X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 46 : Ksatria Cempaka dari Barat


__ADS_3

Sang naga ungu, Zui Si Elder Kedua meraung dengan keras. Ia merasakan sakit di dadanya akibat disayat oleh suatu benda misterius. Baik Dwi, Anna, maupun Aldy, tak satupun dari mereka yang berbuat sesuatu untuk melumpuhkan makhluk itu, melainkan seorang pria dewasa berusia sekitar 30 tahunan yang melakukannya. Dan kini dirinya tepat berdiri di depan lelaki Jawa itu.


“S… Siapa kau?”


Dwi bertanya padanya, namun pria itu nampak tak mendengarnya. Perhatiannya terfokus pada naga ungu itu.


“Dasar 'Aneuk Bajeung', beraninya kamu mengusik ketenteraman Tanah Pasai ini,”


Pria dewasa itu berbicara dengan logat masyarakat setempat. Sudah tentu ia merupakan warga asli wilayah ini. Pria itu terlihat mengenakan baju lengan panjang dan celana bahan berwarna putih. Sebuah kain berwarna merah melingkari perutnya, dan ia juga terlihat mengenakan sejenis penutup kepala dengan warna yang sama. Pria tersebut mengacungkan sebuah senjata mirip parang ke arah monster itu, dan sepertinya itu adalah Pusakanya.


“Siapapun yang mengusik kedamaian Tanah Pasai ini akan menerima akibatnya. Bersiaplah,”


Pria itu menarik kaki kanannya dan memasang kuda-kuda, siap menerjang makhluk itu dengan senjatanya. Dilihat dari posisi bertarungnya, pria tersebut sepertinya akan menyerang naga itu dengan teknik yang sama seperti yang dilakukan Anna sebelumnya. Tetapi Dwi merasakan sesuatu yang aneh, mana yang dihasilkan pria tersebut berbeda dari partnernya itu. Dan benar saja, perasaannya itu benar-benar terbukti setelah pria asli Pasai tersebut menerjang sang Elder dengan bantuan sihirnya.


“Apa?”


WUSHH… Dengan senjata Pusaka di tangannya, pria tersebut kembali berhasil melukai naga itu di bagian dadanya. Namun ada sesuatu yang berbeda dari tekniknya itu, di mana bekas dari serangannya tersebut menghasilkan kelopak-kelopak bunga berwarna putih yang tertiup angin. Salah satu kelopaknya mendarat tepat di telapak tangan Dwi.


“Hah? Bunga cempaka?”


Tidak salah lagi, lelaki itu adalah pengguna sihir tumbuhan Bio, salah satu sihir elemen lanjutan. Itu artinya ia adalah penyihir dengan kemampuan sihir yang luar biasa. Namun bukan hanya itu yang membuat Dwi terkejut.


WUSH WUSH WUSH… Pria asli Pasai itu menebas Pusaka-nya pada sang naga dengan sangat epik. Hampir seluruh serangannya berhasil mengenai monster itu dan membuatnya meringis kesakitan. Ia pun juga berhasil menghindari serangan-serangan balik, cakaran, kibasan ekor, hingga bola sihir dari sang naga. Gaya pertarungannya lebih mirip seperti tarian.


“Sebenarnya, siapa dia?” tanya Dwi dengan suara pelan. Dirinya terlalu fokus pada pertarungan itu sampai tidak sadar ada seorang pria lain yang sudah ada di sampingnya. Suaranya pun membuat lelaki Jawa itu kaget.


“Tidak salah lagi, dia Teuku Damanik,”


“EH? KAK ALDY?”


Dwi yang masih bergeming dalam posisinya itu sontak menengok ke arah seniornya. Terlihat Aldy yang sudah berjongkok di sampingnya. Padahal sebelumnya ia nampak terkapar setelah terkena serangan naga itu. Benar-benar orang yang aneh.


“Gaya bertarung itu, dan lontaran bunga cempakanya, tidak salah lagi. Dia adalah Teuku Damanik, salah satu dari Tujuh Ksatria Rencong, penjaga Tanah Pasai,” kata Aldy.


“Tujuh Ksatria Rencong?”


“Benar. Mereka adalah para penyihir terkuat di ujung barat Kekaisaran Nusantara ini. Pusaka mereka, Rencong, merupakan ciri khas mereka. Kemampuan sihir mereka sangatlah kuat, ditambah Pusaka yang mereka punya memberikan kekuatan yang luar biasa,” jelas lelaki Siak itu.

__ADS_1


“Oh, begitu ya…”


“Selain itu, sejak dulu Pasai memang dikenal sebagai negeri yang sangat kuat dan nyaris tak dapat ditaklukkan. Para ksatria yang sangat tangguh, dan didukung rasa cinta mereka pada tanah kelahirannya, membuat mereka nyaris tak terkalahkan di masa lalu,” lanjutnya.


“Keren…”


Dwi sangat kagum dengan apa yang dikatakan oleh Aldy tentang wilayah ujung barat Nusantara ini, khususnya tentang perjuangan dan kemampuan mereka yang tangguh. Dan bukan hanya itu, lagi-lagi dirinya juga menemukan persamaan antara apa yang terjadi di Tierra Hyuma dengan di dunia nyata tempat mereka berasal, yakni Kesultanan Aceh yang pernah eksis pada 16 abad yang lalu. Mereka juga sama-sama menjadikan Rencong sebagai senjata khasnya.


