X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 29 : Wangsa Arya


__ADS_3

Jeruji Bolla Rentaka, itulah mantra yang diucapkannya. Bola air raksasa itu seharusnya menghisap siapa pun yang menyentuh permukaannya. Jika sesuai dengan taktik yang telah direncanakan sebelumnya, gadis itu menghunuskan sabit merahnya, lalu dirinya terhisap ke dalam bola air tersebut dan terjebak di dalamnya. Menunggu sampai berapa lama paru-parunya bisa bertahan di dalam sana, dan wasit pun akan menurunkan tangannya, pertanda pertandingan telah usai.


Namun tak terduga sebelumnya, benda itu malah meledak. Cipratannya menyebar ke segala arah. Sihir itu malah terlihat seperti bola berisi air yang dilemparkan dengan keras ke sebuah tembok lalu pecah karena benturannya yang keras.


“Apa?”


Air pun membasahi sebagian arena itu layaknya bekas hujan. Bekas ledakan menyerupai kabut itu menutupi posisi Ruri. Tak ada yang bisa dilihat oleh pandangan mata dari tempat itu.


“Apa yang terjadi?”


Anna bertanya-tanya, apa yang sebenarnya telah terjadi. Seharusnya bola air raksasa itu tidak meledak, namun yang terjadi malah sebaliknya.


Ekspresi kaget dan kebingungan nampak jelas pada raut wajah Michael. Semuanya nampak hening menyaksikannya. Banyak yang berpikir terjadi sesuatu pada gadis itu, dan sebagiannya menyangka bahwa ia melakukan sebuah taktik untuk menangkis serangan sihir tersebut. Dan ternyata, pandangan kedualah yang benar-benar terjadi. Kabut itu menghilang, dan sekarang kita bisa melihat apa yang sebenarnya dilakukan oleh gadis itu untuk menahan laju sihir bola air raksasa tersebut.


“Apa? Mustahil”


Sebuah bola air bisa saja pecah apabila menabrak sebuah benda padat. Dan itulah yang dilakukan oleh Ruri. Sebuah tembok tanah yang cukup tinggi dan lebar itu ia ciptakan untuk menahan sihir pengekang tersebut. Tak mengherankan kenapa bola air raksasa itu bisa meledak setelah menghantamnya.


“Hah? Sihir tanah? Kok bisa?” Anna terkejut melihatnya.


Berdasarkan serangan sihir sebelumnya yang menggunakan elemen angin, banyak yang menyimpulkan bahwa Ruri Yana adalah seorang pengguna sihir putih. Namun sihir yang digunakannya kali ini benar-benar di luar perkiraan. Gadis itu ternyata mampu menggunakan sihir hitam berupa elemen tanah. Dan tidak cukup sampai disitu, gadis berambut poni itu juga kembali menyerang balik dengan sihir lainnya yang mengejutkan.


“Apa?”


WUSHH… sayatan-sayatan api tiba-tiba muncul dari balik tembok tanah itu. Hal itu sontak membuat Michael langsung melompat dan menghindari serangan itu. Tembok tanah pun runtuh dan sosok Ruri Yana kini bisa terlihat dengan jelas. Ia menghunuskan sabitnya yang mengeluarkan api itu untuk melancarkan serangan balik.


Bukan hanya sihir tanah, tapi dia juga bisa menggunakan sihir api. Tentunya hal ini jelas-jelas berbeda dari apa yang diucapkan oleh Licia, di mana seorang pengguna sihir hitam takkan bisa menggunakan sihir putih, begitu pula sebaliknya. Namun yang terjadi sekarang berbanding terbalik dengan apa yang telah mereka ketahui dan pelajari sebelumnya. Sebenarnya, siapa gadis itu? Mungkin itulah yang ada di benak Anna, Licia, maupun Dwi.


Tapi berbeda dengan Aldy di samping mereka. Ketua kelas Da itu tak menunjukkan ekspresi berlebihan melihatnya, hanya tatapan kagum saja seperti biasa. Hal itu tak membuatnya terkejut karena dia sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apa yang dilakukan oleh gadis itu, dan kenapa dia bisa menggunakan sihir hitam dan sihir putih sekaligus.


“Tidak salah lagi. Dia adalah ‘Wangsa Arya’,” ucap Aldy.


“Eh, ‘Wangsa Arya’?”


