
Sesosok wanita berambut panjang menempelkan wajahnya pada jendela depan Layang itu. Rambut panjangnya yang terlihat kotor dan kusut itu terlihat menyeramkan. Mata merahnya begitu mengerikan untuk dipandang. Namun yang membuat bulu kuduk berdiri adalah fakta bahwa dirinya tidak memiliki badan, hanya kepala saja yang melayang-layang di udara.
“KYAAAA….”
Semua penumpang dalam kendaraan terbang itu kaget bukan kepalang, terlebih lagi Aldy yang tengah memegang kemudi. Sontak dirinya langsung kehilangan kendali dan membuat kendaraan terbang itu menukik ke bawah.
“KITAAAA JATUUUUHH….” teriak Dwi.
Layang itu menukik nyaris 50 derajat ke bawah. Aldy yang masih memegang kemudi berusaha menaikkah kendaraan itu lagi ke atas.
“Sial…”
Posisi Layang mulai melandai. Namun karena ia terjun dengan kecepatan yang tinggi membuatnya terlambat untuk kembali ke atas. Layang menghantam sesuatu yang sepertinya pepohonan rindang. Guncangan keras pun terjadi
dan hampir melemparkan semua yang ada di dalam. Namun untungnya hal itu tak bertahan lama. Sekitar 15 detik kemudian guncangan berhenti. Nampaknya Layang sudah mendarat di sebuah gundukan tanah yang penuh rumput.
“Huff… Kita selamat. Kalian baik-baik saja?” tanya Aldy menengok ke belakang sambil menghela napas.
“Aduh… Tidak terlalu baik,” Jawab Anna dengan posisi kacau. Kaki kanannya berada di kepala Dwi, sementara kaki lelaki itu ada di atas perutnya. Guncangan hebat itu nampaknya membuat semuanya menjadi kacau.
Dengan susah payah mereka pun keluar dari kendaraan tersebut. Ketiganya mendapati posisi mereka sekarang tengah berada di sebuah hutan belantara yang cukup rindang. Sepertinya mereka masih berada di tengah-tengah Wilayah Borneo. Suara burung-burung liar terdengar dengan jelas, memecah kesunyian dari hujan yang sudah mulai mereda tersebut.
“Hujannya sudah berhenti,” ucap Anna dengan suara lembut sambil menatap ke langit.
Gadis berambut pirang itu mengangkat tangannya ke langit, memastikan bahwa hujan benar-benar sudah reda. Namun pada saat melakukannya, ia baru menyadari sesuatu yang berat tengah memeluk lengan kirinya. Ternyata itu adalah Dwi yang terlihat masih ketakutan dengan apa yang terjadi.
“Eh, Dwi. Kau kenapa?”
“Ta…Tadi itu k…kuyang kan? A… apa dia s…sudah pergi?” tanya Dwi terbata-bata.
“Kuyang? Hmm…” Anna memikirkan sesuatu.
Sosok wanita terbang tanpa tubuh memang dikenal juga di dunia tempat Anna dan Dwi berasal. Mereka menyebutnya dengan istilah Kuyang atau Palasik. Ia merupakan salah satu legenda urban paling terkenal di Indonesia, dan kisahnya masih populer bahkan sampai abad ke-22.
__ADS_1
Melihat dari ciri makhluk yang tiba-tiba muncul tadi mengingatkan Anna dan Dwi akan makhluk berilmu hitam tersebut. Namun mereka belum bisa memastikan apakah di Tierra Hyuma ini juga ada makhluk seperti itu atau tidak. Anna pun menghampiri Aldy yang tengah memeriksa Layang-nya untuk menanyakan hal ini.
“Kak Aldy,”
“Hmm?”
“Makhluk mengerikan yang muncul tiba-tiba tadi namanya apa ya? Apa dia termasuk Rott juga atau penunggu gaib, atau makhluk gaib lainnya?” tanya Anna.
“Huff… Aku belum bisa memastikannya. Dia menghilang terlalu cepat,” jawab Aldy sambil melihat beberapa bagian kendaraan.
Lelaki berambut putih itu nampak sibuk dengan kendaraannya, dan tidak terlalu menggubris apa yang Anna tanyakan. Anna pun berpikir untuk menanyakan hal ini lain kali. Dirinya pun berbalik, tetapi Aldy tiba-tiba mengucapkan sesuatu.
“Ah… Sial,”
“Ada apa, Kak Aldy?” tanya Anna menghampirinya lagi.
“Bagian sayap dan penyangga belakangnya rusak tergores. Perlu waktu lama untuk memperbaikinya. Apalagi aku tidak punya peralatan untuk mencoba menambal bagian ini,” jelas Aldy.
“Ja…Jadi gimana dong? Apa kita bakalan terjebak disini?” tanya Dwi panik. Semenjak masuk ke area gelap disini, lelaki itu berubah sikapnya.
“Bantuan?”
