X-Loves : Dari Dunia Lain

X-Loves : Dari Dunia Lain
Chapter 26 : Harimau Senyap dari Barat


__ADS_3

Johannes Gultom, penyihir dari Akademi Sihir Wilayah Kawanua tengah berdiri menghadap lawannya yang ada di sudut selatan, Alita Chaniago dari Akademi Sihir Nasional Jailolo. Gadis Pagaruyung itu mengarahkan bongkahan-bongkahan es tajam yang melayang-layang di belakangnya itu pada lawannya. Lelaki Kawanua itu juga bersiap untuk serangan selanjutnya.


Tanpa merapalkan mantra, Alita mengayunkan tangannya ke kanan, memerintahkan bongkahan-bongkahan es itu untuk melesat ke arah Johannes. Tentunya lelaki itu tak mau kalah hanya dengan serangan seperti itu.


“Kau pikir bisa mengalahkanku, hah?”


Johannes berlari ke arah Alita sambil menghindari serangan sihir es itu. Satu dua bongkahan es berhasil ia lewati dengan mudah, namun tidak untuk bongkahan-bongkahan es selanjutnya. Ia pun menggunakan cara lain untuk melawannya.


“Sihir es ya? Kalau begitu bagaimana dengan ini? Mantra Cipta, Bara, Dwi Janawiya,”


Ia memanggil dua buah pedang api pada kedua tangannya, dan menggunakan senjata itu untuk menebas bongkahan-bongkahan es tajam yang meluncur ke arahnya itu. Lompatan dan tebasan yang ia lakukan terlihat seperti orang yang tengah menari sambil memegang api di tangannya, menarik perhatian seluruh penonton yang terkesima menyaksikan atraksinya tersebut.


“Keren,”


“Hebat sekali dia,”


Tepuk tangan riuh dari para penonton di tribun pun bergema. Hal itu membuat lelaki Kawanua itu semakin percaya diri. Ia nampak tersenyum gembira hingga gigi putihnya itu terlihat. Meskipun begitu, ia tetap fokus pada tujuan utamanya, mengalahkan Alita.


“HIYAAA!!!”


Tak puas hanya berlari sambil menghindari serangan es itu, Johannes juga melancarkan serangan balik menggunakan sihir api dari pedangnya, meskipun belum ada satu pun dari serangan itu yang benar-benar berhasil mengenai gadis itu.


Johannes terus berlari, melompat, menebas serangan, dan sesekali menyerang balik, hingga tepat pada saatnya dirinya ada di depan Alita. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Johannes langsung menghunuskan pedang apinya pada lawannya tersebut.


“Rasakan ini!”


WUSHH… Dengan sedikit kobaran api yang menyala, pedang itu ia hunuskan padanya. Namun sepertinya itu masih belum cukup untuk menumbangkan gadis itu. Alita dengan mudahnya menghindari hunusan pedang itu. Ia berputar berlawanan arah jarum jam sambil mengepalkan tangan kanannya dan terdengar merapalkan sebuah mantra sihir dengan sangat pelan.


“Mantra Cipta, Bayu…”


Johannes menghindari pukulan yang diarahkan tepat pada pipinya itu sambil melompat ke belakang. Awalnya ia berpikir kalau itu hanya pukulan angin biasa, sampai ia memegang pipi kirinya itu.


“Aghh…”


Ia nampak kesakitan. Rupanya pipi kirinya itu mengeluarkan darah. Itu terlihat seperti luka sayatan sebuah belati. Johannes baru menyadarinya setelah melihat apa yang ada dalam kepalan gadis Pagaruyung itu.


“Apa? Karambit angin?”


Bukan pukulan angin, mantra sihir yang ia rapalkan ternyata menciptakan sebuah karambit, pisau genggam khas Minangkabau.


“Ah… Alita memang gadis yang misterius. Dari luar kayak malu-malu kucing tapi dalamnya sangar macam harimau. Salut lah aku,” puji Licia.


Johannes yang tengah terduduk itu langsung bangkit kembali. Darah masih berkucur dari pipinya, tapi dia masih belum mau menyerah hanya karena itu. Lelaki Kawanua itu masih berambisi untuk mengalahkannya.


“Baiklah, jagoan. Kalau begitu aku akan lebih serius melawanmu. Bersiaplah,”

__ADS_1


 Johannes mengacungkan pedangnya pada Alita. Namun gadis itu tak berekspresi apapun. Ia masih menatap lelaki itu dengan tatapan polos sambil memegang karambit angin di tangan kanannya.


Pertarungan pun kembali berlanjut. Keduanya kini saling beradu senjata sihir. Alita sesekali terlihat mengayunkan tangan kirinya untuk menciptakan sihir Sayat Belintan. Sementara itu Johannes dengan pedang apinya juga tak mau kalah. Ia mengayunkan pedangnya itu pada Alita sambil menebas sihir-sihir yang dilancarkannya. Tak


lupa pula ia juga mewaspadai karambit angin yang nyaris tak terlihat dengan mata telanjang itu.


