
Saat masih di perjalanan, Aldy sudah memberitahu mereka kalau Turnamen Adu Sihir Nasional Ke-21 di Jailolo telah dihentikan, tepat di tengah-tengah pertarungan antara Tubagus Sila melawan Alita Chaniago. Sang wasit langsung menghentikan pertandingan atas perintah Kaisar. Para penonton dan peserta dari luar daerah dipulangkan ke wilayah-wilayah asal, sementara orang-orang di Jailolo diharuskan untuk mempersiapkan segala
kemungkinan yang terjadi. Pemerintah kekaisaran mengumumkan situasi darurat kebencanaan tipe peperangan untuk wilayah Nusantara Timur. Walaupun begitu, mereka tak secara gamblang menyebut bahwa ancaman tersebut berasal dari Azazel dan empat eldernya, hanya sebagian petinggi kekaisaran dan pejabat-pejabat tinggi akademi sihir saja yang mengetahuinya.
Hal ini tentunya menimbulkan kekhawatiran bagi Anna maupun Dwi. Di satu sisi mereka memaklumi kalau kekaisaran tidak mungkin menjelaskannya secara langsung terkait penyerangan Azazel, terlebih lagi itu adalah salah satu informasi rahasia yang tersimpan di perpustakaan suci. Namun disisi lain mereka mengkhawatirkan kabar burung yang kemungkinan bisa beredar di masyarakat. Dan kekhawatiran mereka nampaknya menjadi kenyataan.
“Apa yang mereka lakukan?”
Tepat saat mereka akan mendarat di halaman depan Akademi Sihir Nasional Jailolo, mereka melihat banyak sekali murid yang sepertinya sedang protes di depan para guru mereka. Para murid itu terlihat kesal karena suatu hal, dan sepertinya itu terkait dengan ketidakjelasan informasi yang diberikan tentang situasi darurat ini. Dan benar saja perkiraan mereka.
“Jangan diam saja pak, bu, kami butuh kejelasan!”
“Apa yang sebenarnya terjadi sebenarnya?”
“Kalau kalian tak mau menjelaskannya, kami akan bakar akademi ini”
Kalimat-kalimat protes terdengar jelas dari mulut mereka, Para murid nampak tak puas dengan informasi yang mereka dapat. Sementara itu, para guru hanya berdiam diri saja di sana tanpa melakukan apapun.
“Ini tak bisa dibiarkan,” ujar Aldy.
Lelaki itu mendaratkan Layangnya tepat di dekat lokasi itu. Beberapa murid dan guru menoleh ke arah mereka. Aldy, Anna, dan Dwi akhirnya keluar dari Layang dan menghampiri mereka.
“Sudah cukup semuanya. Mohon tenang,” sahut Aldy kepada para murid.
“Tenang? Bagaimana kami bisa tenang kalau para pengajar ini tidak mau memberikan informasi yang jelas pada kami? Bagaimana bisa tenang kalau kami tak tahu apa yang sedang terjadi,” jawab salah satu murid.
Para murid lainnya sontak mendukung jawaban dari murid tersebut. Mendengar hal itu, Aldy pun menghela napas lalu berjalan menghampiri seorang wanita tua yang tengah berdiri di tengah-tengah para guru tersebut.
“Ibu kepala sekolah,”
“Iya, nak?” jawabnya dengan suara yang cukup serak karena usianya.
“Saya Aldy Heraldy, ketua kelas Da. Saya baru saja membawa kembali Anna dan Dwi dari Bacan Utara. Awalnya saya juga berpikir untuk ikut merahasiakan hal ini dan menunggu sampai semuanya kondusif kembali. Tetapi sayangnya... Ika Sang Elder Pertama telah turun ke permukaan planet ini, dan menyerang wilayah Bacan Utara,”
Mendengar penjelasan Aldy tersebut, kepala sekolah dan para guru sontak terkejut. Mereka tak menyangka kalau monster tersebut telah muncul secepat ini.
“Apa? Tidak mungkin. Elder Pertama?”
Namun berbeda dengan para murid. Mereka nampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh lelaki berambut putih itu, tentang siapa itu Ika dan apa yang sebenarnya terjadi di Bacan Utara.
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Ika? Elder Pertama? Siapa lagi itu?”