Pria itu terus mengayunkan Rencongnya pada makhluk ungu itu, menyerangnya bertubi-tubi hingga ia meraung kesakitan. Hanya sepersekian persen serangan balik naga itu yang berhasil mengenainya, dan itu nampak tak berkesan apapun padanya.


Beberapa menit berlalu, naga itu sudah terpojok dengan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Damanik. Namun saat ia akan melancarkan sebuah serangan pamungkas, seseorang datang dari arah belakang makhluk itu dan berusaha menebas sang Elder.


“RASAKAN INI!!!”


“Anna?”


Gadis berambut pirang itu mencoba menghunuskan parangnya pada naga itu. Tapi hal tersebut bukan tindakan yang tepat.


“Hentikan. Jangan menyerang dari sana,” tegas Damanik.


Benar saja apa kata pria itu. Anna menyerang bagian tubuh yang salah. Parangnya malah mengenai leher naga ungu yang keras itu. Alhasil dirinya kembali terpental dan terjatuh tepat di depan Aldy dan Dwi.


“Ugh… Lagi-lagi aku gagal,” ucap Anna sambil meringis.


Tidak hanya itu. Sebuah serangan tak terduga juga berhasil mengenai Damanik dan membuatnya terlempar juga. Namun berbeda dengan Anna, dirinya berhasil menyeimbangkan tubuhnya di udara dan mendarat dengan sempurna di depan mereka. Kini wajahnya bisa terlihat jelas dengan kumis dan jenggot yang cukup tebal pada mukanya.


“Kalian para murid Jailolo yang ditugaskan mengalahkan para Elder kan?” tanya Damanik.


“Eh? Iya, Tuan,”


Dwi sedikit terkejut mendengar ucapan Damanik tersebut. Dari mana dia tahu rahasia yang hanya diketahui oleh para penjaga perpustakaan suci itu, pikirnya. Namun semua itu tak terlalu penting sekarang, karena yang jelas mereka harus segera menjatuhkan naga itu.


“Kalian takkan bisa mengalahkannya kalau menyerang bagian sisik ungunya. Itu sebenarnya armor yang melindungi tubuhnya,” kata Damanik.


“Apa? Armor?”


“Iya. Semacam kulit pelindung super keras yang melindungi bagian tubuh monster itu,” tegas pria Pasai itu.

__ADS_1


“Jadi, bagaimana cara kita mengalahkannya, Tuan?” tanya Anna.


Damanik menunjuk sesuatu yang ada pada naga itu.


“Kalian lihat sisik yang berwarna putih itu?”


“Iya, Tuan,”


“Itu adalah kulit aslinnya, bagian yang tak terlindungi oleh armor. Itu adalah titik kelemahannya. Yang harus kita lakukan adalah melepas armor yang ia pakai agar seluruh sisik putih di badannya bisa terlihat dengan jelas, lalu potong bagian perutnya secara bersama-sama dari 4 arah,” jelas Damanik.


“Tapi, bagaimana caranya? Hanya bagian depan perutnya saja yang terlihat tak terlindungi. Bagian belakangnya masih tertutup armor itu?” tanya Anna.


“Mirip seperti mengupas jeruk. Perhatikan bagian batas antara kulit asli dan armor di bagian kiri dan kanannya. Kalian serang bagian itu dengan sihir agar armornya lepas. Lalu lakukan seperti apa yang kukatakan tadi,” tambah pria Pasai itu.


“Ah, begitu ya? Baiklah kalau begitu, tidak ada pilihan lain. Iya kan, Dwi?” ucap Aldy sambil menepuk bahu juniornya itu. Sementara Dwi hanya mengangguk sambil tersenyum.


Keduanya lalu mengangkat tangan ke udara seperti ingin memanggil sesuatu, lalu merapalkan mantra bersama-sama.


“Mantra Cipta, Bayu…”


“Mantra Cipta, Bara…”


Sihir angin berputar di tangan Aldy, sementara pada tangan Dwi muncul sihir api. Tak lama kemudian mereka merapalkan nama jurusnya bersama-sama.


“Ultima Janawiya”


WUSHH… masing-masing pedang angin dan api muncul pada genggaman keduanya. Itu adalah sihir pemanggil pedang, namun dengan kemampuan yang lebih kuat.


“Whoa... Keren. Kalian kompak sekali, hehe…” puji Anna sambil bertepuk tangan, tapi Dwi sepertinya tak tertarik dengan pujiannya itu.


“Jangan hanya duduk disana, ayo angkat kembali Pusakamu dan kita jatuhkan makhluk ini bersama-sama,” kata Dwi sambil memberi tangannya pada Anna.


“Dih, sombong sekali kau,”  jawab Anna sambil meraih tangan lelaki Jawa itu dengan wajah sedikit cemberut. Dwi tersenyum tipis melihatnya.


Mereka berempat memandang naga ungu yang tengah meraung tersebut. Kini semuanya sudah siap untuk melawan sang Elder Kedua itu dan mengalahkannya.


“Baiklah, inilah saatnya,” ujar Aldy.

__ADS_1


“Ayo!!!”


Naga itu meraung dengan sangat keras hingga menghasilkan hembusan angin, namun itu tak mengurangi semangat mereka untuk mengalahkannya. Tepat saat sang naga berhenti bersuara, mereka berempat melesat ke arahnya.


__ADS_2