
Pertandingan ketiga akan segera dimulai. Kedua peserta telah saling berhadapan satu sama lainnya. Di sebelah utara terlihat Dwi Septianto dari Akademi Sihir Nasional Jailolo, sementara di depannya adalah Henrick Sutiyoso dari Akademi Sihir Nasional Tapanuli.
“BERJUANGLAH, DWI!!!” teriak Anna dari arah tribun.
Dwi dan Henrick saling bertatapan satu sama lainnya. Dwi menatapnya dengan ekspresi yang dingin. Namun berbeda dengannya, Henrick menatapnya balik dengan wajah mengejek.
“Woy, anak Jailolo. Jangan sok keren lah kau,”
Pertandingan belum dimulai tapi Henrick sudah banyak berbicara, merendahkan lawannya itu. Tapi Dwi membalasnya dengan ekspresi dingin.
“Maafkan aku, aku memang seperti ini orangnya,”
Mendengar hal itu malah membuat Henrick semakin sombong. Dengan senyuman menyeringai, ia menujuk ke arah Dwi sambil mengejeknya kembali.
“Haha, dasar pecundang. Akan kukalahkan kau dalam sekali serangan,” ujarnya.
Anna yang tengah duduk di tribun tak terlalu jelas mendengar pembicaraan mereka, namun melihat dari tatapan Henrick pada Dwi, ia yakin kalau lelaki itu berusaha menghinanya. Sontak hal itu membuat emosi Anna memuncak.
“Lah, apa-apaan pria itu? Mau sok jagoan dia rupanya?”
Tak berselang lama, sang wasit yang berada di pinggir lapangan mengangkat tangannya.
“Bersedia”
“Siap”
“MULAI!!!”
Pertandingan ketiga pun dimulai. Dengan sangat cepat Henrick memasang kuda-kuda dan terlihat seperti melemparkan sesuatu sambil membaca mantra.
“TERIMALAH INI!!! Mantra Cipta, Bhumi, Shuriken Difusia…”
WUSHH… Henrick melemparkan dua buah shuriken tanah ke arah Dwi. Dengan santainya lelaki itu mengarahkan tangannya ke depan untuk menahannya. Sepertinya ia berpikir kalau itu adalah serangan yang mudah ditangkis, apalagi ia tepat ada di depan matanya. Namun rupanya ia sedikit keliru.
Shuriken tanah itu berpecah menjadi banyak, mungkin hampir ada seratus buah, dan posisinya mengelilingi Dwi. Henrick tak membiarkan celah sedikitpun bagi Dwi untuk menghindari serangannya itu.
“Kena kau!!!”
Sementara itu, Anna yang tengah duduk di tribun terlihat panik, apalagi melihat Dwi yang seolah tak punya kesempatan untuk menghindari serangan itu.
“DWIII”
Henrick tersenyum menyeringai melihatnya, namun ia lupa bahwa ini baru ‘permulaan’. Seorang penyihir hampir tidak mungkin langsung kalah hanya dengan serangan seperti itu, dan benar saja.
Tepat beberapa sentimeter dekat tubuhnya, semua shuriken itu tiba-tiba terhempas dari lajurnya. Tak ada satu pun dari mereka yang berhasil menyentuh tubuh lelaki itu sedikitpun.
“Apa?”
Asap cukup tebal muncul secara magis melingkari tubuh Dwi. Itu nampak seperti sebuah perisai yang melindunginya dari serangan puluhan shuriken tanah itu.
“Itu, Mini Parisha Asta, sihir perisai kegelapan mini,” ucap Licia.
“Perisai kegelapan mini?” Anna bertanya-tanya.
“Salah satu teknik dasar penyihir hitam, menggunakan elemen kegelapan sebagai tameng untuk melindungi dirinya. Tapi, walaupun itu versi ‘mini’, aku bisa merasakan mana yang sangat tebal dan kuat dari sihirnya itu,” jelas Licia.
“Maksudnya?”
“Dia bisa menggunakan sihir sederhana dengan energi yang sangat kuat. Sebagai perbandingan saat dirimu menggunakan Multi Parisha Tirta saat melawan Emilia tadi, penggunaan mana yang kau lakukan masih belum efisien dan sempurna. Sementara Dwi, dalam pertarungan ini bisa memanfaatkan sedikit mana tapi mampu mengubahnya menjadi sangat tebal dan kuat,” lanjut Licia.
“Itu artinya…”
“Penguasaan sihirnya sangat luar biasa, Mungkin dalam waktu dekat dia akan mampu menguasai elemen lanjutan,” tutur Licia.
“Dwi…”
__ADS_1
Mungkin ada benarnya yang dikatakan oleh Licia tadi. Dwi tak bergeser sedikitpun dari posisinya itu, walaupun puluhan shuriken melesat ke arahnya dengan cepat.
Perisai kegelapan pun menjulang lebih tinggi. Terlihat rambut Dwi yang sedikit terangkat, tertiup angin sebagai efek dari sihirnya itu. Henrick yang melihatnya malah tertawa dengan keangkuhannya.