Baik Licia maupun Anna, serta Dwi yang ada di samping mereka langsung menoleh ke arah lelaki berambut putih itu. Sebagai ‘anak baru’, mereka baru pertama kali mendengar istilah tersebut.


“Ah iya. Istilah-istilah seperti ‘Wangsa Arya’ memang cukup sulit ditemukan di perpustakaan. Hal itu juga belum pernah dibahas secara langsung di kelas, kan. Aku juga baru tahu istilah itu dari buku diluar akademi sebenarnya. Jadi wajar saja kalau kalian tidak tahu,” kata Aldy.

__ADS_1


“Sebenarnya, ’Wangsa Arya’ itu apa, kak?” tanya Licia.


Aldy pun menjelaskannya secara sederhana.


“Itu adalah istilah, atau lebih tepatnya gelar untuk para penyihir istimewa yang mampu menggunakan sihir hitam dan sihir putih sekaligus. Biasanya mereka akan mendapatkan gelar ‘Arya’ pada akhir namanya. Misalkan gadis itu namanya Ruri Yana. Karena dia bisa menggunakan sihir hitam dan putih sekaligus, maka nama lengkap plus gelarnya jadi Ruri Yana Arya. Yah walaupun sekarang istilah itu sudah hampir tidak digunakan lagi,”


“Oh begitu, ya? Jadi itu hanya berupa gelar saja?” tanya Anna.


“Secara istilah iya. Tapi itu bukan sekedar gelar biasa. Sangat jarang sekali orang yang mampu menggunakan sihir hitam dan sihir putih sekaligus di Tierra Hyuma ini. Jadi, siapapun yang mendapatkan gelar itu, maka dipastikan bahwa dia adalah orang yang sangat istimewa,” lanjut Aldy.


“Ngomong-ngomong, apakah kemampuan sihir berlawannya itu ia peroleh dari hasil latihan keras atau seperti apa?” tanya Dwi.


“Sampai saat ini, tidak ada yang tahu pasti bagaimana caranya seorang penyihir mampu untuk menggunakan kedua jenis sihir berlawanan itu secara bersamaan. Tapi yang jelas, itu adalah kasus yang sangat langka di Tierra Hyuma,” kata lelaki berambut putih itu.


Satu lagi informasi yang mereka dapatkan terkait dengan cara kerja sihir di dunia alternatif ini. Ternyata seorang penyihir mampu untuk menggunakan dua jenis sihir yang berlawanan. Hal ini membuat pengetahuan mereka semakin bertambah. Mungkin saja hal ini juga bisa menjadi petunjuk bagi mereka untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini.


Perhatian mereka kembali ke arena. Michael sangat kewalahan menahan serangan-serangan mendadak dari Ruri yang tak terduga itu. Ia terlalu meremehkan gadis itu sampai ia kehilangan fokusnya. Serangan sihir api itu berhasil menyayat sebagian besar tubuhnya. Tak mampu menahan sayatan-sayatan itu, tubuhnya benar-benar kesakitan.


“Ahh,,,”


Dirinya nyaris kehilangan keseimbangan, dan hal itu tak disia-siakan oleh Ruri. Ia langsung menghunuskan sabit merahnya itu secara horizontal, melancarkan serangan sayatan api yang lebih besar dan lebih kuat. Hal itu membuahkan hasil baginya.


“Aghh…”


Michael hanya bisa menutup matanya melihat serangan ujung sabit tajam yang sepertinya akan mengenai kepalanya itu.


Namun ini hanyalah pertandingan biasa, bukan peperangan. Ruri tak berniat menjadi ‘The Grim Reaper’ yang mencabut nyawa lawannya itu. Mata sabit itu ia tancapkan di tanah, hanya beberapa sentimeter saja di kanan kepala lelaki itu. Perlahan Michael membuka matanya dan melihat senjata tajam itu berada sangat dekat dengan kepalanya.


“Nah, bagaimana seranganku, Michael Hutahaean?” tanya Ruri dengan suara lembut.


Gadis itu sudah pasti membiarkannya hidup. Itu sudah jadi aturan dari turnamen adu sihir ini. Kau hanya perlu mengalahkan lawanmu saja, tidak lebih dari itu.


Secara simbolis, dalam keadaan seperti itu Michael seharusnya sudah menyerah. Mata sabit yang tertancap di tanah itu menandakan bahwa dia sudah ‘tewas’. Namun rupanya lelaki itu masih tak mau mengakui kekalahannya.