Gaya pertarungan keduanya sedikit mengalami perubahan. Pedang api dan karambit angin saling mereka ayunkan dalam jarak dekat. Keduanya juga saling menyerang, menghindar, dan melompat dalam pertarungan sihir jarak dekat itu. Baik hembusan angin maupun percikan api juga terlihat dari pertarungan mereka. Pertandingan ketujuh ini berhasil memukau para penonton dengan keseruan adu senjata mereka, yang di mana dalam 6 pertandingan sebelumnya belum terjadi hal seperti ini.


Jika dilihat-lihat sebenarnya Johannes-lah yang lebih sering melancarkan serangan pada Alita, namun dirinya malah lebih sering terkena serangan balik dari gadis itu.


“HIYAAA!!!!”


WING WING WING… Tak menyerah begitu saja, Johannes mengayunkan pedangnya ke segala arah sambil menciptakan tebasan api dengan maksud agar gadis itu terkena serangan beruntunnya. Namun yang ia lakukan ternyata tak membuahkan hasil. Dirinya tak berhasil menebas apapun, dan gadis itu pun juga menghilang dari pandangannya.


“Sial, kemana dia?”


Yang tersisa hanyalah asap dari pertarungan adu senjata itu. Johannes menengok ke segala arah untuk mencari keberadaan Alita. Namun saat ia baru menyadari posisinya, gadis itu sudah bersiap untuk melancarkan serangan kembali dari arah jam 7.


“Mantra Cipta, Es…”


Tak terlalu jelas terdengar mantra sihir apa yang ia gunakan kali ini, tetapi ia terlihat mengarahkan tangan kirinya yang terbuka pada lelaki itu.


“Kurang aja…”


Baru saja Johannes menengok ke posisi lawannya itu, Alita langsung mengepalkan tangan kirinya, menyerang lelaki itu dengan sihir es. Ajaib, angin di sekitar tubuh Johannes tiba-tiba berputar kencang dan membekukan tubuh lelaki itu, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kini lelaki Kawanua itu terlihat sudah membeku menjadi es, dengan pose tubuh yang berusaha menyerang Alita.


“Keren,”


Namun berbeda dengan ekspresi Anna. Ia terlihat ketakutan sambil memegang lengan Dwi.


“D.. Dia dikutuk jadi es…”


Suasana pun nampak hening. Tatapan semua orang terarahkan pada tubuh Johannes yang sudah membeku layaknya patung es tersebut. Banyak dari mereka yang berpikir kalau pertandingan ini telah usai, termasuk sang wasit yang hampir mengangkat tangannya untuk menyudahi pertandingan. Namun ternyata pertarungan belum berakhir.


“Belum cukup…” ucap Alita dengan suara pelan.


Dan benar saja perkiraannya. Es itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang terang dan mulai meleleh akibat dari panas yang dihasilkan. Rupanya Johannes masih belum mau menyerah.


“KAU PIKIR BISA MENGALAHKANKU, HAH?”


DUARR… es berwujud manusia itu meledak. Johannes menciptakan sihir api besar yang melingkari tubuhnya. Itu terlihat hampir mirip seperti yang dilakukan Dwi saat melawan Henrick tadi, namun bedanya aura yang diciptakan oleh Johannes berupa sihir api. Tak hanya itu, hembusan angin dengan hawa panas pun juga terasa, khususnya di sekitar arena tersebut. Dengan tatapan membara, lelaki itu bersiap untuk melancarkan serangan pamungkasnya.


“KALI INI AKU PASTIKAN KAU AKAN KALAH, ALITA CHANIAGO. SUMMON, NANTABOGA!!!”


Johannes mengangkat tangan kanannya dan memanggil sesosok naga api besar dengan sihir pemanggilnya, lalu memerintahkan makhluk itu untuk menyerang Alita.

__ADS_1


“WAHAI NAGA API PERKASA, ENYAHKANLAH GADIS ITU SAMPAI MENJADI DEBU!!!”


Raungan naga itu terdengar di seluruh kompleks Dukono Arena tersebut, bahkan mungkin sampai ke wilayah sekitar. Raungannya yang begitu menggelegar itu membuat bulu kuduk banyak penonton berdiri, tak terkecuali Licia dan Anna yang nampak mematung setelah mendengarnya.


Naga itu lalu mengibaskan sayap apinya dan terbang ke arah Alita. Walaupun begitu, tatapan mata apinya itu tak membuat gadis itu gentar. Ia terlihat hanya mengangkat tangan kirinya ke arah naga api itu, tepat sebelum makhluk besar itu menghantam posisinya dengan keras dan menciptakan ledakan api yang dahsyat.