“Hahaha… Kau pikir dengan sihir kegelapan itu bisa menakut-nakutiku hah? Coba saja kalau bisa,”
Henrick langsung berlari ke arahnya dengan hentakan sihir tanah di kakinya untuk memperkuat tenaga. Dwi menanggapinya dengan santai sambil melancarkan serangan perdananya, dengan elemen yang sama.
“Mantra Cipta, Asta, Ular Welang”
Dwi mengayunkan tangannya ke kanan. Bersamaan dengannya, tiga sihir kegelapan muncul dan melesat menuju arah musuh. Ketiga sihir kegelapan itu meliuk-liuk seperti menari dan semakin membesar, hingga akhirnya wujud aslinya terlihat oleh semua orang.
“U…ular?”
Tepat sekali. Ketiga sihir kegelapan itu kini berwujud ular hitam raksasa bermata merah. Mereka membuka taring mereka dan berusaha menyerang Henrick. Tatapan mata merahnya dan suaranya yang mengerikan itu cukup untuk membuat bulu kuduk para penonton berdiri.
“Menakutkan,”
“Mama… Aku takut…”
Partnernya Anna yang tengah duduk menyaksikan hal itu juga tak luput dari rasa takut. Tangan dan kakinya terlihat gemetaran melihat teknik sihir mengerikan milik temannya itu.
“Anna. Kau tidak apa-apa?”
Licia menengok ke arah teman sebangkunya yang nampak pucat itu. Anna yang baru menyadarinya langsung berbalik sambil menggaruk-garuk rambutnya.
“Eh gak ada apa-apa kok, hehe…”
Ketiga ular kegelapan itu menyerang Henrick bertubi-tubi. Namun dengan kemampuan fisik dan sihirnya, lelaki Tapanuli itu bisa dengan mudah menghindarinya. Ia berhasil mengalahkan satu ekor ular.
“Cih…”
Ada dua ekor ular kegelapan lagi yang tersisa, dan mereka bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Henrick berusaha menghindari serangan cepat itu dan melompat-lompat sambil sesekali bertumpu pada perisai pembatas arena. Dan tepat pada satu momen dirinya bertumpu pada perisai yang ada di depan Anna. Salah satu ular kegelapan itu langsung menyerangnya, nampak ular itu seperti ingin memangsanya, dan itu tepat berada di depan mata Anna. Tatapan mata merahnya dan suaranya yang mengerikan itu sontak membuat gadis itu menjerit ketakutan sambil memegang lengan Licia.
BRUKK… ular itu menghantam dinding perisai, menghasilkan suara tabrakan yang menggelegar. Lagi-lagi dengan mudahnya Henrick bisa menghindari serangan itu, melompat ke atas lalu menebas kepala ular itu dengan sebuah pedang tanah yang ia genggam. Alhasil tinggal satu ular lagi yang tersisa.
“Tinggal satu ekor lagi sebelum aku menghancurkanmu, Dwi!!!”
Henrick berlari ke arah satu ekor ular lagi, namun sepertinya lelaki Jawa itu mengetahuinya.
“Coba saja,”
Dwi mengayunkan tangannya lagi untuk memunculkan ular kegelapan yang lain. Kini ada sekitar 10 ekor ular kegelapan yang siap menyerbu Henrick.
“Jangan sombong dulu!!!”
Henrick menciptakan pedang tanah lainnya. Sekarang ia memegang dua pedang tanah untuk mengalahkan ular-ular itu.
Pertarungan pun berlangsung epik. Henrick menebas ular-ular kegelapan itu sambil menghindari serangan beruntunnya itu. Sementara itu Dwi memanggil ular lainnya saat salah satu ekor diantaranya berhasil dikalahkan lelaki Sumatera itu. Pertarungan seru antar keduanya menjadi tontonan yang menakjubkan bagi semua yang ada di sana, tak terkecuali Licia yang ikut menyaksikan hal itu.
“Sihir Summon nya keren sekali,”
Licia terkagum-kagum melihat teknik sihir yang dipergunakan oleh Dwi untuk memanggil ular-ular kegelapan raksasa itu, nyaris selalu muncul tanpa henti. Tapi apa yang dimaksud olehnya ternyata tidak tepat.
“Itu bukan sihir Summon,”
Ucap Aldy di sampingnya. Sontak gadis itu pun menengok ke arahnya.
“Maksudmu?”
“Ular-ular kegelapan yang diciptakan oleh Dwi tergolong sihir elemen biasa, karena ia masih mengendalikannya secara manual. Sedangkan makhluk yang diciptakan oleh sihir Summon dapat bergerak sendiri tanpa dikendalikan oleh penggunanya,” jelas Aldy.
“Oh, begitu ya?”
Ada sekitar sembilan ekor ular lagi yang terus menyerang Henrick dengan membabi-buta. Ia pun melompat mundur karena makin terdesak. Hal itu dimanfaatkan oleh Dwi untuk melancarkan serangan pamungkasnya.
__ADS_1
“Terimalah ini,” ujar Dwi sambil mengayunkan tangannya kembali.
