
“Tuh kan aku bilang juga apa, dia orangnya jahat,”
“luarnya aja kayak orang alim, tapi hatinya busuk,”
“emang keterlaluan dia itu, harusnya dia dah dipenjara. Tapi kenapa malah bebas dah?”
“katanya dia orang kaya bro, anak keturunan lagi, Pasti gampanglah soal hal itu,”
…
Kota Ambon, Bulan Oktober Tahun 2101.
Ini adalah masa depan, sebuah masa di mana hampir seluruh masalah yang terjadi di dunia ini bisa diselesaikan berkat adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi sayangnya, meskipun dengan adanya kemajuan di bidang tersebut, tak semua masalah bisa teratasi dengan mudah. Satu diantara masalah-masalah yang sulit diatasi tersebut adalah masalah yang sudah ada sejak lebih dari seabad yang lalu, bullying.
Siswa berambut pirang pendek asal Ambon itu memang dikenal sangat cerdas, namun entah kenapa dia menjadi salah satu korban dari masalah tersebut.
“Haha… Dasar nerd. Sok pintar sekali kau,”
Alistair Sahilatua, salah satu siswa dari sebuah SMA di Kota Ambon itu seringkali menjadi bahan perundungan oleh teman-teman sekelasnya. Corat-coret buku, cemoohan dan hinaan, hingga pelemparan bungkus makanan pun sering dilakukan padanya. Entah kenapa mereka semua melakukan hal itu, bahkan seorang Ali sendiri pun juga tidak tahu. Apakah karena penampilannya itu? Tapi ia merasa kalau itu tidak bisa menjadi alasan.
“Dasar payah, Nerd sok pintar pula,”
Alistair emanglah pemuda yang cukup sabar menghadapi mereka itu. Namun sebagai manusia biasa, ada masa di mana kesabarannya itu habis. Dan itu terjadi tepat pada sore hari di sebuah gang kecil di Kota Ambon, dengan kondisi hujan yang cukup deras.
“Ja-jangan lakukan, Bobby. Kumohon…”
Alistair berusaha berontak, namun ada 2 siswa lainnya yang memegangi dirinya. Ia hampir tak bisa bergerak sekalipun.
“Ah, jadi ini ini jam pasir favoritmu itu ya, Li? Bagus juga haha…”
Siswa bernama Bobby itu merogoh tas pemuda berambut pirang itu dan menemukan sebuah jam pasir kecil. Sekilas itu terlihat seperti sebuah souvenir biasa yang dapat digenggam dengan satu tangan saja, tetapi sebenarnya itu bukanlah sembarang souvenir karena kelangkaannya itu yang menjadikannya istimewa. Jam pasir itu adalah pemberian dari ayahnya saat bertugas ke luar kota, dan Alistair benar-benar menyukainya. Terlebih ayahnya memang menyuruh Ali agar benar-benar menjaga barang yang cukup langka itu sebelumnya. Tidak mengherankan kenapa Ali benar-benar ketakutan jika terjadi sesuatu dengan benda itu.
“Woy, Bobby. Jangan lakukan apapun pada benda itu, kumohon,”
__ADS_1
Alistair memohon padanya agar tak menyentuh benda itu sembarangan, tapi sepertinya itu sia-sia. Bobby malah balik membentaknya.
“Diam!!! Dasar Nerd tidak tahu diri. Kau sudah bikin kami menderita karena ulahmu ngelempar serbuk gatal pada kami. Sekarang kau harus terima akibatnya,”
Beberapa hari yang lalu, Bobby dan kelompoknya juga pernah merundung Ali saat di laboratorium sekolah, dan karena jengkel, pria berambut pirang itu melempar sejenis serbuk ke arah mereka. Ia tidak sadar kalau serbuk itu mengandung bahan kimia yang dapat membuat kulit manusia gatal-gatal. Insiden pun terjadi dan mereka dipanggil ke ruang BK. Rupanya Bobby dan kawan-kawannya menaruh dendam pada Ali akibat peristiwa itu.
“Tu~tunggu. Kemarin itu beta tidak sengaja. Beta tidak tahu kalau serbuk itu bisa bikin gatal, jadi…”
“Halah, Sialan!!!”
Amarah Bobby sudah mencapai puncaknya. Ia membanting jam pasir itu ke aspal dan menginjaknya sampai hancur. Alistair hanya bisa terdiam melihatnya. Barang langka pemberian ayahnya itu kini sudah hancur berkeping-keping, diinjak oleh pria dengan tubuh cukup besar itu.
“Haha…. Mampus kau, jam pasirnya kuhancurkan. Makanya jangan sok-sokan di hadapan kami, haha…” ujar Bobby dengan angkuhnya.
Teman-teman Bobby yang memegangi Ali ikut tertawa melihatnya, sementara Bobby berbalik dan sepertinya hendak pergi dari tempat itu. Kepuasan nampak terlihat dari raut wajahnya.
Namun berbeda dengan Ali. Apa yang Bobby lakukan itu menjadi puncak kemarahannya pada mereka. Ia sudah menjadi bahan rundungan mereka selama hampir tiga semester lamanya. Selalu saja Ali menahan kesabarannya saat berhadapan dengan mereka. Tapi sekarang kesabarannya itu telah habis bersamaan dengan hancurnya barang langka paling berharga pemberian ayahnya itu.
“Hey, apa yang kau lakukan?”
“Woy, Bob. Awas!!!”
