“Eh, Lembaga Pemasyarakatan? Berarti saya sedang berada di penjara dong, tuan?” tanya Anna setelah mendengar istilah yang tidak asing tersebut. Rupanya penyebutan istilah tempat tersebut sama persis dengan apa yang ada di dunia nyata.
“Tepat sekali,”
Pria itu membenarkan pertanyaannya, dan tak lama berselang, ia pun kembali berucap pada gadis itu.
“Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan padamu, Anna Sahilatua,”
“Eh…”
Anna lumayan terkejut mendengarnya. Namun ia juga berpikir kalau hal itu juga masih masuk akal, mengingat dirinya telah melanggar salah satu aturan utama di planet tersebut.
Hilmansyah pun mulai melemparkan sejumlah pertanyaan pada gadis itu.
__ADS_1
“Nona Muda. Kami yakin sebenarnya dirimu sudah tahu tentang larangan penggunaan teknologi di dunia ini. Tapi yang membuat kami penasaran, apa motifmu melakukan hal itu?”
Awalnya Anna nampak ragu untuk menjawab pertanyaan itu. Namun karena tak ada pilihan lain, ia pun terpaksa mengatakan semuanya, mengatakan hal yang seharusnya ia sembunyikan bersama Dwi.
“Sebenarnya, saya ingin segera keluar dari dunia ini dan kembali ke dunia nyata. Saya sudah lelah dengan semua ini. Jadi saya berpikir kalau melanggar pantangan disini mungkin akan membantu saya kembali,”
Anna menjelaskannya dengan cukup detail, apa yang terjadi pada dirinya yang sebenarnya. Namun hal itu sepertinya tidak cukup untuk membuat Hilmansyah mempercayai perkataannya.
“Dunia lain? Jadi kau adalah Parachi?” tanya Hilmansyah.
“Yah, betul sekali tuan. Saya adalah Parachi dari dunia lain yang tersesat di dunia ini,”
Raut wajah Anna langsung berubah. Dengan perkataannya itu, ia semakin yakin kalau hal itu akan berhasil mengembalikannya ke dunia nyata. Tetapi apa yang ia harapkan masih jauh dari kenyataan.
“Hmm… walaupun kau seorang Parachi, tapi seharusnya kau sudah diberitahu sebelumnya tentang semua aturan yang berlaku disini…”
BRAKK… Pria itu menggebrak meja di depannya. Sontak hal itu langsung membuat Anna terkejut.
“Ahh…”
“Paham, Nona Muda?”
Nampaknya yang dikatakan oleh Anna dianggap sebagai angin lalu oleh pria itu. Ia sama sekali tak mempercayai perkataan gadis itu.
“Ta… Tapi saya berkata apa adanya tuan. Saya bukan orang planet ini. Saya berasal dari planet bumi. Disana sihir dianggap cerita masa lalu dan teknologi itu nyata. Dan saya sebenarnya…”
Anna bersikeras dengan apa yang ingin ia katakan. Gadis itu ingin menjelaskan semua hal tentang dirinya, tentang apa yang terjadi dengannya dan tempat asalnya. Namun saat ia akan mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya, ia tiba-tiba mengurungkan niatnya. Entah karena ia berpikir kalau dirinya sudah terlalu banyak berbicara, atau mungkin dirinya ragu karena ia sudah terlalu lama berada dalam tubuhnya yang baru itu.
“Huff… Sepertinya Rott sudah menyesatkanmu terlalu jauh, Nona Muda,” kata Hilmansyah sambil mengusap-usap kepalanya.
Tak lama kemudian ia pun memerintahkan salah satu bawahannya itu untuk mengambil sejumlah berkas.
“Darius, tolong ambilkan berkas-berkas yang ada di lemari itu,”
“Baik, Tuan,”
Pria itu langsung mencari sejumlah berkas yang terpampang di lemari itu, sedangkan Hilmansyah langsung membaca sejumlah kertas yang ada di mejanya. Entah apa yang dibaca oleh pria itu, dirinya nampak serius sekali.
Sementara itu, Anna terlihat sedang merenung, wajahnya tertunduk lesu dengan posisi badan yang nyaris tak bisa bergerak sama sekali. Di pikirannya, ia merasa bimbang. Apakah dirinya sudah melakukan hal yang benar dengan melakukan hal itu, pikir gadis itu. Dirinya sempat memarahi Dwi saat lelaki itu ingin merubah caranya seenak jidat. Itu melanggar perjanjian mereka. Namun rupanya Anna juga melakukan hal serupa, bahkan mungkin lebih parah.
