
“HUWAAAA!!!!”
“KYAAAA!!!”
Sesosok makhluk seukuran dirinya melompat dari balik semak-semak itu, membuatnya terpental ke belakang karena kaget. Dwi tak sanggup membuka matanya karena ketakutan, tetapi semuanya berubah saat ia mendengar suara tertawa yang tidak asing dari seorang gadis.
“Hahaha… Kau kaget ya, Dwi?”
Lelaki Jawa itu pun membuka matanya. Ternyata makhluk yang mengagetkannya itu tidak lain adalah partnernya sendiri, Anna.
“Aduh Anna, jangan ngagetin sembarangan dong. Aku takut nih,” ucap Dwi ngos-ngosan.
“Habisnya, kau kelihatan tegang banget. Santai aja kali,”
“Gimana aku bisa santai kalau aku harus jadi umpan makhluk mengerikan kayak begini,” keluh lelaki itu.
Berbeda dengan Dwi, Anna malah menanggapinya dengan cukup santai, setidaknya untuk sekarang.
“Ya mau gimana lagi. Kita kan sudah dibagi-bagi tugas. Lagian kita….”
Tanpa diduga, Anna tiba-tiba menghentikan ucapannya. Matanya terbuka lebar dengan mulut menganga. Ekspresi kegembiraannya itu seakan langsung berubah menjadi ketakutan. Ia melihat sesuatu.
“Anna, kenapa?” tanya Dwi.
Gadis itu menunjuk tangan kanan Dwi sambil gemetaran,
“D..Dwi… T…Tanganmu…” jawab Anna terbata-bata.
Melihat ekspresinya yang ketakutan itu membuat Dwi juga mengalami hal serupa. Perlahan ia menengok ke bawah, atau lebih tepatnya ke arah tangan kanannya. Ia merasakan sesuatu yang aneh, tangan kanannya seperti memegang suatu benda yang kusut. Dan ternyata benar adanya, tanpa sadar ia memegang sebuah benda hitam kusut yang rupanya sebuah rambut yang sangat panjang.
“Oh…”
Dwi semakin takut. Perlahan ia menaikkan wajahnya, melihat darimana datangnya rambut itu, dan ternyata…
“SIIII….”
“KYAAAA!!!!!”
Dwi langsung melompat ketakutan dan lari terbirit-birit setelah tak sengaja memegang benda hitam itu. Anna menyusul di belakangnya. Ternyata rambut itu berasal dari makhluk mengerikan yang sedang mereka cari, Kyant.
Tak peduli lagi ia memperhatikan jalan, Dwi berlari secepat mungkin dari tempat itu sambil ketakutan.
__ADS_1
“AAAAAA….”
“DWI, KEMARI!!!”
“EH….”
Anna menarik tangannya dan membawanya ke suatu tempat.
“Huff… Kita mau kemana?” tanya Dwi sambil berlari ngos-ngosan.
“Sudahlah ikuti saja aku,” jawab Anna tanpa menjelaskan apapun.
SIIIII…. Suara itu kembali terdengar dari arah belakang mereka. Hal itu sontak membuat Dwi langsung menoleh ke belakang.
“AAAAA…. DIA MENGEJAR KITAAAA….”
Begitu terkejutnya Dwi saat melihat makhluk mengerikan itu terbang ke arah mereka dengan sangat cepat.
“Ah, sial. Dia terlalu cepat. Baiklah kalau begitu. HIYAAAA,,,”
Tanpa diduga, Anna langsung menarik tubuh Dwi dan menggendongnya di belakang punggungnya, hal yang cukup aneh dilakukan oleh seorang gadis dengan tubuh yang lebih kecil. Namun tak ada pilihan lain selain itu.
“Ehh… Apa yang….”
WUSHH… Anna melapisi kakinya dengan sihir angin agar bisa melompat jauh dan cepat layaknya Macropus atau kanguru, Hal ini untuk mengimbangi kecepatan Kyant yang mengejar mereka di belakang. Namun karena cukup kencang dan hentakannya mengejutkan, Dwi hampir terjatuh karenanya.
“AAAAALIIIIII…..” teriak Dwi.
“SUDAH KUBILANG PANGGIL AKU ANNA DI DUNIA INI”
Sudah ratusan meter jauhnya mereka lari dari posisi awal pertemuannya dengan Kyant. Mereka nampak melarikan diri dari makhluk mengerikan itu ke suatu arah. Anna dengan bantuan sihir anginnya melompat-lompat dan melesat dengan cepat. Sayangnya karena tak melihat apa yang ada di depan mereka, Dwi yang tengah digendong oleh gadis itu terjatuh akibat terkena ranting pohon yang cukup tebal.
“Aduh…”
“Dwi… Di belakangmu,”
Anna berusaha kembali pada Dwi yang terjatuh itu, sementara lelaki tersebut terlihat mengusap-usap pinggulnya yang kesakitan. Itu tak bertahan lama setelah menengok ke arah belakang dan melihat makhluk mengerikan itu melesat ke arahnya dengan suara yang menyeramkan.
