X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 48 : Bahan Bakar


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore, sekitar beberapa jam setelah mereka bertiga meninggalkan Lhokseumawe dengan Layangnya. Cuaca di langit Tapanuli Selatan ini sangat cerah, bahkan kau bisa melihat orang berlalu-lalang dan beraktivitas di bawah sana.


Seperti biasanya, Aldy di kursi depan mengemudikan Layang, sementara Anna dan Dwi duduk di kursi belakang. Terlihat gadis itu sedang memegang sesuatu pada rambut kanannya. Tak lama kemudian, ia menunjukkannya pada Dwi yang berada di sampingnya.


“Hei, Dwi. Aku cantik gak kalau pakai ini?” tanya Anna sambil menunjukkan sesuatu yang ia pasang di rambut kanannya dekat telinga.


“Hmm… Bunga apa itu?” tanya Dwi balik.


“Ini bunga cempaka yang aku ambil dari pertarungan tadi. Sepertinya Tuan Damanik sengaja menjatuhkannya karena benda ini tak menghilang. Jadi aku bawa aja. Gimana?”


Anna menunjukkan bunga itu sambil menarik rambut panjangnya itu. Nampak jelas gadis itu benar-benar menyukainya, senang dengan penampilannya yang seperti itu.


Dwi memperhatikannya. Kecantikannya, terlebih lagi dengan adanya hiasan bunga di rambutnya membuat lelaki Jawa itu terpana. Dirinya terpaku melihat pesona dari partnernya itu.


“Bagaimana, Dwi?” tanya gadis itu.


“Cantik,” jawab Dwi dengan mulut terbuka.


Mendengar ucapannya membuat Anna tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat dengan jelas.


“Hehe, rupanya kau sudah mengakuiku sebagai salah satu wanita paling cantik di Tierra Hyuma ini ya, Dwi?”


Anna dengan percaya dirinya berucap seperti itu di depan Dwi. Namun setelah mendengarnya, lelaki Jawa itu langsung terdiam. Ia memandangi gadis itu dengan wajah heran, seperti ada sesuatu yang salah dengannya.


“Eh? Kenapa, Dwi?” tanya Anna.


Dwi tak menjawabnya, hanya menatap gadis itu dengan tatapan heran. Baru setelah beberapa saat kemudian, Anna menyadarinya.


“Eh, tunggu? Wanita cantik? Celaka. Beta sudah terlalu jauh ini. Gawat gawat gawat,” kata Anna dalam hati.


Benar sekali. Anna, atau Alistair sudah bersikap layaknya seorang wanita tulen sejak lahir. Sifat awalnya yang cukup maskulin di dunia nyata sudah hampir tergerus di dunia paralel ini. Sambil menepuk-nepuk pipinya, dia nampak gelisah. Kepanikan, ketakutan, dan rasa kesal bercampur aduk dalam dirinya.


“Dasar aku ini…”


Anna hendak meraih bunga cempaka yang ada di rambut kanannya itu dan berniat melemparnya. Namun sebelum menyentuhnya, tangan Dwi menghentikannya.


“Hei, apa yang kau lakukan Dwi?” tanya Anna sambil membentak lelaki itu.


“Stt… Kau tak perlu melakukan itu lah,” kata Dwi santai.


“Tapi, tapi kalau aku terus seperti ini, sifatku, kepribadianku yang sebenarnya bisa hilang,” kata Anna dengan nada emosi.

__ADS_1


Dwi berusaha menenangkan gadis itu. Ia pun kembali mengingatkannya tentang perjanjian mereka sebelumnya.


“Tenanglah, Anna. Ingat apa yang telah kita janjikan sebelumnya, tentang bagaimana sikap kita disini,”


“Ta… tapi kalau aku terus seperti ini, aku bisa…”


Anna mencoba berucap dengan terbata-bata, namun Dwi langsung menaruh telunjuknya pada bibir gadis itu.


“Stt… Tidak apa-apa. Bersikaplah seperti layaknya orang Tierra Hyuma sampai kita benar-benar kembali ke dunia nyata. Oke…” ucap Dwi dengan tenang sambil tersenyum.


Lelaki Jawa itu pun berhasil menenangkan Anna. Kini gadis berambut pirang itu sudah lebih tenang dari sebelumnya.


“Huff… Baiklah kalau begitu. Terserah katamu saja. Tapi apakah harus sampai menaruh jarimu di mulutku?” tanya Anna.


Mendengar hal itu sontak Dwi langsung menarik tangannya kembali.


“Ah… Tidak juga.”


Dwi memalingkan wajahnya dari gadis itu. Pipinya nampak memerah. Melihat ekspresinya yang seperti itu membuat Anna langsung senyum merayu.


“Hehe… Apa jangan-jangan kau menyukaiku ya, Dwi?” goda Anna.


