
BRUKK… Pertarungan antar dua siswa itu telah usai. Penyihir petarung dari sudut selatan berhasil mengalahkan lawannya itu walaupun dengan susah payah. Nampak ia terlihat ngos-ngosan setelah bertarung hebat dengannya.
“Baiklah. Pemenang pertandingan ini adalah Budi Hirata dari Akademi Sihir Nasional Saranjana!!!”
Para penonton riuh bersorak. Sebagian dari mereka nampak memberikan semangat pada lelaki Borneo Tenggara itu. Tak mengherankan karena dia jadi satu-satunya perwakilan dari wilayah itu yang lolos ke tahap selanjutnya setelah mengalahkan petarung dari Akademi Sihir Nasional Tapanuli itu, Ricardo Lumbantoruan. Sayang rekannya Illya Halim harus tersingkir dalam pertandingan keempat tadi setelah dikalahkan oleh penyihir dari akademi sihir yang sama, Rebecca Batubara. Ngomong-ngomong, dialah yang akan menjadi lawan Anna dalam pertandingan selanjutnya.
“Sudah 6 pertandingan terlaksana ya, dan semuanya bertarung dengan sangat tangguh,” kata Licia.
Seusai pertarungan antara Dwi melawan Henrick dalam pertarungan ketiga, Rebecca dari Tapanuli berhasil mengalahkan Illya dari Saranjana. Adapun dalam pertandingan kelima, Nikita Innes berhasil menjadi perwakilan Jailolo setelah mengalahkan rekan satu akademinya, Tama Aprilliana. Sedangkan dalam pertandingan terbaru tadi, Budi Hirata menjadi perwakilan Saranjana satu-satunya yang melaju ke tahap 8 besar setelah mengalahkan Ricardo Lumbantoruan.
“Saranjana. Kayaknya aku pernah denger nama itu deh, Dwi,” ucap Anna teringat sesuatu dari nama akademi sihir salah satu peserta.
“Lah, itu kan nama kota yang sempat jadi legenda seabad yang lalu. Orang-orang dulu kan menyebutnya sebagai ‘kota gaib’,” kata Dwi.
“Ah, iya. Aku baru ingat. Eh tunggu, kalau begitu…”
Mendengar hal itu dari mulut seorang Dwi membuat Anna teringat sesuatu. Mungkin sebuah hal yang bisa jadi petunjuk mereka tentang keberadaan dunia ini.
“Apa jangan-jangan kita terlempar ke dunia di mana Saranjana dan kota gaib lainnya itu ada?” ujar Anna penasaran.
“Eh?”
Dwi hanya menunjukkan ekspresi bingung, tak mampu berkata apa-apa setelah gadis itu mengatakan hal demikian. Karena penasaran, Anna pun mencoba bertanya pada Aldy.
“Eh, Kak Aldy,”
“Hmm?”
“Kakak berasal dari Siak kan? Sebelum pindah ke Jailolo pasti kakak sempat melewati wilayah Borneo kan? Apa kakak juga sempat melihat Kota Saranjana juga?” tanya Anna.
“Aa… Tidak,” jawab Aldy.
“Eh…”
“Emang kenapa kau bertanya hal itu?” tanya Aldy balik.
“Aku hanya ingin tahu bentuk Kota Saranjana itu seperti apa di sini. Apakah megah, tradisional, atau seperti apa,” tutur Anna.
Aldy menggaruk rambutnya yang berkeringat itu lalu menjawabnya.
“Sebenarnya aku belum pernah melihat kota itu secara langsung, tapi ya katanya gak jauh beda dari Jailolo. Hanya ada bangunan-bangunan bertingkat 3 sampai 5 saja seperti disini. Kalau dibandingkan dengan ibukota Mangkasara ya masih jauh,” jelas Aldy.
__ADS_1
“Oh… begitu…”
Berdasarkan penjelasan dari Aldy, ada perbedaan kondisi Kota Saranjana antara yang sering diceritakan oleh masyarakat di dunia nyata tempat Anna dan Dwi berasal dengan apa yang ada di dunia paralel ini. Yah, walaupun sepertinya ia harus melihatnya secara langsung agar benar-benar bisa memastikannya dengan jelas. Namun sebelum berpikir lebih lanjut, sang wasit memanggil dua peserta untuk bertarung dalam pertandingan ketujuh.