DUARR… Ledakan dari teknik itu menciptakan bola api yang sangat tinggi hingga mencapai bagian atas perisai. Para penonton yang melihatnya tak hanya terkesima, namun juga ketakutan. Begitu pula Anna yang tak menunjukkan ekspresi lain selain terkejut dengan mulut terbuka. Namun berbeda dengannya, Licia nampak cemas melihat serangan yang nyaris mematikan itu. Tak ada respon serangan balik dari sahabat jauhnya itu membuatnya semakin gelisah. Apakah ia kalah, terluka, atau lebih buruk dari itu? Mungkin itulah yang ada di benak putri Bunda Rara tersebut.


“A…li…ta…?”


BRUKK… Johannes yang sempat melayang-layang saat melancarkan serangan itu langsung terduduk lesu. Napasnya ngos-ngosan, keringat bercucuran membasahi tubuhnya itu. Lelaki Kawanua tersebut nampak sangat kelelahan. Tak mengherankan karena ia menggunakan banyak sekali mana untuk melancarkan serangan pamungkasnya itu.


“Huff… Huff… Berakhir sudah…. Sihir pemanggil naga api itu benar-benar menguras mana-ku… huff…. Tapi sepertinya itu cukup... huff…” katanya dengan napas ngos-ngosan.


Asap tebal hasil pertarungan itu masih menutupi posisi Alita. Tak ada tanda-tanda pergerakan disana. Wasit bersiap mengangkat tangannya untuk menandai berakhirnya pertarungan ini. Semuanya berpikir bahwa Johannes telah memenangkan pertarungan melawan gadis itu. Namun ternyata hal yang tak terduga terjadi.


“Apa?”


KRAK KRAK KRAK… Gelombang es tiba-tiba muncul dari balik asap tebal itu. Pergerakannya yang sangat cepat itu membuat Johannes tak bisa menghindarinya, terlebih lagi dalam kondisinya yang sudah kelelahan itu. Alhasil ia pun terkena serangan sihir yang tak terduga tersebut.


“Ah… Sial…”


Es itu mengekang kedua tangan dan kakinya. Ia tak bisa bergerak sekalipun. Dia berusaha memberontak, namun sayangnya kondisi fisiknya sudah mencapai batas. Lelaki itu juga sudah hampir kehabisan mana untuk melawan balik.


Hanya berselang beberapa detik, Alita keluar dari gumpalan asap tebal itu dan meluncur ke arah Johannes yang sudah terkekang itu. Dirinya sempat berputar layaknya seorang penari yang sedang berselancar di atas es, sampai akhirnya jari telunjuk kanannya menyentuh perut lelaki itu. Alita tersenyum tipis padanya dengan mata tertutup, bersiap untuk menuntaskan pertarungan sengitnya itu. Sementara itu raut wajah Johannes benar-benar ketakutan melihatnya.


“Salamaik siang, Uda….”


“Ja…”


“…Pegasia,”


WUSHH… BRAKK…. Tubuh Johannes terhempas dengan sangat kuat dan menghantam dinding berlapis perisai itu. Lelaki itu pun jatuh dan tak bangkit lagi. Alita yang melihatnya langsung memberikan hormat padanya yang tengah telungkup tak sadarkan diri itu. Gadis itu berhasil membalikkan keadaan 180 derajat hanya dalam hitungan detik saja.


“Baiklah. Pemenang pertandingan ini adalah Alita Chaniago dari Akademi Sihir Nasional Jailolo!!!”


Sang wasit telah mengumumkan siapa pemenang pertandingan ketujuh ini, namun para penonton masih terdiam, seakan masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Di tengah keheningan itu, sahabat jauhnya Licia langsung berdiri dan berteriak memujinya dari arah tribun.


“KAU HEBAT, ALITAAAA!!!!”


Teriakan sahabatnya itu langsung memicu sorak sorai dan tepuk tangan dari penonton lainnya. Dirinya banjir pujian dari semua yang menyaksikan pertandingan itu. Ada yang memuji caranya membalikkan keadaan, dan ada pula yang kagum dengan ‘tarian’ yang ia lakukan selama pertarungan tersebut.


Semua orang tersenyum dan memujinya, namun hal tersebut malah membuat sifat gugupnya itu muncul kembali. Ia menutupi mulutnya dengan kerah bajunya sambil tersipu. Pipinya terlihat memerah. Ia berusaha menutupi seluruh wajahnya meskipun itu mustahil. Sikapnya yang tak seperti jawara-jawara pertandingan sebelumnya itu menarik perhatian banyak orang.


“Ah… Dia malu tuh, haha…”

__ADS_1


Meskipun begitu, di lubuk hatinya tetap ada rasa bahagia karena telah memenangkan pertandingan itu, walaupun dirinya tak dapat mengekspresikannya dengan benar di depan publik. Dan yang paling penting, ia berhasil mengejutkan semua orang dengan kemampuannya yang luar biasa tersebut.


“Selamat, Alita…”


__ADS_2