“Dwi…”
Tak ada suara lain yang terdengar selain suara sipir yang tengah memeriksa lemari itu. Namun hal itu tak bertahan lama, hingga sesuatu terjadi di tempat mereka berada.
“Eh…. Bergetar?” ucap Anna.
“Hmm… Gempa ya?” kata Hilmansyah di depannya.
Ruangan tempat interogasi itu bergetar dengan cukup keras. Awalnya mereka berpikir bahwa itu adalah gempa, terlebih lagi wilayah Moluccas memang sangat rawan terjadinya peristiwa alam tersebut. Namun semuanya berubah saat alarm berbunyi dengan keras dan lampu sihir ruangan itu meredup.
__ADS_1
WIIII WIIII… Suara sirine itu memecah keheningan ruangan interogasi. Kedua sipir yang mengawal Hilmansyah pun mulai panik.
“Tuan Hilman, sepertinya ada serangan yang menargetkan tempat ini,”
“Apa? Serangan? Kalau begitu infokan apa yang terjadi di luar sana dan siapa yang menyerang tempat ini!” perintah Hilmansyah.
“Baik!!!”
Mereka berdua bergegas menuju pintu keluar untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi, sementara Hilmansyah tetap dalam posisinya. Anna pun juga ikut bertanya-tanya tentang hal tersebut.
“Serangan? Serangan penyihir?” pikirnya.
Sayangnya, belum sampai keduanya menginjakkan kakinya di pintu keluar, langit-langit tempat itu meledak dengan keras akibat terkena serangan sihir. Kedua sipir itu pun juga ikut terhempas.
“Arrgghhh….”
Debu sempat menutupi ruangan itu sebelum memudar perlahan-lahan. Dan tepat saat debu menghilang, mata mereka langsung terfokus ke arah penyerang tersebut.
“Di atas”
“Hah? makhluk apa itu?”
Cahaya Solaris menghalangi wujud aslinya, namun bayang-bayang hitamnya dapat dilihat dengan jelas. Ia terlihat seperti sesosok makhluk berotot dengan dua sayap menyerupai kelelawar. Dari penampilannya, sudah jelas bahwa makhluk itu bukanlah manusia.
“Berani sekali makhluk menjijikkan sepertimu menyerbu tempat ini. Kau akan merasakan akibatnya,” ancam Hilmansyah.
Pria itu bersama dua sipir pengawalnya yang berusaha bangkit langsung mengarahkan tangan mereka ke arah makhluk misterius itu dan merapalkan sejumlah mantra. Seorang sipir merapalkan sihir cahaya, sipir lainnya yang bernama Darius itu merapalkan sihir api, sedangkan Hilmansyah dengan sihir petirnya menciptakan bola besar yang siap untuk ditembakkan.
“Enyahlah kau makhluk asing!!!”
WUSHH… Mereka bertiga menembakkan sihirnya bersama-sama. Bola-bola sihir itu pun melesat ke arah makhluk terbang itu dan mengenainya hingga menghasilkan ledakan. Tetapi nampaknya serangan itu masih terlalu lemah baginya.
“Apa?”
Sejumlah bola cahaya keluar dari asap hasil ledakan itu. Ia mengenai tanah di ruangan itu dan menghasilkan ledakan-ledakan kecil. Ketiga pria itu sempat menutupi wajahnya, lalu menurunkan tangannya kembali karena berpikir serangan itu meleset. Namun di luar dugaan, itu bukanlah serangan utama.
“Eh?”
Tanah yang mereka pijak tiba-tiba terangkat naik setinggi hampir 30 meter tingginya, membuat semua orang yang ada disana, termasuk Anna panik. Rupanya sihir cahaya itu hanyalah perantara untuk mengangkat tanah yang mereka pijak.
Tak lama berselang, tanah yang mereka pijak pun jatuh. Mereka semua terhempas kembali ke bawah dengan sangat keras. Semuanya, termasuk Anna yang tengah terkunci di kursi itu berteriak ketakutan.
“AAAAAAAAA”
BRUKK… Hentakan yang sangat keras mengacaukan mereka semua. Para penjaga sudah terbaring tak berdaya akibat serangan itu. Sementara itu Anna ikut terhempas dan terlempar dari kursinya.
“Aghh…”
Perlahan gadis berambut pirang itu berusaha bangkit kembali. Namun betapa terkejutnya dia saat kaki makhluk misterius itu tepat mendarat di depan kepalanya. Anna pun menatapnya dengan mulut menganga. Nampak dirinya ketakutan setelah melihat wujud makhluk misterius bersayap itu, sesosok makhluk yang sama sekali belum pernah ia lihat semenjak menginjakkan kaki di dunia alternatif ini, apalagi di dunia nyata.
__ADS_1
“A….a….a….”