Anna memegang dagunya. Gadis itu tengah memikirkan bagaimana cara mereka mendapatkan bantuan di tengah hutan yang lebat seperti ini. Mereka juga belum tahu apakah ada pemukiman di sekitaran daerah itu. Namun sebelum berpikir lebih lanjut, Aldy tiba-tiba menyahut seseorang di belakang mereka berdua.
“Eh… Hei…”
“Eh tunggu, Kak Aldy. Mau kemana?”
Tanpa basa-basi, Aldy langsung berlari menghampiri sesuatu yang ada di belakang mereka. Anna dan Dwi pun mengikutinya dari belakang. Sekitar 15 meter kemudian, keduanya berhenti, dan melihat Aldy tengah berbicara dengan sesuatu yang ada di depannya. Anna menyaksikannya dengan seksama. Rupanya lelaki Siak itu tengah mengobrol dengan 3 orang bocah laki-laki yang tengah berjongkok di depannya, di mana salah satu dari mereka hanya mengenakan celana saja.
“Ah, ada anak-anak,” kata Anna.
Tidak terlalu jelas apa yang dikatakan Aldy pada mereka, namun sepertinya lelaki itu tengah meminta bantuan pada ketiga bocah itu. Anna dan Dwi pun menghampiri mereka. Tapi sayangnya saat berada tepat di depan Aldy dan bocah-bocah itu, sekelompok orang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak.
__ADS_1
“Hah? Siapa mereka?”
Sekelompok orang yang jumlahnya belasan itu menatap mereka dengan tatapan tajam. Tidak hanya itu, mereka juga terlihat memegang beberapa senjata seperti perisai, tombak, serta benda tajam menyerupai pedang. Hal itu membuat Anna dan Dwi ketakutan karena merasa terancam. Tetapi tidak dengan Aldy, lelaki berambut putih itu nampak santai melihatnya.
Seorang pria yang memimpin mereka lalu berjalan menghampiri Aldy. Sebuah bara api terlihat melayang di tangan kanannya. Sepertinya ia adalah penyihir elemen hitam.
“Hai orang asing. Darimana kalian berasal? Lalu apa tujuan kalian datang kemari?” tanya pria itu.
“Kami berasal dari Jailolo dan hendak pergi ke Lhokseumawe, namun sayangnya kendaraan kami diserang makhluk terbang misterius dan terjatuh di tempat ini,” jawab Aldy.
Lelaki berambut putih itu nampak santai melihatnya, berbeda dengan Anna dan Dwi di belakangnya yang terlihat gugup dan ketakutan. Pria tersebut memandang mereka bertiga sebelum akhirnya berujar kembali.
“Baiklah, ikuti kami,”
Pria itu lalu menyuruh mereka bertiga mengikutinya ke suatu tempat. Anna yang masih merasa bingung menghampiri Aldy lalu berbisik padanya.
“Hei, Kak Aldy. Kita mau dibawa kemana?”
“Sudahlah, tidak perlu takut. Kita ikuti saja apa kata mereka,” jawab Aldy.
Mereka berjalan sejauh kurang lebih 100 meter dari lokasi awal mereka terjatuh, dan akhirnya ketiganya sampai di tempat tujuan.
Itu adalah sebuah desa yang cukup sederhana, hampir sama seperti desa-nya Licia di Pulau Una, namun ini lebih tradisional dengan rumah-rumah panggung berbahan kayu. Terlihat beberapa orang tengah beraktivitas di tempat ini, sementara sebagiannya lagi mungkin sudah tertidur lelap. Sebuah api unggun yang dinyalakan dengan sihir api berada di depan pintu masuk.
Pria itu membawa Aldy, Anna, dan Dwi agar menghadap seorang pria lain yang sepertinya merupakan pemimpin wilayah ini.
“Pak Kepala Desa, kami menemukan tiga orang asing yang jatuh dari kendaraan mereka di hutan timur. Katanya mereka berasal dari Jailolo dan hendak pergi ke Lhokseumawe, namun mereka diserang makhluk terbang misterius,”
Seorang pria tua dengan bulu burung di kepalanya memandangi mereka bertiga dengan tatapan tajam. Mata kanannya mengeluarkan cahaya biru yang nampak jelas dari kegelapan, membuat Anna dan Dwi semakin takut dengannya. Sekitar hampir satu menit pria tua itu memandangi mereka, atau mungkin lebih tepatnya ‘memeriksa’. Tetapi begitu selesai, cahaya biru di mata kanannya meredup dan raut wajah seriusnya berubah menjadi senyuman yang lebar.
“Akhirnya, bantuan yang kita tunggu sudah tiba,”
“Eh, Apa?”
__ADS_1
“Bantuan?”
Mereka bertiga terkejut dengan apa yang dikatakan pria itu. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Kenapa dia menyebut kedatangan Aldy, Anna, dan Dwi sebagai sebuah 'bantuan?'