Pria berbadan besar itu berbalik, tapi posisi Ali sudah sangat dekat dengannya. Amarah yang telah ia pendam selama lebih dari setahun lamanya itu ia lampiaskan lewat kepalan tangannya.
“HIYAAAA!!!”
BAKK… Sebuah pukulan keras menghantam wajah Bobby, membuatnya terdorong beberapa meter dan menghantam tiang listrik besi di belakangnya dengan sangat keras. Bukti ledakan amarah Alistair yang telah ia pendam cukup lama terlampiaskan lewat tangan kanannya itu. Ali pun sudah bersiap apabila teman-temannya itu tak terima dengan apa yang ia lakukan.
Tapi berbeda dengan prediksinya. Mereka berdua tak berani mendekatinya. Mereka menatap Ali dengan tatapan aneh, antara marah namun takut. Salah satu di antara mereka menunjuknya sambil terbata-bata.
“K~Kau…”
Alistair yang semula terlihat murka langsung kebingungan dengan ekspresi mereka yang seakan jijik padanya itu.
__ADS_1
“DASAR BIADAB!!!”
Yang awalnya disangka mereka akan berkelahi dengannya, ternyata mereka malah berlari ketakutan dan meninggalkannya. Ali benar-benar bingung dengan ekspresi mereka. Namun ekspresi bingungnya itu sontak berubah 180 derajat saat ia menengok ke arah Bobby.
“Eh…?”
Pria berambut pirang itu benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya. Bobby, siswa bertubuh besar ini terlihat tengah terduduk tak berdaya. Matanya tertutup, tak bergerak sedikitpun, sementara pipi kirinya terdapat luka dari pukulan keras yang di arahkan padanya itu. Namun hal yang membuatnya terkejut, darah segar terlihat pada tiang besi itu. Bagian belakang kepalanya sepertinya terbentur dengan keras. Apa yang ia lakukan sebagai bentuk pembelaan diri dan wujud ekspresi kemarahannya yang telah dipendam cukup lama itu malah berbuat petaka bagi orang lain.
“Bo~bby?”
Siswa bertubuh besar itu terluka parah. Untungnya nyawa dia masih bisa diselamatkan. Namun sayangnya, benturan keras pada bagian belakang kepalanya itu membuat dirinya hilang ingatan. Saat terbangun di rumah sakit pun ia tak ingat apapun, termasuk pada orang tuanya sendiri.
Alistair sudah bertindak terlalu jauh dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Baik dari pihak orang tua Ali, Bobby, serta pihak sekolah, semuanya saling dipertemukan oleh pihak kepolisian. Orang tua Ali tak bisa berbuat banyak, mereka hanya bisa memohon agar anaknya itu diberi keringanan hukuman, apalagi insiden tersebut terjadi secara ‘tidak sengaja’.
Walaupun dengan diskusi yang cukup alot, mereka semua akhirnya sepakat untuk menempuh ‘jalur damai’. Tapi hal itu tidak serta merta membuat Ali terbebas sepenuhnya dari hukuman. Ia terkena skorsing selama 1 minggu oleh pihak sekolah sebelum akhirnya bisa kembali.
Namun ternyata hal itu tidak cukup baginya. Perundungan terhadap Alistair memang tidak terjadi lagi sejak saat itu, tapi dirinya mendapatkan sesuatu yang lebih buruk, diacuhkan dan dijauhkan oleh murid lainnya. Hampir tidak ada lagi murid di seluruh sekolah itu yang mau mendekatinya. Tidak ada satu pun murid yang berani merundungnya lagi, tapi pengabaian dan gibahan tentang dirinya begitu jelas dari belakang layar. Apalagi setelah adanya kabar kalau Bobby tidak bisa melanjutkan sekolah di tempat itu lagi. Hal itu memperburuk suasana.
“Eh lihat itu, Ali si anak berandalan,”
“Oh iya. Dia yang mukul Bobby sampai amnesia itu kan?”
“Memang gak bisa dimaafkan dia,”
“Tampangnya culun, tapi dalamnya ternyata kriminal,”
“Gue yakin ntar abis lulus dia bakalan jadi pembunuh, itu pun kalau dia lulus dari sini,”
Berbagai cemoohan dan gibahan tentang dirinya menyebar ke seluruh sekolah, membuat siswa berambut pirang itu benar-benar dijauhi oleh hampir seluruh murid. Ali harus menghabiskan sisa waktu SMA-nya dengan tekanan batin yang luar biasa. Bahkan saat dirinya mendapatkan nilai tertinggi dalam UNBV, tak ada satu pun murid yang memberikannya ucapan selamat. Mereka bertepuk tangan padanya di atas panggung, namun hal itu karena terpaksa. Mereka tetap menatapnya dengan sinis.
“Seandainya beta tak melakukan hal itu,”
Alistair Sahilatua, pemuda blasteran Maluku-Eropa itu menjalani kehidupan SMA-nya dengan penuh penderitaan. Kehidupannya yang menyedihkan itu perlahan berakhir saat dirinya diterima sebagai mahasiswa Institut Teknologi Ambon pada tahun 2103. Semuanya mau menerima dia apa adanya, baik itu Kevin, Herlin, partnernya Dwiana, maupun semua kawan-kawannya yang lain. Perlahan ia pun mencoba melupakan apa yang terjadi padanya di masa lalu.
__ADS_1
Namun sayangnya, peristiwa yang terjadi di dunia alternatif ini membuat kenangan buruknya di masa lalu itu teringat kembali.