X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 38 : Kabar-kabar


__ADS_3

Suara gadis kecil itu memecah suasana kekacauan. Semuanya langsung terdiam begitu mendengarnya. Mereka bertanya-tanya, suara darimana itu, tak terkecuali Boris yang sudah bersiap menyerbu Aldy dengan sihirnya.


“Suara siapa itu?”


Semuanya nampak kebingungan, darimana datangnya suara misterius itu. Mereka menengok kesana kemari untuk mencari sumber suara itu, sampai salah seorang diantara mereka menunjuk ke atas langit, tepat di belakang para guru.


“Itu”


Semua mata tertuju padanya. Itu adalah sebuah cahaya yang menyerupai sebuah gerbang yang terbuka. Tak lama berselang benda itu mengeluarkan sebuah sinar ke arah bawah hingga menyentuh tanah. Sinar yang tercipta itu terlihat seperti sebuah tangga cahaya.


“Sihir apa ini?” tanya seorang murid.


Beberapa saat kemudian, seorang gadis kecil keluar dari balik cahaya itu dan berjalan perlahan ke bawah. Ia perlahan menuruni tangga cahaya itu sambil sedikit mengangkat rok panjangnya itu. Gadis dengan fisik berusia 10 tahunan itu lalu melemparkan senyuman pada orang-orang di sana.


“Hai kakak-kakak semua,” ucapnya dengan suaranya yang imut itu.


Para murid makin kebingungan dengan kemunculannya yang mendadak beserta sihir anehnya itu.


“Siapa lagi kau?” tanya Boris sambil menunjuknya.


Semuanya bertanya-tanya tentang siapa gadis kecil itu. Tetapi Aldy, Anna, Dwi, dan beberapa petinggi akademi tak menunjukkan reaksi berlebih begitu melihatnya, karena mereka sudah tahu siapa gadis ini sebenarnya.


“Tia? Kau turun kesini juga?” tanya Aldy.


“Eh, kak Aldy. Sudah lama gak berjumpa,”


Para murid semakin bingung tentang apa yang terjadi sebenarnya. Penghentian turnamen secara mendadak, pengumuman situasi darurat, pihak akademi yang berusaha menutup-nutupi sebuah hal, hingga kemunculan gadis kecil misterius dari angkasa, semua hal yang terjadi membuat mereka bingung.


Melihat hal tersebut, gadis kecil itu pun akhirnya memperkenalkan dirinya pada semua orang.


“Oh iya, aku lupa. Pasti kakak-kakak masih bingung siapa aku kan?”


Ia memutar tubuhnya dengan riang sambil memperkenalkan dirinya. Sikapnya memang terlihat seperti seorang anak kecil.


“Namaku Mutiara. Aku adalah adik dari Kak Aldy Heraldy. Selain itu, aku juga penjaga Perpustakaan Suci Jailolo,”


Mendengar hal itu sontak membuat para murid terkejut. Mereka bertanya-tanya apakah yang ia katakan itu benar, ataukah ia hanya seorang penyihir biasa yang bersekongkol dengan Aldy.


“Tidak mungkin,”


Mutiara lalu melanjutkan perkataannya.


“Oh iya, katanya Tierra Hyuma dalam bahaya ya sampai-sampai Paduka Kaisar mengumumkan situasi darurat? Rupanya jauh lebih cepat dari perkiraanku ya,”


“Apa? Apa maksudmu?” tanya seorang murid.


Mutiara menjawab pertanyaannya, namun kali ini ekspresinya sedikit berubah.


“Oh jadi kalian belum paham ya? Baiklah akan kujelaskan,”

__ADS_1


Mutiara melangkahkan kakinya ke depan lalu berbicara dengan nada yang cukup serius.


“Planet yang kita cintai memang sedang dalam bahaya. Dan semua ini karena ulah makhluk hasil rekayasa teknologi perang yang gagal,”


Para murid saling berbisik-bisik kembali. Sebagian murid sudah ada yang mulai mempercayainya, namun sebagiannya lagi masih merasa bimbang.