Sementara itu, Anna dan Dwi hanya terdiam saja melihat reaksi mereka. Keduanya sudah tahu tentang apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aldy pun kembali menghela napas dan melanjutkan perkataannya.
“Huff… Jadi, karena Sang Elder Pertama telah muncul, Elder yang lain sudah dipastikan akan menyusul, dan sang pemimpin mereka Azazel juga akan kembali kesini. Oleh karena itu, izinkan saya untuk menyampaikan seluruh informasi ini pada semua murid yang ada disini,”
“Apa? Kau bermaksud untuk membuka rahasia itu?” tanya kepala sekolah sambil terkejut mendengarnya.
Aldy menggangguk. Keputusannya untuk membuka seluruh informasi tentang apa yang sedang terjadi sudah bulat.
__ADS_1
“Ibu jangan khawatir. Saya punya otoritas penuh untuk segala informasi yang ada di perpustakaan suci. Kedudukan saya setara dengan para penjaga perpustakaan suci, jadi saya punya kewenangan untuk menyampaikan informasi rahasia apapun yang tersimpan di tempat itu,” lanjut Aldy.
Sang kepala sekolah mengangguk, pertanda bahwa ia mengizinkan Aldy untuk melakukannya. Ia pun tersenyum lalu berkata dengan suara lantang pada semua orang disana.
“Dengarlah, wahai kawan-kawanku, rekan satu akademi. Aku Aldy Heraldy, ketua kelas Da sekaligus kakak dari penjaga perpustakaan suci Jailolo, Disini aku ingin menginformasikan tentang apa yang sedang terjadi sebenarnya, juga apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi mohon disimak baik-baik,”
Para murid yang mendengarnya berbicara nampak terkejut, ada yang terheran-heran, dan adapula yang saling berbisik.
“Apa? Perpustakaan Suci? Tempat apa lagi itu?”
“Dia bercanda bukan?”
“Ngomong apa sih dia?”
Nampak para murid masih bingung dan tidak percaya dengan apa yang lelaki berambut putih itu katakan. Tapi ia masih tetap melanjutkan perkataannya.
“Saat ini, seluruh Kekaisaran Nusantara, tidak, bahkan seluruh Tierra Hyuma yang kita cintai ini dalam bahaya. Ancaman besar itu datang dari Azazel, sesosok makhluk super kuat hasil rekayasa teknologi kita di masa lalu. Sekarang, dia bersama keempat Eldernya telah kembali dan akan mengacaukan tatanan dunia kita dengan mengaktifkan Piramida Esa, senjata kuno yang sudah tertanam selama ribuan tahun di kedalaman Laut Banda,”
Aldy menjelaskan kepada semua orang tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun tetap saja, banyak orang yang tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
“Apa? makhluk hasil rekayasa teknologi? Yang benar saja,”
“Si Aldy ini sudah gila atau gimana?”
“Disaat seperti ini dia masih sempat-sempatnya menghayal,”
Suasana mulai kembali riuh, dan Aldy tetap melanjutkan kalimatnya.
Belum selesai Aldy berkata, seorang murid langsung memotong perkataanya.
“Woy, jangan bercanda. Rekayasa teknologi, ancaman dunia, khayalan macam apa itu”
Banyak dari mereka berpikir kalau itu hanyalah khayalan Aldy semata. Tetapi dirinya bersikeras bahwa itu bukanlah khayalan.
“Aku tidak sedang berkhayal, ini sebuah kenyataan. Aku menyampaikan hal ini agar kita segera mempersiapkan diri,”
Salah seorang murid lainnya lalu bertanya padanya dengan suara lantang.
“Hei, katamu kau sudah tahu apa yang akan terjadi kan? Sekarang aku ingin tahu, informasi yang kau dapat itu darimana Aldy?”
“Aku mendapatkannya dari perpustakaan suci, sebuah naskah kuno yang ditulis cenayang ribuan tahun silam,”
Sontak para murid langsung tertawa mendengar hal itu. Mereka meremehkan ucapannya.
“Hahaha… cenayang? Kau bercanda ya?”
“Jadi kau percaya ramalan begitu saja? Bagaimana mungkin,”
“Kau sudah gila ya? Itu hanya sebuah ramalan,”
“Sudah kubilang jangan dengarkan si pengkhayal ini,”
Tak terima seniornya itu ditertawakan, Anna langsung berjalan ke tengah dan berkata dengan suara keras.