“Hahaha… ‘The Grim Reaper of Java Sea’, jadi seperti inilah kemampuanmu itu?” ujar Michael sambil tertawa.


Tatapan Ruri berubah padanya. Sepertinya ia terkejut dengan apa yang lelaki itu katakana. Sambil tertawa dengan nada jahat, Michael kembali berujar padanya.

__ADS_1


“Kau terlalu ceroboh, RURI YANA!!!”


WUSHH… Tak diduga sebelumnya, Michael menggenggam debu dan melemparkannya tepat ke mata Ruri dengan sedikit bantuan sihir angin. Sontak gadis itu langsung mengusap-usap matanya yang kelilipan terkena debu itu. Hal tersebut langsung dimanfaatkan Michael untuk melemparkan sabit merah Pusakanya itu dari genggaman Ruri, lalu menendang bagian kiri wajah gadis itu dengan keras.


“HIYAAA!!!”


BRUKK… Ruri terhempas sejauh beberapa meter, sedangkan senjata Pusakanya terlempar jauh ke atas sebelum akhirnya kembali jatuh ke tanah. Sambil tertunduk, gadis itu memegangi pelipis kiri wajahnya yang berlumuran darah akibat serangan mendadak itu.


“ENYAHLAH KAU BODAT!!!”


Michael berlari ke arah Ruri yang tengah terduduk itu. Amarah benar-benar terlihat jelas dari raut wajahnya.


Namun berbeda dengan lelaki itu, Ruri menunjukkan ekspresi yang santai. Ia mengarahkan tangan kirinya ke arah Michael tanpa menoleh sedikitpun, lalu merapalkan sebuah mantra dengan suara pelan.


“Mantra Cipta, Intan…”


Itu adalah sihir elemen lanjutan. Ia menciptakan dua kristal kecil berwarna merah muda lalu menembakkannya ke arah kaki Michael. Lelaki yang sudah gelap mata itu tak menyadarinya sejak awal, dan terlambat untuk menghindari serangan itu.


“APA?”


KRAK KRAK… tepat setelah kristal itu menghantam kedua kakinya, ia membekukan hampir seluruh tubuhnya. Hanya tersisa sedikit bagian bahu dan kepalanya saja yang masih bisa sedikit bergerak.


Michael berusaha untuk keluar dari kekangan kristal itu, namun karena amarah yang sudah terlanjut menyelimuti dirinya, ia tak mampu untuk berpikir jernih. Hal ini pun dimanfaatkan Ruri untuk melancarkan serangan terakhir padanya.


“Kembali,”


Gadis itu menarik tangan kirinya. Dan ajaib, sabit merah Pusakanya yang tergeletak di tanah itu langsung meluncur dengan cepat ke arah Michael yang tak bisa bergerak itu.


“Ap...”


BRUKK… tak sempat ia berbalik arah, gagang sabit itu menghantam bagian belakang lehernya dengan cukup keras. Kristal yang mengekang tubuhnya lalu pecah dan ia pun jatuh tak sadarkan diri. Sedangkan sabit merah itu kembali ke genggaman tuannya.


“Baiklah. Pemenang pertandingan ini adalah Ruri Yana dari Akademi Sihir Wilayah Pakuwon!!!”


Dengan darah yang masih mengucur dari pelipis kirinya, Ruri langsung berdiri dan menepuk-nepuk seragamnya dari debu. Tak ada ekspresi berlebihan yang ditunjukkan oleh gadis berambut poni itu selain senyuman tipis dari bibirnya, walaupun banyak penonton, terutama penggemarnya yang bersorak merayakan kemenangannya.


“Pertarungan yang cukup emosional ya, Anna,” ujar Licia sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


Namun berbeda dengan temannya itu, Anna tak menunjukkan ekspresi kagum seperti pertandingan-pertandingan sebelumnya. Sepertinya ia masih berpikir kalau pertandingan ini berjalan tak seimbang. Namun apa boleh buat, inilah hasil nyata dari pertandingan tersebut, dan ini sudah menjadi aturan yang diperbolehkan dalam turnamen itu.


Dengan selesainya pertandingan antara Michael Hutahaean melawan Ruri Yana, Turnamen Adu Sihir Nasional Ke-21 di Jailolo ini berlanjut ke babak 8 besar.


__ADS_2