Sembilan ekor ular kegelapan itu menerkam Henrick dari segala penjuru, tak membiarkan dirinya lolos. BRUKK… ular-ular tersebut menghantam posisi Henrick dan langsung menghilang. Serangan serentak itu menghasilkan debu yang cukup tebal di arena.
Semua nampak hening. Para penonton yang menyaksikan hal itu, nyaris semuanya terdiam. Sebagian dari mereka terkejut dengan serangan mematikan itu. Mereka berpikir mungkin Dwi telah memenangkan pertandingan dengan sihir kegelapan miliknya, namun Dwi sendiri tak berpikir demikian. Menurutnya, ini terlalu mudah. Ia berpikir kalau Henrick tidak akan kalah semudah itu, dan benar saja perkiraannya.
“Huff…”
Dari balik debu itu, sesosok makhluk menyerupai golem raksasa melompat dan langsung menyerang Dwi dengan sejenis golok yang ada di tangannya. Hentakannya begitu keras sampai Dwi kewalahan menahannya, meskipun dirinya menggunakan Parisha Asta.
“Uhh… Berat,”
Debu yang menyelimuti area lawan menghilang. Terlihat Henrick tengah menancapkan tangan kirinya ke tanah. Rupanya itu adalah makhluk sihir yang dipanggil olehnya.
“Nah, itu baru sihir Summon, teknik Gergasi Bhumi. Ia memanggil raksasa tanah untuk menyerang lawannya,” kata Aldy.
Keadaan mulai berbalik. Dwi semakin kewalahan menahan serangan raksasa tanah itu. Dan rupanya serangan yang dilancarkan oleh Henrick itu belum selesai sampai disana saja.
“Ini belum cukup,” ujarnya dengan senyuman menyeringai.
Sesosok tikus api muncul dari pundak sebelah kiri raksasa itu. Ia masuk ke dalam tubuh makhluk tanah itu dan seketika membuatnya menjadi bercahaya, semakin terang sampai cukup menyilaukan mata.
“Ini…”
Dwi terkejut. Ia baru menyadari teknik sihir yang digunakan oleh Henrick. Sontak ia pun langsung mencoba menghindar ke belakang. Namun sepertinya ia terlambat menyadari hal itu.
BOOMMMM…. Raksasa tanah itu meledak dengan cukup kuat. Serpihan-serpihan tanahnya bahkan terlontar ke udara dan mengenai bagian atas dinding perisai itu. Tubuh Dwi yang terkena ledakan itu juga langsung terlempar ke udara.
“HAHAHAHA…..”
Henrick yang melihat hal itu tertawa terbahak-bahak. Sementara Anna yang menyaksikannya berteriak panik.
“DWIII!!!!”
Dengan kondisi seperti itu, gadis berambut pirang itu berpikir kalau Dwi sudah kalah lewat teknik sihir tak terduga itu. Ia juga khawatir dengan kondisi Dwi yang terkena ledakan yang cukup kuat itu. Hatinya bimbang. Namun lagi-lagi, seorang Dwi Septianto bukanlah orang yang selemah itu. Ia berhasil mengejutkan semua orang dengan berputar di udara, lalu bersiap menyerang balik dengan sihirnya.
“Apa?”
Ia mengepalkan kedua tangannya di pinggangnya, lalu menarik napas dalam-dalam.
“Mantra Cipta, Bara, Hembusan Nantaboga,”
FUUU…. Dwi menyemburkan api dari mulutnya layaknya seekor ‘Nantaboga’ atau naga.
"Apa?"
Henrick tak sempat menarik tangannya sebelum kobaran api itu menghantam tubuhnya. Teknik dahsyat itu membakar seluruh arena tanpa sisa, menghasilkan kobaran api setinggi hampir 7 meter. Meskipun dilindungi oleh perisai, tapi panas dari sihir itu masih terasa dari tribun. Para penonton terkesima melihatnya, hampir tak bisa berkata banyak menyaksikan teknik sihir yang mengerikan itu.
“Keren,”
Licia memuji teknik sihir Dwi, sementara Anna yang menyaksikannya lagi-lagi merinding ketakutan. Keringat dingin keluar dari tubuhnya.
“Matilah beta, kalau berani macam-macam dengan dia, bisa-bisa hangus dah jadi abu,” ujarnya dalam hati.
Serasa itu sudah cukup, Dwi menyudahi serangannya. Perlahan arena pun dapat terlihat kembali dengan jelas, namun seluruh lapangan terlihat mengeluarkan asap sehabis terbakar hebat. Lelaki itu lalu mendarat dengan halus ke tanah lapang itu.
“Sudah berakhir…”
Lapangan nampak sunyi. Hanya terlihat Dwi seorang saja di tempat itu. Sementara lawannya entah hilang tanpa jejak.
“Ada yang tidak beres,”
Baik Dwi maupun Licia dan Anna yang tengah duduk menyaksikan hal itu di tribun melihat sebuah keganjilan. Mustahil seorang penyihir bisa lolos dari perisai yang membatasinya di sebuah tempat, meskipun dengan teleportasi ataupun menggali tanah. Apalagi ini adalah sebuah pertandingan. Dan benar saja apa yang mereka pikirkan.
“Apa? Ini...”
__ADS_1