“KYAAAA”
“DWIII”
__ADS_1
BANGG…. Sesuatu terjadi. Terdengar seperti suara benda yang menghantam tembok. Kalau menurut perkiraan sebelumnya, seharusnya Kyant itu sudah berhasil meraih Dwi, namun hal itu tak terjadi. Lelaki Jawa itu pun membuka matanya, dan ia benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat.
“Eh, Parisha?”
Ajaib. Makhluk mengerikan itu terjebak di sebuah kotak berbentuk balok transparan. Makhluk itu terlihat berusaha ingin keluar dari tempat itu dengan menabrakkan dirinya ke perisai, namun itu sia-sia saja.
Tak lama berselang, sekumpulan orang desa muncul dari balik semak-semak, memperhatikan makhluk terbang yang tengah terjebak itu. Sang kepala desa juga keluar dari balik pohon, diikuti oleh Aldy yang berada di belakangnya.
“Eh, Pak Kepala Desa, Kak Aldy,” ujar Anna.
“Waktumu sudah habis, Kyant,” ucap sang kepala desa.
Tepat setelah pria itu berucap, Aldy langsung mengeluarkan Mandau Pusaka yang ia selipkan di pinggul kanannya. Nampak dirinya merapalkan sebuah mantra.
“Mantra Cipta, Guntur…”
TRIKK… Lelaki berambut putih itu mengusap kedua jari kirinya pada mata Mandau itu, menghasilkan sebuah percikan listrik. Itu adalah sihir petir yang ia kuasai. Meskipun begitu, tidak jelas mantra apa yang ia rapalkan pada Pusaka itu.
Lelaki itu pun langsung menancapkan Mandau Pusaka tersebut ke tanah. Dari mata senjata itu muncul percikan-percikan bunga listrik kecil yang membesar dengan sendirinya. Percikan itu lalu mengalir ke arah balok perisai yang mengurung Kyant tersebut, nampak seperti listrik yang mengalir melalui kabel. Dan tepat setelah mengenai balok, makhluk terbang itu langsung tersambar.
“AAAAAGGGGGHHHHH……”
Makhluk itu seakan berteriak kesakitan dengan suara yang memekik telinga. Semua yang menyaksikannya dari luar kubus itu hanya bisa terdiam, termasuk Anna dan Dwi yang berada tepat di depan makhluk itu. Hampir sekitar 30 detik gelombang sihir petir membuatnya tersetrum sebelum akhirnya menghilang. Makhluk itu akhirnya perlahan jatuh ke tanah dan mengeluarkan cahaya yang menyelimuti seluruh tubuhnya, lalu menguap ke udara bagaikan kunang-kunang yang berterbangan dari sehelai daun. Melihat hal tersebut, sang kepala desa pun menghampirinya.
Perlahan cahaya itu pun menghilang dan kini mereka bisa melihat wujud asli dari makhluk itu. Ternyata makhluk itu kembali ke ‘wujud semulanya’, seorang manusia, atau lebih tepatnya seorang perempuan berusia sekitar 24 tahunan.
“Apa? Seorang gadis?”
Sambil terduduk menyamping, gadis berambut coklat panjang itu merapikan rambut depannya dan membuka mata. Ia terkejut melihat kepala desa yang sudah berdiri di depannya dengan ekspresi yang nampak tidak senang.
“Petualanganmu sudah berakhir. Hentikanlah semua ini, Nada,” ujar sang kepala desa sambil sedikit membentaknya.
“Ahh… Akhirnya aku tertangkap juga. Ngomong-ngomong maaf ya, paman, hehe…” jawab gadis itu sambil tersenyum.
Mendengar apa yang dikatakan mereka membuat Anna dan Dwi terkejut. Jadi selama ini mereka satu keluarga? Begitulah pikirnya.
“Apa? Paman?”
“Oh iya, sepertinya saya lupa memberitahu hal ini pada kalian. Dia ini Nada, keponakan saya. Dia kabur dari rumah beberapa bulan yang lalu, dan rupanya dia malah main-main dengan sihir dan Rott. Yah, cukup menyusahkan sih,” jelas kepala desa sambil mengusap keningnya.
Tak ada yang menduganya. Ternyata Kyant, makhluk terbang misterius nan menyeramkan yang meneror warga Distrik Rahasia Padang 13 ini rupanya merupakan keponakan dari sang kepala desa itu sendiri. Hanya karena
__ADS_1
permasalahan keluarga namun berdampak besar pada satu desa. Meskipun begitu, untungnya permasalahan ini bisa teratasi sekarang, berkat kemunculan tiga penyihir dari wilayah Moluccas tersebut. Teror Kyant yang menghantui desa itu selama berbulan-bulan itu pun akhirnya berakhir.