
Angin berhembus dari arah laut menuju pantai. Mereka berdua yang tengah duduk bersama di kursi panjang itu juga merasakan kesejukannya. Tetapi ada sesuatu hal yang mereka pikirkan, terutama Anna yang merasa ada sebuah hal yang mengganjal di pikirannya.
“Aku hanya berpikir, bagaimana kalau seandainya kita memang tidak bisa kembali lagi ke dunia nyata, dan kita mau tidak mau harus menerima kehidupan kita yang baru di dunia ini.” ucap Anna.
“Maksudmu?”
“Begini loh, entah kenapa aku merasa kita memang benar-benar hidup di dunia ini. Semuanya, dalam berbagai hal. Kita berinteraksi dengan orang-orang, makan, minum, dan beraktivitas di dunia ini. Aku merasa bahwa Tierra Hyuma adalah dunia baru bagi kita, menggantikan Bumi sebagai dunia lama.” Jelas gadis itu.
Dwi memegangi dagunya sambil memikirkan apa yang diucapkan partnernya itu.
“Ah, jadi maksudmu kita sudah mati di dunia nyata dan bereinkarnasi di dunia ini begitu?” tanya Dwi balik.
“Bagaimana ya, aku sendiri tidak percaya reinkarnasi, tapi…”
Gadis itu mengangkat tangan kanannya ke depan sambil menyaksikan deburan ombak di depannya.
“…dunia ini terlalu realistis bagiku.”
“…”
Dwi hanya memperhatikannya tanpa berucap sepatah katapun.
“Jadi mungkin aku harus bisa beradaptasi di dunia ini walaupun aku tidak menyukainya, meskipun dengan rasa cemas dan kekhawatiranku di masa depan nanti.” lanjutnya,
“Ya tinggal jalani saja kalau begitu, kenapa harus cemas?” celetuk Dwi.
Mendengar hal itu, Anna langsung menoleh ke arahnya dengan ekspresi wajah yang panik.
“Eh, bukan begitu Dwi, maksudnya…”
“…”
“Aku memang terlahir sebagai lelaki di dunia nyata kan, dan itu sudah menjadi takdirku. Jadi kalau seandainya sekarang aku harus menjadi seorang wanita, aku tidak tahu kedepannya harus seperti apa. Belum lagi…”
Anna kembali menundukkan kepalanya sambil mengepalkan kedua tangannya.
“…setelah melihat bagaimana kehidupan ibuku dan sepupu-sepupu perempuanku, aku berpikir tidak semudah itu menjadi seorang wanita.” Lanjut Anna.
Dwi tersenyum mendengarnya. Dirinya yang di dunia nyata merupakan seorang wanita berusia 19 tahunan itu sudah merasakan susah senangnya menjalani kehidupan. Dan kini ia melihat seorang lelaki seumurannya yang harus berjuang seperti dirinya di Bumi.
“Ah, yang namanya kehidupan itu pasti ada susah senangnya. Adakalanya kau benar-benar merasa gembira, namun pada momen-momen tertentu kau juga bisa merasakan kesedihan. Aku pun juga sama sebenarnya.” Ujar Dwi.
“Maksudnya?” tanya Anna sambil menoleh padanya.
__ADS_1
“Bukan hanya kau yang terkejut dengan situasi baru yang seperti ini. Aku juga merasakannya. Begitu kerasnya kehidupan sebagai seorang lelaki harus kujalani di dunia ini, bagaimana mereka harus terus berjuang melawan berbagai tekanan yang mereka dapatkan. Belum lagi kalau nanti sudah menjadi seorang ayah, itu pasti jauh lebih berat. Yah, walaupun dirimu juga pasti akan merasakan hal yang baru saat menjadi seorang ibu nanti.” lanjut lelaki Jawa itu.
“Oh, begitu ya, kehidupan baru. Eh tunggu, seorang ayah dan ibu? Maksudnya kau ingin aku membangun keluarga bersamamu dan aku jadi ibunya begitu?”
Penjelasan yang dilontarkan Dwi membuat gadis itu terkejut dan berpikir demikian. Sontak lelaki Jawa itu juga kaget dengan reaksi yang ditunjukkan partnernya tersebut. Dirinya tak menyangka Anna akan berpikir demikian.
“Eh, tunggu. Maksudku bukan begitu, Anna.” Dwi kembali tersipu sambil melambaikan kedua tangannya pada gadis itu.
“Hmm…?”
Anna menyipitkan kedua matanya sambil mendekatkan wajahnya perlahan-lahan pada Dwi. Ia masih tak percaya dengan apa yang lelaki itu maksud. Dwi pun memalingkan wajahnya pada gadis itu dengan ekspresi yang masih tersipu.