__ADS_1
“Dia benar. Aku sendiri hampir terbunuh oleh salah satu Elder. Untungnya aku bisa mengalahkannya bersama Dwi,”
Suara gadis itu terdengar sampai orang-orang yang tengah duduk di belakang. Namun tetap saja, tak ada satu pun murid yang percaya ucapannya.
“Haha… Si pengkhayalnya ada dua rupanya,”
“Apa yang kau ajari pada gadis itu Aldy?”
“Tunggu, dia gadis yang pakai teknologi saat turnamen itu kan? Apa dia mau mengelak juga seperti saat lomba itu?”
Suasana makin riuh. Sebagian besar murid menertawakan perkataan mereka, sedangkan sebagiannya lagi membicarakan mereka dari belakang. Hampir tak ada yang bisa mereka lakukan.
Tanpa di duga, di tengah suasara riuh tersebut, seorang lelaki berteriak dengan sangat kencang.
“CUKUP!!!”
Semuanya langsung terdiam mendengar suaranya yang menggelegar itu. Dia berjalan dari balik kerumunan orang, menghampiri Aldy dan yang lainnya di tengah-tengah mereka itu. Dia adalah seorang siswa senior bertubuh besar yang sangat dikenal oleh para murid lain. Dan kini dia sedang menatap Aldy dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh amarah.
“Boris Gabes?” ucap Anna.
Aldy menatap lelaki itu dengan tatapan biasa.
“Kau?”
“Woi Aldy, belum cukupkah kau menjadi orang yang sok elit, dan sekarang kau ingin mempengaruhi kami semua dengan dongeng anehmu itu. Sebenarnya apa maumu hah?”
“Tak ada hal lain yang aku inginkan sekarang. Aku hanya ingin kalian selamat. Begitu pula denganmu, Boris,” jawab Aldy santai.
Boris tertawa keras mendengarnya.
“HAHAHAHA,,, Selamat katamu? Yang benar saja. Tidak akan ada kejadian serius pada hari ini, atau besok, atau hari selanjutnya. Semua ini hanya omong kosongmu saja, Jadi sebaiknya kau menutup mulutmu sebelum aku menghancurkannya,”
“Silahkan saja. Apapun yang kau katakan tidak akan merubah fakta yang terjadi. Aku akan tetap menyampaikan hal ini karena aku ingin kalian selamat,”
Aldy tetap bersikeras dengan ucapannya. Mendengar hal itu, Boris pun menjadi sangat murka padanya.
“Baiklah, pahlawan. Kalau begitu kau tidak memberiku pilihan lain,”
BRAKK…Boris memasang kuda-kuda. Ia menghentakkan kakinya ke tanah sampai retak. Beberapa serpihan kecil melayang ke udara. Boris mengumpulkan mana sebanyak-banyaknya dan bersiap untuk mengeluarkan sebuah teknik sihir.
“Boris Gabes, sebaiknya anda tidak melakukan hal itu,” ucap seorang guru.
Boris tak mengindahkannya. Lelaki berbadan besar itu bersiap untuk menyerang Aldy dengan sihirnya.
“Boris. Sebaiknya kau hentikan itu. Kalau kau mau melampiaskan kekesalanmu dengan menghajarku, lakukanlah setelah semuanya berakhir,” kata Aldy padanya, namun tetap saja Boris tak mengindahkannya dan malah balik berteriak padanya.
“DIAM! KALI INI AKU TAKKAN MENGAMPUNIMU. WALAUPUN MUNGKIN AKU HARUS KEHILANGAN TANGAN DAN KAKIKU DISINI, AKU AKAN MENGHABISIMU SEKARANG, ALDY HERALDY!!!”
Tanah pijakannya terhentak ke bawah. Mana yang ia kumpulkan sangat luar biasa. Beberapa murid di dekatnya terhempas beberapa meter ke belakang. Lelaki itu sudah tidak sabar untuk menghabisi Aldy di tempat itu. Sementara itu, Aldy nampak bergeming pada posisinya, tak bergerak satu sentimeter pun. Ia sepertinya siap menerima serangan apapun yang dilancarkan oleh lelaki bertubuh besar itu.
Semuanya nampak kacau. Para murid tidak satu suara. Namun ditengah kekacauan itu, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis kecil dari langit yang menyahut mereka.
“Sudah cukup kalian, hentikan!”
__ADS_1