“Kepada Johannes Gultom dari Akademi Sihir Wilayah Kawanua dan Alita Chaniago dari Akademi Sihir Nasional Jailolo, dimohon untuk segera bersiap,”
“Eh, sekarang giliran Alita,” ujar Licia.
Baik Anna maupun Dwi, keduanya langsung menengok ke arah lapangan begitu mendengar namanya. Yup, Alita Chaniago, sahabat jauh Licia Salampessy dari wilayah barat Nusantara itu akan segera bertarung melawan penyihir lelaki asal Kawanua. Biasanya, gadis Pagaruyung itu terlihat nampak kikuk sehari-harinya. Ia cukup jarang berinteraksi dengan murid lainnya. Terlebih lagi dengan orang-orang baru, biasanya ia akan sangat canggung, sama seperti saat pertama kali bertemu Anna di kantin itu. Ia juga tidak pernah terlihat berlatih menggunakan sihirnya.
Namun karena namanya termasuk ke dalam peserta turnamen adu sihir nasional ini, itu artinya kemampuan sihirnya tak bisa dipandang sebelah mata. Inilah saat yang tepat untuk melihat kemampuan bertarungnya yang sebenarnya.
Alita berjalan ke tengah arena sambil sesekali memegang roknya yang panjang itu. Kini ia berhadapan dengan Johannes yang sudah ada di lokasi. Alita lalu memberikan hormat kepada lawannya itu sambil tersenyum. Namun rupanya hal itu membuat lawannya malah meremehkannya.
“Huff… Chaniago, ya? Kau pasti perantau dari wilayah Pagaruyung kan?” tanya Johannes dengan nada yang mengintimidasi.
“Iyo, Uda,” jawab Alita dengan suara yang cukup pelan.
Mendengar hal itu, Johannes tersenyum menyeringai sambil menunjuknya.
“Haha… Aku akan mengalahkanmu dengan sekali serang. Kau takkan bisa lolos, apalagi dengan seragam seperti itu,” ujar Johannes sambil merendahkan lawannya yang mengenakan rok panjang itu, namun Alita hanya tersenyum polos saja mendengarnya.
Sang wasit memberikan aba-aba sambil mengangkat tangannya. Johannes langsung memasang kuda-kuda. bersiap untuk menyerang. Sedangkan Alita hanya terdiam tak berganti posisi. Entah apa yang ia pikirkan.
“Bersedia”
“Siap”
“Mulai”
Sang wasit menurunkan tangannya, pertanda pertandingan telah dimulai. Dengan cepat Johannes menarik posisi tubuh kanannya ke belakang, lalu merapalkan mantra untuk menyerang Alita dengan sigap.
“Mantra Cipta, Asta, Lembing Pancaragam”
Johannes menciptakan lima ‘tombak’ kegelapan dari tangannya yang langsung melesat ke arah Alita. Namun tak seperti tombak pada umumnya, ia tak memiliki ujung pada bagian yang satunya. Ujung tombak bagian depannya hampir sama seperti tombak yang tajam pada umumnya, sedangkan bagian belakangnya seakan terikat oleh tangan si pencipta sihir itu.
Kelima benda itu melesat ke arah Alita yang tengah berdiri di lokasi itu. Walaupun begitu, gadis itu tak sedikitpun bergeser dari posisinya tersebut. Alhasil kelima tombak kegelapan itu pun menusuk tubuhnya hingga menembus bagian belakang.
“ALITAAAA!!!” teriak Licia menyaksikan kejadian mengerikan itu.
“Aaaa…..”
__ADS_1
Para penonton terkejut dan ketakutan melihat peristiwa mengerikan itu, sebagian dari mereka ada yang berteriak histeris. Apa yang dilakukan Johannes itu nampaknya sudah berlebihan. Dia sepertinya benar-benar menghancurkan tubuh gadis malang itu.
Baik Licia, Anna, maupun Dwi, ketiganya benar-benar terkejut melihat apa yang terjadi pada teman mereka itu. Namun berbeda dengan Aldy yang ada di samping mereka. Lagi-lagi ia menunjukkan senyuman percaya dirinya walaupun melihat peristiwa mengerikan itu. Tak ada sedikit pun kekhawatiran pada raut wajahnya. Ketua kelas Da itu nampak seperti sudah mengetahui taktik yang tengah digunakan oleh Alita. Dan benar saja perkiraannya.