“Yah, memang benar apa yang sedang terjadi sekarang ini. Tapi daripada sibuk berdebat tentang ini itu, lebih baik kita…”


Belum selesai Mutiara berujar, Boris berteriak padanya.


“BAHAYA APANYA? KAU BOCAH KECIL PASTI BERSEKONGKOL DENGAN SI ALDY INI KAN UNTUK MEMULUSKAN RENCANA KALIAN? SUDAH CUKUP. KALI INI AKU TIDAK AKAN TINGGAL DIAM”


Mutiara menoleh ke arah Boris sambil menatapnya dengan polos. Lelaki berbadan besar itu terlihat mengepalkan tangan kanannya yang mulai mengeluarkan api. Sepertinya ia akan menyerang mereka dengan sebuah teknik sihir.


“RASAKAN INI BOCAH! MANTRA CIPTA, BARA, ULTIMA BOLLA RENTAKA”


Boris melemparkan sebuah bola api berukuran sedang seperti seorang atlet bisbol. Serangannya itu tidak main-main. Bola yang ia lemparkan melesat dengan cepat ke arah Mutiara.


“MUTIARA…” Teriak Anna.


Namun rupanya Boris lupa bahwa Mutiara merupakan seorang penyihir tingkat tinggi sekaligus penjaga perpustakaan suci. Gadis kecil itu mengarahkan tangan kirinya pada bola api yang melesat itu. Tepat saat bola api itu hampir mengenainya, ia tiba-tiba pecah dan menghilang. Terlihat butiran-butiran cahaya menyerupai pelangi tercipta dari serangan itu. Mutiara mampu menghalau serangan bola api super cepat itu tanpa merapalkan sebuah mantra sekalipun.


“Mu… Mustahil…” Boris seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Aduh, Kak Boris kok marah-marah sih? Santai aja kali,” kata Mutiara sambil tersenyum.


Para murid makin banyak yang mempercayainya setelah melihat apa yang terjadi. Tetapi Mutiara berpikir kalau informasi tentang apa yang sedang terjadi belum tersampaikan dengan baik. Ia pun kembali menghadap para murid sambil mengayun-ayunkan tangan kanannya. Terlihat butiran-butiran cahaya juga tercipta dari tangannya yang mungil itu.


Sang penjaga perpustakaan suci itu terlihat seperti seseorang yang tengah menabur benih. Butiran-butiran cahaya itu mengenai mata para murid dan membuat mereka terdiam dengan mata terbuka. Mereka terlihat seperti orang-orang yang sedang melihat sesuatu dari matanya.


Anna yang melihatnya penasaran tentang sihir yang digunakan oleh Mutiara.


“Sihir jenis apa ini?”


 “Itu adalah Duli Historia” jawab Aldy.


“Duli Historia?”


“Iya. Sihir ini hampir sama seperti Solari Historia. Hanya saja media yang dipakai berwujud serbuk. Tujuan dari sihir ini juga sama seperti sihir Historia pada umumnya, menyampaikan informasi tentang peristiwa bersejarah secara langsung,” jelas Aldy.


“Oh, begitu ya…”


Hampir satu menit berlalu sejak gadis kecil itu menaburkan sihirnya pada mereka. Suasana mendadak hening, namun itu tak berlangsung lama. Tepat saat pengaruh sihir itu hilang, seorang siswi dari arah belakang tiba-tiba berteriak histeris.


“AAAAAAA…..”


Kepanikan pun melanda tempat itu. Para murid terlihat gelisah setelah Mutiara menyampaikan informasi tentang apa yang terjadi.


“Tidak…. Tidak… Tidak…”

__ADS_1


“Kita harus bagaimana sekarang?”


“Aku tidak mau mati, kumohon…”


Hampir semua murid terlihat panik, tak terkecuali Boris yang langsung terduduk lesu.


“Tidak mungkin. Ini bohong kan?”


Melihat kepanikan itu, Anna penasaran dengan apa yang Mutiara sampaikan padanya.


“Eh, Mutiara. Kenapa mereka bisa panik seperti ini? Kau menyampaikan informasi apa pada mereka?”