“Ya sudahlah, lupakan saja. Tapi memang aku masih percaya kalau kita tetap bisa kembali ke dunia nyata.” Kelit Dwi.
“Oh, oke.” Anna pun kembali mundur dari posisinya.
…
Tak terasa mereka sudah berbincang selama hampir 20 menit disana, dan mereka pun membeli es krim bersama sambil menunggu Aldy menyelesaikan pengisian bahan bakar Layangnya. Solaris terlihat mulai terbenam di ufuk barat dan pengunjung pantai pun sudah mulai berkurang.
“Eh, Dwi.”
“Hmm?”
Dwi kembali tersenyum mendengarnya, lalu memegang bahu gadis itu.
“Kau tak perlu sampai segitunya, aku juga berhutang budi padamu. Lagipula, kau kan yang lebih banyak menyelamatkan nyawaku dari para Elder itu.”
Tak seperti sebelumnya, Anna tak bereaksi saat lelaki itu memegang bahunya, entah karena dia memang sedang memikirkan sesuatu atau karena hal yang lain. Namun karena dirinya langsung tersenyum tipis setelahnya, sudah dipastikan bahwa ia memang menyadari hal itu, dan ia tak mempermasalahkannya.
“Haha… Kau bisa saja, Dwi.”
Anna menoleh pada lelaki itu sambil tersenyum.
“Tapi ya memang benar. Aku juga merasa kalau hubungan kita menjadi semakin dekat setelah terlempar ke dunia antah berantah ini.’ lanjut gadis berambut pirang tersebut.
“Lah, aku kira hanya diriku yang berpikir seperti itu.”
“Apa? Kau juga menyadarinya, Dwi?”
“Ya pastilah. Apalagi kau kan yang sering melindungiku selama ini, Anna.”
“Oh, begitu ya, Dwi? Berarti kita sama dong.”
__ADS_1
“Ya begitulah.”
“Haha,,,,”
Mereka berdua pun tertawa bersama mendengar percakapan itu, dan tanpa sadar Anna memegang tangan Dwi di kursi itu.
“Yah, kau memang benar, Dwi. Adakalanya kita memang bisa bahagia di dunia ini. Namun tetap saja, kalau kita bisa kembali ke dunia nyata, aku lebih memilih untuk kembali.” Tutur Anna sambil melihat kedua tangannya yang memegangi lelaki itu.
“Aku juga sama, Anna.”
Tak terasa pegangan tangan keduanya semakin erat. Pipi keduanya juga sama-sama memerah. Ada satu hal serupa yang dirasakan oleh mereka berdua. Ikatan batin, tujuan yang sama, dan keinginan untuk melakukannya bersama-sama. Berdua, hanya mereka berdua.
“Dan ada satu hal lagi yang ingin aku katakan padamu, Dwi.”
“Apa itu?”
Anna menoleh ke arah Dwi. Keduanya saling menatap satu sama lain. Dilihat dari sorot matanya, ia nampak ingin mengakui sesuatu hal pada lelaki itu.
“Seandainya kita bisa kembali ke dunia nyata, ataupun tidak sama sekali, aku ingin berkata kalau aku…”
Anna berusaha mengungkapkan sesuatu hal pada lelaki itu, namun dirinya tidak dapat mengucapkannya dengan benar.
“Aku apa?” tanya Dwi penasaran.
“Aku…”
Belum selesai Anna berucap, seorang lelaki lainnya menghampiri mereka berdua.
“Ehem. Anna, Dwi. Sebelumnya aku ingin minta maaf. Bukan berniat mengganggu kalian pacaran, tapi aku hanya ingin beritahu kalau kita sudah siap berangkat lagi.”
Sontak keduanya langsung menengok ke arah lelaki itu, sang siswa senior berambut putih asal Siak tersebut.
“Ah, Kak Aldy? Baiklah kalau begitu, Eh tunggu, pacaran?” ucap Anna terkejut.
“Ya terus kalian ngapain saling pegangan tangan seperti itu?” tanya Aldy balik.
Mendengar hal tersebut, secara reflek Anna dan Dwi langsung melepaskan genggaman tangan mereka.
“Eh, tidak kok. Kami lagi ngobrol santai aja.” Anna mengelak.
Aldy tertawa tipis melihat tingkah laku keduanya. Lelaki Siak itu sepertinya sudah tahu dengan apa yang mereka lakukan bersama.
“Haha… Ya sudah kalau begitu. Ayo naik. Ada dua Elder lagi yang harus kita kalahkan.”
__ADS_1
Mereka bertiga pun kembali ke dalam Layang dan pergi meninggalkan tempat itu. Memang tak lama mereka singgah disana, namun pantai berpasir putih itu memberikan momen manis pada keduanya.