“Apa?”
Johannes terperangah. Ternyata yang ia serang dengan lima tombak kegelapan itu bukanlah tubuh seorang manusia, melainkan…
“Es?”
Tepat sekali. Yang ditusuk oleh Johannes hanyalah sebongkah es yang berwujud Alita, bukan tubuh aslinya. Lantas kemanakah wujud aslinya? Itu yang dipikirkan oleh lelaki Kawanua itu.
Namun sebelum ia memikirkannya lebih lanjut, bongkahan es itu lalu mekar layaknya bunga dan bergerak membekukan tombak hitam yang ia rapalkan dengan cepat. Dengan sigap Johannes langsung melepaskan sihir kegelapannya itu dan melompat sebelum ia ikut dibekukan oleh bunga es tersebut.
“Ini seperti mantra Puspa Bajaya milik Tuan Sebastian. Bedanya ini terbuat dari es,” kata Dwi.
Memang benar apa yang dikatakan lelaki Jawa itu. Sihir yang digunakan oleh Alita ini sekilas mirip dengan mantra Puspa Bajaya, mantra sihir elemen kristal yang digunakan oleh Sebastian Pakpahan untuk membekukan para bajak laut itu. Efek yang dihasilkan juga hampir sama, membekukan lawannya yang terkena gelombang sihir itu.
Johannes terlihat menepuk-nepuk bajunya dari debu, sementara lawannya kini sudah terlihat oleh mata. Alita Chaniago, gadis Pagaruyung itu tengah berdiri dan menatapnya dengan ekspresi polos, namun tangan kanannya ia arahkan ke depan. Terlihat juga beberapa bongkahan es yang melayang-layang di belakangnya.
“Tidak mungkin. Dia bisa menggunakan sihir es?”
Licia takjub melihatnya. Dirinya tak menyangka sahabat jauhnya itu dapat menguasai salah satu sihir elemen lanjutan tersebut. Sangat jarang sekali seorang murid junior yang mampu menguasai sihir elemen lanjutan dengan sangat baik.
Anna yang melihatnya juga terkesima dengan kemampuannya. Namun dirinya masih belum tahu apakah es yang diciptakannya itu adalah es murni atau gabungan antar sihir seperti yang biasa dilakukan oleh penyihir pemula.
“Tunggu, bukannya es juga bisa diciptakan lewat gabungan sihir air dan angin?” tanya Anna.
Mendengar hal itu, Aldy yang berada di sampingnya langsung menjelaskannya pada Anna.
“Memang benar, kau bisa menciptakan es dengan menggabungkan sihir air dan angin. Tapi kemampuannya takkan sama seperti sihir es murni. Sedangkan gadis itu, dia benar-benar bisa menggunakan elemen lanjutan itu tanpa menggabungkan dua sihir elemen dasar tadi,”
“Oh begitu? Kau juga bisa melakukannya kan, Kak Aldy?” tanya Anna sambil menoleh ke arah lelaki itu.
“Yah, sebenarnya bisa juga sih. Tapi aku baru bisa menguasainya saat sudah jadi senior. Sedangkan dia bisa menggunakannya saat masih duduk di kelas junior. Kemampuan sihirnya luar biasa. Pertama kalinya aku melihat penyihir berbakat seperti dia,” puji Aldy.
Alita Chaniago, seorang siswi pendiam nan pemalu itu tak disangka-sangka bisa menguasai sihir elemen lanjutan sedini ini, di mana para penyihir umum biasanya membutuhkan waktu sekitar 3 tahun untuk menguasainya. Tak mengherankan kenapa dia bisa menjadi salah satu peserta dari turnamen adu sihir paling populer se-Nusantara ini.
“Penyihir elemen lanjutan ya? Walaupun begitu, jangan harap aku akan kalah dari orang sepertimu,” ujar Johannes dengan suara lantang.
Mereka berdua saling berhadapan satu sama lainnya. Pertarungan sihir yang sesungguhnya pun baru dimulai.
__ADS_1