“Apa? Ti… Tidak kok. Aku memang biasa seperti ini. ‘Geer’ banget kau, Anna,” jawab Dwi tersipu. Ekspresinya tak bisa bohong.


Layang terbang melewati awan dan mulai sedikit turun ke bawah.


“Hei, Dwi.” Sahut Anna


“Iya?”


“Ngomong-ngomong soal dunia ini, sebenarnya ada satu hal yang ingin kukatakan.” Ucap gadis itu.


“Soal apa?”


“Pernahkah kau berpikir kalau seandainya kita…”


Belum selesai Anna berujar, Aldy memanggil mereka berdua.


“Anna, Dwi, kita istirahat dulu setengah jam di Pagaruyung, sekalian untuk mengisi bahan bakar,”


“Oh, baiklah. Eh tunggu, isi bahan bakar?” tanya Anna terkejut.

__ADS_1


Aldy mendaratkan Layangnya tepat di sebuah lokasi mirip tempat pengisian bahan bakar di pinggir pantai. Ada sekitar 8 Layang yang tengah beristirahat dan mengisi bahan bakar di tempat ini.


Lelaki Siak itu memarkirkan Layangnya tepat di depan sebuah alat menyerupai kotak pengisian bahan bakar di dunia nyata. Bedanya disini tidak ada selang ataupun kabel yang bisa langsung dimasukkan ke dalam kendaraan. Mereka pun turun dari Layang. Terlihat Aldy yang tengah berbincang dengan seorang petugas sebelum memberikan sejumlah koin emas dan perak padanya. Tak lama kemudian, sebuah batang besi dengan sebuah persegi panjang di depannya keluar dari alat itu dan menempel pada bagian samping Layang. Benda itu pun mengeluarkan sinar yang langsung diserap oleh kendaraan terbang tersebut.


“Itu transfer mana, cara kami mengisi bahan bakar Layang disini.” Jelas Aldy.


“Wah, keren sekali.” Puji Dwi.


“Baru tahu aku kalau Layang juga memerlukan bahan bakar. Aku kira bisa menyerap mana yang ada di alam.” Celetuk Anna.


Mendengar hal itu, Aldy pun tertawa dan menyanggah ucapannya.


“Haha…. Tidak mungkin lah. Setiap kendaraan di Tierra Hyuma memerlukan bahan bakar. Bahkan seekor kuda pun juga memerlukan makan untuk kembali menarik keretanya bukan.” Tutur Aldy.


“Memang benar sih. Tapi apakah gak terlalu lama kalau isi bahan bakar sampai nyaris 30 menit seperti ini?” tanya Dwi.


“Eh, jangan salah, Dwi. Pengisian bahan bakar 30 menit disini setara perjalanan dari Shanghai ke Konstantinopel.” Kata lelaki berambut putih itu.


“Oh begitu ya. Pantas saja lama sekali.” Ucap Anna.


“Ah iya. Mengingat waktu pengisian bahan bakar ini cukup lama, kenapa kalian tidak bersantai dulu saja di bibir pantai sana. Nanti kalau sudah selesai akan kupanggil lagi kalian. Aku harus mengecek beberapa bagian Layang ini dulu.”


Sesuai dengan perkataan Aldy, mereka berdua pun memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di pinggir pantai. Terdapat sebuah kursi panjang yang bisa diduduki oleh mereka berdua.


Pantai berpasir putih itu nampak indah di sore hari ini, dengan suasana yang tidak terlalu ramai. Terlihat beberapa anak tengah bermain pasir di pinggir pantai dan sebagian anak-anak lainnya tengah bermain layang-layang. Sejumlah pengunjung nampak berjalan-jalan di bibir pantai, ada yang membeli es krim dan makanan serta pernak-pernik pantai lainnya, ada pula beberapa pengunjung yang tengah bermain air dekat gelombang laut yang cukup tenang tersebut. Suasana yang sungguh damai dengan hembusan angin yang lembut dari arah laut.


“Suasananya damai sekali ya, Dwi.” Kata Anna.


“Iya, begitulah.”


Mereka duduk bersama di kursi panjang itu sambil menikmati angin sore di bibir pantai.


“Eh iya, Anna. Tadi kau mau bilang apa sebelum kita mendarat?” tanya Dwi teringat sesuatu yang tadi mereka bicarakan sbeelumnya.


“Tentang apa?” tanya Anna balik.


“Itu loh yang tadi kau bilang soal dunia ini.”


“Ah, iya. Masalah itu ya. Bagaimana menjelaskannya ya? Hmm…”


Gadis berambut pirang itu nampak termenung sambil menunduk. Jelas sekali ada sesuatu hal yang ia pikirkan tentang dunia ini.

__ADS_1


“Sebenarnya,,,”


__ADS_2