“Ah, aku hanya menyampaikan informasi tentang awal mula kemunculan Azazel saja kak, sama seperti yang pernah aku ceritakan pada kakak sebelumnya. Tapi… aku sedikit menambahkan gambaran mengerikan kalau Azazel berhasil menaklukkan planet ini, hehe…” jawab Mutiara sambil menggaruk-garuk rambutnya.


“Yah… Pantas saja mereka panik,”


Kepanikan melanda para murid. Beberapa guru yang ada di tempat itu berusaha menenangkan mereka, namun nampaknya itu belum berhasil. Mereka baru bisa diam setelah Aldy berteriak menyahut mereka.


“SEMUANYA, DENGARKAN AKU!!!”


Mereka menengok ke arah Aldy yang tengah berdiri tepat di depan mereka. Lelaki berambut putih itu pun lalu melanjutkan perkataannya.


“Kalian tidak boleh takut dengan ancaman yang akan muncul. Beranikanlah diri kalian. Leluhur kita, para penyihir tua Jailolo bisa memenangkan pertarungan melawan mereka di masa lalu. Tentunya kita juga bisa mengulang kesuksesan mereka,”


Para murid memperhatikannya. Sebagiannya sudah mulai tenang. Aldy kembali melanjutkan ucapannya.


“Sekarang ini, daripada kita panik, lebih baik kita bersama-sama menyusun strategi, dan menyiapkan kemampuan sihir terbaik kita untuk kembali memenangkan pertarungan ini. Ingatlah orang tua kalian, keluarga, saudara, para guru, dan teman-teman. Kita harus melindungi mereka. Aku pun bersama Mutiara, Anna Sahilatua, dan Dwi Septianto akan bersama-sama berjuang untuk mempertahankan tanah ini,” lanjut Aldy.


Lelaki berambut putih itu nampaknya berhasil membuat para murid menjadi lebih tenang, dan kini mereka bersemangat untuk berjuang mempertahankan apa yang mereka cintai.


“Kak Aldy, kau hebat juga rupanya menenangkan dan membakar semangat semua orang,” ucap Anna dalam hati.


Kepanikan para murid kini berubah menjadi semangat yang membara. Mereka kini berpikir untuk menyusun strategi untuk mempertahankan negara dan orang-orang yang mereka cintai.


“Baiklah, karena semuanya sudah tenang dan bersemangat sekarang giliranku untuk menginformasikan hal ini pada sekolah. Ayo kemari Kak Anna, Kak Dwi,”


Bersama Mutiara, Anna dan Dwi menghampiri ibu kepala sekolah.


“Ibu kepala sekolah, Kak Anna dan Kak Dwi sudah ada disini. Sudah saatnya memberikan Pusaka rahasia itu pada mereka,” ujar Mutiara.


“Sesuai dengan ucapan anda, Nyonya Penjaga Perpustakaan Suci,” jawab kepala sekolah sambil menundukkan kepalanya pada gadis kecil itu.


Anna dan Dwi langsung terkejut melihatnya. Seorang kepala sekolah berusia sekitar 50 tahunan tunduk pada seorang anak kecil yang lebih muda 40 tahun darinya. Ini sungguh tidak bisa dipercaya. Namun sepertinya hal itu cukup wajar mengingat Mutiara merupakan seorang penjaga perpustakaan suci.


Tapi ternyata apa yang dipikirkan oleh gadis kecil itu juga tidak demikian. Dirinya tetap merasa kalau kepala sekolah tak perlu sampai bertindak seperti itu walaupun dia adalah penjaga perpustakaan suci. Ia pun melemparkan senyuman padanya sambil tertawa tipis.


“Ah, ibu tak perlu sampai seperti itu. Tia kan masih muda, apalagi Tia adiknya Kak Aldy, hehe…”


Ibu kepala sekolah tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu. Ia pun akhirnya mengajak Anna dan Dwi untuk mengikutinya ke suatu tempat.

__ADS_1


“Baiklah. Anna Sahilatua, Dwi Septianto, kalian ikut saya. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan,”


__ADS_2